Bab 5

1354 Kata
Saling mengingatkan itu kisah kita, saling menjaga itu sikap kita. Saling menghibur itu kisah kita, sahabat sampai surga. Begitulah aku menyebut tentang kita.  -Anonim-  *** Lima belas menit sebelum acara dimulai Ali dan Diva sudah tiba disebuah mal, tempat diadakannya bedah buku yang ingin dihadiri oleh Diva. Perempuan itu tampak bersemangat, sudah tidak sabar ingin bertemu dengan penulis favoritnya.  Beberapa saat mengitari mal. keduanya sampai di toko buku, di sana sudah tersedia bangku yang diisi oleh beberapa orang. Tetapi panggung masih kosong menandakan acara belum dimulai.  "Kita duduk di depan ya, Om. Masih kosong tuh." Ajakan Diva langsung dituruti oleh Ali, lelaki itu mengikuti langkah Diva menuju bangku di barisan depan.  "Duh, Diva enggak sabar pengan foto sama minta tanda tangan ke penulisnya." Diva memeluk novel yang sedari tadi ada bersamanya.  Ali terkekeh kecil melihat tingkah Diva. "Penulisnya cewek apa cowok?"  "Cewek, Om. Cantik banget." Ali mangut-mangut mendengar penuturan Diva. "Pinjam dong novelnya." Setelah Ali memintanya, Diva langsung menyerahkan novel itu kepada Ali.  Seperti kisah kita, Ali membaca judul novel itu dalam hati. Lalu ia membuka lembar demi lembarannya secara acak. Aku hanya ingin mencintaimu, tetapi jika perasaan ini hilang. Itu bukan bagian dari rencanaku. Allah maha membolak-balikan hati manusia, aku hanya menerima rasa yang dititikan oleh-Nya.  Setelah membaca deretan kalimat itu, Ali langsung membuka halaman terakhir yang berisi tentang biodata penulis. Di sana terdapat foto perempuan dengan jilbab hitam seraya tersenyum ke arah kamera. Prillyasa Az-Zahra, nama itu tercantum dalam biodata singkatnya.  "Zahra?" Ali menggumam, setelahnya ia tersenyum kala mengingat siapa perempuan yang ada dalam foto itu. Gadis manis pemilik kedai itu seorang penulis, setidaknya itu yang Ali tau.  Sekian menit berlalu, acara bedah buku dimulai. Di panggung sudah ada si penulis bersama pembawa acara.  Zahra memperkenalkan diri terlebih dahulu, berbincang ringan bersama pembawa acara setelah itu sesi tanya jawab dibuka.  "Kenapa Kakak suka menulis?" Seorang perempuan berkacamata memberikan pertanyaan pada Zahra. "Menulis membut aku bahagia, dengan menulis aku bisa mengungkapkan isi pikiran yang tidak bisa aku sampaikan secara langsung. Dengan menulis aku bisa menyampaikan apa yang aku rasakan." "Ada yang ditanyakan lagi?" tanya pembawa acara seraya menatap perempuan berkacamata itu.  Perempuan itu mengangguk. "Apa alasan yang mendorong Kakak untuk terus menulis?" "Aku ingin bermanfaat untuk orang lain, semoga tulisan yang aku sampaikan membawa pengaruh baik untuk orang yang membacanya." Seorang perempuan berdiri ketika dipersilakan untuk mengajukan pertanyaan. "Kak, gimana sih caranya untuk memperkuat karakter tokoh?"  "Dulu aku pernah menanyakan hal yang sama kepada salah satu penulis tentang memperkuat karakter tokoh dan pada kesempatan kali ini aku akan menyampaikan ilmu yang aku dapat kepada semua yang hadir di sini." Zahra tersenyum kecil sebelum melanjutkan kalimat. "Caranya, Buat lah 3D tokoh terlebih dahulu. 3D tokoh itu meliputi psikologi (sifat tokoh) Fisiologi, (ciri-ciri fisik tokoh) dan sosiologi (latar belakang kehidupan tokoh). Nah, semua unsur itu harus kamu pegang sepanjang nulis. Selain itu kamu juga harus cinta dengan tokoh yang kamu buat, kenali mereka luar dan dalam. Itu yang utama. Kalau kamu cinta sama tokoh dan cerita kamu, insyaAllah orang yang membacanya pun akan merasakan hal yang sama." "Kakak pernah enggak sih malas menulis karena suatu hal?"  "Pernah bahkan sering. Mood sangat mempengaruhi aku dalam menulis, kalau mood jelek tulisanku sering enggak gerak-gerak, kalau dipaksakan hasilnya akan berantakan enggak ngefeel. Kalau sudah seperti itu biasanya aku akan meninggalkan tulisan itu sejenak, melakukan sesuatu yang membuat mood aku baik lagi. Selain itu jumlah vote dan pembaca juga berpengaruh, pembaca yang banyak akan membuat kita lebih semangat, iya 'kan? Tentu saja. Tetapi diingat lagi sebaiknya sebuah angka jangan menjadi penghambat untuk berkarya. Tujuan kita menulis itu untuk apa sih? Kalau untuk mendapatkan ratusan ribu pembaca, lalu saat kita tidak mendapatkannnya rasanya pasti kecewa, kesal, bahkan malas untuk menulis. Jadi, benahi lagi tujuan kita. Carilah tujuan yang membuat kita terus semangat untuk menulis."  "Lalu, apa salah satu tujuan Kakak untuk terus menulis?" "Awalnya tidak ada tujuan apa-apa, aku hanya menulis dan menulis. Seiring berjalannya waktu tentu saja aku ingin novelku terbit, bahkan difilmkan. Itu adalah sebuah doa. Tetapi hal itu tentu saja sulit untuk diraih, penulis itu harus sabar, jangan mudah puas dan tentunya harus menikmati proses. Dan, proses setiap orang itu berbeda jangan bandingkan proses kita dengan orang lain."  Sekitar satu jam sesi tanya jawab selesai, setelah itu dilanjutkan acara penutup, berfoto dan meminta tanda tangan kepada Zahra.  Diva segara menarik tangan Ali untuk menemaninya ke panggung. "Om, nanti fotoin ya," pinta Diva yang mendapat anggukan dari Ali.  Sesampainya di panggung, Diva langsung meminta Zahra untuk menandatangani novelnya lalu mengajak perempuan itu berfoto.  Ali tersenyum kecil ketika melihat hasil foto yang ia ambil. "Sudah," ujarnya.  "Foto dong bertiga, boleh 'kan Kak?" Diva meminta persetujuan dari Zahra yang masih berdiri di sampingnya, perempuan itu mengelus lembut puncak kepala Diva.  "Tentu saja boleh," ujarnya seraya tersenyum.  "Ayo, Om!" Diva mengisyaratkan Ali agar menghampirinya.  "Siapa yang fotoin?" tanya Ali. "Safira tolong fotoin, ya." Zahra memanggil Safira yang baru saja naik ke panggung.  Diva tampak bahagia, ia menggandeng tangan Ali dan Zahra yang berdiri di sisinya.  "Terima kasih," ujar Ali pada Zahra. Zahra mengangguk diiringi senyuman.  Diva berkeinginan untuk memeluk Zahra, tentu saja dengan senang hati perempuan itu memenuhi keinginan Diva. Setelah Diva puas bercengkerama dengan Zahra ia dan Ali turun dari panggung.  "Ra, temenin aku beli gamis yuk," ajak Safira ketika acara sudah benar-benar selesai.  "Ayo." Setelah berpamitan dengan beberapa orang yang masih tersisa, Zahra dan Safira mulai menyusuri beberapa toko yang menjual baju muslim yang ada di mal tersebut.  Namanya juga perempuan, kalau sudah berurusan dengan baju waktunya pasti lama. Seperti Safira dan Zahra yang saat ini masih sibuk memilih baju yang akan dibeli.  "Ini bagus enggak Ra?" Safira menunjukkan dua gamis dengan model berbeda kepada Zahra. "Emm." Zahra mengetuk dagu seraya memperhatikan kedua gamis yang ditenteng Safira. "Kalau aku sih lebih suka yang ini." Pilihan Zahra jatuh pada gamis berwarna merah bata yang berada di tangan kanan Safira.  "Bagus dua-duanya sih." Safira meneliti dua gamis pilihannya.  "Beli aja dua-duanya. Kamu abis gajihan 'kan?" Zahra menaik turunkan alisnya.  "Oke, aku beli dua-duanya." Akhirnya Safira membeli dua gamis sekaligus, setelah membayar mereka berdua memutuskan untuk ke rumah Safira.  *** "Bagus enggak?" Safira memutar badan, perempuan itu tampak anggun ketika mengenakan gamis yang baru ia beli tadi.  Zahra mengacungkan jempol. "Oke!" Safira tersenyum, lalu ia mengambil setelan gamis pilihan Zahra. "Ini buat kamu Ra." "Kok buat aku sih?" Kening Zahra berkerut bingung.  "Gamis ini 'kan pilihan kamu, jadi buat kamu aja." "Aku 'kan pilihin buat kamu." Safira berdecak, ia duduk di samping Zahra. "Terima ya, ini pemberian dari aku." Safira meletakkan gamis itu di pangkuan Zahra.  Zahra meraih gamis pemberian Safira. "Makasih Ra."  "Sama-sama, dipakai ya."  Zahra mengangguk kecil. "Nanti aku pakai, kok."  "Beneran?"  "Iya, tapi nanti."  Safira menghela napas. "Kenapa harus nanti?"  Zahra hanya diam, ia mengamati gamis yang saat ini ia remas bagian depannya. "Belum siap?"  Zahra menoleh ke arah Safira, lalu ia mengangguk kecil. "Aku belum percaya diri," ujar Zahra memberi alasan, ia memang belum mengenakan pakaian syar'i seperti Safira walaupun begitu pakaian yang ia kenakan masih longkar di badan, tidak seperti perumpamaan berpakaian tapi t*******g atau jilbab punuk unta.  "Jangan sedih gitu mukanya." Safira menarik Zahra ke dalam pelukan. "Enggak apa-apa kok, semua perlu proses."  "Terima kasih, Ra. Kamu memang sahabat terbaik aku. Aku beruntung punya kamu yang selalu mengajak aku pada kebaikan, menegur dengan lembut kalau aku salah. Selama ini kita selalu bareng dalam suka maupun duka, semoga selalu seperti ini, ya. Aku sayang banget Ra sama kamu." Air mata Zahra tidak mampu ditahan. "Aku juga sayang banget Ra sama kamu. Aku juga beruntung punya sahabat baik kayak kamu, kalau aku ada masalah, kamu adalah orang kedua yang aku datangi setelah kedua orang tuaku. Semoga persahabatan kita enggak cuma di dunia, tetapi Allah menyatukan kita kembali di surga." Safira terisak, ia memeluk Zahra semakin erat. Zahra mengurai pelukan. Masih dengan tangis yang belum reda, ia berkata, "nanti kalau aku enggak ada di surga, cari aku ya, Ra. Kita pernah berjalan beriringan ke majelis ilmu, jadi semoga Allah mengizinkan kita untuk berjalan bersama menuju surga." Safira semakin menangis saat mendengar ucapan Zahra. "Sahabat sampai surga, itu ya tujuan kita." Zahra dan Safira kembali saling memeluk, keduanya menangis haru. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN