dari obsesi ku yang sangat ganas itu ternyata membuat aku makin terjerembab dalam jurang yang aku buat sendiri. awal - awal memang aku sangat menikmati perjalanan hubungan ini.
aku mulai dengan cara pendekatan yang memang cenderung lebih lama dari pada orang biasanya.
aku mulai memberikan perhatian - perhatian kecil terhadap Tsany dan membuat Ia terus merasa nyaman terhadap ku, aku pun mulai merasakan hal yang sama, jika menurut orang Tsany adalah orang yang sulit di dekati oleh orang lain, tidak dengan aku, aku memiliki jalan yang lurus saja saat pendekatan dengan Tsany ku, mulai dari Menyapa nya setiap pagi, mengingatkannya makan, mengajari nya pelajaran yang akan di ujikan nanti.
kami memang berbeda dua tahun Tsany kala itu berusia 14 tahun ya kelas tiga Sekolah Menengah Pertama sedangkan aku mulai menginjak 16 tahun dan aku ada di kelas tiga Sekolah Menengah atas semasa sekolahku aku tidak pernah menyangkutpautkan permasalahan perasaan ku bahkan aku lebih monoton karna yang aku tahu selama enam belas tahun kehidupan ku, aku hanya tahu belajar, belajar dan belajar tanpa aku bisa menengok ke kanan dan kekiri dan tidak merasakan gejolak api asmara yang dirasakan, anak - anak Remaja se usiaku.
aku cenderung anak yang berprestasi, aku mendapatkan percepatan sekolah akselerasi yang biasanya orang menyelesaikan sekolah dalam kurun waktu tiga tahun namun aku bisa menyelesaikan dalam kurun waktu 2 tahun, ya lebih singkat dari pada orang lain, yang membuat aku terlalu fokus dalam duniaku.
ya... saat ini mungkin hormon ku sedang melonjak - lonjak untuk bisa bersama wanita yang aku cintai,
aku merasa ini bukan hanya sekedar suka- sukaan saja
ini cinta,
tak terasa sudah tiga bulan berlalu, hari demi hari pun aku lewati bersama dengan Tsany rasanya kami mulai semakin dekat, namun sampai saat ini belum ada kepastian antara aku dan Tsany.
Tiga bulan ini terlewati dengan mudahnya dan aku merasa sangat menikmati detik per detiknya. kami mulai dekat merasa tidak ada jarak antara aku dan Tsany. aku merasa aku dan Tsany seperti gula dan semut bak amplop dan perangko menempel saja, kami mulai terbiasa satu sama lain untuk berjalan bersama berjalan bergandengan kemudian aku pun mulai terbiasa untuk menjemput dan mengantarkan Tsany kemana pun ia akan pergi.
kami pun saling mengabari satu sama lain, mulai bebicara di telpon bahkan hingga larut malam, se sering itu hingga terkadang Tsany tertidur pada saat di telpon, sudah ku duga, ini akan semakin dalam, rasanya aku semakin menginginkannya untuk menjadi miliku.
suatu ketika, saat aku pulang sekolah dan aku menjemput Tsany ke sekolah aku langsung memberi kabar kepada Tsany
aku langsung mengetik "Tsany aku tunggu di depan gerbang ya"
selang 30 menit tidak ada respon dari Tsany sampai aku menunggu Sekitar 45 menit kemudian, aku memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa terhadap Tsany. lantas aku masuk menerobos pagar sekolah Tsany yang tinggi dan ternyata banyak orang yang sedang berkerumun di lobby, lantas aku bertanya, " ada apa?" tanyaku kepada salah satu murid yang berada di situ.
"itu kak Tsany Cidera, kepalanya terbentur dan berdarah " mendengar itu aku sangat kaget dan hampir lemas. aku menyusuri kerumunan itu dan mencari dimana Tsany ku, aku terus berjalan hingga ku di pelihatkan satu ruangan UKS sekolah, aku terus menerobos masuk ke dalam UKS itu, ternyata betul, dihadpanku, terbaring orang yang aku sayangi Tsany ku, terbaring lemah dengan darah yang mengucur ke pelipisnya. kaki nya yang agak bengkak mungkin karena terjatuh.
beberapa orang sedang kebingungan dan sambil menunggu dokter yang sedang berjalan ke arah ini.
aku ingat aku tau cara menangani orang yang kecelakaan, aku pernah di ajarkan oleh ibuku, karena ibuku adalah seorang dokter penyakit dala, jadi sedikit aku tahu caranya untuk menangani Tsany.
dikala semua orang panik aku lansung mengambil kain kasa dan alkohol untuk membersihkan pelipis, pipi yang terkena darah itu, kemudian aku tutup sementara luka terbuka yang belum di apa-apakan oleh guru - guru itu.
dengan tanganku yang gemetar aku memberanikan diri sambil menahan air mataku yang sedang ku bendung.
"Tsany ku, bertahanlan sampai dokter sampai disini" memang tempat latihan lobby sekolah depan itu agak lumayan jauh dengan Klinik utama sekolah nya, menurut keterangan saksi bahwa tidak ada orang mengetahui Tsany terjatuh, mungkin sudah beberapa menit atau mungkin sudah 30 menit dia terbaring.
pantas saja aku menunggu di gerbang sangat lama, andaikan aku tau lebih awal akan ku percepat pertolongan pertamaku untukmu Tsanyku.
terdengar langkah dokter yang bergegas ke arah UKS Lobby utama dengan sigap dokter langsung menangani Tsany dengan terampil,
terdengar "ayo cepat siapkan alat bius lokal, jarum dan benang kulit" cepaat
itu bersihkan pendarahannya
dan Tsany mulai mengeluarkan suranya dari bibirnya, 'hmmm sakit' ia meringis kesakitan. dan aku langsung menggengam tangannya, "Tsany, Tsany kamu dengar gak ? Ini aldy" ku genggam erat tangannya dia hanya mengangguk, dan aku pun hanya bisa menenangkannya agar dia tidak panik.
"aku ada disini kamu yang kuat ya sabar ya sebentar lagi selesai" aku berusaha menenangkan Tsany
"ada aku kok" aku terus menerus mengajaknya biacara minimal ia mendengar aku.
lemas rasanya melihat Tsany ku terbaring lemah tak berdaya, yaaa... tapi apa boleh buat aku hanya bisa memberinya support untuk itu semua. yang ia rasakan, aku ingin meringankan rasa sakitnya, tahap demi tahap dokter lakukan terhadap Tsany, dokter sudah selesai menjahit luka Tsany dan kemudian menutup luka Tsany dengan Perban.
kemudian aku berkata pada Tsany " Tsany tunggu sebentar ya aku akan kembali tidak lama lagi, aku akan menanyakan perihalkesahatanmu ke dokter dan aku akan menghubungi keluargamu"
aku langsung membuntuti dokter itu dan menanyakan bagaimana keadaan Tsany saat itu.
"dok... bagaimana keadaan Tsany?" tanyaku penasaran
"sudah baik - baik saja tidak usah Khawatir, namun untuk kakinya saya perkirakan dia mengalami Fracture ankle dan mungkin Ia tidak bisa melakukan aktifitas berat seperti ber olahraga dan kemungkinan aktivitas sehari - harinya pun akan terganggu. tapi kami akan memastikan kembali, nanti akan kami pindai dengan Sinar - X untuk memastikan apa yang terjadi pada kaki Tsany" seketika aku lemas ku bantingkan punggungku ke tembok itu. ku rogoh kantongku untuk mengambil handphone ku. aku mencari kontak ayah Tsany langsung ku telpon ayah Tsany.
"tuuttt.... tutt.... tutt....." lama sekali
" halo!" terdengar dari telpon ku
"hallo om, ini saya om aldy, om maaf sebelumnya saya mau kasih kabar kalau Tsany mengalami kecelakaan di sekolah"
"apa? kecelakaan dimana kalian sekarang ?" terkaget ayah Tsany mendengar Tsany mengalami kecelakaan,
"kami di sekolah om" sembari gemetar aku menjawab pertanyaan ayah Tsant
"tunggu saya langsung ke sekolah"
" baik om" kata terkahir itu tidak ada hal yang lain selain panik yang ku rasakan di benak ayah Tsany
aku duduk lemas di lantai sembari menyender pada tembok di balik UKS itu.
aku menguatkan diriku agar diriku bisa terlihat tegar di mata Tsany. aku harus memuatnya bangkit kembali. walaupun kenyataan ini berat di lalui oleh Tsany tapi apapun yang terjadi aku akan menerima nya dengan apa adanya. Namun satu yang ada dalam benakku, apakah Tsany akan menerima nya bahwa dia tidak bisa latihan atau bahkan dia harus berhenti latihan untuk selamanya.
sedangkan event yang kami tunggu tunggu akan segera di gelar yaitu Gubenur Cup entah lah pikiran- pikiran itu terus berkecamuk dalam otakku, sambil aku mulai berdiri dan berjalan ke tempat dimana Tsany berbaring di UKS aku menghempaskan Fikiran - fikiran buruk itu.
"gimana Tsany, sudah enakan" ku tanya sambil ku elus lembut rambut coklatnya
"sudah enakan, tapi masih terasa pusing dan sakit pada kakiku" keluhnya sambil memegangi kepalanya yang baru selesai di jahit itu.
"sabar ya, sebentar lagi ayah kamu sampai disini, hari ini kita gak jalan - jalan dulu ya, besok kan libur nanti aku aja yang kerumah kamu ya, kalau di izinkan aku ikut kamu ke rs untuk pemeriksaan lebih lanjut pada kaki kamu oke, sekarang kamu istiraraht dan tunggu ayahmu sampai disekolah. aku akan menemani mu sampai ayahmu menjempumu disini."
memang rencana nya sepulang sekolahnya Tsany aku akan mengajaknya jalan - jalan untuk jajan ice cream di pinggir danau sembari menikmati pemandangan danau dengan angsa - angsa indah di sana, namun tuhan berkata lain. ya sudah aku hanya bisa menerima dengan lapang d**a, dengan melihat Tsany sehat dan tidak ada sesuatu yang fatal membuatku menyulut semangat agar tetap bisa menemani Tsany sampai Tsany sembuh kembali dan dapat beraktivitas seperti sediakala.
sampai akhrinya ayahnya Tsany pun sampai disekolah dan langsung memeluk Tsany,
"kamu gak apa - apa kan anak ku?" terlihat kekhawatiran ayah Tsany pada saat itu hingga membuat Tsany meneteskan air mata.
"aku ngga apa - apa kok pah" sambil menyeka air matanya
lalu ayah Tsany berbincang dengan guru yang telah menolong Tsany, pak alwi namanya pak alwi menceritakan semua kejadian dengan detail tapi sepertinya ayah Tsany agak tidak suka, karena dahinya mulai mengerenyit dan matanya pun tajam, dan memalingkan wajahnya ke arah Tsany sambil berkata
"Tsany, apa papah bilang, kamu itu udah tidak perlu main - main bulutangkis yang gak berguna itu, sudah papah peringati berkali - kali ya masih ngeyel, ada bagusnya kamu cidera akhirnya kamu tidak bisa mengikuti turnamen itu kan!!!" tegasnya begitu
aku sambil mengusap punggung Tsany aku berkata, "Tsany, aku pulang dulu ya, kamu hati - hati di jalan, sesuai janjiku aku akan pulang ketika kamu sudah di jemput oleh ayahmu, kaga kesehatan ya jangan lupa makan, banyak - banyak istirhat yang melakukan aktivitas berat dulu ya...... aku pamit ya Tsany sampai ketemu besok."
terlihat wajah Tsany meredup saat aku meninggalkannya dan ia hanya berkata "Terimakasih ya aldy"
sersunging senyum manis di wajah itu yang tidak akan pernah bisa aku lupakan.
aku berjalan ke tempat dimana aku memarkirkan kendaraanku dan aku pun bergegas pulang.
DIRUANG UKS
ayah Tsany masih megobrol dengan pak Alwi memastikan semuanya baik-baik saja , dan ternyata pak Alwi menjelaskan bagaimana aku melakukan pertolongan pertama kepada Tsany. itu sebabnya ayah Tsany menelepon ku hingga beberapa kali namun tidak terangkat.
sesampainya di rumah aku melihat sejenak Handphone ku, ternyata ayah Tsany menelepon ku hingga 8x panggilan tidak terjawab, lantas aku lansung menelepon balik ayah Tsany
"tuutt.... tuutt.... tuttt....." bunyi telepon yang sedang menyambungkan, hingga beberapa detik Telepon itu mulai tersambung
"hallo om, gimana om ?" aku lansung bertanya ketika telepon itu sudah tersambung
"oh iya aldy, om sampai lupa mengucapkan terimakasih ke kamu, om sudah dengar semuanya dari pak alwi, untuk menyampaikan rasa terimakasih om ke kamu, nanti kamu datang ya ke rumah om, kita makan bareng, besok kalau kamu mau ikut juga antar Tsany periksa ke dokter boleh, sepertinya kamu dan Tsany terlihat dekat,"
aku hanya senyum - senyum sembari mendengarkan ayah Tsany berbicara dan aku dengan lantang meng "iya" kan tawaran ayah Tsany itu.
"baik Om besok aku kerumah ya om, Kebetulan besok aku libur hehe...." sambil aku senyum- senyum sendiri menjawab pertanyaan ayah Tsany
" oke kalau begitu "
"baik om" terdengar langsung di tutup telepon itu.
aku merebahkan badan ku di atas kasur merasa hari ini sangat lelah bagiku.
mbok darmi pun mengetuk pintu kamarku dan memberitahu
"den... airpanas untuk mandinya sudah siap ya "
"oke makasih ya mbok" sambil tersenyum aku berkata pada mbok darmi, entah apa yang merasukiku, aku seolah orang yang tidak punya pikiran hingga aku selalu tersenyum dan tersernyum
akhirnya aku mulai mebuka bajuku perlahan dan satu persatu, ku langkahkan kaki kananku masuk ke dalam bathub yang berisikan air hangat dan sabun wangi kesukaanku, aku berendam dan sambil menikmati lantunan melodi penenang yang sering ku putar di kamar mandi. lewat sudah 45 menit waktu aku habiskan dengan berendam dambil meregangkan otot - otot ku yang tengah kaku itu, ku ambil bathrobe dan mulai mengeringkan rambutku yang mulai memanjang ini, terdengar suara mbok darmi mengetuk pintu kamarku
tok..tok...tok.. "den makan malamnya sudah siap ya, otousan dan oka-san menunggu di bawah ya den"
"hai~ sou desu ne" sambil berteriak ke mbok darmi
*otousan adalah panggilan ayah dalam bahasa jepang dan oka-san adalah paggilan ibu dalam bahasa jepang.
setelah semuanya beres, aku turun ke lantai satu untuk makan malam bersama dengan keluargaku
"sudah lengkap semua?" tanya ibuku. kami memang selalu melakukan makan malam bersama tidak terkecuali, adikku merry pun harus ikut makan malam bersama dengan keluarga karna hanya malam lah kami bertemu lebih intens, setiap hari keluargaku selalu sibuk dengan urusannya masing-masing jadi kesempatan makan malam bersama selalu kami manfaatkan dengan baik.
"sudah oka-san" jawab merry
mari kita berdoa "berdoa mulai" serentak kami mulai menundukan kepala sembari berserah dan berterimakasih kepada tuhan atas anugerah dan rizky yang diberikan kepada kami serta nikmat yang selalu tuhan limpahkan kepada kami.
".........."
"selesai" ibuku mengakhirinya
"selamat makan" kami serentak mengatakan hal yang sama. senang sekali rasanya bisa makan malam bersama dengan otousan dan oka-san apalagi hari - hari ku sekarang ini makin menyenangkan karna akuk sedang jatuh cinta hehehe......
dalam kebiasaan keluarga kami ketika makan di meja makan, kami tidak berbincang se patah katapun. kami hanya berfokus pada makanan yang berada di hadapan kami. itu adalah bukti kami sangat menghargai apapun yang tuhan berikan hari ini pada kami.
setelah makan malam selesai kami biasanya berbincang ringan dengan oka-san dengan otousan mengenai hari ini.
apakah hari ini melelahkan, apakah hari ini menyenangkan atau hari ini menyebalkan, situasi ini adalah situasi yang hangat yang selalu aku rindukan, apalagi aku sangat tidak sabar untuk menceritakan apa yang aku alami hari ini.
"oka-san, tau ga? i sebentar lagi akan punya pacar " celetukku kepada ibuku
"really?" sambil mengerenyitkan dahinya seolah tak percaya
"pacarmu perempuan kan dy ?" celetuk otousan padaku sembari menggodaku
"ya perempuan dong otou hehehe.... belum pacar sih baru jadi calon pacar i aja" aku senyum - senyum sendiri sampai tak sadar mukaku memerah menceritakan Tsany
"good boy, oka-san kira kamu akan pacaran sama laki - laki yaa ngga sayang?" dengan nada meledek aku mencari teman berbicara kepada otousan
"iyaaa betul itu " celetuk otousan membuat aku malu sekali, tapi ya setidaknya aku bahagia berada di tengah - tegah keluarga yang sangat menyayangiku.
"boleh di ajak kesini kapan - kapan kenalkan sama oka-san dan otousan" merry pun ikut nimbrung
"yeh anak kecil tau apa" jawabku sambil melirik sinis ke arah merry
"tapi oka-san setuju" kata oka-san
"oke deal ya, tapi kalau aku sudah resmi jadian dengan Tsany ya" sambil tersenyum tersipu malu mengatakannya.
"oohhhh namanya Tsany" berbarengan otousan dan oka-san menimpaliku.
perbincangan malam ini sangatlah panjang, dan akupun menceritakan apa yang aku alami hari ini kepada otousan dan oka-san aku melakukan pertolongan pertama pada Tsany dan aku di ajak makan malam dengan keluarga Tsany sebagai tanda terimakasih kepadaku kata ayah Tsany. semua ku ceritakan satu per satu kejadian yang ada di dalam kejadian hari ini.
oka-san bertanya padaku "bagaimana perasaan kamu bisa memberikan pertolongan pertama pada orang yang sedang kesakitan?" dengan nada yang agak sedikit serius oka-san bertanya kepadaku dan di timpali oleh otusan "ya bagaimana aldy"
lantas aku menjawab sesusai dengan yang aku alami hari ini "awalnya i sangat takut dan gemetar, apalagi orang yang aku tolong ini adalah orang yang i sukai oka-san, i benar - benar bingung namun i mencoba untuk bisa mengendalikan pikiran dan emosi i oka-san, kemudian step by step i lakukan, dengan sangat teliti karena i tidak ingin melakukan kesalahan dalam tindakan yang i berikan"
"goodboy, jadi sudah siap ya jadi penerus otousan dan oka-san" sembari tersenyum penuh harapan oka-san memberikan sebuah statement yang aku ini sangat kaget mendengarnya
oka-san langsung menyambung pembicaraanya " Lalu OCD mu bagaimana, kamu tidak takut memegang darah? kamu tidak takut memegang orang lain?" tanya nya dengan penuh penasaran.
"entah bagaimana oka-san sepertinya semenjak I mengenal Tsany OCD i mulai membaik dan I sudah seperti remaja pada umumya, walaupun tidak sepenuhnya OCD ini Hilang"
sambil menghela nafas otousan berkata "Syukurlah semoga seterusnya akan selalu seperti itu"
tak menyangka perbincangan malam ini sangat menyenangkan hingga kami tak sadar ini sudah larut dan waktunya beristirahat.
kami pun saling mengucapkan selamat malam dan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Ayah dan ibuku adalah seorang dokter, mereka adalah memiliki rumah sakit besar di daerah cikarang ini, namun aku selalu menyembunyikan identitasku kepada teman - teman ku, karena yang aku ingin berteman sewajarnya berteman karna mereka ingin berteman dengan ku bukan karena latar belakang ku.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Intinya dimanapun aku dilahirkan
aku akan selalu bersyukur
memiliki ibu dan ayah seperti ibu dan ayahku
apapun yang mereka lakukan pasti demi kebaikanku
aku percaya itu
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------