Dewa

1367 Kata
Cedera sumsum tulang belakang (Spinal Cord Injury atau SCI) Kerusakan pada bagian sumsum tulang belakang atau saraf di ujung kanal tulang belakang. Cedera sumsum tulang belakang traumatic dapat terjadi karena pukulan atau potongan tiba-tiba pada tulang belakang. Langka Kurang dari 150 ribu kasus pertahun (Indonesia) -Perawatan dapat membantu, namun penyakit ini tidak dapat di sembuhkan -Membutuhkan diagnosis medis -Selalu memerlukan uji atau pencitraan laboratorium -Kronis: dapat bertahan selama bertahun-tahun atau seumur hidup -Kritis: Perlu perawatan darurat Gejala Membutuhkan diagnosis medis Suatu cedera tulang belakang sering secara permanen menyebabkan hilangnya kekuatan, sensasi, dan fungsi di bawah tempat cedera itu. Orang mingkin mengalami -Otot: otot lemas, koordinasi bermasalah, otot kaku, otot tegang atau refleks terlalu aktif -Seluruh tubuh: merasa pingsan atau berkeringat -Pengindraan: sensasi sentuhan berkurang atau retensi kemih -Juga umum: napas pendek, sensasi nyeri dan abnormal atau tinja keluar tanpa di sengaja . . . “Hhhh...” Hanya napas saja yang mampu keluar dari mulutku kini, kata-kataku hilang seketika setelah membaca semua diagnosis yang di alami si manusia menyebalkan itu. Aku tak pernah tahu kondisinya akan sampai separah itu yang di alami oleh Dewa. ‘Ah, padahal aku ini kan mahasiswa kedoteran, tapi kenapa aku baru nyadar sih kalo kesehatan Dewa itu sampe bisa separah ini...’ Batinku, entah kenapa tiba-tiba aku merasa bodoh karena baru tahu kondisi memilukan yang di alami oleh saudara kembar suamiku sendiri itu. Tak terbayang bagaimana sulitnya ia untuk bisa bertahan karena cederanya itu. “Huuuuhhh...” Lagi-lagi hanya napas saja yang bisa kusuarakan, aku mendadak jadi tak enak sekali padanya. Berpikir kalau mungkin tak seharusnya aku selalu mengajaknya ribut dan harusnya justru aku bisa memperlakukan Dewa dengan lebih baik lagi. Sudah hampir dua puluh menit lamanya aku menunggu Dewa melakukan pemeriksaan di dalam ruangan dokter Bio, yang merupakan ahli saraf dan ortopedi ternama di kota ini. Lelah bercampur dengan perasaan tak tenang, penasaran juga kini kurasa, sampai aku jadi sudah tak enak duduk sekarang. “Mas Nakula pasti udah mulai meetingnya sekarang, kalo hasil pemeriksaannya Dewa buruk gimana ya...” Gumamku, rasanya jadi aku yang tegang sendiri di sini. Saat ini aku memang berada di rumah sakit yang berbeda dengan Nakula. Pemeriksaan Dewa di lakukan di rumah sakit ‘tetangga’ yang memang memiliki kemampuan modalitas neuroimaging dengan ketersediaan ahli bedah ortopedi atau bedah saraf yang lebih baik. Karenanya berakhirlah aku di sini, menemani Dewa menggantikan Mas Nakula. “Oh??” Aku langsung berdiri dan berjalan cepat ke arah Dewa yang baru saja ke luar dari dalam ruangan dokter. “Dewa, gimana hasilnya? Gak papa kan? Kamu... baik-baik aja kan?” Tanyaku sambil kutatap lekat dirinya, tak sabar, dan penasaran juga tegang, takut-takut kalau hasil pemeriksaannya tak sesuai harapan dan di luar dugaan. “Ehmmm...” Dewa kini malah mengerutkan wajahnya, tubuhnya di bungkukannya, meringis, seperti orang menahan sakit. “Kenapa otot kamu gak bisa di gerakin? Atau ada yang sakit??” Aku mendadak panik sekali melihatnya saat ini. “Itu-“ Dewa hanya mampu mengucap satu kata singgat itu, “Apa??? Mau kencing?” Aku sampai menanyakan hal itu karena takutnya otot-otot tubuhnya kembali tak bisa di kontrolnya. “Atau mau-“ Plakkkkk “Awww kenapa aku di jitak sih???” Heranku dan jelas di buat emosi aku jadinya, karena Dewa yang tiba-tiba menjitak keningku, walaupun cukup pelan di layangkannya tangan kokohnya barusan itu. “Ituuu, kaki Lo injek kaki gue Put!” “Aahh...” “Maaf... gak sengaja hehe” Ucapku, ternyata Dewa tampak meringis seperti orang kesakitan begitu, karena kakinya yang tak sengaja malah terinjak olehku. “Lagian Lo kenapa sih ribut-ribut?” Tanyanya sambil menatapku heran kini. “Oh itu- ehm... hasil pemeriksaannya gimana? Kamu gak papa kan?” Tanyaku masih penasaran soal hal itu. “Gue baik-baik aja, dan gue bakal lebih baik-baik aja lagi kalo Lo gak injek kaki gue tadi” “Hhhmmm... kayanya emang baik-baik aja sih, buktinya masih bisa marah-marah gitu” Gumamku pelan, sia-sia saja tadi aku mengkhawatirkannya pikirku. “Minggir gue mau lewat!” Ucapnya sambil langsung saja melewatiku. Padahal jalanan itu masih luas dan lebar, tapi kenapa dia malah ingin melewati jalan tempat aku berdiri saat ini. Aku kemudian berjalan mengikutinya. Karena yang kutahu dari Mas Nakula kalau Dewa juga akan melakukan konsultasi untuk terapi yang di rekomendasikan oleh pihak rumah sakit belum lama ini. “Put, ngapain Lo ngekorin gue?” “Ehm? Ya kan aku di suruh nememin kamu...” “Ahhh, Put, gue ini juga dokter, bahkan gue ini lebih duluan jadi dokternya dari pada Lo yang masih mahasiswa sekarang... gue bisa sendiri tau” Ucap Dewa padaku. Jika bukan karena tahu kalau dia itu sedang sakit, aku pasti tak akan mau sesabar ini menghadapinya. “Dokter itu bakal tetep aja jadi pasien, kalo dia lagi sakit dan butuh perawatan Dewa.... udah ah, ayo aku temenin masuk ke dalemnya” Tak kupedulikan lagi dia akan marah atau mengamuk sekalipun, langsung saja kutarik tangannya dan kuseret dirinya untuk berjalan menuju ruangan tempat dirinya memiliki jadwal konsultasi hari ini. . . Dan setelah kurang lebih tiga puluh menit mendengarkan penjelasan dokter yang bertanggung jawab, akhirnya Dewa memutuskan untuk mengikuti terapi sel punca atau steam cell yang di gadang-gadang bisa menjadi harapan baru untuk meregenerasikan jaringan Spinal Cord Injury. “....” “Kami pastikan kesehatan anda akan mengalami kemajuan dokter Sadewa” “Terimakasih dok, saya percayakan perawatan dan pengobatannya pada anda” Balasku mewakili Dewa “Tentu...” “Kalau begitu, terimakasih kami akan datang lagi sesuai jadwal yang sudah di tetapkan tadi...” “Ya, selamat siang...” Kemudian setelah itu Dewa dan aku bersama-sama keluar meninggalkan ruangan dokter dan akan langsung saja untuk pulang ke rumah. “Put, Lo... gak ngira kalo gue ini sekarang Nakula kan?” “Engga lah, aku jelas bisa bedain kamu sama suami aku...” Balasku atas pertanyaannya yang ada-ada saja itu. “Terus kenapa tingkah Lo tadi di depan dokter seolah-olah kalo Lo itu wali gue, lebih banyak nanya dari gue, bahkan Lo juga yang bilang makasih sama dokter di dalem tadi...” Ucapnya padaku. Aku tadi memang sedikit lebih banyak bertanya, karena takut terapi yang akan di jalani oleh Dewa itu justru akan menimbulkan resiko dan efek samping yang cukup berbahaya nantinya. “Yaa karena penyakit kamu itu bukan penyakit biasa kaya sejenis flu atau demam yang nanti sore bisa cepet turun, jadi wajar aja kan kalo aku nanya-nanya tadi...” Balasku. “Ahh, dari pada Lo urusin gue mending Lo latihan buat Ujian OSCE aja sana...” *(Ujian OSCE atau Objective Structured Clinical Examination adalah ujian untuk menguji skill tentang pemeriksaan atau penanganan hecting atau menjahit luka, memasang infus, anamnesis atau istilah untuk komunikasi antara dokter dan pasien) “Ih, jangan ingetin ituuu bikin tegang tau gak...” Balasku, karena jujur saja ujian yang satu itu benar-benar yang paling bisa membuat jantungku sampai mau copot rasanya. Saat ujian itu OSCE itu berlangsung, kita harus melakukan tindakan di satu ruangan yang di isi oleh satu pengawas yang tentunya seorang dokter. Dan yang membuatku merasa sangat sangat amat tegang sekali adalah kita yang di tuntut untuk selalu berbicara atas apa-apa saja yang harus kita lakukan sebagai dokter pada pasiennya, lengkap secara step by step, dan tak boleh ada yang terlewat. Jika sampai ada yang terlewat maka nilai akan berkurang. Belum lagi waktu ujiannya itu yang hanya 10-15 menit saja per stationnya. ‘Ahh, bener-bener deh, skripsi belum jalan, ujiannya berat banget lagi... kenapa dulu aku nyemplung di fakultas kedokteran sih???” Heranku pada diriku sendiri jadinya. “Ah! Dewa” Aku tiba-tiba merasa mendapat ilham saat melihat dirinya yang saat ini sedang menatap sinis ke arahku. “Ehm?” “Ajarin gue buat ujian OSCE dong, yaaaah, baik deh...” Aku benar-benar sangat membutuhkan bantuannya saat ini. “Engga, males” Aku tahu jawabannya akan begitu, tapi aku tak akan menyerah dan akan kupastikan dia akan memberikan sedikit waktunya untuk mengajariku. “Ih, sebentar ajaaa...” Aku memelas padanya. “No!” “Mau yaaa...” “Gak Put” “Aku traktir deh....” “Gak laper” “Kalo gitu... soal kamu yang takut gelap semalem-“ “PUT! Jangan bahas itu!” “Okey kalo kamu gak mau bahas itu, kita bahas ujian aku okey?” ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN