Mayang sudah pergi dari kamarku. Dia ada janji mengerjakan tugas kelompok dengan temannya di kampus. Aku sendiri memilih istirahat setelah meminum obat pereda nyeri. Namun, rasa melilit di perutku karena lapar, tak bisa kuelakkan. Siang tadi aku hanya makan roti setangkup dan satu buah pisang. Bagi orang bule, makan siang roti itu sudah cukup. Mereka makan untuk hidup. Berbeda dengan kita yang hobi kuliner, hidup untuk makan! Aku bergegas ke luar rumah. Malas rasanya memasak untuk makan sore. Entahlah, tiba-tiba aku ingin sekali makan doner yang biasa dijual di restaurant Turki. Sepertinya irisan daging dan sayuran saladnya begitu menggoda dan kini membuat aku menelan ludah saat membayangkannya. Segera kuayunkan langkah kaki keluar gedung sambil menenteng tas belanja. Aku juga in

