Sama Tapi Beda I

1687 Kata
Masih sisa 2 hari lagi sampai Mas Nakula ada di rumah. Aku benar-benar sangat merindukan kehadirannya. “Hhhh” Buku-buku di hadapanku benar-benar membuatku ingin pingsan saja rasanya. Tapi akan sangat nyaman sekali jika kujatuhkan tubuh lelahku ini pada dekapan hangat tubuh Mas Nakula. Drekkk drekk Leherku sampai mengeluarkan suara seperti patahan seperti itu saat kumiringkan ke kanan dan ke kiri, rasanya lepas sudah sambungan kepalaku dengan leherku ini karena terlalu banyak menunduk menatapi semua buku-bukuku itu. “Dewa pasti tak akan berhenti mempertanyakan bagaimana dan di mana aku akan melakukan penelitian antara LDL dan stroke ini” Memang kemarin akhirnya topik dan judul yang kuajukan itu di terima oleh Dewa. Judulku semula di kritik terlalu panjang dan bertele-tele, sampai kemudian Dewa mengusulkan sebaiknya kalau judul skripsiku itu adalah… HUBUNGAN ANTARA KADAR LDL KOLESTEROL PADA PENDERITA STROKE DI RUMAH SAKIT …… *Belum kutemukan rumah sakitnya Dan bukan Dewa namanya kalau tidak menyebalkan. Begitu kudapatkan judul ini, aku langsung saja di hujani banyak pertanyaan olehnya. Berapa lama aku akan melakukan penelitian ini? Dari kapan sampai kapan? Berapa partisipan dan berapa sample yang akan kujadikan subjek penelitian, kemudian juga teknik sampling dan masih banyak lagi. Sepertinya ia memintaku untuk membuat keseluruhan skripsiku hari itu juga. Aku belum sampai sedetail itu memikirkannya, hanya baru mendapatkan sebagian besar gambarannya saja. Dan bukankah dia ada adalah untuk membimbingku untuk menyelesaikan skripsiku. Tapi Dewa malah seperti inginkan hanya menerima hasil skripsiku yang sudah sempurna. “Ahh, mengingat Dewa kepalaku malah jadi makin sakit” Gumamku sambil membangunkan diri, sudah tak kuat lagi aku duduk lebih lama, berkutat dengan buku-bukuku. “Aku hanya tinggal menghubungi bagian saraf rumah sakit M, aku harap Mas Nakula mau membantuku untuk yang satu ini…” Gumamku sambil kuregangkan, kubawa untuk menggeliat, tubuh yang seperti akan patah dan temuk ini. Mataku tertuju pada jendela kamar Dewa yang masih belum tertutup tirainya, sampai menampilkan sosok dosenku yang sedang duduk, tunduk, terlihat begitu sibuk dengan beberapa berkasnya di sana. “Hhh… kalau dia memintaku untuk menjadi robot sama sepertinya, aku tak bisa, sungguh” Sepertinya ia tak beranjak dari duduknya itu dari pukul 5 sore tadi, dan kini sudah pukul 9 malam. Apa pantatnya tak panas ya, heranku. Meski aku juga sejak masuk fakultas kedokteran sering duduk berlama-lama dengan setumpuk bukuku, tapi tak pernah aku sampai berlebihan sepertinya. Mas Nakula juga begitu, ia berkata coba untuk belajar intensif tapi tak berlebihan. Tapi sepertinya Dewa tipikal orang yang akan belajar sampai mati pun bisa sepertinya. Ting Jangan ngintipin gue, kerjain skripsi Lo “Ih, siapa yang ngintip sih, justru dia yang ngalangin pemandangan, dasar narsis” Gerutuku sambil kututup saja tirai jendela kamarku, kesal dan illfeel sekali padanya. Ting Gue harap Lo tidur nyenyak Put, tapi sayangnya ini malam jum’at Awas ada yang nyamperin hihihihi *Emot hantu “Dia ini gak jelas banget sih? Mau nakut-nakutin gitu ceritanya? Hhh, gak takut tuh…” Karena jujur saja bukannya takut, aku malah jadi kesal sekali di buatnya. “Dewa kurang kerjaan banget sih, aku mandi saja ah” Tapi sepertinya apa yang di katakan Dewa tadi cukup untuk menanamkan ketakutan padaku. Tiba-tiba saja aku jadi bergidik, bulu kudukku jadi berdiri, dan hawa-hawa horror mulai terasa memenuhi kamar mandiku saat ini. “Ah, kenapa aku jadi tak tenang begini” Aku juga dibuat jadi tak henti-hentinya melirikkan mataku ke arah tirai pemisah bath tube dengan toilet kamar mandiku. Mendadak muncul banyak pikiran aneh, seperti mungkin saja ada sesosok makhluk yang sedang memandangiku di sana dengan wajah seramnya khas hantu seram. “Mass…” Aku benar-benar sudah sangat takut sekali saat ini, sambil memanggil namanya aku langsung saja lari ke kemar keluar dari kamar mandi, tak kuselesiakan mandiku dan cepat-cepat kuraih handphneku. Segera kuhubungi suamiku yang sedang berada jauh dariku malam ini. “Halo, Mas” “Apa sayang, kamu lagi apa?” Tanyanya begitu sambungan handphoneku tersambung. “Mas, cepet pulang aja gimina…” Pintaku dengan nada yang sedikit merengek padanya. “Ada apa sayang? Ehm? Kamu gak papa kan?” “Mas, aku takutt…” Ungkapku pada pada Mas Nakula, rasanya ingin sekali kusembunyikan diri ini dalam peluknya yang selalu bisa menenangkanku. “Takut apa sayang?” “Takut hantu, tadi aku di takutin Dewa soalnya ini malam jum’at” Terdengar suara tawanya yang cukup lepas di ujung sambungan telpon ku ini. “Hahahh… Sayang, kenapa harus takut, biasanya juga engga takut… sama kecoa aja kamu bisa lebih berani dari pada Mas” “Ya kan Mas selalu ada sama aku setiap malam jum’at, ini jum’at pertama aku di tinggal sendiri seperti ini” “Sayang, mau aku hubungin Dewa biar dia temenin kamu…” “Engga mau ah, dia kan lebih nyeremin dari hant- AAAA!!!” Aku sampai berteriak histeris, kaget, sangat sangat kaget, begitu gantungan di meja samping tempat tidurku jatuh. Ah, apa ini?? Apa ini akan benar-benar jadi malam jum’at hororku. Rasanya tak lama lagi akan muncul sosok yang sangat… “Put!” “Aaaaa!!” Pintu kamarku tiba-tiba terbuka dan memunculkan sesosok makhluk yang entah harus kusebut dengan istilah apa, karena wujudnya itu lebih dari yang namanya me-nye-ram-kan. Handphoneku sampai terjatuh karena reaksi kagetku saat melihatnya. “Ada apa? Kenapa???” Tanyanya dengan panik padaku, “Kamu ngapain di sini bikin aku kaget tau?!” “Kamu yang kenapa? Teriak, bikin aku kaget!!” Sepertinya Dewa mendengar teriakanku yang kaget karena jatuhnya gantunganku tadi itu. “Itu- itu… tadi itu jatuh” Balasku sambil kutunjuk gantungan boneka Cony yang sudah tergeletak di lantai kamarku. “Hhh, Put!!! Bikin jantungan aja tau gak!! Cuma gara-gara itu??!! Ah, Gue pikir ada kebakaran atau apa gitu…” Ucapnya dengan nadanya yang sangat emosi. Ketakutanku jadi kian menumpuk saja, setelah takut hantu, sekarang malah jadi takut karena Dewa yang marah sampai terlihat ingin melahapku hidup-hidup. “Ya tapi kan bikin… bikin aku… takutt Ahahah…” Aku tak bisa mengontrol tangisku yang jadi pecah dengan suara yang cukup keras, rasanya takut dan kaget sekali aku di buatnya. Kupungut handphoneku yang terus bergetar, Mas Nakula sepertinya juga kubuat khawatir di sana. “Halo Mas… hiks…” “Mas, aku takuttt…aaahh” Aku mengadu padanya yang sedang berada jauh dariku sekarang ini. “Sayang, ada apa??? Kamu Gak papa kan??? Jangan bikin aku khawatir” “Ada Dewa, tadi aku kaget…” “Hhhh, kasih handphonenya ke Dewa” “Apa?” Aku ragu untuk melakukan apa yang Mas Nakula katakan padaku itu. Sampai aku hanya bisa menatapnya canggung, menimbang-nimbang, haruskah aku memberikan handphoneku pada Dewa? “Apa?” Dewa menatap sambil bertanya padaku begitu. Sepertinya ia sudah cukup tahu kalau aku harus melakukan sesuatu padanya. “Sayang kasih handphnenya sama Dewa, Mas mau bicara sama dia bentar” Ucap Mas Nakula sekali lagi dari telpon. “Tapi Mas-“ “Udah kasih aja” Mas Nakula memaksa, sampai kulangkahkan kakiku mendekat pada Dewa yang masih belum beranjak pergi dari pintu kamarku. “Mas Nakula mau bicara” Ucapku sambil kuserahkan handphoneku padanya. Ia langsung mengambilnya tanpa berkata apapun padaku. “Ehm… Ckkk” Dewa terlihat berdecak sambil menatapku dalam bicaranya dengan Mas Nakula di telpon. “Iyaaa… “ “Iya, iyaaa…” Tak jelas kudengar apa yang Mas Nakula bicarakan pada Dewa, tapi Dewa hanya terus saja menjawabnya dengan iya dengan nada malasnya. “Nih…” “Udah?” “Iya udah…” Saat di kembalikan ternyata handphoneku masih tersambung dengan Mas Nakula. “Halo Mas” “Kamu Mas titip ke Dewa dulu malem ini, besok pagi Mas pulang, baik-baik dulu sama Dewa ya…” “Mas tapi-“ “Dewa udah Mas bilangain buat gak jailin kamu jadi tenang aja, dia bakal jagain kamu kok” Ucapnya, “Yaudah sayang, telponnya Mas tutup dulu yaa, kalo ada apa-apa pokoknya cepet-cepet hubungin Mas” “Iya Mas…” Akhirnya ku tutup sambungan telponku dengan Mas Nakula. Rasanya benar-benar seperti terjepit di antara dinding sempit, sampai napasku jadi karuan karenanya. Huffttt… Kenapa Mas Nakula harus menitipkanku pada Dewa sih, aku kan tak akur dengannya. Kalau dia menyakitiku karena semua perasaan benci dan dendam terpendamnya padaku itu bagaimana?? “Gue di suruh tunggu di ruang tamu, jagain Lo malam ini” Ucapnya, aku terdiam mendengarnya, rasanya aneh sekali mengetahui kalau si dosen menyebalkanku ini akan menjadi satpam yang akan menjagaku malam ini. “Satu lagi… bisa gak sih Lo pake baju dan gak handukan gitu?” Ucapnya, sontak aku langsung melingkarkan tanganku di tubuhku, entah bagian mana yang coba kututupi saat ini. “Yaudah sana keluar, aku mau ganti baju dulu” Brakkkk Dewa langsung saja membanting pintu kamarku dengan kerasnya. Sampai aku tersentak kaget atas tingkahnya itu. “Eughhhh!! Bisa gak sih dia itu lembut dikit!” Gerutuku, Cepat aku berpakaian, kemudian kuperiksa sedang apa Si Dewa menyebalkan itu sekarang. Kubuka sedikit pintu kamarku ingin mengintipnya. Kulihat ia hanya sedang duduk sekarang sambil memainkan handphonenya. Aku tak yakin, benarkah apa yang di lakukan oleh suamiku itu dengan menitipkanku padanya. “Tapi, mau di liat dari mana pun, wajah Dewa itu sama aja sama Mas Nakula, tapi kenapa auranya beda ya?” Gumamku pelan sambil memperhatikan wajahnya. Dari caranya duduk, caranya memegang handphone, kemudian kakinya yang juga selalu di silangkannya sama percis dengan yang selalu Mas Nakula lakukan. Kalau kuambil potret Dewa sekarang, pasti semua orang akan menyangka kalau dia itu adalah suamiku bukan dosen yang selalu menyulitkanku di kampus. “Heh, ngapain di situ sini” “Ehm, I-ya” “Oh, tunggu, ini kan rumah aku ngapain kamu nyuruh-nyuruh aku seenaknya gitu” Balasku, rasanya tak terima sekali aku harus menundu-nunduk dan patuh pada perkataannya seperti di kampus, karena ini kan rumahku, ini wilayahku, jadi aku yang berkuasa di sini. “Apa? Ada apa?” Ucapku dengan nada berani. Bahkan kutegakan kedua bahuku sambil berdiri dengan tegap bersilang d**a di hadapannya. Dewa jadi manatapku heran kini. “Kau-“ “Apa?” Balasku sambil kunaikan daguku, “Itu- itu… di belakang…” Tak di selesaikannya, wajahnya jadi aneh sekali kini. Dan mendadak aku jadi merinding, takut, apa saat ini Dewa menemukan sosok gaib di belakangku? Oh bagaimana ini??? “Apa? Kenapa? Ada apa? Aaah…jangan bikin takut!!!” “Ha… haa…” “Aaaaa!!!!” ……
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN