“.....”
“Sayang… bangun”
Aku mendengar suara itu sudah yang kesekian kalinya, tapi kuabaikan itu sedari tadi. Dan kini bahkan kusembunyikan tubuh polosku ke dalam selimut.
“Hey… nanti di marahin Dewa loh kalo telat ke kampus”
Aku langsung membuka mataku bulat-bulat saat kudengar nama Dosen killer bin menyebalkan itu.
“Ah, badan aku males banget Mas buat di bangunin”
Kataku sambil kuregangkan tubuhku, menggeliat karena terasa begitu berat dan malas untuk bangun pagi ini. Berbeda sekali dengan Mas Nakula yang kulihat tengah duduk di sampingku telah siap dengan kemeja rapinya saat ini.
“Sayang, kayanya gara-gara semalem aku kesyikan main kamu jadi kecapean gini deh”
Aku tersenyum saja padanya, walaupun mungkin perkataannya itu benar, tapi aku suka bermain dengannya, merasakan sentuhannya, beradu dan b******u bahkan sampai pukul empat subuh tadi pun, rasanya benar-benar bisa mengobati rinduku pada dirinya yang selalu sibuk dengan jadwalnya itu.
“Peluk”
Pintaku manja padanya, dan Mas Nakula langsung membungkuk memelukku yang masih saja betah berbaring di tempat tidurku dengannya. Bibirnya menciumi kulit leher dan kini tengah turun di benamkannya wajahnya itu di d**a polosku. Di hirupnya dalam-dalam wangi tubuhku.
“Mas…”
“Ehm?”
“Maaf ya, aku masih susah bangun pagi, terus buatin kamu sarapan, aku masih belum bisa jadi istri idaman buat kamu”
Ungkapku padanya, aku menikah di usiaku yang masih dua puluh satu tahun lalu. Dan satu tahun sudah aku menjadi istrinya. Bisa terhitung oleh jari rasanya kapan-kapan saja, aku berhasil bangun pagi karena alarmku. Setiap hari Mas Nakula malah yang selalu membangunkanku, menggantikan peran Ibuku dulu. Padahal mimpiku dulu bisa bangun sudah cantik dan wangi lalu membawakan sarapan pagi untuknya ke tempat tidur, memberikannya kecupan juga membangunkannya dengan lembut. Tapi semua itu rasanya harus sirna karena aku yang malah selalu kalah oleh kantukku.
“Sayang… Mas ini sayang kamu apa adanya, kamu itu udah idaman banget, malah Mas yang harus minta maaf, seharusnya Mas gak buru-buru nikahin kamu yang masih muda banget, bahkan belum selesai kuliah sekarang, kamu malah udah jadi istri dokter sibuk banget kaya Mas…”
Aku tak menyangka akan mendapat balasan seperti itu. Mas Nakula memang berhati angel, aku selalu di buat tersentuh dengan kebaikan hatinya. Sampai kukecup bibir yang selalu mengucapkan kata-kata manis padaku itu.
“Aku seneng banget bisa nikah sama Mas… Seneng banget, jadi Mas gak perlu minta maaf udah nikahin aku, malah mungkin kalo gak nikah sama Mas, aku yang bakal nyesel sendiri karena lewatin kebahagian sebesar ini”
Balasku sambil kubelai lembut wajah tampan dan segar dokter tampanku itu.
“ehmmm….”
Dan momen seperti sekarang ini yang selalu paling kusukai, yaitu kebiasaannya yang selalu menggesekan ujung hidungnya dengan ujung hidungku, kemudian mendapat satu kecupan di kening, hidung, dan terakhir di bibirku.
“Oh? Mas ini…”
Kagetku, saat kutemukan kiss mark di lehernya dan gilanya lagi itu jelas sekali. Aku pasti terlalu bersemangat semalam sampai meninggalkan jejak kemerahan begitu di kulitnya. Kusentuh bercak-bercak bekas cumbuat itu dengan jariku.
“Apa? Ah! ini...”
Sepertinya Mas Nakula sudah melihat kiss mark itu saat berkaca tadi. Aku jadi merasa bersalah padanya
“Gimana ini Mas, kalo orang liat nanti-”
“Gak papa sayang, orang yang liat juga pasti tahu kalo ini ulah istri aku yang cantik ini, dan lagi... ehm biar orang tau kalo Mas abis di manjain kamu”
Balasnya. Kenapa dia suka sekali mengatakan kata-kata menggoda seperti itu sih.
“Mas ih!”
“Udah sekarang ayo mandi, nanti kesiangan lagi”
Mas Nakula membangunkanku dan mengangkat tubuh polosku ke kamar mandi.
“Ahh, aku bisa mandi sendiri Mas…”
“Ayo aku mandiin, dasar anak nakal…”
Akhirnya aku menurut saja mendapat service pagi di mandikan oleh suamiku hari ini.
Hingga setelah mandi dan bersiap, aku langsung berangkat ke kampus di antar Mas Nakula. Dan sesampainya di area dekat gedung fakultas, sudah terlihat sesosok perempuan yang sangat tak asing dan merupakan orang yang selalu ada di sampingku selama 3 tahun terakhir ini.
Mas Nakula langsung keluar dari mobil lebih dulu untuk membukakan pintu untukku. Dia memang suami termanis dan patut di acungi jempol soal urusan perhatian.
Kuperhatikan kini Lina tengah memperhatikan lekat-lekat suamiku.
“ini Mas Nakula, suami aku Linaaa…”
Aku tahu dia pasti sedang menerka-nerka apakah orang yang membukakan pintu mobil untukku itu Dewa si dosen killer atau Mas Nakula suamiku.
“Ah, kirain... tapi gak mungkin juga Pak Dewa bukain pintu mobil buat mahasiswa yang udah kaya musuh bebuyutannya ini…”
Balasnya,
“Hallo Lina…”
Sapa Mas Nakula pada Lina.
“Tuh kan bisa nyapa juga, Pak Dewa gak mungkin gini, fix ini suami kamu Put”
“Padahal saya udah di tandain loh semalem sama Putri, nih…”
Balas Mas Nakula sambil menunjukan kiss mark di lehernya yang sangat jelas memerah itu karena ulahku semalam, refleks aku langsung menutupi lehernya itu dengan kedua tanganku.
“Mas ih! Jangan bahas itu sama Lina, malu tau gak”
Kataku dan Mas Nakula hanya tersenyum puas melihat pipiku yang jadi memerah saat ini.
“Hahahhh, buas juga ternyata kamu Put, waahh… diapain tuh”
Goda Lina padaku,
“Udah ah, jangan bahas lagi, Mas pergi yaa aku mau masuk kelas soalnya”
“Ehmm… Mas pergi, jangan nakal”
Mas Nakula berpamitan, ia menyempatkan diri mengecup keningku sebelum ia masuk kembali ke dalam mobilnya.
“Daah Mas…”
Mas Nakula langsung melaju pergi meningalkan area kampus. Dan tak lama kemudian mobil dari pemilik wajah yang sama dengan suamiku masuk dan memarkir tak jauh dari tempatku berdiri saat ini.
“Astaga, kok bisa ya, wajahnya sama tapi auranya kenapa bisa beda banget gitu, bingung aku…”
“Udah yu masuk, males banget ketemu Dewa”
Kataku langsung menarik tangan Lina untuk masuk ke dalam kelas.
….
Hari ini benar-benar jadi hari yang melelahkan, duduk di kelas harus menjalani 5 SKS sekaligus, rasanya kepalaku panas, mendidih, ngebul, sampai ingin meledak. Dan begitu kelas dinyatakan selesai semua orang langsung berburu pintu keluar karena tak tahan dengan materi yang semakin berat saja dari waktu ke waktu.
“Putri”
“Ya?”
Aku harus bisa menempatkan diri dengan bersikap sopan padanya kini. Karena di kampus ini dia adalah dosenku, dan bukan adik iparku. Jadi tetap aku harus mejaga untuk tak bersikap seenaknya padanya.
“Udah dapet dosen pembimbing buat skripsi?”
Tanyanya padaku.
“Masih bulan depan kok, kan semester ini aja belum abis”
Jawabku. Entah kenapa aku memang santai sekali akan menghadapi skripsiku.
“Nah, bagus. Tau tau nanti ke abisan dosen yang enak buat bimbingan, jangan ngambek yaa”
Balasnya. Aku seketika terdiam, mencoba mencerna kata-katanya. Sampai di detik berikutnya akhirnya aku tersadar, aku akan berada dalam bahaya jika sampai ke habisan dosen pembimbing yang baik.
Tanpa babibu lagi, segera aku berbalik dan berlari keluar ruangan menuju bagian akademik untuk menanyakan soal dosen pembimbing skripsiku.
Dan ternyata kampusku termasuk kampus yang membebaskan mahasiswanya memilih dosen pembimbing sendiri. Dan sialnya lagi tak sepengetahuanku, sudah banyak orang yang mendekati dan menaruh nama mereka untuk menjadikan Professor Heri sebagai dosen pembimbing mereka.
“ahhh… gimana ini… jangan sampe aku harus jadi sama Si Dewa…”
“coba nanti di samakan sama topik skripsinya saja dulu, kan masih ada ada libur semester ini”
Balas staf di bagian akademik. Tapi libur semester itu tak lebih dari dua minggu, dan kudengar di bulan pertama timelinenya sudah harus mengumpulkan berkas kelengkapan, submit proposal peelitian ke sub-bagian akademik dan ke calon dosen pembimbing untuk persetujuan topik. Syukur-syukur bisa langsung kerjain bab 1. Tapi kalau cari dosen yang pas denganku saja susah, sampai bab 1 itu... rasanya jauh sekali dari jangkauanku.
“Mas… aku pengen cepet lulus terus jadi dokter kaya kamu…”
Keluhku mengingat suamiku yang kini sedang kupandangi fotonya dari wallpaper handphoneku.
“Belajar yang bener makanya”
Yang menjawab malah terdengar sangat tak berperasaan sekali, dan kenapa si Dewa ini selalu saja muncul di saat aku sedang susah hanya untuk mengataiku.
“Hhhh, padahal aku harap Mas Nakula yang dateng, eh malah…”
“Kembarannya suami Mba Put ini kan juga ganteng toh, wajahnya kan sama...”
Ibu muda Bagian akademik yang sekarang berada di depanku ini memang tahu kalau aku menikahi kembaran salah satu dosen di kampus ini. Karena itu juga sempat viral se-fakultas saat itu.
“Sayangnya sifatnya bedaaaaa banget”
Kataku sambil menatap sinis si dosen kembaran suamiku itu.
“Pulang sana”
Tiba-tiba dengan sangat dingin aku di usir Dewa dari ruang akademik. Benar-benar tak punya hati sekali Dewa itu.
Kini aku berjalan dengan sangat malasnya turun dari lantai tiga dan sampailah aku berjalan keluar dari gedung fakultas,
“Hey, Putri sendiri aja nih”
Goda salah satu mahasiswa yang tengah berkerumun di area dekat perkiran kampus. Itu adalah kumpulan mahasiswa-mahasiswa yang bisa di bilang cukup nakal, kerjanya hanya bolos kelas dan asal terdaftar saja di kampus ini.
“Suaminya kemana? Kok gak nemenin sih, mending sama kita aja..”
“Oh udah nikah yaa? Wah berpelangaman dong berarti, main yuuu mumpung gak ada Mas-mu itu hahahahahh…”
Mereka itu benar-benar senang sekali menggoda mahasiswi di sini, tak tahu tatakrama sekali untuk seukuran mahasiswa. Dan sialnya, aku tak bersama Lina hari ini, karena dia sedang melakukan perbaikan mata kuliah kesehatan keluarga.
Kuputuskan untuk berjalan cepat-cepat saja agar bisa cepat jauh dari mereka.
Tinnn
Bunyi klakson mobil di bunyikan dengan sangat keras, aku sampai terperanjat, kaget sekali karenanya. Dan saat kulihat ternyata suara bising yang buat aku hampir saja terkena serangan jantung itu adalah dari mobil si dosen killer.
“Sayang ayo pulang”
Ucapnya begitu di turunkannya kaca mobilnya itu. Aku jelas tahu itu adalah mobil Dewa tapi kenapa dia memanggilku ‘sayang’ begitu, bahkan kuperhatikan kemejanya pun, itu jelas yang di kenakan Dewa saat mengajar tadi. Tapi kenapa tingkahnya begitu?
“Ayo Masuk sayang, tunggu apa lagi?”
Ucapnya dan kulihat di sebrang, mereka yang tadi menggodaku itu kini satu persatu telah kabur, melarikan diri. Pasalnya mereka semua tahu kalau suamiku adalah anak dari pemilik rumah sakit besar di kota ini. Mas Nakula adalah dokter yang sudah memiliki nama, bahkan tak jarang mengisi seminar di setiap acara kampus. Mungkin karena itu mereka sampai lari ketakutan saat kini di depanku muncul wajah yang mirip sekali dengan wajah suamiku.
Tapi yang menjadi pertanyaanku saat ini adalah kenapa Dewa bersikap seperti ini padaku. Ia bahkan membukakan pintu mobilnya untukku dan membuatku duduk di dalam mobilnya.
Dan tiba-tiba saja ia mendekatkan diri padaku. Dekat, semakin dekat, bahkan wajahnya kini jadi amat dekat. Napasku di buatnya tertahan dan tercekat.
Sampai kemudian karena saking takutnya dengan apa yang akan di lakukannya padaku, refleks kepejamkan mataku dengan tubuh yang juga kukerutkan. Tanganku pun tanpa sadar kini juga tengah kubuat bersilang di depan dadaku.
“Apa sih, pake sabuk pengaman kamu…”
Ucapnya sambil memasangkan sabuk pengaman yang ternyata coba di raihnya untuk di pasangkannya padaku.
“Ahh… makasih”
‘kayanya aku kegeeran deh barusan... Dewa mana ‘minat’ sama aku’
Batinku,
Kemudian Dewa menancapkan gas mobilnya. Dan selama perjalanan, suaranya yang sedang memanggilku ‘sayang’ dengan nadanya yang manis dan cukup lembut itu menggangku telingaku sekarang, itu benar-benar terus terngiang-ngiang di kepalaku.
Maski aku tahu, ia seperti itu untuk membantuku lolos dari mahasiswa-mahasiswa nakal itu. Tapi rasanya aneh sekali mendengarnya memanggilku seperti itu.
“Soal tadi makasih banyak”
Kataku padanya.
“Lain kali makanya jangan pulang sendiri, gimana sih udah nikah juga, masih aja tebar pesona sampe di godain gitu”
Ucapnya, aku langsung menyiritkan dahiku, Padahal baru saja aku sedikit bisa berhenti berpikiran yang buruk tentangnya, tapi ternyata sifat menyebalkannya itu langsung kembali secepat itu.
“Tadi itu, aku- hhh… Terserah pokonya makasih!”
Aku benar-benar sedang tak mood untuk debat dengannya hari ini.
“Turunin aku depan”
Pintaku, rasanya tak tahan sekali jika aku harus berlama-lama dengan orang menyebalkan di sampingku.
“Sshhhh, kalo ada yang godain lagi nanti gimana? Dan kalo kamu kenapa-kenapa aku nanti yang bakal kena amuk Si Nakula, gara-gara turunin kamu di jalanan”
“udah aku anter aja, mau kemana? Pulang?”
Tanyanya padaku dengan nada memaharahi dan tak ada lembutnya sama sekali, bahkan terdengar seolah sangat terpaksa dan tak ada keihlasannya ingin mengantarku kini.
“Mau ke toko buku bentar, mau cari materi”
Balasku ketus
“Yaudah aku anter”
Ucapnya, dan hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk aku sampai di toko buku yang cukup lengkap itu.
“Loh, kok ikut turun?”
Tanyaku saat kulihat Dewa yang juga ikut turun dari mobilnya.
“Suka suka dong, aku juga mau cari buku di dalem, kenapa? gak boleh?”
Balasnya sinis.
“Ish dasar nyebelin”
Gerutuku, aku kemudian berbalik membelakanginya, berjalan lebih dulu di depannya.
Tapi saat berjalan dari parkiran menuju pintu utama toko buku, aku lagi-lagi harus melihat kerumunan banyak pria yang sedang nongkrong tak jauh dariku saat ini. Dan tak butuh waktu lama untuk mereka menyadari kehadiranku, bahkan sudah bersiul-siul saja sambil tersenyum nakal padaku.
“Ahh, kenapa harus gini lagi sih”
Aku melirik ke belakang, berharap Dewa mau membantuku lagi.
Dan untunglah Dewa cukup mengerti keadaanku, sampai ia jadi berjalan lebih capat kini. Tangannya bahkan kemudian di rangkulkannya pada bahuku, sambil terus berjalan dekat beriringan melewati mereka yang tengah melirikku seperti hewan yang tampak lapar dan kebetulan melihat mangsa itu.
Setelah cukup jauh akhirnya aku bisa tenang kini.
“Makanya kalo punya wajah itu standar-standar aja, gak usah cantic-cantik banget, jadi susah sendiri kan”
Ucap Dewa tepat di telingaku, aku jadi menghentikan langkahku dan diam sejenak.
‘dia itu berkata cantik padaku, maksudnya ingin meledekku atau memujiku sih?’
Batinku, penuh tanya kini di buatnya
“ayo buruan, nagapain diem di situ, ada yang godain lagi nanti gimana?”
Ingatnya, sampai aku langsung mendekat dan kembali berjalan beriringan dengannya.
…..