Melihat Eshal akhirnya menikah, rasanya Selina masih tak percaya. Ia duduk di salah satu sudut ruangan, memperhatikan sahabatnya yang kini resmi menjadi seorang istri. Pemandangan itu terasa begitu nyata, namun di saat yang sama, masih sulit ia cerna sepenuhnya. Dulu, mereka sering menghabiskan malam-malam panjang dengan obrolan tentang betapa sulitnya menemukan lelaki yang benar-benar mau berkomitmen. Mereka berbagi keresahan, saling menguatkan, dan terkadang hanya bisa tertawa getir membayangkan masa depan yang terasa begitu samar. Selina ingat betul bagaimana Eshal dulu selalu berkata bahwa pernikahan mungkin bukan untuk mereka. “Kita ini perempuan yang terlalu mandiri,” kata Eshal suatu malam, saat mereka tengah berbagi cerita di kamar kos. “Cowok pasti bakal minder atau malah ogah sa

