GRAU! Seekor tikus berukuran besar dengan suara tidak biasa menerkam Roro sampai dia terjungkal ke belakang saking kagetnya. Tikus itu mencakar sampai dia menjerit dan menjauhkan si tikus sebisanya dengan terus menjerit. Roro menangkap sang tikus dan melemparnya ke dinding sampai terdengar suaranya yang memekikkan telinga.
“Aku minta maaf kawan, ini aku lakukan karena perbuatan kasar padamu. Jadi, kamu sendiri yang mulainya. Padahal aku tidak berniat jahat padamu.” Ucap Roro sambil terbangun dan menatap sang tikus yang memperlihatkan taringnya sambil menggeram dan menatap tajam.
Walaupun takut, Roro membalas tatapan itu, dia memang merasa konyol karena berkelahi dengan seekor tikus, tapi ini tidak bisa dianggap lelucon juga, karena tikus itu tidak seperti pada umumnya dan menggila dengan apa yang terjadi. Membuat Roro harus tetap siaga dengan kemungkinan yang terjadi. Sang Tikus kembali ingin menerkam Roro, dia melompat cepat ke arah wajahnya, tapi entah dari mana, seekor harimau putih datang dan langsung menerkam sang tikus, membuat Roro selamat dari terkamannya.
Dua hewan tersebut saling menerkam, mencakar dan juga saling menggeram membuat kamar Roro berantakan dan juga penuh dengan darah yang terciprat ke mana-mana. Ini sungguh di luar nalar pikiran manusia, Roro merasa ini hanya mimpi di pagi hari, tapi ketika dia mencubit dan menggigit tangan sendiri, sakitnya terasa ke dalam tulang, berarti ini memang nyata. Roro menatap perkelahian itu dengan menahan sakit di tangannya akibat cakaran tadi.
Kira-kira setengah jam lamanya, akhirnya perkelahian pun berhenti dengan sang tikus yang terdesak. Matanya terlihat mengeluarkan darah, seluruh tubuhnya tidak luput dari goresan bekas cakaran. Tubuh sang tikus yang mulai terdesak, berangsur-angsur berubah menjadi makhluk menyerupai manusia dengan hidung meruncing, mulut ke depan, telinga lebar seperti telinga tikus dan seluruh tubuhnya di penuhi dengan tonjolan yang cukup mengerikan.
Dia sudah tidak berdaya dan ketika sang harimau putih ingin menerkam supaya sang makhluk mati saat itu juga, dengan sigap Roro memberhentikannya. Dia tidak sanggup melihat sang makhluk di bunuh dengan tidak baik, padahal dia sudah terluka parah, dan itu sungguh tidak adil. Roro pun takut ini akan menjadi karma baginya karena itu di lakukan di dalam kamarnya sendiri.
“Aku tahu, kamu ingin membuat dia mati tanpa ampun, tapi kamu harus tahu, memaafkan orang lain lebih baik dari pada membalasnya dengan kekerasan karena itu sungguh hal yang di larang di dunia ini.” Roro menatap sang harimau yang memperlihatkan taringnya, seperti tidak terima dengan apa yang Roro lakukan. Tapi ketika mendapat tatapan dari Roro, sang harimau berhenti dan memberikan tampang biasa.
Makhluk tadi, memanfaatkan kesempatan itu dengan cara merubah diri menjadi asap dan kabur entah ke mana. Roro hanya bisa menggeleng dengan apa yang makhluk itu lakukan. Sedangkan sang harimau kembali menggerem marah. Suaranya membuat bulu kuduk berdiri.
“Sudahlah, mungkin makhluk itu masih ingin hidup.” Ucap Roro dengan memandang ke seluruh penjuru kamar yang sudah tidak berbentuk lagi. “Kenapaaa ada makhluk itu, sampai kamar___”
“Minto, makhluk bernama Minto yang menjadi utusan seseorang untuk___”
“Rorooo, kamu masih belum bangun! Ini sudah siang, apa kamu tidak akan bekerja?” suara gedoran pintu membuat omongan sang harimau terpotong, dan dia menghilang tanpa jejak.
Roro sedikit menulikan diri dengan suara gedoran dari sang Nenek, karena dia masih bingung dengan apa terlihat di kamarnya. “Harus berapa lama aku membereskan kamar ini, aku ingin ketika Nenek masuk semua seperti sedia kala.” Ucap Roro dengan pelan dan membuang nafas kasar larena itu tidak__ mata Roro melotot melihat apa yang terjadi, kamarnya sedikit-sedikit berubah seperti dia baru saja bangun tidur, dan ketika sang Nenek masuk dengan kunci gandanya, semua sudah seperti sedia kala.
“Kamu itu tuli apa bagaimana, hah!” ucap sang Nenek sambil menjewer telinga Roro.
“Ya ampun, Neeek!” teriak Roro sebab telinganya hampir saja mau copot rasanya.
“Kamu itu kebiasaan, kalau saja Pak Wahyu tidak memberi tahu, nenek yakin, kamu tidak akan pergi bekerja.” Omel sang nenek yang merasa kesal pada sang cucu yang masih mendekam di kamarnya padahal sebentar lagi waktunya dia pergi bekerja.
“Ini kan masih pagi Neeek. Wajar kalau Roro masih tidur.” Cicitnya sambil sedikit menunduk.
Tangan lembut sang nenek terangkat mengusap kepala Roro dengan sayang. Setelah kepergian orang tua yang hilang tanpa jejak dan jasadnya pun tidak di temukan, Roro dibesarkan dengan kasih sayang dan cinta yang hanya dia dapatkan dari sang nenek yang sudah tidak muda lagi. Kadang Roro merasakan ada setitik rasa ingin seperti orang lain yang mempunyai ayah dan ibu pada umumnya. Apalagi, ketika melihat teman-temannya yang begitu akrab dengan orang tuanya. Namun, itu hanya bisa dia obati dengan senyuman.
“Nenek tahu, kenapa kamu terus mengurung di kamar.” Sang Nenek duduk di samping Roro, “itu tidak baik sayang, harusnya kamu jujur saja sama nenek tentang semua itu.”
Deg! Jantung Roro berdetak cukup kuat ketika sang Nenek bicara, “A, apa, apa Nenek tahu semuanya?”
“Ya, semuanya! Pak Wahyu telah mengatakan semuanya, malahan dia meminta maaf karena sudah membuat kamu ketakutan sampai kamu banyak diam setelah itu.” Ucapan sang nenek membuat pundak Roro merosot.
Dia kira sang Nenek sudah tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi sayangnya itu hanya masalah kecelakaan yang di alaminya dengan Pak Wahyu. Ada sedikit kekecewaan di d**a ketika sang nenek mengatakan hal yang bertolak belakang dengan pemikirannya, tapi bila dia pikirkan lagi, itu lebih baik dari pada nantinya akan jadi masalah yang tidak di inginkan.
“Mulai sekarang, kalau ada apa-apa kamu bicara saja dengan jujur, jangan di pendam sendiri, itu tidaklah baik. Mau itu masalah burung atau masalah sedih. Nenek tidak akan marah selama itu buka kamu yang ceroboh.” Ucap sang Nenek sambil tersenyum dan menyodorkan sepiring nasi dengan lauk-pauk yang membuat Roro lapar seketika.
“Baiklah, Nek! Tapi, kapan Pak Wahyu bicara soal tabrakan itu, Nenek kan tahu, kalau Pak Wahyu sedang di luar kota?”
Sang nenek sedikit gelagapan dan terkejut, tapi setelah beberapa saat dia kembali memasang wajah biasa dan tersenyum. Tangannya terulur menjewer, “kamu itu mengejek nenek, ya? Mentang-mentang selama ini nenek tidak bisa menggunakan handphone.”
“Hehehe ... itulah alasan yang Roro maksud. Tidak mungkinkan Nenek melakukan kontak batin dengan Pak Wahyu, kan!” Ucap Roro seenaknya.
“Iya, nenek menggunakan batin bicara dengan pak Wahyu. Kamu ini, ya!” sang Nenek menjitak kepala Roro. “Pak Wahyu menelepon nenek, dan ini, tulis nomor kamu. Supaya nenek tidak susah menghubungimu.” Sang nenek meletakan handphone yang kemarin baru dia beli dengan sang teman.
***