Putri Si Mahasiswa Konyol

1399 Kata
“Put” Aku menoleh mendengar panggilan itu, suaranya hangat, bahkan senyum ramah tergambar indah di wajahnya. Aku langsung berjalan cepat menghampirinya, karena sudah pasti itu adalah Si Dokter Tampan Suamiku, Mas Nakula. “Mas, kok masih pake jas dokternya sih?” “Ah! Lupa di lepas, tadi denger dari Dewa kamu di godain cowok makanya Mas buru-buru aja ke sini” “Dewa? dia bilang sama Mas?” “Iya sayang, soalnya dia harus balik ke kampus karena ada kelas dan udah telat banget katanya, terus Mas di suruh ke sini cepet-cepet buat jagain kamu” Cerita Mas Nakula. Mendengar itu aku jadi menaikan kedua alisku. Berpikir kenapa Dewa tahu ada kelas, tapi malah malah menyempatkan diri untuk mengantarku dan memutar-mutari toko buku ini bersamaku untuk mencari referensi? Ini sudah pukul 15.56, sementara kelas siang itu seharusnya di mulai pukul 14.45 tadi, dan Dewa baru pergi sekitar tiga menit yang lalu. Yang benar saja dia itu, aku pikir kelasnya sudah selesai hingga menemaniku mencari buku sedari tadi. “Mas, adikmu itu agak aneh deh kayanya...” “Aneh? Aneh kenapa?” “Gak jadi deh, kita makan yuk, aku laper banget” Ajakku, Mas Nakula langsung mengangguk dan merangkulkan tangannya padaku, membawaku berjalan melewati pintu keluar toko buku ini. Tak memilih resto yang terlalu jauh untuk makan siang yang mungkin akan menjadi makan soreku hari ini. Hingga tak memerlukan waktu lama untuk aku dengan Mas Nakula kini di hadapkan pada menu chicken katsu favoritku dan Prawn katsu yang di hidangkan bersama nasi, salad, sup, dan saus pelengkapnya yang Mas Nakula pesan untuknya. “Silahkan” “Terimakasih” Balasku pada pelayan resto yang baru saja menyajikan semua menu yang kami pesan dengan ramahnya. Dan sepertinya Mas Nakula lebih lapar dariku saat ini, karena ketika kualihkan pandanganku dari pelayan resto, Mas Nakula kulihat sudah lebih dulu menyeruput supnya dan melahap sesuap besar nasinya. Aku tersenyum saja melihatnya. Mas Nakula memang selalu makan dengan lahap begitu. Tapi sayangnya aku masih belum hebat dalam urusan memasak dan terlalu sibuk dengan jam kuliahku, hingga selalu saja tak sempat membuatkan makanan untuknya. Untuk makan siang aku dan Mas Nakula selalu makan di luar, dan untuk makan malam kalau tak di restoran ya paling pesan delivery agar mudah dan cepat. Padahal ingin sekali aku bisa memasakan banyak makanan untuknya, melihatnya menyantap semua makanan yang kusiapkan, hingga mendapat pujian darinya. Ketika hari-hari libur pun, aku malah selalu hanya bermalas-malasan, tiduran seharian, sebelum kemudian harus kembali lagi bertemu dengan tugas yang sangat menggunung sekali tumpukannya. “Sayang, ayo di makan” “Ehm, iya Mas” “Ah sayang, gimana kamu udah dapet dosen pembimbing?” Mas Nakula malah membuka topik yang berat seperti itu, mungkin ia juga khawatir aku akan mendapat dosen pembimbing yang tak baik, seperti adiknya itu. “Belum Mas, Professor Heri udah sold out, aku harus nyari yang lain deh” Mas Nakula meraih tanganku dan menggenggamnya. Ia menatapku dengan senyum yang amat menenangkan. “Semangat, biar nanti kita bisa bareng bareng ada di RS okey?” “Makasih Mas...” Bersyukurlah aku yang memiliki Mas Nakula yang selalu menjadi penyemangat dan seperti charge di saat aku butuh sekali supply energy, di kala ingin menyerah, merasa lelah, dan merasa tak sanggup untuk berjalan lagi. Tangannya selalu menggenggamku, membantuku untuk berjalan terus hingga sekarang ini, yang hampir akan skripsi, sidang dan lulus. “Ehm, kalo nanti ada kesulitan, bilang aja sama Mas oke? Mas bakal pastiin selalu ada buat kamu, bantu kerjain skripsi kamu, sampe sidang kamu nanti...” Mas Nakula benar-benar suami siaga dan sangat sempurna untuk istri yang penuh kurang seperti aku ini. Tak jarang Mas Nakula selalu membantuku mengerjakan semua tugas-tugasku selama aku berkuliah hampir 7 semester ini. Drttt Drttt Drttt “Hhhh...” Kuhembuskan napasku panjangku saat kutemukan handphoneku yang bergetar dan kulihat ada satu panggilan masuk di sana. “Mas, Dewa kayanya hobi banget deh ganguin kita, dan keselnya lagi, Kenapa dia dateng atau gangguin pas kita lagi ada di momen romantis kaya sekarang ini??” “Kamu ada hutang tugas sama dia?” Tanya Mas Nakula, dan langsung kugelengkan kepalaku sebagai jawabnya. “Engga kok, udah aku kumpul semua dan dia kan dosen yang gak terima revisi tugas, jadi buat apa dia nelpon” “Yaudah, gak usah di angkat aja, paling cuma mau tanya Mas udah dateng apa belum” “Mungkin” Akhirnya kuabaikan saja panggilan darinya dan memilih untuk meneruskan menyantap makan siangku siangku bersama Mas Nakula. ..... Sampai akhirnya aku dan Mas Nakula menyelesaikan acara makan bersama di resto khas Jepang itu. Dan kini aku juga suamiku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. “OH??!!” Kagetku saat tiba-tiba saja kuterima pesan serentak dan cukup banyak dari beberapa teman kuliahku, hingga membentuk deretan pesan belum terbaca di handphoneku saat ini. Masih tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, tapi akhirnya kuputuskan untuk membuka satu pesan chat masuk dari Lina, sahabatku. Dan kulihat itu berisikan screenshot instastory dari akun Dewa. ‘Put, ngakak banget sumpah’ Begitu tambah Lina. “Kenapa sayang?” “Ini...” Kuperbesar foto yang ada di instastorynya itu. Aku jelas mengenali kalau itu adalah paragraph dari laporan tugasku. Tapi yang membuatku kaget adalah... ‘Kesalahan mahasiswa zaman sekarang, sejak kapan ada Flora dan ‘Fauzan’? Yang merasa memiliki tugas ini, besok langsung menghadap saya’ Begitu tulisnya. “Putriiii!!! malu-maluin bangett sihhh” Kukutukki diriku sendiri saat sadar betapa konyolnya aku ini. Bisa-bisanya aku sampai salah ketik dari Fauna menjadi Fauzan??? Ah, aku akan jadi bulan-bulanan di kampus kalau begini ceritanya. “Sayang, hey, kenapa? ada masalah?” Kutatap wajah suamiku, berharap ia bisa membawaku pergi ke ujung bumi bersama semua rasa maluku ini. “Mas...” “Apa? Kenapa??” “Aku typo, salah ketik di tugasnya Dewaaa...” “Hah?” “Liat inii...” Mas Nakula langsung menghentikan mobilnya, memarkir dulu agar bisa berbicara lebih jelas denganku. Kemudian kutunjukan Layar handphoneku pada Mas Nakula. Ia melakukan seperti apa yang kulakukan sebelumnya, memeriksa bagian utama dari Instastory Dewa itu. Dan... “AHAHAHAHA....” Mas Nakula malah tertawa dengan tawanya yang lepas dan keras sekali saat ini. Seketika aku jadi menyesal memberitahunya. Hingga kututupi saja wajahku sambil menunduk, rasanya ini lebih parah dari pada di telanjangi di tengah jalan. Memalukan sekali. “Ini, Hahahh, kok bisa jadi Fauzan?? Hahah” Mas Nakula bertanya sambil terus tertawa karena typoku yang memang keterlaluan itu. “Aku ngantuk Mas waktu kerjain itu, makanya sampe typo gituu...” Mas Nakula sampai memegangi perutnya karena tawanya itu. Dan kulihat ia juga hingga mengeluarkan air matanya sibuk menertawakan kekonyolan istrinya ini. “Fauzan... Hahah, pacarnya Fauna gitu hahahh...” “Mas! Udah dong...” Aku sampai cemberut pada suamiku yang tak kunjung berhenti menertawakanku itu. “Ya abisnya lucu banget Putri sayang, kamu ini ada-ada aja deh...” “Terus gimana? nanti aku gak punya muka di depan semua temen-temen kampus aku Mas” “Ya gak papa, manusiawi kok buat kesalahan” Tapi sepertinya orang-orang di luar sana tak begitu manusiawi. Karena saat kulihat beberapa instastory teman-teman satu angkatanku saja, mereka malah memposting instastory yang sama dengan Dewa. Bahkan di Grup fakultas pun stiker tawa bertebaran di kirimkan banyak orang yang sedang menjadikanku sebagai topik candaan mereka saat ini. “Ahh, aku mau berhenti kuliah aja deh....” Ungkapku, putus asa karena kebodohanku sendiri. “Ya jangan sayang, gak papa kok, paling seminggu juga nanti orang-orang pada lupa” Mas Nakula dengan santainya berucap begitu, padahal itu artinya selama seminggu itu aku akan menjadi bulan-bulana satu fakultas di kampus. “Ehmm... aku pengen nangis, malu bangettt Mas” Ungkapku sambil kutenggelamkan wajahku di bahunya. “Udah, nanti Mas marahin Dewa, udah main sebar-sebar aja kesalahan orang di media social kaya gitu” “Bener ya Mas, mau marahin Dewa” “Iyaa sayang, nanti Mas marahin dia yang udah berani bikin istri Mas yang cantik ini jadi malu begini” Aku harap Mas Nakula benar-benar mau memarahi dosenku yang menyebalkan itu. Padahal di chat saja kan bisa, atau langsung datang ke rumahku yang ada di sebelahnya kan juga bisa. Kenapa harus di post di Instastory seperti itu sih. Hhh... “Ckckkk... Fauzaaaan Fauzan” Gumam Mas Nakula ketika akan menjalankan kembali mobilnya. Dan langsung saja kupukul pelan dadanya, karena malah mengungkit typoku di laporan tugas untuk Dewa itu. “Mas! udah ih! Jangan di sebut lagi itu Si Fauzan!” “Hahahh iya-iyaaa....” ......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN