Putri pov
“Hoam....”
Aku menguap bersamaan dengan meleknya mataku yang berat dan masih ingin terpejam ini.
“O-oh?”
Kagetku, saat kusadar ternyata semalam aku malah tertidur di sofa. Dan sepertinya...
“Ehm...”
Dewa juga ternyata tidur di sofa semalam bersamaku, dan kulihat ia bahkan masih belum bangun saat ini.
Aku sedikit tak menyangka di buatnya, rasanya luar biasa sekali aku bisa tidur dengan pulas hingga pagi di satu ruangan dan terbaring di satu sofa yang sama dengan Dewa. Dalam posisi setengah duduk semalaman ia tidur, kakinya di letakannya pada meja di depannya.
Padahal di samping sofa tampatku dan Dewa kini duduk masih ada satu sofa kosong, tapi kenapa dia mau berbagi tempat denganku dan memilih tidur seperti itu, Aneh sekali dia itu.
Selagi ‘naga’ itu masih tidur, kuberanikan diri untuk perlahan mendekat padanya.
“Hhhh...”
Suara napasnya tedengar sama lembutnya seperti Mas Nakula saat tertidur, bahkan sering kukatakan pada suamiku kalau ia mirip seperti bayi saat sedang tidur. Dan ternyata itu pun berlaku untuk kembarannya, saat ini Dewa benar-benar mirip seperti bayi mungil yang lucu dan menggemaskan sekali. Pokoknya berbeda sekali dengan biasanya, saat ia bangun apalagi mengajar di kelas... Eerrrrr
Kini dari jarak yang sudah begitu dekat, akhirnya bisa kuperhatikan lekat wajah kembaran suamiku yang terlihat begitu tenang dalam lelap tidurnya itu.
“Mereka bener-bener kembar... identic”
Gumamku pelan. Tapi setelah ku lihat-lihat lagi ternyata hidung Dewa sedikit lebih kurus dan tajam di bandingkan Mas Nakula. Bibir bawahnya juga lebih tebal, di tambah lagi wajahnya yang baru kusadari ternyata lebih tirus. Sampai kini jadi kuperhatikan tubuhnya yang diam dan sedang tak bergerak di depanku ini.
“Ternyata Dewa kurus, apa dia jarang makan ya?”
“Ehmm...”
Kulihat kini kepalanya bergerak gelisah, seperti tak nyaman, mungkin karena terkena sinar matahari yang mulai masuk dari jendela rumahku dan memberikan sensasi hangat di wajahnya itu.
Hingga kuangkat tanganku lalu kuletakan di atas wajahnya untuk memayunginya dari cahaya matahari yang sedikit mengganggu tidurnya itu.
Dan hasilnya, ia terlihat tenang kembali sekarang.
“Dewa...”
Gumamku, dan ternyata aku bisa melihat satu hal baik darinya, yaitu wajahnya. Kalau saja wajahnya ketika tidur itu masih galak, aku mungkin akan menempelkan lem lakban di mulutnya agar dia tak bisa lagi menjadi dosen bawel dan hobi marah atau membuatnya tidur selamanya.
Dan kalau saja wajahnya tak sama seperti suamiku, aku sudah lama akan melemparkan cake atau telur atau mungkin juga tepung pada wajahnya dan bukan melindunginya dari sinar matahari seperti sekarang ini.
“Sayang...”
Aku langsung menoleh pada arah sumber suara panggilan itu. Kulihat Mas Nakula sudah pulang dan kini sedang berjalan menghampiriku dan Dewa.
“Sutttt...”
Aku memberikan tanda pada Mas Nakula Untuk tak membuat suara keras karena Dewa yang masih tidur.
“Sayang...”
Bisiknya dengan suara yang amat sangat pelan, Mas Nakula lalu mendudukan diri di sampingku dengan tangannya yang langsung di lingkarkannya di pinggangku. Tak lupa ia mengecup pipiku, seolah ingin menyampaikan rindunya padaku setelah seminggu lamanya tak bertemu.
“Mas, jangan berisik kalo Dewa bangun, nanti urusannya ribet...”
Mas Nakula kulihat kini terkehkeh saja, ia lalu mengangguk mengerti apa maksud dari perkataanku.
“Iyaaa, yaudah Mas masuk kamar duluan”
Ucapnya sambil bangun dari duduknya dan mulai berjalan ke kamar lebih dulu.
Tapi rasanya aneh sekali kalau harus kuabaikan suamiku demi memayungi dosen menyebalkanku yang sedang tertidur ini. Akhirnya dari pada Mas Nakula kubiarkan berganti pakaian sendiri, jadilah terpikir olehku untuk mengambil payung yang kebetulan kuletakan di salah satu laci yang berada tak jauh dariku saat ini.
Kubuka payung itu lalu kuposisikan untuk memayungi Dewa.
“Nah, ginikan aman...”
Gumamku puas, dan setelah selesai dengan itu, aku berjalan mengendap-endap menuju kamar untuk menyusuli suamiku tersayang.
“Masss...”
Panggilku sambil memeluki erat tubuhnya dari belakang. Aku benar-benar merindukan aroma tubuhnya yang amat sangat menenangkan ini.
“Sayang...”
“Ehmm, kangen bangettt”
Ungkapnya sambil langsung mengangkat tubuhku dan membuatku berada dalam pangkuannya.
“Sama, aku kangen Mas jugaa...”
Balasku dengan langsung kutenggelamkan wajahku pada leher dan area pundaknya.
“Kamu di sini baik-baik aja kan?”
Kugelengkan kepalaku untuk tanyanya itu.
“Loh kok, kenapa? Ada apa? Ada masalah apa selama Mas gak ada?”
Tanyanya dengan langsung memasang wajah khwatirnya padaku.
“Ehmm, masalahnya cuma satu... Aku kangen di pelukin Mas dan gak bisa tidur sendiri tanpa kamu Mas...”
Balasku, hingga Mas Nakula kini jadi terkehkeh karena ucapanku itu.
“Sayang, kamu pagi-pagi udah gombalin Mas...”
Cup
Cup
Cup
Aku mendadak di berinya banyak kiss attack di pipiku.
“Akh!!”
Tiba-tiba saja terdengar suara erangan yang berasal dari ruang tengah.
“Oh? Itu Dewa?”
“Dia bangun? Tapi kenapa kaya kesakitan gitu? Apa mungkin dia jatoh?”
Terka Mas Nakula,
“Ehm? Masa sih...”
Aku dan Mas Nakula jadi bertanya-tanya apa yang baru saja telah terjadi pada Dewa di sana.
“Ah! mungkin payung...”
“Payung?”
“Ehm i-ituu...”
Aku sudah memiliki firasat kalau aku akan kembali mendapat omelan dari Dewa pagi ini. Dan sepertinya aku benar-benar harus memastikan Dewa terlebih dulu. Hingga aku meminta Mas Nakula untuk menurunkan tubuhku dari pangkuannya. Lalu dengan segera aku langsung berjalan menuju ruang tengah di mana Dewa berada.
“Oh?”
Dewa sudah bangun dan kulihat ia sedang terduduk sambil melipat payung yang tadi kuletakan untuk melindunginya dari sinar maahari.
“Put, rumah lo kehujanan atau gimana sih, kok gue di payungin gini?? Liat nih jidat gue jadi kepentok payung pagi-pagi...”
Ucapnya dengan nada judes khas dirinya saat sedang tak suka.
“Ehm, itu- itu tadi... Ehmm...”
Padahal tadi niat hati inginku membiarkannya tetap tidur lelap dan tak terkena sinar matahari, tapi aku malah di omelinya seperti ini.
“Jangan bilang... kalo Lo mau ngerjain gue?”
Curiganya padaku.
“Ih, pikirannya buruk mulu deh, siapa yang mau ngerjain-”
“Hey, udah udah... kalian ini ribut terus, masih pagi ini, dari pada ribut mending ayo sarapan bareng...”
Ucap Mas Nakula yang langsung menghentikan kalimatku sambil merangkulku, berusaha meredam emosiku yang mulai naik karena harus mengahadapi Dewa yang pagi-pagi sudah ingin membuatku naik darah saja.
Akhirnya setelah ribut-ribut soal payung itu, kini aku, Mas Nakula dan Dewa sudah duduk bersama di meja makan untuk menyantap menu sarapan sederhana yang sebelumnya sudah kubuatkan untuk sarapan bersama pagi ini.
“Ini diminum sayang...”
Ucap Mas Nakula sambil memberikan segelas s**u padaku.
“Ehm makasih Mas...”
“Na, buat gue mana?”
Dewa tiba-tiba saja jadi ikut meminta segelas s**u juga pada suamiku.
“Ambil sendiri, tangan Lo gak papa kan? Masih dua kan?”
Balas Mas Nakula, aku terkehkeh saja mendengarnya, Mas Nakula lalu melemparkan senyumnya padaku setelah berhasil membuat Dewa jadi memasang wajah kesalnya karena ucapannya baru saja itu.
Sampai kini di hadapanku nampak ada dua wajah yang sama, tapi keduanya sedang memasang ekspresi yang sangat berbeda. Rasanya kalau sedang seperti ini, perbedaannya jelas terasa sekali. Mas Nakula dan Dewa seperti dua buah nagun datar yang sama-sama terbuat dari garis, namun berbeda bentuk seperti sebuah lingkaran dan persegi. Yang satu amat mulus dengan lengkung indahnya, dan yang satunya seperti sebuah persegi yang terbangun dari sudut-sudut tajam, yang mewakili semua kalimatnya yang sama tajamnya, yang selalu keluar dari mulutnya itu.
“Apa liat-liat??”
Tanyanya sinis padaku.
“Apa? Kenapa? gak boleh?”
Balasku tak kalah nyolot darinya.
“Gak boleh, Norak tau gak, kaya baru liat orang kembar aja...”
“Ihhh dasar nyeblin!”
“Nyebelinn??!! Wah, nyesel gue bantuin skripsi Lo semalem...”
Ucapnya.
“Suttt udah ah”
Lagi-lagi Mas Nakula harus menghentikan pertengkaranku dengan Dewa yang kedua kalinya pagi ini.
“Ah Dewa, jadwal control sama check up Lo hari ini kan? Nanti bareng aja, sekalian gue mau periksa sama Putri”
“Control? Check up? Dewa sakit apa?”
....
....