Bab 12

1001 Kata
Semoga bahagia hari ini bertahan hingga nanti. Pada waktu yang tidak bisa disebutkan kapan berhenti. *** Gemerlap lampu kota menjadi pemandangan yang memanjakan mata, langit penuh bintang menjadi naungan sebagai pelengkap suasana. Ali dan Zahra bediri berdampingin di sisi rooftop, belum ada yang membuka suara. Embusan angin menjadi teman keduanya. Menyejukkan juga menenangkan. "Ra." "Iya?" Zahra menoleh, jujur saja ia merasa canggung dan bingung harus berbuat apa. Padahal Ali hanya mengajaknya bicara kenapa malah Zahra segugup ini. "Pernikahan itu terjadi sekali dalam seumur hidup, sebagai seorang perempuan kamu pasti menginginkan pernikahan impian. Iya'kan?" Dibawah cahaya temaran, Ali menghadap ke arah Zahra. Zahra mengangguk mendengar ucapan Ali. Memang, ia memiliki impian tentang pernikahan seperti apa yang ia inginkan. "Kalau nikah nanti aku pengennya di tepi pantai, menikmati senja. Ya ampun romantis banget deh." "Jangan kebanyakan ngehalu deh Ra." Azka terkekeh, satu tepukan pelan mendarat di puncak kepala Zahra. "Itu tuh keinginan bukan ngehalu, siapa tau nanti menjadi nyata." Potongan kenangan itu menyeret ingatan Zahra sampai ia tersadar saat Ali bertanya. "Jadi, kayak apa sih pernikahan impian yang kamu inginkan?" "Kenapa bertanya soal pernikahan impian?" Kali ini Zahra yang melontarkan tanya. Ali menggaruk tengkuknya, mendadak ia merasa kikuk. "Emm, kita 'kan mau nikah." Ali merasa aneh ketika mengucapkan kalimat itu tetapi ia lanjut berbicara,"aku sebagai calon suami ingin mewujudkan pernikahan impian kamu menjadi kenyataan." Panggilan saya-kamu spontan berubah menjadi aku-kamu sejak malam ini. Tidak direncanakan semuanya mengalir begitu saja. Tatapan Zahra tertuju pada gemerlap lampu kota di bawah sana. "Aku senang Li kalau kamu bersedia mewujudkan impian itu." "Jadi kamu pengen pernikahan seperti apa? Digelar di mana?" "Untuk akad cukup di masjid dekat rumah aku, kalau resepsi aku pengennya di Bali, tempatnya di tepi pantai terus pelaminananya itu dihias bunga mawar putih. Semua tamu undangan juga harus pakai baju warna putih. Nah terus malamnya aku pengen ada pesta kembang api." Senyuman Zahra mengambang usai mengutarakan keinginanya pada Ali. Ali ikut tersenyum melihat Zahra yang tampak antusias membahas hal ini. "Ada lagi?" Zahra tampak berpikir, setelahnya ia menggeleng. "Itu aja," ujarnya. "Kamu setuju?" Zahra bertanya ragu-ragu. "Sangat setuju." "Makasih Li." Zahra tersenyum lagi. "Kira-kira perlu waktu berapa lama buat ngurus itu semua?" Ali berpikir sejenak. "Dua bulan mungkin, gampang lah kamu tenang aja biar semuanya aku yang urus." Zahra terkekeh kecil. "Aku banyak maunya, ya." "Aku senang bisa memenuhi maunya kamu." Ali tersenyum setelah itu keadaan mendadak canggung saat tak sengaja mata mereka bertemu pandang. Hening. Zahra mengusap kedua telapak tangannya yang terasa dingin. Ali berdehem untuk mencairkan suasana. "Jadi mau tanggal berapa akad dan resepsinya?" "Kamu maunya tanggal berapa?" Zahra balik tanya. "Lebih cepat lebih baik." Ali menepuk mulutnya setelah mengucapkan kalimat itu. "Maksud aku-- "Niat baik memang harus disegerakan," ujar Zahra diiringi senyuman, Ali mendadak salah tinggah. Ia malu kalau disanga sudah ngebet ingin menikah dengan Zahra. "Jadi mau kapan?" Ali berpikir sejenak, megingat-ingat jadwal kegiatan yang ia miliki. Lelaki itu harus pandai mencari waktu kosong. "15, dua bulan lagi. Untuk resepsi bisa kita langsungkan tiga hari setelah akad, gimana?" Zahra mangut-mangut. "Bisa." "Jadi udah fix, ya?" Pertanyaan Ali mendapat anggukan dari Zahra. Setelah mendapat keputusan dan tema pernikahan, Ali dan Zahra kembali menemui kedua orang tua mereka. "Bagaimana?" tanya Reyandra. "Sudah dapat tanggalnya?" Akbar menimpali. "Tanggal 15 untuk akad, tiga hari setelahnya baru resepi." Ali yang menjawab. "Bulan ini?" tanya Kirana. "Dua bulan lagi Tante," ujar Zahra. Bahu kirana melorot. "Lama," ujarnya. Viska terkekeh. "Semuanya 'kan perlu persiapan. Enggak apa-apa." Keputusan sudah diterima, setelah bercengkarama beberapa saat mereka memutuskan untuk menyudahi acara malam ini. Untuk persiapan lebih lanjut akan dibahas lain waktu. *** Zahra merebahkan diri, ia baru sampai rumah. Perasaanya campur aduk sekarang, Zahra tidak bisa memastikan rasa di hatinya. Zahra mengecek ponsel, satu notifikasi dari aplikasi w******p menarik perhatian Zahra. Ali Sudah sampai rumah? Zahra membalas pesan Ali, di restoran tadi Ali meminta nomor ponselnya. Katanya untuk menjalin komunikasi karena sebentar lagi mereka menjadi suami istri. Udah, kamu? Udah, baru aja. Zahra tersenyum kecil ketika Ali membalas pesannya. Jadi begini rasanya dikabari? Zahra hanya membaca pesan itu, ia bingung harus membalas apa lagi. Kok cuma dibaca aja sih? Zahra menggigit bibir ketika Ali kembali mengirim pesan. Kenapa Zahra jadi begini sudah seperti baru pertama kali menerima chat dari lelaki. Bingung mau balas apa :( Di dalam kamarnya Ali terkekeh membaca balasan dari Zahra. Lelaki itu merubah posisi yang awalnya duduk menjadi berbaring. Yaudah kalau gitu kamu tidur aja. Selamat malam. Malam Ali menyudahi aktifitasnya, lelaki itu memeluk guling. Gemas sendiri. Sekian detik kemudian ia berdecak ketika bantal sofa mendarat tepat di wajahnya. Sang pelaku tertawa mengejek. "Idih senyum-senyum sendiri." Alya duduk di samping Ali. "Masuk kamar orang tuh ketuk dulu kek apa kek, ini main nyelonong aja. Heran!" Ali bersandar di kepala ranjang. Alya tak mengindahkan ucapan Ali, perempuan itu mengambil ponsel Ali yang layarnya masih menyala. "Canggung banget," ujarnya setelah membaca chat antara Ali dan Zahra. Ali merampas ponselnya dari Alya. "Namanya juga baru." Alya memincingkan mata. "Secanggung-canggungnya chat itu, lebih canggung lagi saat malam pertama," ujar Alya, ia terbahak. Ali menekuk wajah. "Keluar deh, kenapa malah nyasar ke sini." Alya tertawa. "Enggak usah salah tingkah gitu." Alya menepuk pipi Ali, ia senang bisa menggoda adiknya itu. "Nyebelin ya!" Ali menarik Alya, mengacak rambut kakaknya itu sampai kusut masai. Ia puas tertawa. Alya mendengus. Ia merapikan rambutnya. "Oh iya, gimana calon istri kamu. Cantik?" Ali mengangguk. "Cantik, baik, imut, salihah. Istri idaman." Alya mencibir. "Kayak udah kenal lama aja, baru juga ketemu. Sayang banget Kakak enggak bisa ikut gara-gara Unaisa sakit padahal Kakak pengen liat gimana perempuan itu." "Aku udah kenal Kak sama dia, sering main ke kedainya." "Jadi kalian udah saling kenal?" Pertanyaan Alya mendapat anggukan dari Ali. "Kakak tau enggak siapa penulis favorit Diva?" "Tau, Prillyasa Azzahra yang kemarin Diva datang ke bedah bukunya sama kamu iya 'kan?" Ali mengangkat jempolnya. "Tepat sekali, perempuan itu calon istri aku Kak. Zahra." Alya terkikik geli. "Bahagia banget kayaknya kamu Li." "Iya Kak, aku bahagia." Ali tersenyum, ia kembali memeluk guling dengan erat. Alya beranjak. "Kasian gulingnya jadi pelampiasan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN