Bab 17

1010 Kata
Hanya tiga kata Aku cinta kamu Sudah, itu saja. *** Zahra memutar lagu yang berjudul Aisyah istri Rasulullah dari audio, sebuah lagu yang mampu membuat dirinya tersenyum kala mendengarnya. Sebuah lagu yang membuat mata Zahra berkaca-kaca karena terharu. Kisah cinta Rasulullah dengan Aisyah romantis sekali. Hari ini Zahra datang lebih awal ke kedai, pukul tujuh pagi perempuan itu sudah meracik kopi. Tentunya bukan untuk pelanggan melainkan untuk sang suami. Sebelum ke bandara terlebih dahulu Ali mengantar Zahra. Secangkir eskpresso diletakkan di meja, disusul Zahra yang menarik kursi untuk duduk di depan Ali. "Silakan," ujar Zahra diiringi senyuman. "Terima kasih, bayarnya pakai apa nih?" Ali meraih cangkir, ia membaca basmalah sebelum mulai menyesap kopi buatan istri yang sangat ia cintai. Zahra berpikir sejenak. "Bayarnya pakai novel aja, bisa?" Perempuan itu menaik-turunkan alisnya. "Kamu 'kan udah punya banyak?" Kening Ali berkerut saat mengingat banyaknya novel di kamar Zahra. "Pengen tambah lagi gitu." Zahra tersenyum lagi, memang yang namanya hobi mengoleksi tidak akan pernah bisa puas, rasanya mau lagi dan lagi. Ali mengangguk. "Oke, kapan-kapan aku jajanin novel." "Makasih lo ya, kamu baik." "Apa sih yang enggak buat kamu?" Ali menaik-turunkan alisnya menggoda sang istri, ia senang sekali melihat Zahra ketika perempuan itu sedang salah tingkah atau malu-malu, menggemaskan sekali menurutnya. Zahra mencibir. "Gombal!" Ali tertawa kecil. "Kamu mau enggak?" Ia menawarkan kopi miliknya pada Zahra. "Boleh, sini." Zahra mengambil cangkir, perlahan ia menyesap kopi itu. Dan apa yang Zahra lakukan tak luput dari pandangan Ali. Setelah Zahra kembali meletakkan cangkir ke meja, Ali langsung mengambil. "Di sini ya tadi?" Lelaki itu menunjuk permukaan cangkir. "Apanya?" Zahra merasa bingung, tidak paham dengan maksud Ali. "Kamu minumnya tadi di sini 'kan?" Zahra menatap telunjuk Ali pada cangkir. "Iya deh kayaknya, kenapa sih?" Tanpa menjawab, Ali meminum kopi, meletakkan bibirnya tepat pada bekas bibir Zahra. "Minum di bekas bibir kamu. Biar sweet kayak Nabi dan Aisyah." Zahra menahan senyum, seketika pipinya merona. Merasa gemas dengan perempuan itu Ali mencubit hidung Zahra. "Lama-lama hidung aku copot gara-gara kena cubit terus." Zahra mendengus sebal. Ucapan Zahra dihadiahi tawa, Ali semakin gemas saja dengan perempuan itu rasanya ingin sekali ia menggigit pipi Zahra. Tapi ia tidak tega melakukan hal itu. "Nyebelin tau." Zahra merengek. Ali hanya tersenyum menanggapi. "Senyum-senyum mulu ish! Jangan liatin aku kayak gitu!" Zahra beranjak, ia melintas di samping Ali tetapi lelaki itu malah menarik pergelengan tangan Zahra hingga perempuan itu terduduk di pangkuan Ali. Jantung Zahra berdegup kencang, tubuhnya membeku mendapat perlakuan manis itu dari suaminya. "Aku cinta kamu." Ali memeluk Zahra dari belakang, menopang dagunya di pundak perempuan itu. "Suara jantungnya kedengeran loh. Takut apa gugup?" "Dua-duanya." Zahra menjawab dengan suara lirih, ia malu. "Takut kenapa? Gugup kenapa?" Ali makin gencar saja menggoda Zahra. Ia sengaja. "Pengen berdiri." Ali terkekeh mendengar ucapan Zahra. "Silakan," ujarnya sereya melepas pelukan. Zahra sudah terbebas, ia menghela napas. "Biasa aja mukanya." Ali merauk wajah Zahra. Zahra cemberut, ia kembali duduk di kursi. Berusaha bersikap biasa aja, jangan sampai salah tingkah. Ali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku harus berangkat sekarang." Lelaki itu berdiri dari duduknya. "Hati-hati, ya. Kabarin kalau kamu udah sampai." Ali mengangguk, ia memberikan satu kecupan singkat di kening Zahra. Setelah itu ia memeluk Zahra cukup lama. Mungkin hal itu akan selalu ia lakukan sebelum pergi bertugas. Ia tidak tau apa yang akan terjadi padanya saat mengudara, tidak ada yang menjamin bahwa dirinya bisa mendarat dengan selamat. Maka dari itu Ali selalu mengganggap pertemuan sebelum penerbangan adalah suatu perpisahan dengan harapan masih bisa dipertemukan. "Semoga kamu selalu berada dalam lindungan Allah, di jaga dimana pun kamu berada," ujar Zahra ketika Ali mengurai pelukan. "Amin." Ali tersenyum, setelahnya ia keluar dari kedai diantar oleh Zahra. Setelah Ali pergi, Zahra mulai menata meja dan kursi. Selama seminggu kedai tidak buka jadi beberapa perabot sedikit berdebu. Zahra merapikan tata letak buku di rak, perempuan itu memang menyediakan buku untuk dibaca oleh pengunjung jika ingin bersantai sambil menikmati kopi di kedai ini. Kopi itu sumber inspirasi, mari nikmati setiap tegukannya dengan imajinasi. Kalimat itu tertulis di atas rak paling atas. Ia ingin setiap orang yang berkunjung menyempatkan diri membaca. Zahra ingin meningkatkan minat baca dikalangan anak muda, masih banyak sekali orang yang malas membaca terbukti saat adanya informasi yang sudah tertulis jelas masih saja menanyakan hal yang tidak perlu ditanyakan. Setelah dirasa sudah rapi kedai siap dibuka. Bayu juga sudah tiba, lelaki itu tampak segar dengan penampilan baru. Rambutnya yang gondrong sudah dipotong pendek. "Katanya enggak pengen potong rambut, kenapa sekarang dipotong?" Zahra mengekori Bayu menuju counter. "Jelek ya?" Bayu balik tanya, pertanyaan Zahra semakin membuat Bayu tidak percaya diri. "Ganteng kok, kenapa emang?" "Abang enggak pd, Ra. Rambut kayak gini." Bayu menyugar rambutnya dengan wajah kusut. "Terus kenapa dipotong?" "Gebetan Abang yang minta." "Lah, Abang bucin." Zahra tertawa meledek, tidak percaya kalau ternyata seorang Bayi begitu mudah menuruti permintaan dari seorang perempuan. Bayu hanya memutar bola mata, malas menanggapi. Ini kali ketiga ia dikatai bucin oleh orang yang berbeda. "Jangan marah Bang," ujar Zahra, ia terkekeh kecil. "Siapa yang marah, enggak lah." "Kali aja gitu." Zahra berlalu setelah mengucapkan kalimat itu, ia keluar kedai. Membersihkan kaca jendela di sana. "Assalamualaikum." Zahra menoleh, ia tersenyum menatap Safira. "Wa'alaikumsalam. Aku kangen," ujarnya seraya memeluk sang sahabat. "Aku juga kangen," balas Safira. "Oh iya, suka enggak sama kado dari aku?" "Suka banget, tiga baju udah aku pakai loh," jawab Zahra, ia sangat menyukai kado pernikahan dari Safira. Tak tanggung-tanggung Safira memberinya selusin gamis dengan warna dan model yang berbeda. Terniat sekali. "Alhamdulillah kalau kamu suka, aku senang kamu mau pake." "Iya, Ra. Makasih banyak ya. Pelan-pelan aku udah terbiasa pakai gamis." Zahra tersenyum, belakangan ini ia mengenakan gamis dari Safira. Mungkin lain waktu ia akan membeli sendiri. "Nah gitu dong, mulai aja dulu. Lama-lama juga terbiasa kok." "Kamu sendirian Ra?" tanya Zahra. "Sama Azka, tuh dia." Zahra menunjuk Azka yang baru keluar dari mobil. "Hai dua bidadari," sapa Azka ketika berada di hadapan Zahra dan Safira. "Idih!" Zahra mencibir. Sedangkan Safira tersenyum. "Kopi dong Ra, yang special buat aku sama Safira." "Iya-iya," ujar Zahra, lalu mereka bertiga memasuki kedai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN