Jika mencintainya adalah kesalahan, maka aku akan mundur perlahan. Jika dia bukanlah ketetapan, Aku berharap secepatnya bisa melupakan. Semoga Tuhan dalam pihakku, mempermudah rencanaku untuk menjauh darinya.
***
Melahap habis satu novel dalam waktu dua jam pernah Zahra lakukan, terkadang perempuan itu suka lupa waktu ketika sudah menyelami dunia imajinasi itu. Seperti sekarang, ia sedang larut dalam kisah yang disuguhkan penulis. Zahra bersandar di kepala ranjang dengan novel di pangkuan. Sudah seperempat halaman habis dibaca tanpa henti. Menjelang bab berikutnya azan isya berkumandang, Zahra menimbang-nimbang apakah ia harus berhenti atau melanjutkan sedikit lagi saja pasalnya satu lembar lagi selesai, tanggung kalau ditinggalkan.
Akhirnya Zahra memilih melanjutkan aktifitasnya, mengabaikan suara azan yang hampir selesai dikumandangkan di luar sana.
"Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya. " (QS. Al-Maa’uun : 4-5)
Firman Allah yang baru saja Zahra baca dari dalam novel itu seolah menjadi cambukan keras untuk Zahra. Baru saja ia lebih memilih membaca novel ketimbang bergegas melaksanakan panggilan-Nya.
Satu kali hentakan novel itu ditutup lalu diletakkan di meja, Zahra bergegas mengambil wudu. Sering kali ia malu dengan dirinya sendiri, Zahra begitu mudah menyelipkan nasihat serta mengajak orang pada kebaikan di setiap tulisannya tetapi dirinya sendiri terkadang belum bisa melakukan apa yang ia tulis. Terlepas dari itu semua, Zahra mengingat satu hal. Menulislah walau diri ini belum baik, sampaikan kebaikan walaupun diri ini penuh dosa. Tidak ada yang tau tulisan mana yang mampu menjadi perantara untuk perubahan seseorang, teruslah memperbaiki diri jangan pernah bosan meneliti kekurangan yang kita miliki. Kalimat itu coba Zahra tanamkan dalam diri.
Selesai mengambil wudu, Zahra menyiapkan alat salat lalu mulai mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim, tak lupa Zahra juga melaksanakan salat sunah. Kerana
salat sunah mampu menyempurnakan salat wajib yang kurang sempurna. Jadi, sebisa mungkin Zahra tidak melewatkannya.
Ya Allah, semakin hari aku semakin mengaguminya, rasa ini semakin tumbuh besar. Diri ini mulai sulit untuk mengendalikan semuanya. Ya Allah aku takut kalau peraasaan ini akan membuatku terlampau berharap kepadanya, dan melupakan Engkau tempat seharusnya aku menaruh harapan.
Ya Allah, Engkaulah maha membolak-balikkan hati manusia. Hanya Engkau yang mampu menghilangkan rasa yang aku punya untuk dia. Jangan biarkan perasaan cintaku untuknya melebihi kecintaanku kepada-Mu.
Ya Allah, jika dia memang jodohku maka satukan kami dengan cara yang Engkau ridhai, jika dia bukan jodohku maka jauhkan kami, hilangkan peraasaan yang aku punya untuk dia.
Zahra menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia terisak, tangis tidak mampu ditahan. Semenjak bertahun-tahun lalu Azka ada dalam doanya, Zahra tidak pernah bosan mendoakan lelaki itu dan untuk saat ini Zahra sudah mulai lelah dengan perasaannya sendiri, ia mulai berdoa pada pemilik cinta agar menghilangkan rasa yang ia miliki pada Azka.
Selesai dengan aktifitasnya Zahra kembali melanjutkan membaca. Kali ini ia berpindah tempat ke balkon kamar, duduk di sebuah kursi ditemani segelas cokelat panas.
Mata Zahra terpejam saat cahaya menyorot tepat di wajahnya, perempuan itu mendongak lalu berdecak ketika mengetahui kalau itu ulah Azka, lelaki itu mengarahkan sentar kepadanya.
"Tidur, jangan begadang!" Di seberang sana Azka berteriak dari balkon kamarnya.
"Berisik!" Zahra balas berteriak.
Respon yang diberikan Zahra untuknya memang tidak menyenangkan, tetapi itu sudah biasa belakangan ini. Jadi, Azka hanya bisa tersenyum menghadapinya. "Ra, di rumah ada Iqbal?"
"Ada!"
Azka tidak lagi bertanya setelah mendengar jawaban itu dari Zahra, lelaki itu menghilang. Tepat pada menit kesekian sosoknya terlihat berjalan menuju rumah Zahra.
"Mau ngapain?" Zahra berhenti membaca, ia berdiri untuk menatap Azka yang berada di bawah.
"Ngajak Iqbal main PS." Dari bawah Azka menjawab.
Zahra hanya mangut-mangut tidak merespon lebih, ia kembali melanjutkan membaca mencoba tidak peduli dengan kehadiran Azka di rumahnya.
***
Ali merasa tidurnya terganggu terasa ada beban berat menimpanya. Saat membuka mata ia langsung disuguhkan dengan senyuman khas milik gadis kecil menggemaskan yang sedang duduk di perutnya.
"Ye Om Ayi udah bangun!" Unaisa berteriak kegirangan, anak itu melonjak membuat Ali meringis kecil.
"Om Ayi," panggilnya.
Ali tersenyum. "Kenapa Sayang? Nai sama siapa ke sini?" Lelaki itu menurunkan Unaisa dari perutnya, memindahkan ke pangkuan karena sekarang Ali sudah bangun dari berbaringnya.
"Sama mama," jawab Unaisa, ia memainkan jarinya di d**a Ali yang saat ini hanya mengenakan kaus putih polos. Ali yang gemas langsung mencium pipi gembul keponakannya itu.
"Ke kamar Om diantar siapa?"
"Diantar mama."
Ali mengangguk lalu membawa tubuh Unaisa ke dalam gendongannya. "Kita ke bawah yuk," ujarnya.
"Ya ampun Li, udah cocok tuh jadi ayah," goda Alya, Kakak perempuan Ali ketika melihat adiknya itu menggendong Unaisa, putrinya.
"Iya Li, kapan mau bawa calon istri ke rumah?" Kirana menimpali godaan Alya.
"Harus ya Ali cari?" Ali balik tanya seraya duduk di sofa samping Alya.
"Harus lah kalau enggak dicari gimana mau dapat?" Kirana menaik turunkan alisnya.
"Jodoh itu tidak saling mencari melainkan saling menemukan," ujar Ali sok bijak.
Alya terkekeh. "Siapa yang bilang begitu?"
"Ali, barusan."
"Ketemunya kapan coba kalau enggak dicari?" Kirana kembali bertanya.
"Kapan-kapan Ma, lagian Ali belum kepikiran juga untuk menikah." Ali berujar santai, diusianya yang menginjak dua puluh enam tahun memang sudah pantas membina rumah tangga. Namun Ali terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga ia tidak terlalu memikirkan persoalan cinta.
"Terserah kamu deh." Kirana pasrah saja tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini, rasanya percuma.
"Udah-udah, mending Om Ali temenin Diva ke depan beli es krim." Diva yang sedari tadi diam angkat bicara, gadis berusia tiga belas tahun itu langsung menarik tangan Ali.
"Om ambil jaket dulu," ujar Ali.
"Udah gini aja ganteng kok."
"Diva, biarin Om ambil jaket dulu!" ujar Alya pada Diva, anak pertamanya.
"Iya, iya." Diva memutar bola mata malas.
"Cuma sebentar." Ali tersenyum, ia menepuk puncak kepala Diva yang dibalut jilbab berwana hitam.
Tidak perlu waktu lama Ali kembali dengan balutan jaket yang menutupi kaus putih yang ia kenakan, ia dan Diva berpamitan pada Alya dan Kirana. Keduanya menaiki motor untuk menuju mini market yang letaknya tidak telalu jauh tapi cukup memakan waktu karena laju motor yang Ali kendarai pelan.
"Om besok sibuk enggak?" tanya Diva ketika mereka sudah sampai di depan mini market.
Ali berpikir sejenak, mengingat-ingat apakah besok ia ada kesibukan atau tidak. "Enggak, emangnya kenapa?"
"Om, mau enggak temenin Diva ke acara bedah buku besok pagi sekitar jam sembilan?"
"InsyaAllah bisa."
"Kok insyaAllah sih, yang pasti dong kalau bisa jawab iya kalau enggak ya enggak!" Diva mencebikkan bibirnya.
Ali mengelus lembut puncak kepala Diva. "Kalau Allah mengizinkan Diva, kita 'kan enggak ada yang tau apa yang terjadi besok. Jadi, Om jawabnya InsyaAllah. Paham?"
Diva mengangguk mendengar penjelasan Ali.