“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (H.R. Muslim, no. 6925)
***
Aroma kopi yang asapnya masih mengepul itu terhirup indra penciuman. Ali menatap barista di depannya, lelaki itu tersenyum kecil.
Ali menegakkan posisi duduknya. "Nama kamu siapa?"
"Iqbal, Bang."
Ali mengangguk kecil. "Iqbal, kamu masih sekolah?"
"Masih." Iqbal memeluk nampan kosong yang ia bawa.
"Sambil kerja?" Ali meneliti penampilan Iqbal, lelaki itu masih mengenakan seragam putih abu-abu, hanya saja celemek menutupi sebagian pakaiannya.
"Enggak kok Bang, saya cuma bantu kakak saya di sini."
"Kakak kamu kerja di sini?"
Iqbal menggeleng. "Kedai ini punya kakak saya." Telunjuk Iqbal mengarah pada Zahra yang berada di balik counter. "Itu kakak Saya."
Ali mengikuti arah telunjuk Iqbal. "Maaf, saya banyak tanya," ujar Ali diiringi kekehan kecil.
"Santai, enggak apa-apa kok Bang." Dengan tidak tau malunya, Iqbal menarik kursi lalu duduk di depan Ali. "Menurut Abang, kakak saya cantik enggak?"
Ali tertawa mendapat pertanyaan seperti itu. "Cantik, karena dia perempuan."
"Semua perempuan itu cantik karena dia perempuan," balas Iqbal.
Ali menjentikkan jarinya. "Itu tau."
Iqbal tertawa, ia merasa akrab dengan lelaki di depannya hanya dalam waktu satu kali pertemuan. "Nama Abang siapa?"
"Ali," ujar Ali diiringi senyuman.
Iqbal mangut-mangut. "Bang Ali udah sering ke sini?"
Ali tampak berpikir sejenak. "Enggak sering, cuma beberapa kali," ujarnya yang mendapat anggukan dari Iqbal.
Di balik counter, Zahra memperhatikan Iqbal yang tampak asyik mengobrol dengan pelanggan. Zahra tidak asing dengan lelaki itu, beberapa kali pernah mampir ke kedai ini. Apa lelaki itu mengenal Iqbal? Mereka terlihat akrab, bahkan sesekali keduanya tertawa.
Ponsel Zahra dalam saku rok berdering, panggilan dari Safira. Setelah menggeser ikon hijau, benda pipih itu Zahra tempelkan di telinga. "Assalamualaikum, ada apa Ra?"
"Wa'alaikumsalam, hari ini jadi 'kan ke mal?"
"Jadi, kapan?"
"Sekarang bisa?"
Sejenak Zahra memperhatikan keadaan kedai, tidak terlalu ramai. Lagi pula sekarang ada Iqbal, jadi Bayu tidak repot sendirian. "Bisa kok Ra, kita ketemu di mana?"
"Aku jemput ke kedai, sepuluh menit. Tunggu, ya!" Sambungan telepon diputus sepihak oleh Safira sebelum Zahra sempat menjawabnya.
"Udah di tutup?" Zahra menatap layar ponsel, perempuan itu menggeleng pelan. "Kebiasaan."
"Kak, kopi hitam dengan satu sendok gula." Tiba-tiba saja Iqbal sudah ada di hadapan Zahra.
"Azka? Mana?" Zahra meneliti ruangan, tetapi Azka tidak tampak kehadirannya.
"Bukan! Emangnya Kak Azka aja yang suka kopi kayak gitu," ujar Iqbal.
"Yaudah Kakak buat dulu," ujar Zahra, ia bersiap membuat kopi. "Oh iya Bal, cowok yang ngobrol sama kamu itu siapa?"
"Bukan siapa-siapa, baru kenalan. Orangnya asyik."
Zahra hanya mangut-mangut lalu menyerahkan kopi yang diminta oleh Iqbal. "Kamu di sini sampai sore 'kan?"
Iqbal mengangguk. "Emangnya kenapa Kak?"
"Kakak mau ke mal sama Kak Safira, kamu bantuin Abang, ya di sini."
"Oke," ujar Iqbal setelah itu berlalu pergi.
***
Sesuai perjanjian, Safira menjemput Zahra di kedai. Sekarang keduanya sudah berada di mal, tempat pertama yang mereka kunjungi sudah pasti gramedia. Ruangan yang penuh dengan buku itu adalah dunia kedua bagi Zahra dan Safira, mereka sangat suka membaca belum lagi karya Zahra yang berjudul 'Seperti Kisah Kita' sudah terpajang rapi di sana, hal itu membuat Zahra sangat senang ke tempat ini. Aroma buku baru, alunan lagu serta tumpukan buku membuat Zahra bahagia.
"Ra, buku kamu," seru Safira seraya mengambil buku bersampul biru tua.
Zahra tersenyum lalu mengambil buku itu dari tangan Safira. "Fotoin, ya," pintanya.
"Siap." Dengan segera Safira menyambut ponsel yang disodorkan Zahra kepadanya.
Zahra mulai berpose, perempuan itu menutup sebagian wajahnya dengan buku itu. "Udah ah," ujar Zahra seraya memperhatikan potret dirinya yang diambil Safira.
Setelah sesi berfoto selesai, Zahra dan Safira mulai tenggelem pada barisan buku yang bejejer di dekat mereka. Keduanya sibuk memilih mana novel yang akan dibawa pulang ke rumah. Waktu memilih-milih itu berlangsung cukup lama, dan akhirnya mereka sepakat membeli dua novel untuk di baca secara bergantian. Itulah cara mereka, membeli novel yang berbeda lalu saling bertukar untuk merasakan kisah yang sama.
Setelah dari gramedia, Zahra dan Safira langsung kembali ke kedai. Iqbal memberitau kalau mendadak ia ada urusan, jadi Zahra tidak bisa membiarkan Bayu sendirian.
Zahra dan Safira disibukkan dengan banyak pelanggan ketika sampai di kedai. Sore ini lebih ramai dari biasanya, penyebabnya Azka membawa teman-teman kantornya untuk menikmati kopi di kedai ini.
Zahra dibuat tersenyum karena ulah sahabatnya itu.
Safira dan Zahra hanya bertugas mengantar pesanan, sedangkan untuk membuat kopi itu adalah tugas Bayu.
"Ya ampun cantik banget?" Seorang lelaki yang merupakan teman dari Azka menggoda Safira saat perempuan itu meletakkan pesanan di meja.
"Jangan digodain, bidadari gue ini," celetuk Azka diiringi kekehan, kalimat itu sontak saja membuat Safira tersipu. Dan tentunya Zahra yang merasa cemburu hanya karena sebuah gombalan recah seperti itu.
Teman-teman Azka ramai bersorak membuat suasana kedai semakin gaduh. Tetapi gemuruh di d**a Zahra lebih berisik dari suara tawa serta sorakan itu. Zahra terlalu terbawa rasa, tetapi ia mencoba biasa saja. Perempuan itu ikut tertawa bersama yang lain. Lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri yang tidak tau diri. Zahra tau kalau Azka menyimpan rasa kepada Safira, lelaki itu pernah memuji Safira secara terang-terangan di depan Zahra. Katanya 'Safira itu istri idaman' mengingat kalimat itu membuat d**a Zahra terasa sesak.
Terkadang muncul rasa iri di hati Zahra. Dibanding Safira, ia bukan apa-apa. Jelas saja Azka lebih menyukai Safira dibanding dirinya. Perempuan itu salihah dengan pakaian syar'i yang selalu membalut tubuhnya, berbeda dengan Zahra yang masih jauh dari kata itu. Perihal kecantikan, Zahra juga kalah dari Safira.
Zahra tersentak ketika Safira menepuk pundaknya. "Kenapa Ra?"
"Ambil pesanan lagi," ujar Safira yang mendapat anggukan dari Zahra, mereka kembali melanjutkan aktifitas.
Disela kesibukannya, Zahra sempat menatap Azka. Secara kebetulan tatapan lelaki itu juga tertuju pada Zahra. Pandangan keduanya sempat bertubrukan sekian detik. Tetapi Azka memutuskan kontak mata lebih dulu, berbeda dengan Zahra yang masih betah menatap lelaki itu walau yang ditatap sudah tidak peduli.
Zahra memejamkan mata sejenak. Perempuan itu beristigfar beberapa kali, sungguh rasanya begitu sulit berpaling dari Azka.
Jika bisa memilih, aku tidak akan pernah menjatuhkan hati kepadamu. Sebab, hatimu menginginkan seseorang yang bukan aku. Mencintai sendirian, itu kesimpulannya.