“Sayang...”
“Iya Mas”
Aku langsung menghentikan aktifitasku sejenak untuk menoleh pada Mas Nakula yang baru saja memanggilku.
“Gak papa Mas tinggal?”
Tanyanya untuk yang kesekian kalinya hari ini.
“Gak papa Mas, aku kan bukan anak kecil lagi”
Balasku mencoba bersikap santai, meski sesungguhnya hatiku juga sedikit berat akan segera di tinggalnya ke luar kota untuk mengurus rumah sakit cabang. ini memang yang pertama kalinya aku harus di tinggal satu minggu lamanya oleh Mas Nakula.
“Iya emang kamu bukan anak kecil lagi, tapi kamu itu kan istri Mas... dan rasanya Mas berat tinggalin kamu sendiri di sini”
Ungkapnya sambil berjalan dan memelukku dari belakang tubuhku. Wajahnya di tenggelamkan di leherku, kurasakan kulitku tengah di hirupnya dalam-dalam olehnya. Sepertinya Mas Nakula sangat khawatir menginggalkanku sendiri di rumah ini.
“Ikut aja gimana? Ehm?”
Aku terkehkeh mendengar idenya itu.
‘Masa iya aku harus bolos seminggu?’
Batinku, meskipun sejujurnya aku juga inginkan hal itu. Itu bisa di jadikan alasan untuk tak mengikuti kelas tambahan dari Dewa. Tapi rasanya kalau aku mengindar dan malah bolos kuliah, kapan aku akan menyelesaikan skripsi dan sidangku?
Belum lagi aku harus sibuk dengan Dewa yang terus saja memintaku untuk bertemu dengan alasan skripsiku. Belum sampai penelitian saja aku sudah merasa kelelahan dengan sikapnya. Dewa mengharuskan aku untuk bekerja ekstra, runtun dan wajib sesuai tata cara dan data yang valid. Dan itu yang membuatku tak bisa leha-leha selama masa skripsiku ini.
“Pengen sih Mas, tapi kan...”
“Iya sayang, Mas juga ngerti kok, istri Mas ini masih anak kuliahan, Mas gak akan maksa atau gangguin kuliah kamu deh...”
Betapa pengertiannya suamiku ini. Aku benar-benar harus mengabdikan diriku, menjadi setia untuknya sampai akhir hayatku nanti.
“Maaf ya Mas...”
Aku tulus meminta maaf, karena aku merasa sangat tak enak Pada Mas Nakula. Aku pikir seharusnya sebagai istri, aku bisa mendampinginya juga menemaninya di saat ia membutuhkanku, seperti saat-saat ada dinas keluar kota seperti sekarang ini.
“Gak papa...”
Aku pasti akan merindukan senyum tampan dan hangat tatapnya selama seminggu ini.
“Mas bakal kangen banget sama istri Mas yang cantik banget ini, aktifin terus handphonenya ya, kalo ada apa-apa langsung hubungin Mas”
Ucapnya padaku. Aku mengangguk, jelas aku harus menurut padanya.
Hingga mataku dengan matanya bertemu dalam tatap, cukup lama, dan itu mampu menghidupkan suasana intim berdua, antara aku dengan suamiku tercinta. Sampailah kami di detik berikutnya, dimana bibirnya mendarat dengan sangat lembut pada bibir ini.
“Mas...”
Panggilku setelah pagutan ciumanku dengan Mas Nakula terlepas.
“Sayang”
“Ehm?”
“Penerbangan Mas masih jam 9 nanti, terus ... sekarang masih jam 6...”
“Semua kebutuhan Mas juga udah selesai aku packing kok, kenapa? ada yang mau di bawa lagi?”
Tanyaku, Tapi Mas Nakula menggelengkan kepalanya sambil mengulum senyumnya.
“Masih ada tiga jam lagi sayang...”
“Iya tiga jam lagi, terus? Mas mau aku siapin sesuatu buat Mas di sana nanti?”
Mas Nakula malah memejamkan matanya sambil mengerutkan raut wajahnya. Belum lagi tangannya yang mengayun-ayunkan tanganku. Tingkahnya aneh sekali, apa karena akan berpisah seminggu Mas Nakula sampai jadi seperti ini?
“Tiga jam lagi sayaaang... tiga jam”
Sepertinya kini Mas Nakula mulai gemas padaku yang tak menangkap maksud dari tiga jam yang sedari tadi sebutkannya itu.
“Iya tiga jam Mas, terus kenapa? kamu ini mendadak aneh gini sih, aku gak ngerti Mas”
“Itu... kita bisa itu, sejam, dua jam gitu kan bisa sebelum gak ketemu seminggu”
“Itu? Itu ap-“
Akhirnya aku mengerti apa inginnya. Aku sampai terkehkeh, geli dengan tingkah Mas Nakula,
‘Kenapa Mas Nakula pake acara kode-kodean kaya gini sih, lucu banget suami aku ini’
Ucapku dalam hati, Padahal bisanya tanpa babibu juga Mas Nakula selalu langsung saja membawaku dan malakukan apapun inginnya dari tubuhku ini.
“Jangan ketawa sayanggg”
Aku benar-benar di buat tak tahan dengan tingkahnya itu, Mas Nakula manis dan menggemaskan sekali saat seperti ini.
“Abisnya lucu banget hihihi”
“Lucu? Wah, kamu ini bisa-bisanya bilang Mas lucu, padahal kamu juga tau sendiri Mas ini bisa jadi manusia paling liar kalo udah urusan ranjang...”
Kunaikan kedua alisku mendengarnya. Percaya diri sekali Mas Nakula ini.
“Kenapa? Kok senyumnya gitu? Butuh bukti? Siniii...”
“Mas!!”
Dasar Mas Nakula, ia tiba-tiba saja malah merobek piyama yang di kenakannya, sampai kancing-kancingnya terlepas berjatuhan. Aku terperanga tak percaya menatapnya, bisa-bisanya Mas Nakula bertingkah sampai seperti ini.
“Mas baju tidur kamu- kenapa-“
Tak jadi kulanjutkan kalimatku, saat kutemukan smirk, tatapan nakal, juga aura-aura liar seperti yang orang lapar yang siap melahapku bulat bulat saat ini.
“Mas, Mas... aku- aku baru mandi tadi jadi...”
“Mas...”
Mas Nakula hanya terus menatapku dengan kedua tangannya yang kini mulai merayap, menyentuh, dan menjamah dengan bahasa tubuhnya yang sangat sensual, layaknya seorang penggoda.
“Mas..."
Aku mengerutkan tubuhku saat kurasakan bagian atas tubuhku kini tengah menjadi incaran tangan nakalnya, yang sudah menyusup dari balik baju yang kukenakan saat ini.
“Mas...”
Bukan lagi dengan nada tinggi sebagai bentuk peringatan kupanggil dirinya, melainkan desahan tak tahan karena ulahnya pada tubuhku ini yang tengah di jamahnya.
“Sayang, waktu kita gak banyak...”
“Tiga Jam lagi Mas pergi...”
Balasku dengan tangan yang kukalungkan padanya, rasanya sudah kepalang sekali, aku benar-benar di buat terjebak oleh godaan suamiku yang akan segera pergi ini.
“Mas...”
Aku semakin tak bisa diam, bergerak gelisah saat bagian sensitive tubuh lainnya, yang tepat berada di bawah sana, tengah menjadi target permainan tangannya saat ini.
“Apa sayang...”
Mas Nakula tak henti-hentinya bermain-main dengan tubuhku, membuatku jadi sangat tergoda untuk melakukan 'hal lebih' dari apa yang sedang di lakukannya padaku saat ini.
Aku benar-benar harus mengakui sifat liarnya itu,
“Ayo...”
“Ayo apa?”
“Ayo ituu...”
“Itu apa?”
Sepertinya Mas Nakula ingin mengujiku saat ini.
Dengan tanpa mengurangi intensitas permainan tangan yang di jadikannya foreplay, Mas Nakula tak kunjung beranjak ke permainan intinya, dan itu benar-benar membuatku tak tahan.
“Mas, Ayoo”
Tak sanggup untuk menahan lebih lama lagi, akhirnya kudorong saja tubuhnya sampai jatuh, terlentang di atas ranjang tempat tidur. Dan hasilnya, kulihat Mas Nakula jadi sedikit kaget dengan tingkahku yang seperti ini padanya.
“Sayang...”
“Tiga jam Mas, kita harus cepet...”
Balasku, kini malah terdengar seperti aku yang sudah tak sabar, kebelet(?) ingin melakukan ‘itu’ bersamanya.
Mas Nakula sampai terkehkeh saat menemukanku yang mulai merangkak dan duduk di atas tubuhnya. Langsung kulepaskan dress yang kukenakan hari ini bersama pakaian dalamku.
“You’re so... hot babe”
Ucapnya, dengan tangannya yang kini mulai merayap pada semua bagian dari diriku yang ingin di sentuhnya. Kubawa tubuh ini untuk membungkuk ingin meraup bibir yang baru saja memujiku itu.
Hanya untuk beberapa saat saja aku mampu berada di atas tubuh Mas Nakula, Karena dengan cepat Mas Nakula membalikan tubuhku untuk berada di bawahnya.
“Mas...”
“Sebentar”
Mas Nakula harus mengerjakan tugas pentingnya saat ini, yakni meloloskan miliknya yang sudah sesak di dalam sangkarnya itu.
“I’m in...”
“Mas!”
.....
Setelah percintaan panas di pagi hari yang kulakukan bersama Mas Nakula, kami kini malah kembali menarik selimut dan meringkuk, erat saling memeluk.
“Mas...”
Panggilku, ingin mengingatkannya untuk bangun dan segera bersiap.
“Sisa satu jam lima belas menit lagi kok...”
Balas Mas Nakula malas, ia kini bahkan melesakan wajahnya pada tubuh polosku, tengah mencari kenyamanan di sana.
“Ehmm...”
Aku melenguh merasakan cumbuannya pada tubuh ini.
“Mas udah...”
Pintaku, karena akan bahaya jika Mas Nakula inginkan ronde berikutnya. Padahal cairannya saja masih terasa penuh di dalam milikku. Meski Mas Nakula tadi membantuku membersihkan sebagian yang keluar, tapi entah seberapa banyak cairannya itu di keluarkan di dalam sana.
“Mas... Aku ke kamar mandi dulu”
“Jangan sayang, udah di sini aja...”
Sayangnya aku benar-benar harus bangun sebelum Mas Nakula akan naik kembali ke atas tubuhku.
“Mas, ah! udah...”
Kudorong sekuat tenaga tubuh Mas Nakula, sampai akhirnya aku bisa bangun dan langsung menarik selimut untuk melarikan diri ke kamar mandi.
“Sayang!!”
Teriak Mas Nakula dari ranjang tempat tidur.
Author pov
Sementara Putri sibuk membersihkan diri di kamar mandi, Nakula tiba-tiba saja mendapat pesan yang mengharuskan dirinya untuk pergi lebih cepat karena ia harus menemui dulu beberapa orang penting sebelum penerbangannya.
“Oh s**t!”
Ia langsung berlari telanjang diri, ke kamar mandi yang ada di samping ruang tengah rumah mereka, untuk membersihkan diri disana. Cepat ia menyelesaikannya, lalu dengan segera ia juga mengenakan pakaian yang sudah Putri siapkan sebelumnya.
“Hhh, akhirnya selesai”
Ucapnya, begitu pakaiannya rapi melekat sudah di tubuhnya siap untuk pergi.
“Tapi Putri, kenapa dia lama banget sih?”
Gumamnya,
“Put, keluar bentar”
Pinta Nakula dari balik pintu kamar mandi kamar mereka.
“Kenapa Mas?”
Dan yang keluar hanya kepalanya saja yang menyembul dari balik pintu yang hanya sedikit saja di bukanya.
“Ish, sini keluar aja, ngapain sembunyi gitu, Mas tiap hari juga liat semua badan polos kamu itu...”
Putri langsung di buat blushing mendengar kejujuran suaminya itu.
“Sayang, Mas pergi sekarang ya...”
Pamit Nakula pada istrinya itu.
“Loh kok, aku kan belum selsai mand-“
Cup
Cup
Cup
Nakula malah memberikan kecupan di bibir istrinya itu.
“Udah lanjut aja mandinya, sampe ketemu seminggu lagi ya, jangan nakal”
Tutupnya, sambil mencubit pipi cantic istrinya itu.
“Hati-hati Mas...”
“ehmm...”
Nakula kemudian pergi keluar rumahnya bersama dengan koper yang langsung di masukannya ke dalam mobilnya. Ia cepat melaju untuk menuju tempat pertemuan penting dalam agendanya hari ini.
“Loh Nakula mau kemana? padahal kan data gue masih ada sama dia, masa dia lupa sih kalo gue mau ambil hari ini...”
Nakula kemudian mengirim pesan singkat pada saudara kembarnya yang sempat meminjam data darinya.
Na, data gue dimana?
Di meja kerja, ambil ke Putri dia tau
Balas Nakula cepat, Setelah itu Dewa langsung saja masuk ke dalam rumah Putri untuk mengambil data yang di pinjam suaminya itu.
“Put”
“Putri”
“Put...”
Panggilnya,
“Dia di mana sih”
Tapi karena Putri tak terlihat dan tak kunjung menyahuti panggilannya. Akhirnya Dewa langsung saja masuk ke ruang kerja Nakula, yang tepat berada di samping kamar Nakula dan Putri.
Begitu sampai di meja ia bisa langsung menemukan data penelitian yang juga akan di pakainya hari ini.
“Loh? Mas, kok balik lagi? Ada yang ketingalan?”
Mendengar tanya dari sang pemilik rumah, Nakula langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan betapa kagetnya ia saat menemukan Putri dengan penampilannya yang sangat errr... sangat menggoda di mata seorang pria normal.
Dewa terpaku, mematung melihat apa yang kini tengah di saksikannya. Tak bisa ia berkutik, bahkan sulit baginya untuk berkedip dan mengalihkan pandang dari kemolekan tubuh yang hampir polos milik istri kembarannya, dengan rambut basah, juga aroma segar khas wanita selesai mandi.
‘Ah! Shitt! Dia ngapain abis mandi gak pake baju gituuu??? Pasti di kiranya gue ini Nakula deh, duh, gimana nih...’
Sementara Nakula kelimpungan tak tahu harus berbuat apa, Putri malah dengan santai ia berjalan menghampiri pria lain yang kebetulan memiliki wajah yang sama dengan suaminya itu.
Mata Dewa sudah tak bisa berpaling dari Putri yang semakin mendekat dan membuat tubuh, yang menurutnya adalah satu dari 7 miliar pahatan terbaik yang pernah tuhan ciptakan, itu jelas berada tepat di depan matanya kini.
“Mas, bantuiin susah...”
Ucapnya,
Dan tamatlah sudah kini semua bagi Dewa.
Putri yang saat ini hanya mengenakan celana dalamnya, yang memang sedari tadi tengah berkutat kesulitan untuk mengaitkan pengait bra di belakang punggungnya, akhirnya menyerah dan memilih untuk membalikan tubuhnya, meminta pria yang di sangkanya adalah suaminya itu untuk mengaitkan bra-nya itu.
“Mas, pakein, tangan aku gak sampe...”
Putri berkata begitu, saat Dewa yang tak kunjung menggerakan tangannya untuk membantunya mengenakan bra hitam yang di pilihnya senada dengan calana dalam yang kenakannya saat ini.
Dewa diam, ia tak tahu harus berbuat apa, bahkan ia sudah kehilangan kata-katanya sekarang. Namun kini jantungnya justru tak bisa diam, berdetak sangat kencang, begitupun dengan matanya yang bergetar, tak tahu harus kemana ia memandang, terlalu indah dan amat menghipnotis penglihatannya, yang untuk pertama kalinya di suguhkan dengan tubuh kencang, mulus, dari sosok wanita yang selalu di jahilinya.
“Mas...”
Putri membalikan tubuhnya karena tak sabaran dan merasa terus di diamkan oleh suaminya itu, sampai membuat branya yang belum selesai di pakainya itu turun dan menampakan apa yang ada di dalamnya.
Darah Dewa semakin berdesir melihat lekuk indah bentuk d**a yang tampak begitu putih, bersih dan menggantung dengan ukuran sempurna di matanya. Tak bisa menapik dan tak ingin ia menjadi munafik, dengan pikiran sadarnya, ia sudah sangat tergoda dan berhasil di buat jatuh pada pesona tubuh wanita di hadapannya saat ini.
‘Sadar Dewa! Sadarrr!!! Dia punya Nakula, Kakak Lo!’
‘Tapi- tapi kalo gue bilang sekarang kalo gue ini kembaran suaminya, bakal kacau bangeettt’
‘Ah! Gimana ini, duh, yaudah deh, cuma pakein doang’
‘Iya, cuma pakein, cukup sampe di situ, jangan di pegang, jangan sampe kepegang, inget! abis itu langsung pergi’
Pergolakan batin kini tengah hebat terjadi di dalam diri Dewa, antara satan yang membakar nafsu dengan nurani yang terus berkata tak boleh melakukan hal seperti ini, bak perang besar yang terus bersinggungan.
“Mas, ayooo...”
“I-iya...”
Akhirnya Dewa meraih pakaian dalam milik putri yang sudah melingkar namun belum terpasang dengan benar itu. Putri kemudian memposisikan kembali dirinya memunggungi Dewa.
Dengan tangan yang ragu dan amat canggung, Dewa mulai meraih bra dari sisi tubuh Putri dengan sangat hati-hati, agar tak sampai menyentuh milik istri Nakula itu.
Tapi kemudian Putri menoleh ingin menatap wajah suaminya, yang menurutnya sedikit berbeda dari biasanya.
“Kok gugup gitu sih Mas, tadi bilangnya gak usah malu-malu udah sering liat juga, eh sekarang Mas sendiri yang keliatan canggung liat aku kaya gini”
“O-ohh?”
Dan dengan jahilnya Putri sengaja meraih tangan Dewa untuk menangkup dadanya yang sudah mulai terbungkus bra itu, sampai sampai Dewa ingin menggila kini di buatnya.
“Put-... Itu- Ohh...”
“Kenapa? Kaget ya? kayanya ukurannya, sejak aku nikah sama Mas jadi gedein deh, bra ini aja udah sesek banget...”
Ungkap Putri nakal, ia masih belum menyadari bahwa orang yang sedang di godanya saat ini adalah kembaran dari suaminya. Tak terbayang bagaimana reaksinya saat tahu bahwa sebenarnya orang yang saat ini tengah di buatnya menyentuh bagian tubuh terlarangnya itu adalah dosen yang selalu di katainya menyebalkan.
Sementara itu Dewa benar-benar bingung harus membalas apa dan berbuat apa, dalam pikirnya bagaimana bisa dari wajah cantik yang menampakan kepolosan itu tersimpan sisi nakal penggoda yang bisa menjerat siapapun yang melihat pesonanya saat ini. Seumur hidupnya ia tak pernah tahu dan tak pernah merasakan milik wanita yang ternyata terasa begitu jatuh, kenyal dan lembut dalam genggamannya itu. Seketika pikirannya terbang, melayang bersama fantasi terlarangnya.
‘Ah, No! Gak boleh! NO NO NO!!!’
Dewa berusaha untuk tetap berada dalam control dirinya untuk tak boleh melakukan hal gila pada mahasiswa juga kakak iparnya itu.
Akhirnya dengan penuh perjuangan untuk mengalahkan hasrat birahi seorang pria normal, Dewa selesai juga memasangkan pakaian dalam Putri itu.
“Mas...”
Panggilnya sambil langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan tubuh Dewa yang tengah di anggapnya sebagai Nakula.
“Aku seneng kamu balik lagi Mas, untuk pertama kalinya aku pikir ada baiknya juga kebiasaan kamu yang sering ketinggalan atau lupain sesuatu... kita bakal gak ketemu lama, tadi aku gak sempet peluk kamu, untungnya kamu balik lagi, hati-hati ya di sanaa...”
Ucap Putri panjang. Ia kemudian menjauhkan tubuhnya, dan berjinjit untuk mengecup bibir pria yang sudah salah di kenalinya itu.
“Kabarin aku kalo udah sampe okey”
“Ehmm...”
Tak pernah terlintas di kepalanya akan sempat mendapatkan perlakuan manis dari seorang istri seperti sekarang ini. Sampai tak sadar Dewa yang biasa dingin kini berhasil di buat menyunggingkan sedikit senyumnya pada putri dengan sikap hangatnya, yang sepertinya sudah berhasil mencairkan hati yang beku milik pria kembaran suaminya itu.
“Yaudah hati-hati ya, aku gak bisa anter, mau pake baju dulu...”
“Eehmm”
Dewa hanya terus bersuara begitu, karena nada bicara dan suara mereka itu jelas berbeda. Jadi akan sangat bahaya jika ia sampai bersuara di depan istri kakaknya yang sedang salah orang ini.
“Daahh Mas...”
Dewa kemudian melangkah menjauh dari Putri keluar ruang kerja Nakula. Anehnya, hatinya seperti enggan di bawa pergi, kakinya pun berat di bawa pergi. Ia inginkan lagi yang seperti tadi, kata-kata manis, pelukan, sampai kecupan yang seharusnya di berikan Putri pada Nakula.
Bahkan dirinya kini membalas lambaian tangan putri dengan senyum lebar yang sudah tak ingat kapan terakhir di tampakannya itu.
....