Bab 9

1004 Kata
Aku memintamu kepada Tuhan Sedangkan kamu meminta dia kepada Tuhan Di sisi lain, dia meminta kamu kepada Tuhan Entah doa mana yang akan dikabulkan Semuanya akan terjawab pada takdir yang telah ditetapkan. *** Bagaikan anak panah waktu begitu cepat berlalu, tak terasa hari ini adalah hari pernikahan Azka dan Safira. Saat ini Zahra sedang berada di kamar Safira yang sudah dihias sedemikian rupa. "Serius aku pangling Ra liat kamu," ujar Zahra seraya memperhatikan Safira. Perempuan itu terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin syar'i berwarna putih gading senada dengan jilbab yang ia kenakan. "Aku berasa bukan aku tau enggak Ra kayak gini." Safira menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia tampak asing dengan dirinya sendiri. "Terus kalau bukan kamu siapa? kembaran kamu?" "Aku enggak lagi bercanda." Safira berdecak, Zahra terkekeh. "Kayaknya bentar lagi akad nikahnya dimulai deh," ujar Zahra mengalihkan pembicaraan. "Masa sih? Ya ampun ak deg-degan bengat Ra." "Bawa santai aja Ra." Zahra tersenyum. "Kamu sih enak enggak ngerasain." Safira mendelik. "Tangan aku dingin banget deh." "Mana, coba aku pegang." Zahra menggenggam tangan Safira. "Iya dingin banget Ra. Kamu tenang ya, berdoa. Tarik napas terus embuskan perlahan." Ucapan Zahra diangguki oleh Safira, perempuan itu memejamkan mata seraya merapal doa. Di luar sana terdengar jelas Azka mengucap ijab qabul dengan lantang. Safira memeluk Zahra sambil menangis kini dirinya telah sah menjadi seorang istri. Itu artinya ia akan menjalani kehidupan baru bersama Azka, lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. Sebisa mungkin Zahra menahan diri agar tidak ikut menangis ia berusaha tersenyum tangannya bergerak mengelus punggung Safira. "Selamat Ra, aku ikut bahagia." "Azka, terima kasih telah mengakhiri penantian ku." Batin Zahra berbisik lirih, penantian bertahun-tahun itu sudah berakhir hari ini. Bukan akhir bahagia melainkan akhir yang membuat hati sakit seakan teriris. Ternyata benar, perasaan yang Zahra punya terhadap Azka tidak akan pernah terungkap bahkan sampai lelaki itu memilih seseorang sebagai pendamping hidupnya. Zahra mengurai pelukan. "Jangan nangis, nanti make up kamu luntur. Kita turun sekarang yuk, pasti kamu udah ditunggu," ujar Zahra. Safira mengangguk, ia menghapus air mata dengan tisu. Sekali lagi mematut diri di depan cermin. Mereka keluar dari kamar bersama dengan Laras, uminya Safira yang baru saja datang menjemput. Semua mata tertuju pada tiga orang yang menuruni anak tangga. Mempelai wanita bersiap menghampiri suaminya. Safira melangkah mendekat pada Azka didampingi Laras. Sedangkan Zahra memilih bergabung dengan tamu undangan yang lain. Azka tersenyum ketika Safira berada di hadapannya. Perempuan itu menunduk, merasa malu pada Azka. "Sudah tidak ada larangan lagi jika kita saling memandang." Azka berujar pelan, terdengar seperti bisikan. Mendengar kalimat itu, Safira mengangkat pandang Ia memberanikan diri menatap mata Azka. Azka menyentuh puncak kepala Safira dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya bertadah mengamini doa yang ia ucapkan. Safira ikut menadahkan kedua tangannya, mengamini doa yang di ucapkan Azka. Dengan tangan bergetar Safira mengambil tangan Azka setelah suaminya itu selesai berdoa. Safira mencium punggung tangan Azka dengan lembut. Perempuan itu memejamkan mata saat Azka mendaratkan satu kecupan di keningnya. Rasanya masih seperti mimpi bagi Safira, Tuhan telah menjawab doanya, pinta dalam diam yang selalu ia tujukan kepada Azka. Sekarang lelaki yang ia cintai dalam diam selama tiga tahun belakangan itu sudah berada dalam genggaman. Zahra tersenyum melihat dua sahabatnya telah bahagia bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Setetes air mata jatuh membasahi pipi chubby milik Zahra. Namun perempuan itu dengan cepat menghapusnya. Memang tidak bisa dibohongi, Zahra merasakan hatinya sakit ketika mendengar lelaki yang ia cintai mengucap ijab qabul untuk perempuan lain. Zahra telah siap dengan resiko yang harus ia dapat ketika hanya mampu mencintai dalam diam kini Mengikhlaskan dalam diam lah hal yang paling berat yang harus ia lakukan. Ia sering kali menangis karena perasaannya terhadap Azka tidak kunjung hilang, menangis karena telah berani menjatuhkan hati pada tempat yang salah. Tetapi Zahra percaya dengan skenario yang telah dipersiapkan oleh Tuhan, ia dan Azka tidak berjodoh. Mungkin Allah telah persiapkan pelengkap iman yang tepat untuk Zahra. Dan, orang itu bukan Azka. Zahra telah pasrahkan semuanya, terserah Allah saja. Zahra beranjak dari duduknya, ia naik ke panggung pelaminan untuk memberi selamat pada Azka dan Safira. Ra kamu harus kuat! Kalimat itu Zahra rapal di dalam hati. Setibanya di panggung, Zahra langsung memeluk Safira. Hal itu ia lakukan sebagai alat untuk menyembunyikan tangis yang sebenarnya tidak mampu ditahan saat sebelumnya Azka tersenyum padanya. "Kamu kok nangis?" Safira mengurai pelukan, menatap Zahra lamat-lamat. Zahra mencebikkan bibir. "Abis itu kita bakalan jarang main pasti, kamu 'kan udah enggak bebas lagi." Safira melirik Azka. "Diizinin 'kan kalau main sama Zahra?" Azka tersenyum. "Pastilah," ujarnya diiringi senyuman. "Enggak usah cengeng, ntar juga Safira tinggal di rumah aku. Jadi kamu sama Safira bisa lebih sering ketemu." Azka menatap Zahra, satu kali tepukan ia berikan di puncak kepala Zahra yang dibalut jilbab berwarna hitam. "Kalian bakal aku recokin." Zahra memincingkan mata, Azka malah tertawa. "Silakan," ujarnya. "Kita foto yuk," ajak Safira. Lalu ia meminta photografer untuk mengabadikan kebersamaan mereka bertiga di hari bahagia ini. Sebelum mulai berfoto, Zahra menatap sekilas pada Azka dan Safira. Keduanya memasang senyum bahagia. Seharusnya Zahra harus turut bahagia, ia jadi merasa bersalah karena sempat merasa kecewa atas pernikahan ini. *** Sejatinya orang dewasa tidak pernah luput dari keraguan dalam setiap mengambil keputusan. Keraguan itu datang disaat hati tidak yakin akan keputusan yang telah diambil, ada rasa takut akan resiko yang dipilih. Mungkin hal itu yang saat ini sedang Ali rasakan. Walaupun ia telah menetapkan, menerima tawaran Reyandra untuk menikah dan menyerahkan segalanya kepada sang ayah, tapi entah kenapa Ali yang awalnya yakin malah menyimpan setitik keraguan di hatinya. Tanpa terencana ia teringat Zahra, pemilik kedai itu. Perempuan yang belakangan ini mengusik pikiran Ali. Ali mengagumi Zahra, rasa itu tidak bisa ditampik. Ali mengusap kasar wajahnya, hari ini Reyandra akan bertandang ke rumah rekan bisnisnya, melamar perempuan yang sama sekali tidak Ali kenal. Entah diterima atau tidak, Ali tidak tau. Ali beranjak, ia membuka jendela hotel. Menikmati pemandangan sore hari di negeri sakura. Besok ia akan kembali ke Indonesia, apapun kabar yang Ali terima ia sudah siap. Memejamkan mata, Ali menghela napas panjang. "Apapun yang terjadi, semoga itu yang tebaik."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN