“Maaf ya, Ro, saya tidak bicara kalau kita kan langsung ke rumah si pelanggan, soalnya ini sudah sore, jadi kita di minta untuk meeting di rumahnya.”
“Oh, baiklah. Saya tidak apa, Pak, yang penting saya sudah izin Nenek.” Pak Wahyu mengangguk, mengiyakan. Pasalnya dialah yang meminta izinnya langsung.
Tidak ada lagi percakapan, setelah itu mereka anteng dengan pemikiran masing-masing. Namun, tidak berlangsung lama ketika secara tiba-tiba mobil yang Pak Wahyu kemudikan oleng sampai menabrak pembatas jalan, sampai kaca depannya pecah.
Roro terdiam, menatap sekeliling dengan terkejut. Pasalnya, Roro tidak merasakan apa pun, dia malah masih anteng dengan pemikirannya yang ingin tidur di atas kasur.
“Pak, kenapa sampai seperti ini? Apa Bapak baik__” Dia menengok ke samping, Roro terkejut melihat Pak Wahyu telah pingsan dengan darah keluar dari kepalanya. Roro menatap sekeliling, di tempat ini tidak ada orang yang bisa di minta pertolongan.
“Apa yang terjadi, kenapa aku tidak merasakan apa pun?” Roro melihat seluruh tubuhnya dan meraba kepalanya yang mungkin berdarah. Namun, tidak terjadi apa-apa, semua sempurna seperti sebelumnya.
Roro termenung, dia tidak tahu apa yang harus di lakukan, “andai aku bisa mengobati Pak Wahyu.” Gumam Roro dalam hati sambil mengepalkan tangan. Karena merasa bodoh dan juga bingung dengan apa yang terjadi.
Cras! Tangan Roro yang terkepal mengeluarkan cahaya, dari sela-sela jari, keluar akar berbentuk pipih berwarna merah muda yang terus menjalar mendekat dan menggulung tubuh bagian atas Pak Wahyu yang masih pingsan. Roro melotot saking kaget dengan apa yang terjadi. Tubuhnya menggigil dengan peluh yang terus keluar dari sela-sela rambut dan kulitnya. Dia mencoba membuka kepalan tangannya supaya akar itu berhenti melilit Pak Wahyu, tapi sayang, tangan itu seperti memiliki kemauan sendiri. Membuat Roro makin ketakutan.
Akar itu makin menggulung sampai tubuh bagian atas Pak Wahyu tidak lagi terlihat. Warna akar makin terang, mendekati putih keemasan. Setelah itu, cahayanya meledak, ke segala arah membuat Roro menutup mata dan melafalkan doa semoga Pak Wahyu bukannya meninggal karena akar yang dia keluarkan dari kepalan tangannya.
“Ya Tuhaaan, kamu tidak apa-apakan, Ro?” suara cemas menyadarkan Roro dari rasa takut dan menggigil.
Perlahan matanya yang tadi tertutup kuat membuka. Pertama mata yang di buka sebelah untuk memastikan orang yang bicara itu benar-bebar Pak Wahyu. Ketika sudah memastikan, matanya terbuka lebar dan menatap Pak Wahyu yang tengah menatapnya balik dengan wajah cemas.
Beruk! Roro menghambur pada pelukan Pak Wahyu dan menangis sesenggukan, sampai Pak Wahyu yang awalnya sok karena mendapat pelukan spontan, langsung merangkul Roro ragu-ragu, dia sadar, saat ini Roro membutuhkan pelukan untuk ketenangan hatinya.
“Maaf, yaaa, saya minta maaf, karena saya tidak hati-hati.” Ucap Pak Wahyu dengan tangan yang mengusap punggung Roro menenangkan.
“Saya kira, Bapak akan___”
“Sudah, sudah. Saya tidak apa-apa. Sekarang lebih baik kita pulang dan batalkan meeting kita.” Ucap Pak Wahyu setelah mendorong Roro dari pelukannya karena sudah di rasa tenang.
“Tapi Pak___” Roro mengusap wajahnya dengan punggung tangan secara kadar tanpa menghiraukan penampilan yang sudah berantakan di depan sang Bos. “Kalau dibatalkan, Bapak akan kehilangan uang besar.” Ucap Roro dengan menyisakan isakan kecil dari tangisan.
“Keselamatan kita paling utama, uang nanti bisa di cari kembali. Lagian kita tidak mungkin pergi dengan keadaan mobil seperti ini.” Pak Wahyu menunjukkan kaca depan yang sudah hancur.
Roro hanya bisa mengangguk dengan lemah dia menyenderkan kepala di jok mobil, jujur dia masih tidak bisa mencerna apa yang terjadi pada dirinya. Ini sungguh mengejutkan. Roro memandang telapak tangan yang tadi mengeluarkan benda aneh seperti akar yang bisa membuat Pak Wahyu sehat seperti sedia kala.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuh ini.” Roro memejamkan mata, hatinya terus mengucapkan kalimat tersebut sampai dia tertidur.
Pak Wahyu menatap Roro yang tengah tertidur, “Ternyata kamu sudah bisa seperti itu, tapi hati kamu masih ragu. Sepertinya semua itu tidak akan lama lagi.” Ucapnya sambil membawa Roro pulang dengan mobil yang depannya telah hancur, tapi masih bisa di gunakan.
Setelah kejadian kemarin, Roro banyak melamun. Dia ingin sekali bicara pada orang lain seperti pada nenek atau pun teman dekatnya di tempat kerja. Namun, itu tidak mungkin Roro lakukan, kecuali dia ingin di panggil orang gila oleh semua. Roro mendesah di atas kasur, kepalanya menghadap ke langit-langit kamar, menatap titik-titik noda yang tercipta secara alami karena cat atapnya sudah lama tidak di ganti. Roro mengangkat tangan, sampai terlihat menutupi pandangannya. Ditatapnya dalam tangan tersebut sampai ke setiap ruas jarinya. Dia ingin tahu, apa ada yang aneh dari tangannya setelah kejadian itu.
“Tidak ada yang aneh dengan tangan ini,” dia terus saja membolak-balikkannya sampai kembali mendesah dan memukul tempat tidurnya dengan kasar.
“Aaah, ini sangat membingungkan!” teriaknya dengan kaki menendang angin, dan tangan terus memukul tempat tidur sampai dia merasa lelah sendiri.
Dadanya naik turun seperti orang berlari jauh. Padahal hanya bergerak di atas kasur. Setelah tenang, Roro bangkit mendekati cermin menatap lekat pantulan wajahnya dengan rambut acak-acakan, “Sebenarnya kamu itu siapa?” Roro menunjuk dirinya yang ada di balik cermin dengan sorot mata tajam, “Apa kamu moster?” tidak lama setelah Roro berucap demikian, berangsur-angsur wajahnya menjadi berbeda.
Matanya makin menyipit, hidung meruncing, telinga pun ikut meruncing dengan tonjolan yang makin menonjol memenuhi seluruh wajahnya, sampai Roro merasa jijik dan berteriak. Napasnya kembali memburu seperti sehabis berlari. Wajah itu seperti yang dia pikirkan.
“Ya ampuuun, apa yang terjadi padaku!” Roro kembali menatap pantulan wajah di balik cermin, dan semua kembali normal seperti sediakala. Roro menyugar rambut, mengusap wajah dan kembali menatap cermin untuk meyakinkan kalau dia baik-baik saja, dan semua memang baik.
Namun, setelah itu, Roro merasakan ada sesuatu yang mengawasinya dari belakang, membuat bulu kuduknya berdiri, padahal ini pagi hari. Dengan tangan gemetar, Roro menengok ke belakang melihat sumber yang menurutnya tengah mengawasi di balik gorden.
Karena penasaran, Roro pun bangkit mendekati gorden tersebut. Jantungnya berpacu cepat sampai terasa sesak. Tangannya terulur menyibakkan gorden, dan itu terjadi bersamaan dengan tiupan angin pagi yang langsung menusuk seluruh tubuhnya sampai terasa ke dalam tulang sumsumnya. “Sejak kapan jendela itu terbuka?” Roro menatap lekat jendela yang sudah terbuka lebar seperti yang biasa neneknya lakukan jika dia masih saja tertidur padahal hari sudah pagi.
Mungkin itu tidak akan jadi masalah untuknya bila sang nenek ada, tapi saat ini, neneknya sedang tidak ada di rumah karena ada seorang tetangga yang mengajaknya untuk jalan-jalan kemarin malam dan sampai sekarang belum pulang. Roro menggaruk kepala bingung, pasalnya semalam dia sudah mengunci jendela tersebut. Lalu siapa yang membukanya? Itulah yang jadi masalah.
Roro melangkah sepelan mungkin, mendekati jendela. Setelah dekat, tangannya yang gemetaran terulur untuk menyibakkan gorden makin ke atas karena terlalu menjuntai ke lantai. Jadi dia tidak bisa melihat di baliknya. Setelah itu,
***