Ayah Terhebat 4

1593 Kata
“Semangat, Wat!” Laki-laki itu mengangkat satu tangannya— terkepal di udara. Aswat tersenyum lega melihat itu. Setidaknya— di kantor ini— ada satu yang menyemangati bahkan mempercayai kemampuannya. Aswat mengembuskan napas pelan, menatap ke arah depan pintu yang masih tertutup di dalam sana. Tepat hari ini, Aswat mengikuti meeting— ya meski sudah berulang kali masuk ke ruang sana— hanya saja hari ini sangat penting untuknya. Kemungkinan nanti, dia bisa saja di tunjuk maju dan mempresentasikan hasil kerjanya. Itu yang dikatakan bosnya kemarin. Bukan hanya dirinya saja, ada dua orang lagi berada di sisi kirinya. Orang yang sama akan diprediksikan untuk maju ke depan ruang meeting nanti. Atau lebih tepatnya, mereka akan di pilih satu di antaranya. Mereka masuk ke dalam ruangan itu. Sudah di penuhi oleh kolega dari beberapa cabang perusahaan lainnya. Di ujung meja dan direktur utama perusahaan tempatnya bekerja ini— orang yang mengangkat jabatan Aswat. Rapat di mulai. Semua berjalan lancar, sebelum direktur utama menyebutkan nama Aswat agar segera maju untuk presentasi. “Aswat ini merupakan karyawan saya yang sangat berprestasi. Saya berharap presentasinya hari ini akan membuat kalian puas semuanya. Saya percaya dengan dia.” Perkataan itu membuat Aswat merasa beruntung karena sudah dipertemukan dengan orang-orang baik seperti direktur. Aswat tersenyum tipis. Melirik dua rekan kerjanya tadi— yang sekarang sudah menatapnya dengan sinis— Aswat mencoba tidak memedulikan itu. Laki-laki tersebut mengembuskan napas berulang kali. Berusaha mengusir gugupnya, satu tangannya naik menunjuk bahan riset presentasinya, mulai menjelaskan secara detail. Aswat berharap presentasi pertamanya ini tidak mengecewakan semua rekan kerja dan lebih utamanya sang direktur. Namun, kekhawatirannya mendadak hilang, ketika presentasi berakhir. Direktur berdiri dengan tepuk tangan— penuh takjub. “Luar biasa, Aswat! Saya memang nggak sia-sia menunjuk kamu tadi. Saya merasa puas dengan presentasi kamu, bagaimana dengan kalian?” tanya direktur kepada semua kolega kerjanya. Satu persatu orang di sana ikut bertepuk tangan lambat laun. Salah satu di antaranya mengangguk pelan. “Saya merasa puas dengan hasil presentasinya. Semuanya dijelaskan secara di detail, serta merta dengan konsekuensi buruknya yang harus kita hindari saat proyek ini berjalan nantinya,” jelas orang itu. Aswat tidak mampu menahan senyumnya. Laki-laki dengan kemeja berlengan panjang liris hitam itu mengusap hidungnya. Usahanya hari ini seakan tidak sia-sia. Siang itu meeting itu berakhir dengan lancar. Aswat keluar dari ruangan itu dengan senyuman mengembang. Bayu— temannya— sudah menunggu di ruang divisinya. “Gimana, Wat?” Bayu seakan antusias, teman yang sangat mendukungnya. “Gue ke pilih, Bay. Dan Alhamdulillah, presentasi gue berjalan lancar.” “Alhamdulillah.” Bayu mengusap wajahnya dengan senyuman tak kalah lebar juga. “Gue turut senang, Wat. Sekarang ayo makan siang bareng! Buat rayain keberhasilan Lo hari ini,” ajaknya. Aswat tertawa pelan, tidak menolak, dia menerima tawaran Bayu. Dan di sinilah mereka berakhir, di kantin kantor, suasana sangat ramai. Banyak anak-anak divisi lain ikut datang meramaikan kantin ini. Bayu duduk di depan Aswat— sudah menyantap makan siangnya— yang di pesannya tadi. Sementara Aswat sudah lahap menikmati bekal makan siangnya yang dibuatkan oleh sang istri. Sesaat acara makan siang Aswat terhenti kala ponselnya berdering. Nama Dewi tertera di layar ponsel. “Assalamualaikum, Dew. Iya, ini sudah makan siang kok. Kamu sudah makan?” Aswat menelan sisa makanannya. “Iya, alhamdulilah meeting ya berjalan lancar, Mas juga ke pilih tadi buat presentasi. Semuanya berjalan sesuai yang Mas inginkan, ini semua pasti berkat doa kamu.” Aswat menahan senyumnya. Telepon itu tidak bertahan lama, mengingat jam istirahat makan siang terbatas. “Gini yah, sudah punya istri. Selalu di telepon tiap jam makan siang. Gue jadi iri,” cibir Bayu. Aswat tertawa mendengarnya. “Makanya Lo cepat-cepat nikah. Biar nggak ngeles Mulu jadi orang,” ledek Aswat. Menjadikan Bayu mendik sinis. “Gue masih mau berkarier dulu.” “Berkarier sih boleh, asal jangan lupa nikah saja, Bay,” celetuk Aswat dengan nada bercanda. “Ya nggak gitu jugalah. Gini-gini gue mau nanam benih juga ya,” balas Bayu, tertawa. Aswat menggeleng dengan tawa pelan yang keluar dari mulutnya. “Enak banget jadi Aswat, ya. Sudah jadi anak emas direktur. Nggak cuman di angkat jadi karyawan beberapa tahun yang lalu, hari ini dia malah ditunjuk buat presentasi. Besok-besok gue takutkan, direktur malah angkat si Aswat jadi penggantinya. Amit-amit deh.” “Bisa jadi, sih. Mengingat gimana sayangnya direktur sama si Aswat.” “Jalur orang dalam, woy. Kita bisa apa? Mana tahu si Aswat malah guna-gunain si direktur, makanya pilih kasih sama kita-kita.” Percakapan tiga orang yang ada di meja sebelah, menghentikan tawa mereka. Aswat menunduk, mencoba menelan sisa makanannya meski tenggorokannya terasa sakit. “Nggak usah di dengar. Orang iri selalu memburukkan musuhnya di belakang, pengecut,” ujar Bayu, sangat sengaja berbicara dengan intonasi cukup tinggi. Aswat tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Bay. Gue sudah biasa diginiin.” Sudah berapa tahun dia kerja di kantor ini. Selalu tidak pernah lepas dari bahan cibiran anak-anak divisi. Aswat sudah biasa, tetapi tidak urung hatinya pasti terasa nyeri mendengar cibiran sinis itu. *** 7 tahun kemudian. Ada yang berubah. Aswat merasakan kehidupannya saat ini sudah lumayan daripada sebelumnya. Rumahnya yang dulu masih kecil sekarang sudah bisa dia renovasi, membuat satu kamar lagi untuk dua anaknya. Mengisi alat-alat rumah dengan seadanya. Rumah tangganya dengan Dewi makin harmonis. Apalagi Aswat sekarang sudah mempunya anak perempuan, namanya Ratih Laksamana. Sangat cantik, ceria dan hiperaktif sama seperti Dewi. Ratih dan Fatih bukti bahwa cinta dan Dewi tidak main-main. Mereka tetap bersama, meski banyak yang tidak menyukai kebersamaan mereka, contohnya Ibu Aswat dan Sarah— Kakak perempuan Dewi. “Yaaaang ini Ratih kok comeng gini sih?” teriak Aswat, laki-laki baru saja menginjakkan kakinya di teras rumah— pulang dari kantor. Dan mendapati wajah putrinya yang jauh dikatakan baik, banyak cokelat yang berlumur di sudut bibir hingga pipinya. Dewi datang sedikit tergopoh-gopoh, wanita itu lantas menepuk dahinya melihat wajah Ratih. “Astaga, Ratih. Tadi sudah Ibu bilang kan kalau makannya jangan jorok gini,” oceh wanita itu. “Ibu capek lho mandiin kamu terus, sehari ini sudah tiga kali kamu mandi. Dan ini mau ke empat kalinya.” Suara Dewi mengoceh masih terdengar— sudah hal lumrah bagi Aswat. Kecerewetan Dewi semakin bertambah kala Ratih lahir ke dunia ini. Sebab putri mereka yang berumur 4 tahun itu sangat bandel. Aswat meletakkan tasnya di atas sofa, ada putranya yang duduk anteng di depan tv— menonton kartun kesukaannya. “Fatih, itu adiknya kenapa nggak dijagain tadi? Sendirian di teras,” tanya Aswat. Fatih— sedikit pendiam anaknya. Aswat tidak mengerti, kenapa anaknya seperti itu. Padahal dirinya sangat harmonis kepada orang-orang. “Ratih bandel, Yah. Fatih males jagain,” balas anak itu. Aswat menggeleng pelan mendengarnya. Ya, masih anak-anak jadi Aswat masih memaklumi, semoga saja ketika besar nanti kedua anaknya bisa akur di mana pun mereka berada. “Tolong taruh tas kerja Ayah ke kamar, gih. Ayah mau bantu Ibu dulu, pasti Ibu kamu capek karena seharian jagain kalian dan beberes rumah sendiri,” ujar Aswat. Mengusap rambut putranya sebelum berlalu dari ruang tengah itu. Aswat melangkah ke arah dapur, sempat melirik ke arah Fatih lagi. Yang ternyata anaknya itu sudah beranjak dari sofa dengan membawa tas kerjanya menuju kamar. Aswat tersenyum tipis, anak sulungnya sangat penurut ya meski tidak terlalu banyak berbicara seperti anak seusianya. Begitu sampai di dapur. Aswat mendapati piring kotor di atas wastafel— belum di cuci. Laki-laki dengan style kerjanya itu— menggulung lengan kemeja— kemudian menghidupkan keran air. Aswat mulai mencuci piring itu, aktivitas yang cukup sering dia lakukan ketika pulang bekerja. Dewi masih ada di dalam kamar mandi, memandikan putri mereka yang bandel itu. “Lho, Mas. Kok di cuci? Biarin saja tadi, biar aku yang cuci habis mandiin Ratih,” ujar Dewi saat keluar dari kamar mandi— cukup terkejut melihat Aswat. Aswat menoleh ke istrinya kemudian tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, yang. Kamu pasti capek seharian urusin anak-anak sekaligus rumah.” Aswat mencium pipi Ratih— anak itu berada di gendongan Dewi. “Sana pakein Ratih dulu baju, kasian dia sudah kedinginan.” Aswat melanjutkan pekerjaannya. “Iya, Mas.” Aswat membilas beberapa piring yang sudah dia cuci tadi. Lantas menyusunnya ke tempat piring di dekat wastafel itu. Tersentak kala merasakan ada dua tangan melingkar di perutnya. Aswat tersenyum lebar saat mengetahui siapa pelakunya. “Kenapa, hm?” tanya Aswat. “Aku merasa beruntung, Mas, dapat suami kayak kamu. Selalu pengertian dan menolong pekerjaan rumah yang seharusnya sudah jadi tugas aku semuanya,” ujar Dewi. Aswat mengeringkan tangannya yang basah dengan kain kering. Piring kotor sudah bersih semuanya, laki-laki itu berbalik dan membalas pelukan istrinya. “Aku nggak selalu bantu kamu, Dew. Aku selalu berusaha untuk bantu kamu, karena aku tahu kamu pasti lelah seharian bekerja di rumah. Dan aku ingin selalu jadi suami serta Ayah yang Hero untuk kalian bertiga,” balas Aswat, masih tersenyum lebar. “Makasih, Mas.” “Untuk apa?” “Untuk semuanya.” Dewi mendongak dan saat itulah netra mata mereka beradu. “Terima kasih sudah hidup di dunia ini, terima kasih sudah jadi suamiku, juga terima kasih sudah jadi Ayah yang hebat untuk anak-anak kita,” lanjut Dewi. Satu tangan Aswat naik mengusap rambut Dewi. “Ini belum seberapa, Dew. Aku akan selalu memastikan kalian aman dan tidak akan pernah kekurangan selagi aku masih hidup dan ada di sisi kalian.” Keduanya kembali berpelukan. Mereka merasa kalau sekarang sudah cukup. Aswat selalu bersyukur dengan hidupnya sekarang. Ada Dewi dan kedua anaknya sudah membuat impian Aswat tercapai. Dan kali ini Aswat tidak bosan berharap pada Tuhan, agar bisa membuat keluarga impiannya ini tetap utuh hingga nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN