Bab 2

1318 Kata
Hati-hati dalam berbicara. Lisanmu bisa menyakiti siapa saja. Terkadang, luka tak kasat mata karena kata lama sembuhnya. *** Selepas magrib Zahra sudah tiba di rumah, perempuan itu melaksakanakan salat disalah satu masjid. Ia sempat mampir sebentar ke warung makan pinggir jalan untuk menikmati nasi goreng kesukaan. "Assalamualaikum, Zahra pulang!" Zahra mengucap salam, karena pintu tidak dikunci ia masuk begitu saja. "Wa'alaikumsalam, enggak usah teriak bisa 'kan Ra? Telinga Bunda masih normal loh." Viska, ibunda Zahra menggosok telinga, menyindir putrinya dengan sengaja. "Maaf Bunda." Zahra tersenyum lebar. "Biasa lah Bun, Kak Zahra 'kan titisan tarzan," ujar Iqbal, adik lelaki Zahra yang saat ini asyik bermain game online di ponselnya. Lelaki itu duduk tegap di sofa, pandangannya tidak lepas dari benda pipih itu. "Bunda, Iqbal tuh!" adu Zahra. "Dasar anak kecil mainnya ngadu!" Iqbal mencibir. "Silakan berdebatnya dilanjut, Bunda mau ke dapur," ujar Viska dengan nada suara yang dilembut-lembutkan, setelahnya ia pergi menuju dapur meninggalkan dua buah hatinya yang siap melanjutkan adu mulut. "Emang aku anak kecil, kok," balas Zahra tak mau kalah. "Umur 23 ngaku anak kecil? Badan Kakak yang kecil! Ibarat makanan nih sekali telan langsung habis." Kali ini Iqbal menatap Zahra, mengabaikan sejenak ponsel di tangannya. "Enggak boleh ngehina fisik, itu namanya body shaming."  "Bercanda Kak, nggak ada maksud ngehina." Iqbal membela diri. Zahra duduk di samping Iqbal. "Enggak semua orang bisa menerima perkataan seperti itu sebagai candaan, Bal. Kamu harus paham ya, jaga perasaan orang." Iqbal mengangguk. "Iya Kak, maaf." Zahra tersenyum. "Jangan diulangi ya, memang niatnya bercanda tapi kita enggak tau 'kan perasaan orang kayak apa," ujar Zahra lagi, ia tau betul bagaimana rasanya dihina. Sewaktu menginjak sekolah menengah pertama, segala macam hinaan menjadi makanan sehari-hari untuk Zahra. Tubuhnya yang kurang tinggi menjadi santapan bully-an juga objek untuk dijadikan sebagai lelucon. Zahra pernah menangis menerima itu semua, ia pernah membenci dirinya. Pada saat itu juga Zahra bersyukur karena Azka membelanya. Lelaki itu selalu ada untuk dirinya. Saat Zahra menangis, sapu tangan berwarna biru tua selalu Azka berikan untuk menghapus air mata yang meleleh di pipi Zahra. Disaat Zahra membenci dirinya sendiri, Azka akan menasehati dengan kalimat yang masih Zahra ingat sampai saat ini. 'Ada banyak hal yang harus kita syukuri di dunia ini, kamu terlahir sempurna Ra, tidak kurang satu apapun. Di luar sana banyak yang tidak memiliki kaki, banyak yang tidak bisa melihat, banyak yang hidupnya susah. Kalau mengingat itu seharusnya kamu malu karena telah lupa mensyukuri apa yang sudah Allah anugerahkan sama kamu' Kalimat yang diucapkan Azka bertahun-tahun yang lalu itu sanggup membuat perubahan besar di hidup Zahra. Perempuan itu sadar, bahwa tidak sepatutnya ia membenci apa yang telah Allah beri untuknya. Sampai sekarang, Zahra tidak pernah peduli lagi dengan bagaimana pandangan orang terhadapnya. Bagaimana hinaan itu terlontar begitu ringan dari bibir mereka, Zahra sama sekali tidak peduli. Mengingat hal itu, tentu saja kembali menghadirkan Azka dalam pikiran. Lelaki itu pahlawan yang patut menjadi imam impian. Ralat, bukan impian tetapi mimpi untuk Zahra. Iya, bagi Zahra lelaki itu hanyalah mimpi yang ia harap akan menjadi nyata. Iqbal meniup wajah Zahra membuat perempuan itu tersadar dari lamunan. "Malah ngelamun!" "Ingat ya, jangan ulangi lagi hal kayak gitu," ujar Zahra setelah sadar sepenuhnya. "Iya, Kak Zahra yang cantik." "Jijik ah!" Zahra mendorong pelan pundak Iqbal. Iqbal tertawa, setelahnya ia berdehem pelan. "Kak, setiap permasalahan itu terasa berat, ya." Kening Zahra berkerut, topik pembicaraan Iqbal terdengar serius. "Enggak semua kok." "Masa sih?" "Iya, masalah tidak terasa berat jika itu bukan masalah kita." Iqbal mengerjap kemudian berdecak. "Iyalah!" ujarnya seraya menggenggam kedua tangannya di depan wajah Zahra, ia kesal. Sudah bertanya serius malah dijawab bercanda. Zahra tertawa. "Maaf." Meredakan tawa, Zahra menepuk pelan pundak Iqbal. "Kamu ada masalah?" "Enggak kok, Kak." "Benaran?" Mata Zahra memincing curiga, ia takut Iqbal menyembunyikan sesuatu darinya. Iqbal mengangguk diiringi senyuman. "Aku baik-baik aja, Kak," ujarnya meyakinkan. *** Zahra berzikir di atas sajadah yang masih tergelar usai ia salat subuh, mukena bermotif bunga masih melekat di tubuhnya. Jemarinya tak henti menggulir bola-bola tasbih yang saat ini sedang ia genggam. "Subhanallah wabihamdih." Zahra melafalkan bacaan tasbih sebanyak seratus kali. Sebuah amalan penghapus dosa, ringan dilakukan tetapi ganjaran yang didapat luar biasa. Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa membaca 'subhanallah wabihamdih' seratus kali dalam sehari niscaya dosa-dosa akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan. (HR. Muslim). Selesai dengan aktifitasnya. Zahra mulai membereskan sajadah dan mukena miliknya. Perempuan itu membuka gorden, hari masih terlalu pagi matahari bahkan belum menampakkan diri. Zahra duduk di kursi, pandangannya fokus menatap awan kelabu dari jendela yang baru saja ia buka. Detik selanjutnya pandangan Zahra terpusat pada Azka yang berdiri di balkon kamarnya, letak rumah mereka bersebarangan jadi hal seperti ini sudah sering terjadi. Segera Zahra menutup jendela lalu membalik badan, ia tidak ingin Azka melihatnya. Ketukan pintu terdengar. Zahra malas sekali beranjak, jadi ia hanya menyahut dari dalam ketika suara Viska terdengar dari luar. "Masuk Bunda!" Pintu terbuka menampilkan Viska dengan gamis biru muda. "Sarapan yuk, ada Azka juga." Mata Zahra membeliak, ia memperhatikan balkon di mana sebelumnya Azka ada di sana. Sekarang lelaki itu sudah tidak ada, kenapa malah ada di rumahnya? "Kenapa, kok kayak kaget gitu?" Zahra menggeleng, kenapa ia harus kaget? Bukan kah Azka sudah biasa sarapan di rumahnya. "Ayo," ajak Viska. "Bunda duluan aja, nanti aku nyusul." "Jangan lama-lama, ya." "Iya, Bunda." Viska berlalu tanpa menutup pintu. Zahra menghela napas, bagaimana perasaannya bisa hilang kalau setiap hari harus bertemu dengan Azka. Sebelum keluar dari kamar, Zahra mengenakan jilbab lebih dulu. Perempuan itu memantapkan hati lalu siap melangkahkah kaki. Zahra tersenyum kecil, Azka tampak akrab dengan kedua orang tuanya. Rasanya lengkap sekali kalau lelaki itu menjadi suaminya. Zahra segara menyadarkan diri dari pemikiran yang baru saja singgah di otaknya. Stop Zahra! "Ngapain berdiri di situ?" Akbar menatap Zahra, pria paruh baya itu melambaikan tangan. "Sini!" Zahra mengambil tempat di sebelah Viska, berhadapan dengan Azka. Lelaki itu tampak tak peduli ia asyik menyantap chiken wings buatan Viska. Rasa masakan itu memang enak wajar saja kalau Azka suka bahkan sampai melupakan Zahra yang kini berada di dekatnya. "Ayah berangkat, ya." Akbar berdiri dari duduknya, ia mengecup kening Viska sebelum berangkat bekerja. "Hati-hati, Mas." Viska balas mencium punggung tangan suaminya. "Hati-hati, Yah." Zahra ikut mencium punggung tangan Akbar begitu juga dengan Azka. "Iqbal mana, Bun?" tanya Zahra. "Udah berangkat." Viska membereskan piring miliknya. "Pagi banget." Viska mengedikkan bahu. "Ada urusan mungkin," ujarnya. "Bunda ke dapur dulu, ya." Viska pamit seraya membawa dua piring kotor. Sekarang tinggal Azka dan Zahra, setelah sibuk dengan makanannya akhirnya Azka mengalihkan atensinya pada Zahra. "Aku ngerasa kamu berubah, Ra," ujar Azka tiba-tiba. Sontak saja hal itu membuat Zahra kaget. Zahra terkekeh. "Berubah? Di kira aku power rangers kali," ujarnya berusaha menormalkan ekspresi. "Aku serius Ra." "Mau dong diseriusin." Zahra tersenyum menggoda. Ia masih mencoba untuk tidak menanggapi serius ucapan Azka. "Ra." Nada suara Azka memelan. Zahra mengenggam kuat sendok di tangannya. Ia berdeham pelan. "Aku juga enggak lagi bercanda." Azka mengabaikan ucapan Zahra sebelumnya, ia kembali pada topik pembicaran yang utama. "Kamu seperti menghindar dari aku." "Azka apasih, perasaan kamu aja kali. Menghindar gimana coba? Biasa aja." Zahra menunduk, mencoba sibuk dengan lauk pauk yang baru saja ia ambil. Hening sesaat sebelum akhirnya Azka berucap, "iya, mungkin perasaan aku aja." Zahra mengangguk saja, sampai Azka pamit perempuan itu hanya merespon seadanya. *** Tepat pada pukul 15:00 waktu indonesia barat, pesawat yang dikendalikan oleh kapten bernama Muhammad Ali Arditama itu mendarat mulus di Bandara Soekarno Hatta. Lelaki itu keluar dari area bandara dengan seragam pilot yang masih melekat di tubuhnya. Satu tangannya menyeret koper berukuran sedang, tangan yang lain menggenggam topi kebanggan. Ali tersenyum saat ada orang yang menyapa, lelaki itu memang terkenal ramah. Tidak heran jika ia menjadi salah satu pilot yang dikagumi oleh banyak orang. Wajahnya yang tampan dan sikapnya yang sopan membuat kaum hawa sering kali menyembutnya sebagai suami idaman. Ali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Lelaki itu memutuskan untuk berganti pakaian terlebih dahulu, karena ia tidak ingin langsung pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN