“Astaga!” “O-oh... I I-bu...” Tak bisa kupercaya... orang yang harus melihatku sedang berduaan seperti sekarang ini, bersama istri dari saudara kembarku adalah ibu sendiri. “I-ibu ini... ini gak kaya yang-” Mendadak aku kehilngan semua kata-kataku. Berpikir, haruskah aku membuat sebuah alasan, mengada-ngada, mengarang cerita, tapi sungguh itu semua akan sangat percuma. Dan jika pun harus kujelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi, justru semua akan jadi lebih runyam bahkan pecah, berantakan. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. “Dewa kamu-...” Tak di teruskannya, dan itu tak perlu. Karena jelas kini aku bisa membaca semuanya, dari mata juga raut wajahnya yang tampak lebih kaget, dari orang yang baru saja telah melihat hantu terseram sekalipun. Sudah pasti Ibu bingung s

