Dengan kaki yang tak yakin akan mampu bisa seimbang kini aku berdiri. Bahkan satu langkah yang gontai tengah kuambil saat ini, ingin dan jelas harus memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Put, Putrii! Mau kemana???” Kudengar tanya Lina itu, namun sungguh aku tak memiliki waktu untuk menjawabnya. Baik isi kepala atau bibir untuk memberikan jawab dari tanyanya itu, kini tengah sibuk memikirkan dan melafalkan... ‘BUKAN!’ ‘Itu bukan dia...’ ‘Bukan! Itu bukan dirinya! Pasti bukan!’ Entah ‘dia’, ‘dirinya’ yang kumaksudkan itu adalah Nakula atau Sadewa ... Aku masih tak yakin pada siapa semua sangkalku, juga harapku itu tengah kutujukan. Harapku yang terus inginkan kalau laki-laki yang besar kemungkinannya sedang berselingkuh di belakangku saat ini, itu bukanlah dirinya. N

