“Hufffttt....”
Hembus panjang napas Dewa, amat lega di rasakannya, setelah bisa melarikan diri dari Putri yang mendadak menjadi ancaman juga godaan bagi imannya.
“Resiko jadi orang kembar, bahayanya lebih mengancam dari pada kena tsunami...”
Gumamnya melebih-lebihkan sambil mengusapi dadanya yang berdetak kencang sekali, seperti baru saja keluar dari pacuan kuda yang cepat sekali berlari. Ia bahkan bersandar lemas kini pada pintu rumahnya.
Dewa kemudian berjalan malas, menyeret kakinya yang lemas, ingin segera menghempaskan tubuhnya pada ranjang tempat tidurnya.
“Hhh...”
Lagi-lagi napas berat dan panjang itu di hembuskannya.
Dalam gelap karena mata yang di pejamkannnya, kini kepalanya mulai di penuhi bayang bayang masa lalunya, juga kata ‘seandainya’ yang terus berputar-putar bersama sesal yang mungkin tak akan ada habisnya dalam hidup seorang Sadewa.
‘Seandainya...”
‘Seandainya aja waktu itu, gue gak alamin kecelakaan...’
‘Seandainya gue gak sampe menderita cedera saraf tulang belakang...”
‘Seandainya tubuh ini gak jadi lemah dan gak punya daya, hari itu pasti....’
‘Gue udah jadi seorang suami dari perempuan yang gue cintai...’
Insiden bersama Putri sebelumnya, rupanya mampu membangkitkan ingatan kelam masa lalunya. Dewa selalu di rundungi perasaan sesal karena cedera saraf tulang belakang yang sempat di deritanya. Ia selalu merasa jijik dan jadi mengutuki kondisi tubuhnya yang seperti orang lumpuh kala itu.
Cedera yang sempat di alami oleh Dewa dua tahun yang lalu itu, memang bukanlah cedera biasa. Itu termasuk kondisi yang sangat serius dan berdampak buruk sekali bagi tubuhnya. Kerena cederanya itu terjadi pada saraf tulang belakang, yang berperan penting dalam proses penyampaian informasi dari otak ke seluruh bagian tubuh dan sebaliknya, karenanya ia sampai mengalami penurunan dalam gerak (motoric) dan sensorik tubuhnya.
Dan derajat kerusakan yang terjadi karena kecelakaan hebat kala itu, terbilang cukup berat. Dewa sampai harus mengalami kelumpuhan dalam jangka waktu yang tak sebentar.
“Kenapa gue harus alami semua itu...”
Ucapnya lirih, kini bahkan setetes air mata mulai jatuh mengingat kacaunya kondisi dirinya saat itu. Saat di mana dirinya harus terbaring lemah, karena cedera saraf tulang belakang yang terjadi pada area lehernya, sampai membuat lengan dan tungkai kakinya lumpuh, tak bisa di gerakannya sama sekali. Ia bahkan jadi sangat kesulitan dalam mengontrol buang air besar maupun buar air kecil.
‘Tanggung, kenapa gue hidup waktu itu...’
Selalu saja begitu pikirnya. Kecelakaan itu tak hanya berdampak buruk pada kondisi tubuhnya, tetapi ia juga harus sampai berakhir dengan melepas cinta matinya, karena merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang amat berharga dalam hidupnya kala itu.
“Kalo aja, gue bisa putar waktu...”
Gumamnya sambil memandangi potret dirinya bersama perempuan yang sudah bukan miliknya lagi saat ini.
‘Seandainya aku gak bodoh waktu itu, seandainya aku bisa lebih kuat dan gak lepasin kamu... sekarang ini kita bakal bersama sayang...’
Sesalnya, sambil tertunduk dalam isak air mata yang sudah lama tak di keluarnya. Ia kemudian menatap foto bahagia dirinya bersama keluarga besarnya, namun pandangnya kini tengah focus pada sosok wajah yang sama dengan dirinya.
“Seandainya gue bisa sebahagia Lo Na, seandainya bukan cuma wajah kita yang sama... tapi nasib kita juga sama...”
“Kenapa dari semua bahagia yang gue pengen, selalu Lo yang punya...”
“Termasuk soal cinta....”
“Kenapa?”
Keluhnya.
***
Cafe’ J pukul 15.00
“Iya Bu, ini Dewa udah sampe, Ibu dimana?”
“Meja ujung?”
Dewa telihat celingukan mencari sosok yang akan di temuinya hari ini. Sampai kemudian, akhirnya matanya menemukan sang Ibu yang tengah melambai-lambaikan tangan ke arahnya.
“Loh, kenapa ada Si Putri juga di sana?”
Herannya saat ia juga menemukan sosok yang jadi pemicu, atas suasana hatinya yang berubah jadi murung selama tiga hari ini.
“Kirain cuma Ibu”
Ucapnya ketus, begitu sampai dan mendudukan diri di kursi yang ada di samping Ibunya. Putri yang jelas sadar kalau ucapan Dewa itu, merupakan bentuk ketidaksukaannya atas keberadaan dirinya bersama ibunya itu.
“Hhh, kirain aku juga Ibu gak bakal manggil kamu”
Balas Putri. Mendengar itu, Ibu mertua Putri hanya menggelengkan kepalanya saja, sudah tak asing lagi dengan ketidakakuran yang terjadi antara Dewa dan Putri.
“Suuttt udah ah, kalian ini setiap ketemu ributt mulu, gak cape apa?”
“Dewa duluan, dasar dosen nyebelin”
“Gak ngaca ya! Dasar tukang bikin ulah!”
“SHh-“
Baru saja Putri akan mengamuk dengan tangannya yang siap ingin memukul mulut Dewa yang sudah mengatainya itu, tapi sayangnya niatnya itu harus di urungkannya, karena tangan ibu mertuanya malah lebih dulu menahan Putri yang akan melayangkan tinjunya pada wajah Dewa itu.
“Bu, Dewa nyebeliiinn...”
“Udah biarin aja, gak usah di tanggapin, bentar lagi juga kita pergi kok...”
Ucap Ibu mertuanya itu pada Putri. Meski begitu, hatinya benar-benar masih sangat dongkol sekali saat ini, karena perkataan Dewa itu.
‘Kalo aja Ibu gak ada, Dewa pasti udah aku bejek-bejek’
Batin Putri, kesal karena ulah dan tingkah pria berwajah sama, namun memiliki sifat yang beda sekali dengan suaminya itu.
“Jadi udah? terus sekarang mau pergi? yaudah ayo...”
Ucap Dewa yang sepertinya tak betah, bahkan belum lima menit lamanya ia duduk, sudah di bangunkan lagi saja tubuhnya dari kursi itu.
“Eh, eh, eh, mau kemana? Kamu harus ketemu orang dulu di sini, cuma Ibu sama Putri aja yang pulang sekarang”
“Loh kok gitu? aku di suruh duduk di sini sendiri gitu?”
Tanya Dewa heran dengan perkataan Ibunya, yang memintanya untuk tetap berada di café itu sendiri.
“Nanti ada yang dateng, jadi kamu temenin dia ya, ajak ngobrol, jangan jutek-jutek, orangnya baik, cantik lagi”
Jawab sang Ibu. Mendengar itu, Dewa langsung sadar bahwa dirinya kini sedang di paksa untuk ikut dalam sebuah pertemuan, atau yang lebih tepatnya adalah sebuah perjodohan yang tak di ketahuinya sebelumnya. Hingga membuat pria lajang yang sudah berkepala tiga itu, kini jadi memasang wajah kesal dan tak sukanya.
“Buuu!!”
“Udah temuin aja dia dulu, kamu gak akan rugi kok...”
Sementara itu kini, Putri hanya tersenyum saja melihat Dewa yang terlihat kesal karena rencana diam-diam ibunya itu.
Dewa memang paling tak suka dengan hobi baru ibunya yang belakangan gencar sekali ingin mencarikan jodoh untuk dirinya. Karena baginya, dunia ini sudah semakin modern, hak atas kebebasan hidup sudah semakin di merdeka kan. Jadi menurutnya sesuatu seperti sebuah perjodohan, yang akan membuatnya berakhir dalam sebuah hubungan yang di landasi keterpaksaan itu adalah sesuatu yang sama sekali tak perlu dan sia-sia sekali untuk di lakukan.
“Bu, aku gak mauu!!”
Dewa sampai terlihat merengek saat ini. Meski sebenarnya ia bisa saja langsung kabur, tapi itu akan membuat ibunya kesal dan jadi marah berkepanjangan.
“Harus mau!”
“Ayo Put”
“Ayo Bu, dah Dewaa, jangan dingin-dingin sama cewenya yaa...”
Putri malah menambahkan begitu, membuat Dewa samakin kesal sampai ingin meledak saja jadinya.
“Bu, tapi-“
“Udah, diem di sini, nurut pokoknya!”
Tegas Ibunya berbicara, sambil membangunkan tubuhnya kemudian mulai melangkah pergi dari meja tempatnya duduk yang di ekori oleh Putri, yang terus senyum-senyum bahagia, melihat dosen menyebalkannya itu tampak kesal, marah, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
“Ah! Sial banget sih”
Gerutunya. Ia benar-benar membenci yang namanya sebuah perjodohan. Karena Dewa pikir, kalau dirinya memang menginginkan seorang pendamping, ia akan mencari sendiri wanitanya. Tapi untuk sekarang ini, ia masih butuh waktu untuk mendapati seseorang yang hadir dan mengisi hari-harinya.
Dewa menoleh ke arah luar, tergoda untuk melarikan diri dengan mobil-mobil yang berlalu lalang. Ia bahkan focus menatap Ibunya yang mulai masuk ke dalam taxi yang sudah di pesannya.
“Loh, Putri gak bareng Ibu?”
Herannya, saat menemukan Putri yang sedang melambai-lambaikan tangannya pada taxi yang mulai melaju membawa pergi ibunya.
“Shh... Apa...”
“Apa gue pake dia aja kali ya?”
Ide jahil tiba-tiba terbesit begitu saja di kepala Dewa. Dan kemudian ia terlihat cepat-cepat mengetikan sebuah pesan chat yang langsung di kirimnya pada Putri, yang masih menunggu taxi di depan pintu cafe.
‘Put, ini punya Lo ketinggalan di meja’
Jelas sekali sepenggal kalimat text pesan itu hanya akal-akalan Dewa saja. Karena tak ada satu barang pun yang Putri tinggalkan di meja. Tapi sepertinya Putri sudah masuk ke dalam perangkap Dewa itu, karena ia terlihat tengah berjalan kembali masuk ke dalam café, menghampiri tempat Dewa duduk saat ini.
“Mana?”
“Gak ada”
“Apa?”
Putri membulatkan matanya, ia baru saja sadar kalau ia sudah di kerjai oleh Dewa. Berbeda dengan Dewa yang kini sedang tersenyum puas, tak sedikit pun merasa bersalah pada Putri yang tengah menatapnya marah saat ini.
Di tengah-tengah tatapan sengit yang putri lemparkan pada Dewa, telihat seorang wanita cantik, dengan tinggi semampai sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
“Dewa ya?”
Tanyanya dengan nada yang sangat lembut, begitu sampai di hadapan Dewa yang sedang duduk santai saat ini.
“Oh bukan-bukan, aku Nakula, kakak kembarnya Dewa”
“Apa??”
Putri yang mendengar jawaban Dewa, yang jelas sedang mangada-ngada itu langsung melotot tak percaya.
Begitu juga dengan wanita yang sudah di rencanakan akan melakukan pertemuan dengan Dewa. Ia menatap tak mengerti, dengan apa yang baru saja di katakan oleh pria yang memiliki wajah yang sama dengan pria yang seharusnya di temuinya hari ini.
“Dewanya tadi tiba-tiba ada kelas, jadi kayanya dia gak bisa ketemu kamu, maaf yaa...”
“Kamu-“
Putri yang akan protes dengan kebohongan yang Dewa lakukan itu langsung di hentikan oleh tangan Dewa yang sigap membungkam mulutnya kini.
“Istri aku lagi sensitive, yaudah yuk kita pulang sayang”
Ucap Dewa yang mendadak berakting sebagai Nakula itu.
Sikap Dewa itu membuat wanita cantic, yang seharusnya di temaninya mengobrol sore ini, hanya bisa berdiri dalam bingungnya kini. Tentu ada kesal juga yang di rasakannya, berpikir kalau ia telah di permainkan dalam pertemuan yang sudah di rencanakan dari jauh-jauh hari itu.
“Ah! Soal Dewa nanti aku kasih tau dia, kita pergi dulu ya”
Putri yang terus di bungkam oleh Dewa, kini mulai di seret pergi cepat-cepat dari gedung café menuju ke tempat mobilnya terparkir.
“Awww!!! Put, apaan sih main gigit-gigit aja, sakit tau!”
“Kamu yang apa-apaan, pake acara ngaku jadi Mas Nakula segala???”
Putri marah dan tak terima dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Dewa itu.
“Ya, itu- itu anggap aja benefit jadi orang kembar! Bisa pake nama kakak gue di saat bahaya, kenapa? gak boleh?”
“Ya gak boleh laaah!! Aku sebagai istrinya gak terima Dewa!!”
Balas Putri kesal sekali pada Dewa yang sudah bertingkah seenaknya itu.
“Eh, denger ya, sebelum dia jadi suami Lo, dia itu tetangga gue dari sejak masih dalem rahim, jelas gue itu soulmate terbaiknya Nakula!!”
Putri menganga tak percaya, bisa-bisanya Dewa bertingkah tak tahu malu seperti itu. Ia hanya bisa terdiam kini, melawan pun akan sia-sia dan hanya membuang-buang tenaga saja, pikirnya.
“Ckckk, dasar nyebelin”
....