Sama Tapi Beda II

2152 Kata
Author pov “....” “Hahahh...” Sementara Putri kini tengah bersembunyi di belakang tubuh Dewa sambil menutupi wajahnya. Justru rasa puas nampaknya jelas sekali terpampang dari wajah Dewa yang sudah berhasil menakuti-nakuti Putri. Ia sampai tersungkur di sofa ruang tamu rumah Putri dan Dewa itu, tergakgak ngakak lepas memecah tawanya keras sekali. “Ih! Gak lucu tau gak??!!!” Protes Putri kesal, sambil memukul punggung Dewa yang semula menjadi tempatnya menyembunyikan diri itu. “Ah! Jangan mukul, sakit tau” “Bodo amat!” Ia kemudian memilih berjalan menjauh saja dari Dewa yang sudah menakut-nekutinya itu dan kini masih betah mentertawakannya. “Awas Put ada di bawah ranjang...” Lagi-lagi Dewa mengatakan hal yang membuat Putri ketakutan. “Dewaaaa...” Putri sampai berteriak sambil berlari kembali lagi mendekat pada Dewa dan sudah duduk saja merapat di sampingnya sekarang. “Dih, sana ngapain nempel-nempel gini...” “Ih, aku bilangin Mas Nakula kamu jailin akuuu” Ucap Putri dengan nada takut dan seperti hampir akan menangis itu. Melihat itu Dewa jadi menatapnya serius, bahkan tak lama kemudian air mata sudah jatuh saja membasahi pipi Putri. Padahal Dewa tadi sudah mendapat ancaman dari Nakula, kalau ia sampai membuat Putri menangis lagi, ia akan di beri jabatan di rumah sakit milik ayah mereka yang paling di hindari oleh Dewa. “Ooh... jangan jangan jangan! iya deh engga lagi” “Bohong!” “Serius, jangan telpon Nakula, nanti dia marahin gue lagii...” Sejujurnya Dewa bukannya takut di marahi oleh saudara kembarnya itu, ia hanya terlalu malas untuk mendengar ocehan panjang dari Nakula yang selalu bertingkah seolah sangat jauh lebih dewasa dari dirinya. Tapi sepertinya Putri tak ingin mengindahkan ucapan Dewa itu, hingga dia sudah mengeluarkan handphonenya dan hampir menekan tombol memanggil di layarnya itu. “Put Put Put! Jangan yaa, please jangan yaah” Dan situasinya kini justru jadi berbalik, Dewa kini malah jadi orang yang terlihat sedang dalam posisi tak menyenangkan. Ia bahkan sampai memelas di hadapan Putri dengan kedua tangannya yang di buat bersatu seperti tengah memohon, pada istri dari kembarannya itu. “Pleaseee....” Melihat Dewa yang biasanya selalu angkuh dan dengan galaknya memarahinya, tapi kini malah tengah memohon-mohon padanya, tentu Putri tak ingin hanya menyia-nyiakan peluang dan kesempatan di mana ia bisa memanfaatkan keadaan saat ini. “Ehmm... Tapi- tapi ada syaratnya” “Apa?” “Rekomendasiin metode pendekatan penelitian buat skripsi aku” Pintanya. “Lo, ngerjain gue? Mau manfaatin keadaan gitu?” Tanya Dewa saat sadar Putri mengambil kesempatan itu untuk mendapat bantuan darinya soal skripsinya itu. Putri mengulum senyumnya, ia tak bisa mengelak, bahwa memang itulah yang sedang coba di lakukannya saat ini pada Dewa. “Engga tuh, tapi.... kamu kan juga dosen pembimbing aku, seharusnya itu bukan masalah kan? Cuma rekomendasi aja, aku gak minta kamu ngerjain juga skripsi aku kok...” “Tapi kan Gue suruh Lo buat cari keunggulan dari semua metode pendekatan penelitiannya terus Lo poloh mana yang cocok Put!” “Ih jahat! Pelit banget sih rekomendasiin doang Dewaaa, kamu kan pasti tau mana yang cocok buat penelitian akuu” Mendengar rengekan itu, Dewa hanya diam saja sambil melemparkan tatapan tak suka dan jelas tak bisa setuju dengan ingin Putri itu. “Yaudah, aku bilangin Mas Na-“ “Jangan- jangan!! Okey gue bantu rekomendasiiin...” Akhirnya Dewa memilih untuk mengalah saja. Karena menurutnya, akan lebih baik jika dirinya saja yang mengoceh pada Putri, membantu mengerjakan skripsinya, dari pada harus mendapat ocehan panjang dari Nakula. “Yeay!!” Putri terlihat senang sekali kini, moodnya sampai berubah 180 derajat berbeda sekali dengan sebelumnya. Ia bahkan melompat-lompat kecil, riang kegirangan. Ini adalah kesempatan yang amat sangat langka sekali untuknya, karena Dewa jarang sekali bisa di tanyai dan di mintai tolong sejak dirinya menjadi dosen pembimbingnya itu. Dewa selalu saja meminta Putri untuk mencari semua sendiri dan melapor padanya, dan ujung-ujungnya berakhirlah Putri dengan di marahi karena selalu tak sesuai dengan pinta Dewa. “Ah, bentar aku ambil laptop sama materinya dulu” Ucap Putri sambil kemudian berlari ke meja belajarnya dan mengambil semua yang di butuhkannya untuk start lagi mengerjakan skripsinya. “Hhh... jadi udah tau mau ambil sampel sama populasinya kira-kira berapa orang?” “Ehm, populasinya target 110, terus samplenya 60 orang” Kali ini Putri bisa menjawabnya, tak seperti pertemuan sebelumnya ia hanya bisa gelagapan, kebingunan tak jelas. Mungkin karena bawaan suasananya yang lebih santai, bahkan Putri yang bisa dengan bebas memanggil Dewa hanya dengan namanya saja, tanpa embel-embel Bapak atau Pak seperti biasanya di kampus. “Jadi...” “.....” Dewa kemudian menjelaskan dengan cukup rinci namun dengan bahasa yang tak begitu baku ataupun baku, hingga Putri bisa menangkapnya dengan mudah. Keduanya tampak begitu santai membahas topik skripsi yang Putri ambil. Putri yang bahkan kini bisa sambil tengkurap mendengarkan Dewa yang terus menjelaskan metode dan hingga durasi waktu penelitian yang akan di ambil oleh Putri nanti. “Jangan sampe malu-maluin Gue nanti di rumah sakit M” Tutup Dewa setelah satu jam lamanya ia menjelaskan pada mahasiswanya itu. “Ahahaha engga lah” “Hhhh...” Mendadak harus memberikan kuliah malam-malam pada Putri, rupanya cukup bisa untuk menguras energy Dewa, sampai sampai kini ia terlihat lemas, terkapar, bersadar, sedang melemaskan tubuhnya dalam posisi yang setengah berbaring di sofa yang cukup cozy di ruang tamu rumah Putri itu. Putri yang juga terbaring lemas di samping tumpukan buku tebal kedokterannya, terlihat amat lelah setelah membahas skripsinya yang cukup menguras otak itu. “Ngajarin Lo bikin gue abis daya tau gak...” Keluh Dewa sambil memjamkan matanya, ia terlihat benar-benar seperti sudah tak lagi memiliki tenaga saat ini. “Dengerin kamu juga bikin aku lemes tau gak...” “Ah! Mau aku masakin indomie gak? Gratis deehh” Tawar Putri pada Dewa yang sedang bersandar pada sofa di sampingnya itu. “Males, makan mie malem-malem itu bisa-” Kriukkkk Padahal niatnya Dewa ingin beralasan dengan hadist kesehatannya, tapi kini perutnya malah berbunyi dengan kerasnya minta di isi setelah kelelahan mengajari Putri. “Udah, mau berapa bungkus? Pake cabenya berapa biji?” Tanya Putri dengan berani to de point tanpa sedikit pun merasa canggung. “Ohh, satu aja, telurnya di pisah” Dewa malah meminta begitu karena kepalang akan di buatkan mie instan oleh Putri. “Okey siap Bos, catetan yang barusan jangan di buang, mau aku baca lagi” “Iya, udah sana buatin Gue laper” Putri kemudian langsung berjalan menuju dapur rumahnya untuk menyiapkan mie untuknya juga Dewa. Dan sepuluh menit sudah berlalu, tapi Putri masih berkutat di dapurnya. Ia benar-benar sangat menikmati saat-saat memasak menu sederhana seperti mie instan itu. Berbeda sekali dengan Dewa yang kini nampaknya sudah tak sabar ingin segera menyantap makanannya, sampai sampai jadilah Dewa memilih untuk menyusul saja Putri ke dapurnya. “Buruan Put, malah sambil nyanyi-nyanyi...” Mendengar protes Dewa itu, Putri hanya meresponnya dengan mengehela napasnya saja dan memilih focus saja kembali memasak. Klik “Oh??” Tiba-tiba saja semua jadi gelap, lampu mendadak mati, sampai Putri dan Dewa jadi celingukan, berusaha melihat meski hanya hitam saja yang bisa nampak di mata mereka sekarang ini. “Put- Put... Putri, Lo dimana?” Dewa nampaknya jauh lebih panik dari Putri karena tak ada cahaya yang kini menerangi tempatnya berdiri. “Apa? Aku depan kompor, jangan deket-deket! nanti tangan kamu gak ketauan nyentuh panas dari kompor, udah diem aja di situ...” Putri memberikan peringatan pada Dewa seperti itu. “Tap- tapi... Put, Put?” “Apa?” “Handphone kamu mana? flash nya nyalain dong, ini rumah gak lampu daruratnya apa??” Karena benar-benar sudah di kuasai ketakutan, perlahan Dewa menggusur langkahnya, ingin mendekat dan mencari perlindungan pada Putri, yang sejujurnya sedang berdiri tak jauh darinya. “Bawel deh, udah diem aja di situ” “Gak, gak mau! Tangan Lo mana? Sini gue pinjem” Pinta Dewa, dan Putri yang masih bisa sedikit melihat bayang-bayang buram keadaan di dapurnya itu, langsung mematikan kompor listrik yang baru saja di pakainya untuk memasak mie instan itu. Ia kemudian berbalik, beruntungnya seluit tubuh Dewa masih bisa di lihatnya, terpantul dari cahaya bulan di luar yang masuk ke jendela dapurnya. “Dewa...” “Put, mana tangan kamunyaaa...” Tap Akhirnya tangan Dewa menangkap tangan kurus milik Putri dan langsung kuat di genggamnya. “Dewa, pegangnya biasa aja...” Putri di buat merasa tak nyaman dengan genggaman erat tangan Dewa yang terasa jauh lebih dingin dari suhu normalnya itu. “Kita- kita ambil handphone dulu atau seengganya cari senter, lilin atau apapun itu...” “Iya tapi ini pegangnya biasa aja” “Ah, ayo Puuuuutt” Dalam gelap Putri jadi menyiritkan dahinya, keheranan dengan tingkah Dewa yang jadi seperti anak kecil itu. “Ckkk... aneh banget sih” Putri kemudian berjalan lebih dulu dengan santainya, karena memang ia sudah mengetahui dan terbiasa dengan tata letak ruang di rumahnya itu. “Put, siniii... Jangan jauh-jauh” Dewa yang merasa langkahnya tertinggal di belakang Putri itu, tiba-tiba saja menarik tangan Putri untuk kembali mundur. Tak hanya sampai di situ, Dewa juga meletakan kedua tangan kekarnya pada pundak Putri yang memiliki tinggi tubuh jauh di bawahnya. “Wa, apaan sih??” “Jangn jauh-jauh, kenapa Lo mau tinggalin gue sih???” “Dewa aku-...Tunggu, jangan bilang kamu- kamu... Takut ya?” Meski menurut Putri sangat tak masuk di akal jika dosen galaknya itu, sekarang ini benar sedang merasa ketakutan karena gelap, tapi dari semua tingkahnya itu lebih dari cukup untuk mengungkapkan kalau memang Dewa sedang sangat ketakutan karena gelap saat ini. “Ah jangan tanya itu sekarang! Put, kita ke ruang tengah aja dulu deh yuuu” Ucap Dewa dengan nadaya yang terdengar memaksa dan tak sabaran. Putri terkehkeh di buatnya, ia baru tahu kalau Dewa ternyata takut gelap. Sampai kemudian dengan langkah perlahan dan berkat tuntunan tangan Putri, Dewa akhirnya bisa mengambil handphonenya yang di tinggalkannya di sofa ruang tengah. Dan jadilah ruangan tempat keduanya berada itu bisa di sinari oleh cahaya dari handphone Dewa itu. “Put, punya lampu yang lebih terang ga?” Tanya Dewa yang tak puas hanya mendapat sinar dari handphonenya itu, Putri di buat jadi tersenyum geli melihat wajah lucu Dewa yang sedang ketakutan itu. “Jangan ketawain guee, cepet cari yang lain” “Iya, iyaaa aku ambil lilin bentar” “Ikutt” “Hahahahahh....” Putri tak bisa untuk tak tertawa lepas di buatnya, ia sungguh tak percaya jika Dosen yang selalu membentakinya itu ternyata benar-benar takut sekali pada gelap. “Ah! jangan ketawa!!!” “Lagian, badan gede, tingkah nyebelin, hobi marah-marah, eh takut gelap” Ucap Putri sambil terus tertawa karena tingkah kembaran suaminya itu. “Gak lucu Put, cepet nyalain lilinnyaaa...” “Bhahahahh...” “Putriiii!!!!” ..... Akhirnya ingin Dewa untuk bisa menyalakan lebih banyak cahaya itu di penuhi oleh Putri. Hingga kini jadilah rumah saudara kembarnya itu di penuhi oleh cahaya dari lilin lilin di hampir semua sudut ruangannya. Dan Putri yang semula banyak mengeluh karena berlebihan menurutnya untuk menerangi rumahnya dengan banyak lilin, tapi kini ia pun malah jadi memasang senyumnya, terpesona akan keindahan warna terang dari cahaya lilin yang memancarkan nuansa lembut di ruang di rumahnya itu. “Cantik banget rumah aku sekarang...” Gumam Putri, “Ahh, akhirnya terang juga...” Balas Dewa sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa, merasa sangat lega, karena tak lagi dalam gelap dan pengap, minim cahaya seperti sebelumnya. “Dewaaa... Dewa, punya takut juga ternyata” Ucap Putri sambil menghempaskan tubuhnya, ikut duduk bersandar di samping sofa tempat Dewa merebahkan dirinya. “Gue juga manusia Put” “Ternyata kalian ini bener-bener mirip kalo lagi takut gitu” Balas Putri sambil merubah posisi duduknya jadi menyamping, menghadap Dewa. “Miriplah orang kembar identic” “Bukan itu, tapi takutnya... kamu sama Mas Nakula sama-sama kaya anak kecil lagi lagi takut” Ucap Putri, Dewa jadi menoleh pada Putri karena baru saja di samakan dengan anak kecil. “Oh ya? mungkin cuma Nakula yang kaya anak kecil, gue engga, sorry...” “Hhh... terserah, tapi kalian bener-bener sama, tapi bener-bener juga juga...” Putri mulai tak jelas dengan ucapannya. Dan dari tatap lekat juga jarak yang cukup dekat kini, matanya menyadari betapa miripnya wajah pria yang selalu tidur di sampingnya dan kini sedang berada di luar kota itu, dengan pria galak yang sedang di pandanginya kini. “Mas....” Panggil Putri tiba-tiba, “Heh! Jangan ngaco ya, gue ini bukan Mas-mu, suami-mu! Inget itu!!” “Iya-iyaaa... aku gak mungkin salah juga kok, kalian sama tapi bedaaaaa bengett!! Mas Nakula baiiiik banget, kamu jahaaat bang-“ Plakkkk “Aaa!!! Kenapa pukul aku Dewaaa?!” Dewa langsung kena protes karena sudah melayangkan pukulan ringannya pada kening Putri, yang baru saja membandingkan dirinya dengan Nakula dan mengatainya jahat itu. “Makanya mulutnya di jaga!” “Hhhhh... kalian ini emang beda banget sih, padahal kalo sama Mas Nakula kening aku ini di kecupin, di belai, eh sama kamu malah di jitak semabarngan, dasar nyebelin!” Gerutu Putri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN