Ketika kamu jatuh cinta, jangan hanya berpikir untuk mendapatkannya saja, tapi pikirkan juga bagaimana cara menjauh kannya dari dosa.
-Shineeminka-
***
Tayangan televisi menampilkan acara komedi, sesekali Zahra tertawa disela aktivitasnya mengemil keripik kentang. Perempuan itu duduk bersila di sampingnya ada Iqbal yang sedang asyik dengan ponsel.
"b*****t, anjir. Woy cepetan dong ah gila mati gue!" Iqbal mengumpat disela permainan, lelaki itu mengacak rambutnya frustrasi. Rasanya ingin sekali ia membanting ponsel yang sedang ia genggam saking kesalnya.
Zahra berdecak. Ia merebut ponsel Iqbal secara paksa. "Berisik, ngomong kasar terus!"
"Kak, aku belum selesai main." Iqbal mencak-mencak karena Zahra mengganggunya.
Zahra menggeleng keras. "Libur dulu mainnya, Kakak mau bicara."
"Bicara apa?" Iqbal tak lagi berusaha merebut ponselnya, sepertinya Zahra ingin bicara serius.
"Kamu serius suka sama perempuan yang kamu lindungi waktu itu?" Zahra memulai obrolan, ia memusatkan diri pada Iqbal.
"Serius Kak, bahkan dia juga suka sama aku."
"Kalian pacaran?" Pertanyaan Zahra mendapat gelengen dari Iqbal.
"Terus?"
"Pengen sih sebenarnya pacaran. Tapi takut dosa, takut putus juga. Lagian nih kenapa aku harus cinta cinta coba. Ribet."
Zahra tersenyum mendengar ucapan Iqbal. "Disaat cinta itu datang diwaktu yang tidak tepat kamu harus bisa menjaga rasa itu agar tetap suci, tetap berada dalam koridor dengan segala batasan. Jatuh cinta itu enggak salah, tinggal bagaimana cara manusianya mengambil sikap seperti apa terhadap rasa cinta yang ia punya." Zahra menjelaskan, ia tau Iqbal sudah paham akan hal itu. Tetapi tidak ada salahnya jika Zahra mengingatkan pasalnya remaja seusia Iqbal rentan akan godaan dan rasa penasaran. Masa-masanya ingin mencoba hal baru.
"Apa aku menjauhi dia aja ya, Kak. Biar aman. Siapa tau dengan cara itu perasaan yang aku punya bisa hilang." Iqbal meminta saran.
"Kalau menurut kamu itu yang terbaik, silakan lakukan."
Iqbal berpikir sejenak sebelum berucap, "tapi gimana cara aku melindungi dia kalau semisal berjauhan?"
"Berjauhan bukan berarti menghilang 'kan? Kamu masih bisa awasi dia. Istilahnya sih jaga jarak aman gitu loh. Tapi ingat tujuan kamu itu melindungi, ya. Enggak ada maksud yang lain."
Iqbal menghela napas. "Tau ah pusing." Lelaki itu tampak lelah, ia memejamkan mata.
"Dikasih tau juga!" Zahra mendorong pelan pundak Iqbal. Tetapi adiknya itu mengabaikan Zahra. Merasa kesal Zahra beranjak dari duduknya, ia mematikan televisi lalu menuju kamar.
Baru saja Zahra menutup pintu kamar, terdengar ketukan dari luar. Viska memanggilnya.
"Kenapa Bunda?" tanya Zahra, ia sudah membuka pintu.
"Kamu kok belum siap-siap?"
Zahra mengerutkan kening. "Siap-siap kemana Bunda?"
Viska menggeleng pelan, putrinya itu pasti lupa. "Malam ini 'kan Om Reyandra ngajak kita sekeluarga makan malam, sekalian bicarain tanggal pernikahan."
Zahra tersenyum kikuk. "Ah iya, Zahra lupa."
"Sudah Bunda duga, yaudah sekarang kamu siap-siap. Bunda sama Ayah tunggu di bawah."
***
Bertempat disebuah restoran, acara makan malam dua keluarga dilangsungkan. Zahra dan keluarganya sudah tiba, tetapi Iqbal tidak ikut serta. Lelaki itu mengaku ada urusan.
Reyandra serta istrinya menyambut hangat kedatangan keluarga Zahra, Pria itu tersenyum pada calon besan dan menantunya. "Ayo duduk," ujarnya.
Kirana tak ketinggalan untuk menyapa, ia dan Viska baru bertemu pertama kali. Tetapi keduanya sama-sama berusaha untuk saling akrab.
"Kamu cantik sekali." Kirana memuji Zahra, perempuan itu memang terlihat cantik malam ini. Gamis pemberian Safira beberapa waktu lalu kembali ia kenakan.
"Terima kasih Tante." Zahra tersenyum kecil.
"Kalian cuma berdua?" tanya Akbar.
"Anak saya lagi ke toilet," jawab Reyandra. "Nah, itu dia." Tatapan Reyandra tertuju pada Ali yang mendekat ke meja.
Zahra yang posisinya membelakangi langsung menolah, perempuan itu tidak bisa menyembunyikan eskpresi terkejutnya. Jadi, Ali yang akan dijodohkan dengannya? Rasanya dunia ini sempit sekali. Ia dan Ali sudah saling mengenal bahkan sudah beberapa kali terlibat obrolan.
"Zahra?" Ali menatap dengan sorot mata penuh tanya.
Zahra tersenyum kikuk. "Hai."
Orang tua mereka saling pandang melihat interaksi Ali dan Zahra.
"Kalian sudah saling kenal?" Kirana lebih dulu membuka suara. Pertanyaan itu mendapat anggukan serempak dari Ali dan Zahra.
Reyandra tersenyum lebar. "Kebetulan sekali kalau begitu, jodoh emang enggak kemana," ujarnya diiringi kekehan.
"Sudah kenal berapa lama?" Akbar menatap Ali yang baru saja duduk di kursi.
"Baru kok, Om. Tapi saya udah tau Zahra dari lama sih karena lumayan sering mampir ke kedainya," jelas Ali.
"Saya enggak nyangka kalau kalian udah saling kenal." Viska ikut berkomentar. Gurat bahagia tampak jelas di wajahnya.
Zahra hanya bisa tersenyum, ia bingung harus bersikap seperti apa. Entah kenapa Zahra merasa gugup sekarang.
"Sebelum kita mulai membicarakan pernikahan, ada baiknya kita bertanya dahulu pada yang bersangkutan. Memastikan sekali lagi apakah keputusan kemarin tetap sama." Akbar menatap Zahra dan Ali secara bergantian.
Reyandra mengangguk, tatapannya tertuju pada Ali. "Ali, dia Zahra perempuan yang kemarin malam Papa lamar untuk menikah dengan kamu. Perempuan yang telah bersedia menjadi istri kamu. Sekarang Papa minta kamu utarakan niat kamu itu secara langsung kepada Zahra, bisa?"
Ali menganguk mendengar permintaan Reyandra, sedangkan Zahra malah menunduk. Ia malu.
Ali menarik napas sebelum mulai berbicara pada Zahra. Lelaki itu berusaha meredam degup jantungnya. "Zahra," panggilnya. Hal itu membuat Zahra mau tidak mau mendongak untuk memusatkan diri pada lawan bicara. "Apa kamu mau menjadi istriku?" Ali tidak pandai merangkai kata, jadi ia langsung to the poin.
Zahra mengangguk kecil. "Aku mau." Jawaban itu terlontar ringan dari mulutnya, keputusan Zahra sudah bulat. Ali lelaki yang baik, seperti itulah penilaian Zahra terhadap Ali. Orang tua mereka juga saling mengenal. Jika Zahra menolak dengan alasan tidak adanya cinta, maka itu bisa dipertimbangkan mengingat cinta bisa hadir karena terbiasa. Atau bahkan kapan saja, Allah punya kuasa atas segalanya.
Ali bernapas lega, bahagia membuncah di d**a. Ia tak menyangka kalau Zahra adalah orang yang akan menikah dengannya. Perempuan itu menguasai pikiran Ali belakangan ini, lalu Tuhan hadirkan takdir yang begitu indah. Sebelum perasaan itu mengakar terlalu dalam di hati, Dia lebih dulu tunjukkan jalan untuk meriah seseorang yang dikagumi.
Orang tua masing-masing tentu senang karena Ali dan Zahra menerima perjodohan dengan lapang. Tidak ada paksaan yang berujung menyakitkan. Tidak ada drama panjang atau bahkan bujukan.
Sebelum melanjutkan obrolan, mereka lebih dulu menikmati makan malam. Dengan suasana yang begitu sarat akan kebahagiaan.
"Jadi, kapan acara pernikahan akan dilangsungkan?" Kirana langsung bertanya usai habis menyantap makanan. Ia sangat bersemangat membahas hal ini.
"Ayo, mau kapan?" Viska menimpali karena Ali dan Zahra tidak ada yang memberi jawaban.
"Atau mau kami saja yang menentukan?" tanya Akbar.
"Lebih cepat lebih baik," ujar Reyandra.
Zahra masih bertahan dalam diam, ia menunggu Ali untuk memberi keputusan.
"Boleh enggak kalau aku sama Zahra ngobrol dulu?" Ali meminta persetujuan. Tentu saja hal itu tidak mendapat penolakan.
"Ra, ikut aku sebentar ya." Ajakan Ali dibalas anggukan oleh Zahra, perempuan itu bersedia mengikuti calon suaminya.