Bab 6

1120 Kata
Semua akan indah pada waktunya. Percaya saja, nikmati prosesnya. Serahkan hasilnya pada pemilik semesta.  *** "Apa lagi yang kamu tunggu Li? Pekerjaan sudah punya, umur juga sudah cukup untuk menikah. Sudah saatnya ada seseorang yang mendampingi kamu menjalani hidup. Tentunya selain Papa dan Mama."  Entah sudah berapa kali kalimat serupa Ali dengar dari Reyendra, papanya. Berkumpul di ruang keluarga untuk membahas hal seperti ini, sungguh rasanya Ali ingin kembali ke kamar saja.  "Pah, Ali hanya belum menemukan sosok perempuan itu." Reyandra menghela napas mendengar jawaban Ali.  "Kapan mau ketemu kalau enggak nyari?" Kirana meletakkan majalah di atas meja, atensinya terpusat penuh pada Ali.  "Allah akan mempertemukan. Mama cukup doakan."  Kirana tersenyum kecil. "Mama selalu berdoa untuk kamu," ujarnya.  "Li, apa kamu bersedia jika Papa yang memilihkan calon istri untuk kamu?" Reyandra menyuarakan keinginannya.  "Boleh." Ali mengangguk setuju, setelah itu ia pamit untuk kembali ke kamar. Tidak ingin membahas lebih lanjut topik pembicaraan ini.  "Mas serius mau cariin Ali istri?" tanya Kirana.  "Iya, rencananya Papa mau ngelamar anak temen Papa buat Ali."  Ali menggelengkan kepala pelan, dari anak tangga teratas ia menatap kedua orang tuanya. Sepertinya mereka sangat ingin melihat Ali menikah.  "Ya Allah, berilah mereka kesehatan." Selalu itu doa Ali, ia hanya ingin kedua orang tuanya sehat sampai suatu saat nanti ia menikah dan memiliki anak.  Memikirkan tentang menikah, Ali jadi teringat dengan gadis pemilik kedai itu. Dia cantik, dan Ali mengaguminya.  "Astagfirullah." Ali mengelus d**a, kenapa ia jadi memikirkan perempuan itu? Di lain tempat, di sebuah kamar bernuansa putih ungu lantunan surah Al-Kahfi yang berasal dari ponsel mengalun merdu menemani Zahra yang sibuk berkutat dengan buku juga bolpoin, perempuan itu sedang menulis outline. Ini pertama kalinya ia membuat outline, katanya hal itu akan mempermudah dalam proses menulis. Maka dari itu Zahra memutuskan untuk mencoba. Menuliskan inti cerita sebelum dikembangkan menjadi lebih luas, tujuannya agar tulisan yang dibuat tidak melenceng. Zahra tipe orang yang tidak bisa dipaksa dalam menulis, ide cerita yang ia punya mengalir begitu saja. Bahkan terkadang suka berubah-ubah saat menuju ending, ia mendadak tidak suka dengan ide awal lalu malah menggantinya dengan ide baru. Tidak masalah, asal hal itu tidak mengganggu dan Zahra masih bisa mengatasinya.  Zahra tersenyum puas. "Alhamdulillah bisa," ujarnya, setelah ini ia akan berkutat dengan naskah. Berimajinasi menyalurkan seluruh pikiran terpendamnya ke dalam bentuk tulisan.  Tetapi sebelum itu ia memilih rebahan lebih dulu. Rasanya benar-benar nikmat, Zahra memejamkan mata. Ketenangan ia rasa ketika lantunan ayat suci itu menemaninya. Tidak terasa Zahra mulai mengantuk dan akhirnya tertidur. Niat ingin menulis menguap begitu saja, berganti dengan tidur yang nyenyak.  *** Minggu pagi, Zahra menyiram tanaman di halaman depan. Ia masih mengenakan baju tidur bermotif kartun Doraemon berpadu dengan jilbab instan berwarna hitam. Di seberang jalan ada Azka yang sedang berdiri. "Ra, joging yuk bareng Safira juga," ajaknya seraya menghampiri Zahra.  "Joging?" Zahra menepuk dahinya. "Astaga aku lupa, Safira ada di mana?"  "Dasar pikun!" Azka mencibir, ia tau kalau Zahra pasti lupa akan janjinya untuk joging bersama Safira pagi ini. "Safira udah nunggu di taman." "Tungguin aku ya!" Zahra berlari memasuki rumah tanpa menunggu jawaban dari Azka. Beberapa menit kemudian ia kembali, pakaiannya sudah diganti dengan celana training berpadu kaus lengan panjang sebagai atasan.  Mereka bergegas menemui Safira di taman, selama diperjalanan keduanya berbincang ringan. Azka lebih banyak bicara sedangkan Zahra hanya merespon seadanya. Ia masih berada dalam misi menjauhi Azka, walaupun tidak bisa jauh juga. "Udah lama, Ra?" Zahra menghampiri Safira yang duduk di ayunan.  Safira melirik jam yang melingkar di pergelengan tangannya. "Lumayan sih, lagian kenapa kamu lama sih?" "Dia lupa Ra." Azka yang memberi jawaban. Zahra menggaruk kepalanya ia menyuguhkan senyuman lebar pada Safira yang membuat perempuan itu memutar bola mata.  "Ayo!" Safira berdiri dari duduknya.  "Tunggu dulu Ra, itu rambut kamu keluar." Azka menunjuk jilbab Safira, dibagian depan tampak helaian rambut yang keluar.  Safira merapikan jilbabnya lalu mengucap terima kasih kepada Azka. Sedangkan Zahra mulai merasa tidak suka, perhatian kecil seperti itu memang sering ia dapatkan dari Azka tetapi rasanya berbeda ketika lelaki itu melakukannya pada Safira.  Tampak tidak biasa.  Zahra memejamkan mata sejenak, ia tidak boleh seperti ini. Ia tidak boleh merasa tidak suka bahkan iri terhadap perlakukan Azka pada Safira.  "Cepetan, keburu siang nih!" Zahra menyentak Azka dan Safira yang sama-sama diam.  "Ayo!" Setengah jam berlalu, mereka bertiga beristirahat. Duduk lesehan di atas rerumputan. Safira pergi sebentar untuk membeli minuman, meninggalkan Azka dan Zahra yang sama-sama bertahan dalam kebisuan.  "Ra, aku mau minta tolong sama kamu boleh enggak?" Azka membuka suara.  "Boleh-boleh aja. Mau minta tolong apaan emang?"  "Nanti aku kasih tau." Zahra mengerutkan kening. "Pakai nanti segala, minta tolong apasih?"  "Ntar aja." Azka melirik ke arah Safira yang mulai mendekat. "Nanti ketahuan sama Safira." Zahra mangut-mangut saja. Setelahnya ia menerima minuman dari Safira. "Makasih, Ra." Azka juga mengucapkan terima kasih kepada Safira. Lelaki itu tersenyum saat Safira menunduk ketika tak sengaja mereka beradu pandang. Azka beristigar, mata dan hati tidak sinkron untuk menundukkan pandangan.  *** Suara lonceng terdengar saat Azka membuka pintu kedai. Sore ini ia akan mengutarakan niatnya pada Zahra. Lelaki itu menelisik seisi ruangan, di kursi pojok kanan tampak Zahra tertangkap pandangan. Perempuan itu sedang duduk sambil menatap keluar jendela.  Sore ini kedai sepi, hal itu Zahra gunakan untuk bersantai sambil menyesap secangkir kopi.  "Jadi minta tolong?" Zahra langsung to the poin ketika Azka duduk di depannya.  "Sabar dulu Ra, baru juga sampai."  "Oke." Zahra menyesap es kopi miliknya.  "Kamu mau enggak Ra nikah sama aku?"  Hampir saja Zahra tersedak ketika mendengar ucapan Azka. tiba-tiba saja ia merasa bahagia, di tengah keterkejutannya Zahra merasa ribuan bunga bermerakan di hatinya. Lelaki yang ia cintai mengajak menikah? Apa itu hanya mimpi? Zahra mengerjap berusaha menormalkan eskpresi wajahnya. Mulutnya terbuka tertutup tetapi tidak tau harus berbicara apa. Lidahnya terasa kelu.  "A--pa? Kamu b--ilang apa ta--di?" Zahra bertanya terbata-bata.  "Aku mau lamar Safira, kira-kira udah pas belum kayak gitu. Langsung to the poin aja?" Bahu Zahra merosot, pasokan oksigen di sekitarnya seakan menipis. Dadanya tiba-tiba sesak ketika kata 'Ra' yang di ucapkan Azka adalah Safira bukan Zahra. Seharusnya Zahra tidak boleh berharap berlebihan. Azka memang mencintai Safira bukan dirinya.  "Udah pas kok." Zahra berusaha biasa saja. Padahal ingin sekali ia menangis dan berteriak sekarang juga tapi tidak mungkin hal itu ia lakukan. Azka tersenyum. "Bagus deh kalau kayak gitu." Zahra menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, "aku harus pergi sekarang, ada urusan di luar." Setelah mengucap kalimat itu, Zahra pergi begitu saja.  "Kok pergi sih Ra! Zahra! Mau kemana?" Zahra tak mengiraukan Azka yang memanggilnya, ia sengaja menulikan telinga tak ingin lagi mendengar apapun yang diucapkan lelaki itu. Zahra berjalan cepat meninggalkan kedai. Hatinya begitu sakit ia dibuat melayang tinggi dan dijatuhkan ke dasar bumi dalam waktu yang bersamaan.  Zahra tidak tau harus kemana, yang jelas ia ingin pergi sejenak untuk menenangkan diri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN