POV FAHIRA Belum sempat aku menjelaskan pada Mayang, tiba-tiba bel pintu kamarku kembali berbunyi. Mayang segera beranjak sambil menyambarkan jilbab yang tergantung di balik pintu kamar dan melemparkannya ke arahku. Jilbab segera kupakai sebelum Mayang membuka pintu. Dahiku mengernyit saat menyadari Mayang sengaja menahan pintu agar hanya terbuka setengah. Dia berdiri di mulut pintu yang terbuka. Aku tak dapat melihat dia berbicara dengan siapa. Tetapi, dari bahasanya, sepertinya dengan anak Indonesia juga. Mungkin yang tinggal di gedung ini juga. Buktinya dia bisa masuk tanpa memencet bel khusus tamu dari luar. Mendengar Mayang bernegosiasi, aku sedikit penasaran. Dengan siapa sebenarnya dia berbicara? Tamu Mayang, atau tamuku? Nggak mungkin rasanya kalau tamu Mayang ditemui di de

