Masih bisa bernapas dengan tenang
Bisa makan makanan tanpa pantangan
Itu rezeki, sebelum sakit menghampiri
Semoga senantiasa disehatkan
Jangan sampai bernapas diiringi rintihan
Atau, susah makan karena banyak pantangan.
***
Zahra mampir ke kedai sekembalinya dari acara pernikahan Safira dan Azka. Itu akibatnya ia baru sampai rumah pada malam hari. Zahra hanya mencoba menyibukkan diri, berusaha memulihkan hati.
"Assalamualaikum." Zahra mengucap salam, perempuan itu tersenyum saat mengetahui kalau saat ini ada tamu di rumahnya.
"Waalaikumsalam." Semua yang sedang duduk di ruang tamu menjawab salam Zahra.
"Om Reyandra 'kan, ya?"
Reyandra tersenyum. "Ternyata kamu masih ingat sama Om, Ra."
"Ingat dong, Om 'kan udah pernah ke sini beberapa kali." Zahra memang sudah tidak asing dengan Renyandra, pasalnya pria itu memang sering berkunjung ke rumah untuk bertemu Akbar.
"Zahra, duduk dulu."
Zahra menuruti perintah Akbar, perempuan itu mengambil tempat di samping Viska.
Akbar berdehem. "Zahra, Om Reyandra memiliki niat baik datang ke sini. Dia ingin melamar kamu--
"Apa?" Zahra mengerjap, matanya membola. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Reyandra terkekeh melihat reaksi Zahra. "Ayah kamu belum selesai bicara Zahra."
"Bisa Ayah lanjutkan?" Akbar menatap Zahra, putrinya itu mengangguk sebagai persetujuan.
"Om Reyandra melamar kamu untuk menjadi istri dari putra beliau."
Zahra terdiam mendengar ucapan Akbar, dirinya dilamar? Sungguh Zahra tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Mengapa bisa tiba-tiba ia dilamar seperti ini. Persis kisah yang sering terjadi dalam novel.
"Apa keputusan kamu tentang ini, apa kamu menerima atau menolaknya?" Akbar meminta kepastian. Tetapi Zahra masih bertahan dalam diam.
"Bagaimana Zahra?" Kali ini Reyandra yang bertanya.
"Zahra, jawab Sayang." Viska menyenggol lengan Zahra, menyadarkan putrinya dari lamunan.
Bola mata Zahra bergerak gelisah, ia bingung harus menjawab apa. Bahkan telapak tangannya mulai dingin sekarang.
Reyandra tersenyum kecil. "Enggak apa-apa kalau belum bisa kasih jawaban, Om akan menunggu sampai kamu siap. Mungkin kamu perlu waktu."
Zahra menatap kedua orang tuanya, seolah meminta jawaban dari mereka. Tetapi Akbar dan Viska hanya diam, mereka menanti kata yang keluar dari mulut Zahra.
Akhirnya keadaan ruangan menjadi hening.
Zahra sibuk dengan pikirannya, ia mencoba memutar balik kejadian. Baru saja Zahra mengalami patah hati karena cintanya pada Azka tak terbalas bahkan lelaki itu telah menikah yang berarti sudah tidak ada peluang lagi untuk Zahra. Apa ini takdir yang telah Allah persiapkan untuknya, saat ia kehilangan maka Allah akan gantikan dengan yang lebih baik. Dan ini adalah caranya, lewat perantara Reyandra yang melamar Zahra untuk putranya.
Zahra menghela napas, ia menatap Akbar. "Kalau menurut Ayah baik, Zahra percaya sama pilihan Ayah." Akhirnya Zahra membuka suara.
"Ayah perlu keputusan kamu Zahra. Karena disini yang menikah kamu, bukan Ayah," ujar Akbar, ia mencoba meyakinkan Zahra lewat tatapan.
"Mungkin kamu perlu waktu untuk berpikir." Viska mengelus punggung tangan Zahra, lalu ia menatap Reyandra. "Om Reyandra bersedia untuk menunggu, iya 'kan?"
Reyandra mengangguk. "Iya, tidak perlu gegabah dalam mengambil keputusan. Om tau ini sulit untuk kamu."
"Zahra mau jawab sekarang." Setelah Zahra mengucapkan kalimat itu, mereka tidak sabar menunggu. Bahkan Reyandra menegakkan posisi duduknya, sementara Viska menggenggam tangan Zahra dengan erat.
Akbar menghela napas. "Tidak usah dijawab kalau belum bisa," ujarnya karena Zahra tak kunjung berbicara.
Zahra memejamkan mata sejenak, merapal doa dalam hati. Berdoa agar keputusan yang ia ambil sudah tepat. "Bismillah, Zahra menerima lamaran Om Reyandra."
Lolos sudah kalimat yang sejak tadi tertahan. Reyandra tak bisa menyembunyikan kebahagiaan, senyumnya mengambang begitu juga dengan Akbar dan Viska. Gaungan hamdalah terucap dari bibir mereka.
***
Sepertiga malam, waktu yang mustajab untuk memohon doa. Pelan-pelan Zahra membiasakan diri melaksanakan salat tahajud. Sulit memang, terkadang harus dipaksa supaya bisa. Walau tak jarang godaan setan begitu berat menimpa. Zahra masih terbilang jarang melakukan salat malam, terkadang ia hanya melakukan satu minggu sekali bahkan satu bulan sekali. Tetapi ia tetap menjalani, pelan-pelan semoga Allah beri kemudahan dalam menjalankan ibadah tambahan itu.
Ya Allah hanya kepadamu aku berserah diri dan hanya kepadamu tempatku kembali. Aku memantapkan hati untuk menerima lamaran itu, semoga keputusan yang hamba ambil adalah yang terbaik.
Bila dia memang baik untukku, agamaku, masa depan dunia dan akhiratku, bisa membimbing dan membawaku lebih dekat pada-Mu, Maka satukanlah kami dalam ikatan suci pernikahan.
Zahra mengakhiri doanya. Perempuan itu memejamkan mata. Tidak bisa disangkal bahwa hati Zahra masih untuk Azka, lelaki yang kini sudah berstatus sebagai suami orang. Zahra sadar bahwa ia salah, benar-benar salah karena berani mencintai seseorang yang bukan miliknya, dan sekarang disaat hatinya masih berada pada lelaki itu ada seseorang yang datang padanya. Entah keputusan Zahra sudah benar atau tidak ia merasa ini yang terbaik jalan untuk melupakan Azka, mengubur masa lalu dan memulai hidup baru.
Perihal hati, Zahra tidak bisa memilih akan jatuh kepada siapa. Bukankan rasa cinta itu anugerah yang Allah titipkan pada hati setiap hambanya. Jadi, Zahra tidak berhak menyalahkan Sang pemberi cinta.
Zahra mengaji sebentar setelah itu ia memutuskan untuk tidur kembali. Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum subuh tiba, ia kelewat ngantuk. Doanya hanya satu semoga bisa melaksakan salat subuh tepat waktu.
Ditempat lain yang jaraknya terhalang jauh, Ali baru saja selesai melaksanakan salat sunah sebelum subuh. Salat yang keutamaannya lebih baik dari dunia dan seisinya sayang sekali kalau dilewatkan.
Usai melaksakan salat subuh, Ali sempatkan diri untuk membaca Al-Quran. Surah Al- Waqiah menjadi pilihan. Sebuah surah yang selalu Ali amalkan untuk dibaca setiap hari. InsyaAllah kalau kita mengamalkan membaca surah Al-Waqiah maka Allah akan menjauhkan kita dari kemiskinan, dan senantiasa memberikan rezeki yang lancar. Kalimat itu pernah Reyandra katakan sewaktu Ali baru lulus sekolah dasar, sejak saat itu Ali selalu mengamalkan apa yang diberi tahu oleh Reyandra. Awalnya Reyandra yang meminta dan memaksa Ali membaca surah itu, tapi seiring berjalannya waktu Ali membaca surah itu dengan ikhlas tanpa diperintah.
Selesai dengan aktivitasnya, Ali bersiap-siap untuk menuju bandara. Penerbangan akan dilakukan pagi ini maka dari itu Ali harus siap lebih dulu.
Ali mengecek ponselnya sebelum berangkat, ada satu notif yang menarik perhatiannya.
Pesan dari Alya, kakak perempuan Ali.
Kabar baik sudah menunggu.
Empat kata yang membuat Ali menerka-nerka. Apa lamaran Reyandra untuknya diterima? Apa itu kabar baik yang sudah menunggunya? Entahlah Ali tidak tau, alih-alih bertanya Ali malah mengabaikan pesan dari Alya.
Tiba-tiba saja ia kembali teringat pada Zahra. Ada apa?