Seorang lelaki rela melindungi wanita yang dia cinta, dengan cara apapun.
***
Dalam keheningan dua rakaat sujud dilaksanakan, di sepertiga malam kali ini tidak ada lagi nama Azka dalam doa Zahra, perempuan itu telah menghapusnya. Mengganti doa dengan pinta terbaik diantara yang terbaik. Sekarang Zahra memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Tidak ingin lagi berharap berlebihan bahkan menerka-nerka perihal siapa jodohnya.
Dalam doanya ia meminta agar dilapangkan d**a, ditenangkan hati serta pikiran. Ia juga meminta pada Tuhan agar menghilangkan segala keresahan.
Zahra memejamkan mata saat ingatan tadi sore kembali singgah di pikiran, ia merasa bodoh karena telah menangisi seorang lelaki yang belum tentu menjadi jodohnya. Terkadang Zahra malu, seringkali ia menangis karena cinta bukan karena dosa.
Di tengah kesedihan yang Zahra rasa, tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Sapu tangan," ujarnya seraya melepas mukena lalu menyimpannya. Mengambil tas yang ia bawa tadi sore, mencari sapu tangan itu.
"Kembaliin kemana ya." Zahra berpikir sejenak, lalu ia teringat bahwa lelaki itu lumayan sering mampir ke kedainya. Berarti bisa dikembalikan lain waktu, siapa tau mereka kembali bertemu.
"Semoga aja dia ke kedai lagi," ujar Zahra lalu menyimpan kembali sapu tangan itu.
***
Zahra menghentikan aktivitasnya mencuci gelas saat Safira menghampirinya.
"Selesain dulu pekerjaan kamu, abis itu aku mau cerita," ujar Safira.
"Cerita apa? Aku jadi penasaran." Cepat-cepat Zahra menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu ia memusatkan diri pada Safira.
"Mau cerita apa?"
Safira tersenyum. "Kamu udah tau belum?"
"Udah tau jadi enggak usah dikasih tau."
"Serius kamu udah tau?" tanya Safira bingung.
"Ya belum lah, dikira aku cenayang bisa tau tanpa dikasih tau." Zahra terkekeh, Safira cemberut.
"Aku kira kamu udah tau beneran."
"Belum Ra, kamu mau ngasih tau apa sih?"
"Tadi malam Azka ngelamar aku." ujar Safira seraya mengguncang lengan Zahra, setelah itu ia memeluk sahabatnya sangat erat.
Zahra diam mencerna ucapan Safira, ada rasa sesek di dadanya ketika mendengar apa yang dikatakan sahabatnya itu. Namun beberapa detik kemudian ia tersenyum dan membalas pelukan Safira. "Selamat ya Ra."
"Aku bahagia," ujar Safira melepaskan pelukannya.
"Aku juga ikut bahagia." Zahra berusaha menarik bibirnya agar terus tersenyum, ia tidak ingin terlihat sedih di hadapan Safira. Sahabatnya itu sedang bahagia.
"Takdir Allah itu benar-benar indah, enggak ketebak. Jujur aja Ra, aku enggak pernah nyangka kalau Azka itu suka sama aku malahan aku kira dia suka sama kamu."
Zahra tersenyum tipis. Faktanya ia yang menyukai Azka. "Akad nikahnya kapan Ra?" Zahra mengalihkan topik pembicaraan, tidak ingin membahas apa yang dikatakan Safira.
"Minggu depan Ra, lebih cepat lebih baik."
"Cie udah enggak sabar, cie yang bentar lagi nikah." Zahra mencolek pipi Safira membuat perempuan itu tersenyum malu.
"Jangan godain aku, malu tau Ra."
"Malu tapi mau 'kan sama Azka, cie." Zahra tertawa saat Safira mencebikkan bibirnya.
"Udah deh udah." Safira menggeliti Zahra agar perempuan itu berhenti menggodanya. Mereka asyik tertawa, sampai-sampai tak sadar akan kehadiran Azka. Lelaki itu tersenyum melihat tingkah Zahra dan Safira.
"Seru banget," ujar Azka seraya bersedekap d**a.
"Eh Azka." Safira gelagapan berbeda dengan Zahra yang malah menahan tawa.
"Calon istri kamu malu," ujar Zahra pada Azka yang kini berada di hadapannya.
"Dia 'kan emang pemalu Ra." Azka melirik Safira yang saat ini sedang menunduk.
"Malu-maluin sih menurut aku."
"Heh sembarangann!" Tanpa sadar Safira berteriak, ia mencubit pelan lengan Zahra.
"Aw sakit." Zahra meringis.
Azka meredakan tawa. "Safira, nanti sore tante aku minta kamu ke butik bisa 'kan?
"Bisa kok, Ka."
"Yaudah, kalau gitu aku balik ke kantor lagi. Masih banyak kerjaan." Azka berpamitan, ia tersenyum singkat pada Zahra dan Safira.
"Kok kamu malu gitu sih? Padahalkan biasanya enggak." Zahra membuka suara saat Azka sudah tidak ada.
"Rasanya beda Ra, awalnya cuma sahabat sekarang jadi calon suami. Berasa gimana gitu."
"Uluh-uluh, cie yang bentar lagi punya suami." Zahra semakin gencar menggoda Safira. Mungkin hal itu bisa melupakan rasa sedihnya.
"Udah deh Ra stop godain aku!"
"Iya deh iya galak banget sih." Zahra terkikik geli, ia mencubit pipi Safira cukup keras membuat perempuan itu memekik kesal.
***
Ali memelankan laju mobil, ia menapi saat melihat sosok yang ia kenal berdiri di pinggir jalan. Lelaki itu membuka jendela mobil.
"Iqbal?"
Lelaki yang disebut namanya itu mendongak, ia tersenyum kecil menatap Ali.
Ali keluar dari mobil. "Kamu abis tawuran? Kenapa sampai babak belur begini?" Ali meneliti penampilan Iqbal, lelaki itu masih mengenakan seragam sekolah. Wajahnya penuh lebam, bahkan sudut bibirnya tampak berdarah.
"Saya enggak tawuran Bang."
Ali menghela napas. "Masuk mobil, saya antar kamu pulang."
"Makasih ya Bang." Iqbal menerima bantuan Ali, setelah memasuki mobil ia meminum air mineral yang baru saja Ali berikan.
"Kenapa bisa sampai kayak gini? Kamu berantem?" Ali kembali bertanya, mobilnya mulai melaju membelah jalanan ibu kota.
"Melindungi orang yang kita sayang, itu enggak salah 'kan?" Bukannya menjawab, Iqbal malah balik tanya.
"Orang yang disayang memang sepantasnya dilindungi."
"Itu yang saya lakukan."
Ali menoleh sejenak kepada Iqbal. "Saya paham sekarang, kamu melindungi perempuan yang kamu sayang?" Ucapan Ali lebih mengarah pada pernyataan ketimbang pertanyaan.
Iqbal terkekeh pelan. "Iya, Bang." Lalu ia melanjutkan ucapan, "saya ingin melindunginya dari apapun dan dari siapapun."
"Kamu mencintainya?" Pertanyaan Ali mendapat anggukan pelan dari Iqbal.
"Bal, kamu enggak akan pernah bisa menjaga dia sepenuhnya sebelum kamu menjadi suaminya," ujar Ali.
Iqbal menghela napas. "Saya tau." Lalu ia memejamkan mata, merasa lelah. Melihat hal itu Ali tak lagi mengajak Iqbal bicara.
"Bang, kita ke kedai aja." Iqbal berbicara setelah sekian menit memilih diam.
***
Zahra keluar dari balik counter ketika melihat lelaki yang kemarin memberinya cokelat baru saja memasuki kedai.
"Pas banget kamu ke sini, saya mau kembaliin sapu tangan," ujar Zahra.
Ali tak menanggapi ucapan Zahra. "Kamu bisa ikut saya sebentar?"
"Kemana?" Kening Zahra berkerut, bingung.
"Ke mobil, sebentar aja. Penting."
Zahra mengangguk ragu. "Emm nama kamu siapa?" tanya Zahra, mengingat ia memang belum mengetahui nama lelaki di depannya walaupun mereka sudah beberapa kali bertemu.
"Nama saya Ali," ujar Ali memberi tau, setelah itu ia mengajak Zahra menuju mobilnya.
Sebelum membuka pintu mobil, Ali melirik sekilas pada Zahra. "Ada Iqbal di dalam," ujarnya.
"Iqbal? Adik saya?" Pertanyaan Zahra mendapat anggukan dari Ali.
Pintu mobil dibuka, saat itu juga Zahra tercengang melihat keadaan Iqbal. "Kamu kenapa Bal? Berantem?" Zahra panik, tapi ia juga kesal saat memperhatikan wajah Iqbal yang penuh lebam. Berulah apa adiknya itu?
"Apasih kayak gini hah!" Zahra menepuk pipi Iqbal membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Udah, Ra." Ali mencoba untuk menenangkan. "Mendingan kamu obatin Iqbal sekarang."
Zahra menghela napas, ia membawa tas milik Iqbal sementara Ali membantu lelaki itu turun dari mobil. Mereka bertiga memasuki kedai lewat pintu belakang untuk menghindari tatapan dari banyak orang.
Zahra sibuk membuka kotak P3K, ia khawatir melihat keadaan Iqbal, pasalnya ini kali pertama Zahra melihat Iqbal babak belur seperti ini. "Kamu tuh jangan cari masalah! Kenapa bisa sampai kayak gini sih?" Zahra mulai mengobati luka Iqbal.
"Aku enggak pernah cari masalah Kak." Iqbal meringis saat Zahra membersihkan sudut bibirnya.
"Terus ini apa?" Nada suara Zahra meninggi. "Kakak takut kamu kenapa-kenapa." Suara Zahra bergetar menahan tangis.
"Kak." Iqbal meraih tangan Zahra, menggenggamnya dengan lembut. "Aku enggak apa-apa."
Zahra berdiri saat Iqbal mengatakan hal itu. Ia menatap Ali yang sedari tadi berdiam diri. "Liat deh, kayak gitu dia bilang enggak apa-apa. Waras enggak menurut kamu?"
"Seorang lelaki akan rela mengorbankan dirinya untuk melindungi orang yang dia sayang, hal itu yang sudah Iqbal lakukan," ujar Ali.
Kening Zahra berkerut. "Melindungi siapa?" Ia menatap Iqbal.
"Seseorang yang berarti untuk aku."
"Perempuan?" Pertanyaan Zahra mendapat anggukan lemah dari Iqbal.
"Terus kamu enggak ngelawan atau emang dikeroyok?"
"Aku enggak mungkin melawan Kak, karena yang memukulin aku ayah dari perempuan yang aku cinta."
Bahu Zahra merosot. "Kenapa bisa? Kamu berbuat yang aneh?"
Iqbal menatap Zahra. "Aku melindunginya dari ayahnya sendiri."
"Iqbal, Iqbal." Hanya kalimat itu yang mampu Zahra katakan. Ia kembali mengobati luka Iqbal yang belum selesai dilakukan.
Ali berdehem. "Saya pamit dulu," ujarnya.
"Makasih ya Bang." Iqbal menyalami tangan Ali.
"Sama-sama, jangan sampai kayak gini lagi. Kamu boleh melindungi seseorang tapi jaga juga diri kamu." Ali menasehati sebelum ia pergi.
"Ali, makasih ya udah anter Iqbal," ujar Zahra.
Ali tersenyum. "Sama-sama Zahra."