Bab 7

1011 Kata
Sedari awal patah hati ini memang sudah direncanakan. Kenapa? Sebab hati ini berharap kepada selain-Nya. *** "Astagfirullah." Ali mengusap wajahnya, ia segera turun dari mobil ketika hampir saja menabrak seseorang. Tepat di depan mobilnya seorang perempuan berjongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia tampak ketakutan. Ali bisa menangkap jelas suara isakan. Lelaki itu menghela napas lega saat mengetahui bahwa perempuan itu tak sempat tersentuh mobilnya. Ali berjongkok, ia sedikit menunduk saat memanggil perempuan itu. "Mbak?" Tidak ada sahutan yang terdengar malah tangis yang semakin kencang. "Mbak enggak apa-apa?" Ali bertanya lagi, kali ini perempuan itu mendongak. Ali cukup kaget ketika melihat siapa yang hampir ia tabrak. Pemilik kedai itu, Zahra. "Maaf, kamu enggak apa-apa?" Ali bertanya sopan, ia merasa bersalah karena telah membuat perempuan di depannya ketakutan dan menangis. Zahra mengangguk pelan, ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya. "Enggak apa-apa." Zahra berdiri diikuti Ali setelahnya. "Maaf saya hampir menabrak kamu," sesal Ali. "Saya yang harusnya minta maaf, karena saya jalannya enggak liat-liat. Sekali lagi maaf ya." Zahra merasa bersalah, ia hampir saja mengorbankan orang tak bersalah. Bagaimana kalau seandainya ia tertabrak akibat kecerobohannya sendiri? Zahra tidak hati-hati, pikirannya disibukkan oleh Azka. Ali tersenyum kecil. "Lain kali hati-hati ya," ujarnya lalu mengambil sapu tangan dari dalam saku, menyerahkan benda itu pada Zahra. "Ambil, untuk menghapus air mata kamu." Dengan ragu Zahra mengambil sapu tangan itu. "Terima kasih," ujarnya diiringi senyuman kecil. "Oh iya, kamu mau kemana?" Zahra menggigit bibir, ia tidak tau harus kemana. Sepertinya rumah bukan tujuan yang tepat untuk saat ini. Tak kunjung mendapat jawaban, Ali mencoba memberi penawaran. "Mau saya antar?" Zahra mengibaskan tangannya, memberi penolakan. "Enggak usah, makasih." "Yaudah kalau gitu saya pergi dulu." Zahra mengangguk. "Sekali lagi maaf ya." "Santai aja," balas Ali, ia memasuki mobil tetapi hanya beberapa saat lelaki itu kembali menghampiri Zahra sebelum perempuan itu pergi. Kening Zahra berkerut ketika Ali menyodorkan sebatang cokelat kepadanya. "Kata orang cokelat itu bisa bikin bahagia, siapa tau cokelat ini bisa menghilangkan kesedihan yang sedang kamu rasakan." "Kamu tau dari mana kalau saya lagi sedih?" Zahra bertanya hati-hati. Ali mengedikkan bahu. "Keliatan kok, gampang mengetahuinya." Zahra diam sejenak. "Jadi, cokelatnya buat saya?" Perempuan itu memastikan, dan Ali mengangguk sebagai jawaban. "Saya terima, makasih ya." Ali hanya tersenyum, ia kembali memasuki mobil. Lelaki itu menekan klakson ketika melewati Zahra yang berjalan kaki entah mau kemana. Zahra memilih pergi ke taman, menikmati cokelat pemberian lelaki yang bahkan tidak ia ketahui namanya. Bukannya malah membaik, dirinya malah semakin kacau. Ingatan tentang Azka menguasai pikirannya. Bagaimana tidak, cokelat pemberikan lelaki itu malah membuat membuka kenangan Zahra bersama Azka. "Nih aku kasih cokelat, biar enggak sedih lagi. Kata orang cokelat itu bisa bikin bahagia loh." Kalimat itu mirip seperti yang diucapkan lelaki itu. Sejak bertahun-tahun lalu, Azka selalu memberikan Zahra cokelat saat ia bersedih. Zahra mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa setiap kejadian selalu nyangkut ke Azka sih?" Perempuan itu membuang bungkus cokelat ke tempat sampah, melemparnya dengan kesal. Lebih dari separuh hidup Zahra selalu bersama Azka, jadi wajar saja 'kan kalau ada begitu banyak kenangan yang telah dilewati bersama. *** Ali melempar kunci mobil ke udara, menangkapnya lalu melemparnya lagi. Hal itu dilakukan berulang-ulang. "Dari mana kamu Li?" Reyandra menatap Ali yang baru saja memasuki rumah. "Abis dari bandara, ada urusan Pah." "Duduk dulu sebentar, Papa mau bicara." Tanpa bertanya apa-apa, Ali menuruti perintah Reyandra. "Papa mau bicara apa?" "Apa kamu percaya dengan perempuan pilihan Papa?" Ali diam sejenak, setelahnya ia mengangguk pelan walau masih ada keraguan ia mencoba meyakinkan diri. "Ali percaya." Reyandra tersenyum mendengar jawaban putranya. "Yaudah, kalau gitu kamu istirahat sana." "Ali ke kamar dulu." Ali beranjak, lelaki itu menepuk dahi ketika mendapati Diva berjalan ke arahnya. "Cokelat pesanan Diva mana?" Perempuan itu menadahkan tangannya. Dugaan Ali benar, keponakannya itu pasti menagih cokelat yang sudah Ali berikan kepada Zahra. "Mana? Om lupa beli?" Diva memincingkan matanya melihat gerak-gerak Ali. "Om udah beli." Ali menggaruk kepalanya. "Tapi Om kasih ke penulis favorit kamu itu." "Kak Zahra? Kok bisa? Om ketemu di mana? Diva pengen ketemu lagi sama dia!" Zahra mengguncang kedua lengan Ali. "Tadi Om enggak sengaja ketemu dia, kayaknya lagi sedih yaudah Om kasih cokelat aja," jelas Ali. "Enggak apa-apa deh kalau cokelatnya buat Kak Zahra, tapi nanti beliin Diva lagi ya." "Siap, apasih yang enggak buat ponakan Om yang cantik ini," goda Ali. Diva tersenyum, lalu ia mencolek pipi Ali beberapa kali. "Om Ali naksir ya sama Kak Zahra? Ngaku!" Ali terkekeh mendengar ucapan Diva. "Apasih kamu, enggak lah." "Naksir juga enggak apa-apa, malahan Diva senang. Om Ali sama Kak Zahra itu kayaknya cocok deh." Diva semakin gencar menggoda Ali. Ali menggelengkan kepala pelan, ia mengacak gemas puncak kepala Diva. "Udah ah, Om mau istirahat." "Semoga Om Ali sama Kak Zahra berjodoh, amin." Ali tersenyum kecil mendengar ucapan Diva, apa ia harus mengamini doa itu? *** "Wa'alaikumsalam," ujar Viska ketika Zahra memasuki rumah tanpa mengucap salam. "Kenapa ngelamun gitu?" "Zahra ngelamun ya Bunda?" Bukannya menjawab, Zahra malah balik tanya. Viska menghela napas. "Mandi sana biar segar, abis magrib ikut Bunda ke pengajian." Zahra mengangguk, ia menuruti perintah Viska. Perempuan itu menuju kamar untuk membersihkan diri. Setelahnya Zahra mulai bersiap-siap melaksanakan salat magrib. Perempuan itu mengenakan gamis pemberian dari Safira. Ia menatap pantulan diri di depan cermin. Cantik, walaupun sedikit kebesaran tetapi tidak masalah. Gamis itu masih cocok di tubuh Zahra. *** Jamuan kue kering berserta sirop tertata di atas meja, di sekelilingnya dua keluarga sedang membicarakan hal serius. Keadaan hening ketika pria paruh paya itu mengutarakan niatnya. "Bagaimana, apakah Bapak menerima lamaran ini?" Pria paruh paya yang lain menatap putrinya. "Keputusan ada di tangan putri saya." Lelaki itu berdeham sebelum mulai berbicara. "Safira Halim, apa kamu mau menerima lamaran dari aku, apa kamu bersedia menikah denganku." Azka berujar tenang, ia berusaha meredam degup jantung di dadanya. Safira mengangguk sebagai jawaban, setelahnya ia menunduk menyembunyikan senyuman. Letupan bahagia membuncah di dadanya. "Mau?" Azka memastikan. "Iya, Ka," ujar Safira malu-malu. Azka menghela napas lega, senyumnya mengambang sempurna. Ia sangat bahagia rasanya ia ingin segera mengatakan hal ini kepada Zahra, memberi tahu kepada perempuan itu bahwa Safira menerima lamarannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN