bc

Ana Uhibbuka Fillah Captain

book_age12+
370
IKUTI
1.2K
BACA
love-triangle
fated
goodgirl
drama
childhood crush
spiritual
like
intro-logo
Uraian

Prillyaza Az-Zahra bersahabat sejak kecil dengan lelaki bernama Azka, sudah lama ia memendam perasaan pada lelaki itu. Namun, cinta Zahra bertepuk sebelah tangan karena ternyata Azka mencintai Safira, yang tak lain sahabat Zahra. Bahkan mereka melangsungkan pernikahan.

Sejak saat itu Zahra berusaha melupakan Azka, lantas takdir mempertemukannya dengan lelaki bernama Ali, seseorang yang membuat Zahra yakin menerima lelaki itu ketika orang tua Ali melamarnya.

Namun, ketika Zahra dan Ali sudah menikah, Azka malah menyatakan cintanya pada Zahra. Lalu bagaimana hubungan Ali dan Zahra selanjutnya setelah pengakuan cinta dari Azka? Bagaimana juga perasaan Safira saat mengetahui kalau suaminya mencintai perempuan lain?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Mencintai dalam diam itu berat. Berat dirindu berat dicemburu. *** Alunan lagu Tulus, teman hidup mengalun merdu mengisi keheningan di sebuah kedai kopi bernuansa klasik yang sebentar lagi akan tutup. Pengunjung sudah sepi, sekarang hanya ada pemilik kedai dan satu barista yang masih tersisa di tempat ini. Perempuan yang memiliki manik mata berwarna cokelat itu sedang asyik menyeduh kopi. Seulas senyuman terbit dibibirnya kala kopi racikannya selesai dibuat. Ia keluar dari balik counter ingin melakukan tugasnya yang lain, membersihkan kursi beserta meja. Sebelum itu tak lupa ia menyesap sedikit coffe latte yang ia buat tadi. Setelah selesai dengan aktifitasnya. Perempuan itu memilih istirahat sejenak, Duduk di salah satu kursi. "Dek, Abang duluan ya." Lelaki bertubuh jangkung itu menghampiri Zahra yang sedang memijat pelipisnya, mungkin perempuan itu merasa pusing. Zahra mengangguk diiringi senyuman. "Hati-hati, ya Bang," ujarnya yang mendapat acungan jempol dari Bayu, sepupunya. Setelah menepuk puncak kepala Zahra beberapa kali, Bayu langsung meninggalkan perempuan itu. Zahra menghela napas, ia mengambil diary beserta pena dari dalam tas yang sedari tadi ada bersamanya. Prillyasa Az-Zahra. Nama itu terukir manis pada sampul diary berwarna ungu muda yang baru saja diletakkan di atas meja. Zahra membenarkan posisi jilbabnya yang sedikit miring, sebelum mulai menuliskan kalimat pada diary itu. Aku mencintaimu dalam diam, dalam senyap yang tak pernah mampu terucap. Belum selesai dengan tulisannya, Zahra dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu. Zahra memutar bola mata. Baru saja dipikirkan, orangnya sudah ada di hadapan. Menyebalkan. Sebelum lelaki itu mendekat Zahra lebih dulu menyimpan diary miliknya ke tempat semula. "Kopi dong!" Azka mengampiri Zahra, menarik kursi lalu duduk di depan perempuan itu. "Kedainya sudah tutup, anda bisa datang lain waktu," ujar Zahra sopan. Azka tertawa pelan. "Aku bukan pelanggan biasa, jadi boleh minta kopi kapan saja." "Siapa yang bilang begitu?" "Aku, barusan." Azka menunjuk dirinya sendiri. "Kopi, Ra. Kopi, aku capek baru pulang kerja," lanjutnya. "Apa hubungannya?" Kening Zahra berkerut. "Aku butuh secangkir kopi buatanmu agar lelahku berkurang." Azka tersenyum diakhir kalimat. "Oke." Zahra berdiri dari duduknya, menuju counter untuk membuat secangkir kopi untuk Azka, sahabat sekaligus orang yang ia cinta. Iya, Zahra mencintai lelaki itu sudah bertahun-tahun lamanya. Tapi sayang, rasa itu masih ia pendam belum mampu terungkapkan, dan mungkin tidak akan pernah diungkapkan. Zahra menggeleng pelan mengusir lamunan. Sekarang lelaki itu ada bersamanya mengapa masih saja singgah dipikiran? Memang sulit, terkadang semuanya tidak bisa dikendalikan. Tidak perlu waktu lama secangkir kopi hitam dengan satu sendok gula sudah tersaji dihadapan Azka. "Terima kasih Cinderalla," ujar Azka yang membuat Zahra langsung merasa kikuk, Azka pandai sekali membuat perasaanya tak karuan. Zahra berusaha bersikap biasa saja. "Sama-sama pangeran kodok." Azka terkekeh mendengar panggilan Zahra untuknya, panggilan itu sudah ada sejak umur mereka tujuh tahun. Begitu pula dengan sebutan Cinderalla yang diperuntukkan Azka untuk Zahra. "Aku ke belakang dulu, Ka. Masih ada gelas yang belum dicuci." Zahra berlalu pergi setalah mendapat persetujuan dari Azka. Azka tersenyum kecil menatap punggung Zahra yang berakhir hilang di belokan menuju dapur. Usai membaca basmalah lelaki itu mulai menyesap kopi buatan Zahra, rasanya masih sama. Bagi Azka setiap tegukan itu penuh rasa dan rahasia. Beberapa menit kemudian Azka menyusul Zahra karena perempuan itu tak kunjung kembali. "Ngapain sih, Ra? Lama banget." Zahra tersentak ketika Azka sudah berdiri di sampingnya. Perempuan itu sudah selesai mencuci gelas, tetapi ia melamun sampai tidak menyadari kehadiran Azka. Zahra berdecak. "Kamu ngagetin aku tau!" "Kamu melamun, mikirin apa sih?" Azka bersedekap d**a, kemeja kerja yang ia kenakan sudah dibuka kancing bagian atasnya. "Enggak mikirin apa-apa. Kamu udah selesai?" "Udah." "Yaudah kalau gitu kamu boleh pulang." Kening Azka berkerut, Zahra mengusirnya? "Aku masih lama karena harus beres-beres dulu, jadi enggak bisa pulang bareng kamu." Zahra menjelaskan, ia seolah bisa membaca pikiran Azka. Azka meneliti ruangan. "Udah rapi, apa yang harus diberesin Ra?" "Ada lah pokoknya, kamu pulang duluan aja. Kamu abis kerja seharian, harus istirahat!" Zahra menata gelas yang sudah ia cuci. Perempuan itu berusaha menyibukkan diri. "Aku tungguin!" "Masih lama, Ka. Abis ini aku masih ada keperluan di rumah Safira." Zahra memejamkan mata sejenak. Satu kebohongan tercipta maka kehobongan lain ikut mengiringinya. "Aku antar, aku juga ada keperluan sama Safira." Azka keras kepala, Zahra tau betul akan hal itu. Zahra juga keras kepala, Azka pun sudah hafal dengan sifat perempuan itu. Jadi, batu sedang melawan batu tinggal menunggu salah satu pecah lebih dulu. "Kalau udah sama Safira enggak akan cukup waktu sebentar, Ka. Kamu tau itu 'kan?" Azka menghela napas. "Oke, aku pulang." Zahra tersenyum, ia mendesah lega. "Hati-hati." "Tapi bareng kamu." Seketika ekspresi Zahra berubah masam. Kenapa rasanya susah sekali untuk menjauh dari Azka? Zahra tidak ingin terus-terusan seperti ini. Ia sadar bahwa rasa yang ia punya terhadap Azka salah, rasa itu hadir pada waktu yang tidak tepat jika dibiarkan pasti menimbulkan akibat. Kemungkinan sakit sendirian karena yang mencintai cuma satu pihak. Atau kecewa yang berlebihan ketika salah menaruh harapan. Zahra paham betul resikonya, maka dari itu ia ingin melupakan rasanya pada Azka, caranya dengan menjauh dari lelaki itu. "Iya, aku pulang Ra. Sendirian." Melihat raut wajah Zahra yang tidak bersahabat, Azka memilih mengalah. Zahra mengangguk saja. Membirkan Azka pergi kerana itu memang keinginannya. "Pulangnya jangan kemalaman, nanti ayah sama bunda khawatir." Azka berpesan sebelum menutup pintu kedai. Zahra tidak memberikan respon, perempuan itu duduk di kursi setelah Azka pergi. Ia menghela napas panjang, rasa yang ia punya untuk Azka benar-benar menyiksa. Zahra lelah bertahun-tahun bertahan dengan perasaan yang sama. Mencintai dalam diam sudah menjadi kebiasaannya. Mencintai dalam diam, ketika kita mencintai seseorang secara diam-diam tetapi menceritakan rasa yang kita punya pada teman. Apa itu yang disebut cinta dalam diam? Bukankah Sayyidatina Fatimah memendam cintanya kepada Ali sampai setan pun tidak tau dengan perasaan itu. Kita memang tidak bisa seperti Sayyidatina Fatimah, tapi setidaknya cinta terpendam itu hanya diri sendiri dan Allah yang tau bukan malah diceritakan pada orang lain. Zaman sekarang siapa saja bebas menceritakan sebuah rasa melalui sosial media atau kutipan yang menjurus pada apa yang dirasakan. Banyak yang melakukan hal itu bahkan Zahra adalah salah satunya, ia memang tidak bercerita pada siapa-siapa. Tetapi ia menuliskan perasaan yang ia miliki menjadi sebuah cerita yang sudah dibaca oleh jutaan manusia. Pada kisah miliknya yang kini sudah menjadi buku. Ada Azka disetiap lembarannya. Zahra memang tidak bisa mengungkap semuanya secara langsung kepada lelaki itu, tetapi dengan menulis ia mampu menceritakan rasa yang ia punya kepada dunia. Zahra beristigfar. "Ya Allah, hilangkan lah perasaan yang ada di hati hamba untuk Azka."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Kali kedua

read
221.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook