Bab 13

1393 Kata
Jangan menikah hanya karena jatuh cinta, jangan menikah hanya karena harta, dan jangan pula menikah karena iba. Tapi menikahlah karena kau yakin bahwa bersamanya surga menjadi lebih dekat denganmu. -Anonim-  *** Pagi kembali menyapa bumi, perlahan matahari muncul malu-malu dari balik awan yang sedikit kelabu. Hangat sinarnya menyentuh permukaan wajah Ali yang kini berdiri di depan jendela kamar. Lelaki itu terlihat sangat tampan, jas pengantin melekat pas di tubuh tegapnya. Lengkungan sabit menghiasi wajah Ali. Binar bahagia tampak di matanya.  Dua bulan yang dinanti telah tiba hari ini. Rasanya seperti mimpi, waktu begitu cepat berlalu.  "Ali, ayo berangkat!" "Iya Pa," ujar Ali, sebelum keluar ia mematut penampilan di depan cermin. Merasa sudah cukup baru lah ia menemui Reyandra.  Reyandra tersenyum menatap putranya. "Siap?"  "Bismillah, siap!" Ali balas tersenyum.  Dilain tempat, di sebuah kamar bernuansa cokelat Zahra sudah selesai dirias. Perempuan itu tersenyum menatap pantulan diri di cermin. Hati Zahra menuai banyak doa walau bibirnya tak berkata apa-apa.  "Assalamuaikum." Ucapan salam terucap bersamaan dengan Viska yang muncul di ambang pintu.  "Wa'alaikumsalam, Bunda." Zahra beranjak, ia menghampiri Viska. "MasyaAllah, kamu cantik banget Sayang." Viska menatap Zahra setelah itu ia memeluk putrinya dengan rasa bahagia.  "Terima kasih Bunda, wajar kalau Zahra cantik Bundanya juga cantik," ujar Zahra diiringi kekehan.  "Bisa aja kamu." Viska mencubit pelan pipi Zahra. "Kamu udah siap?"  Zahra mengangguk.  "Kalau gitu ayo kita berangkat." Viska membantu Zahra berjalan, mereka sekeluarga menuju masjid tempat dilangsungkannya akad.  *** "Saya terima nikah dan kawinnya Prillyasa Az-Zahra Binti Akbar dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Suara Ali terdengar lantang mengucap Qobul, ia berhasil mengucap kalimat sakral itu dengan satu tarikan napas. Kini statusnya sudah sah manjadi suami Zahra seseorang yang telah ia pilih dan dipilihkan oleh Allah sebagai penyempurna agamanya. Lewat perantara perjodohan Allah satukan mereka. Kini  keduanya sudah terjalin dalam ikatan suci pernikahan, sebuah hubungan yang diharapkan mampu mengantarkan mereka menuju Jannah-Nya.  Gaungan hamdalah mengisi masjid As-Syuhada. Semua yang hadir pada acara hari ini turut bahagia.  "Barakallahu laka, wa baraka alaika wa jama'a bainakuma fii khair." Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan. (HR. Abu Dawud).  Setelah penghulu selesai membaca doa, tirai putih yang menjadi pembatas di tengah masjid terbuka. Tentu saja sosok Ali yang menjadi perhatian utama Zahra, lelaki itu tersenyum padanya.  Viska membantu Zahra berdiri di sampingnya juga ada Safira yang menemani. Zahra masih berdiam diri Ia menatap Ali yang sedang berjalan menghampiri. Jantung Zahra berdetak tak karuan, Ali sama sekali tak melepaskan tatapan pada Zahra tak lupa senyuman masih terukir di wajahnya.  "Assalamualaikum pacar," ujar Ali setibanya ia di depan Zahra.  Zahra yang tadinya menunduk langsung mendongak mendengar apa yang Ali katakan. Keningnya berkerut bingung.  "Pacar halal," lanjut Ali.  Zahra tersenyum kecil. "Wa'alaikumsalam." Sekian detik keduanya sempat beradu pandang. Sebelum akhirnya Ali meletakkan satu tanganya pada ubun-ubun Zahra. Lelaki itu membaca doa, memohon keberkahan untuk pernikahan mereka.  Zahra memejamkan mata ketika Ali mendaratkan kecupan lembut di keningnya. Jantung keduanya berdegup kencang, letupan bahagia membuncah di d**a.  Setelah prosesi tukar cincin selesai, Ali dan Zahra menandatangani berkas yang tersedia. Tak lupa setiap momen yang terjadi diabadikan lewat kamera. Setelah semuanya selesai, acara berlanjut di kediaman Zahra. Tidak banyak yang diundang karena ini memang diadakan untuk keluarga dan orang sekitar saja. Ucapan selamat dari tamu undangan terus mengalir untuk Ali dan Zahra. Acara berlangsung santai suasana sakral benar-benar terasa.  "Semoga menjadi keluarga yang samawa," ujar Safira memberi doa ketika ia menghampiri Ali dan Zahra.  "Makasih Ra," ujar Zahra seraya memeluk Safira.  "Semoga kita selalu bahagia." Ucapan Safira diamini oleh Zahra.  "Selamat ya." Kali ini Azka yang berucap. Ia menatap Ali. "Li, jagaian Cinderalla saya dengan baik ya," ujarnya diiringi senyuman.  Ali yang tak paham dengan maksud Azka mengangguk saja.  Azka terkekeh ketika melihat raut wajah Ali yang tampak bingung dengan ucapannya. "Saya sama Zahra sahabatan dari kecil." Azka menjelaskan tanpa diminta. "Oh pantesan," ujar Ali diiringi senyuman.  "Ra, kita mau makan dulu. Sekali lagi selamat," ujar Safira sebelum ia dan Azka pamit.  *** Hanya berdua dalam ruangan bernama kamar membuat Ali dan Zahra sama-sama gugup. Walaupun mereka duduk berdampingan tetapi tak ada obrolan yang mengisi.  Hening. Zahra terus-terusan meremas kedua tangan yang terasa dingin sedangkan Ali sok sibuk memperhatikan keadaan kamar Zahra.  "Ra." "Li." Mereka serampak memanggil. Canggung sekali.  Ali menggaruk tengkuknya. "Mau ngomong apa?"  Zahra menggigit bibir. Setelahnya menggeleng pelan. "Enggak jadi." Perempuan itu memejamkan mata, rasanya ia ingin menghilang saja sekarang. Berada dalam suasana seperti ini sangatlah tidak enak.  "Mau kemana?" tanya Zahra ketika Ali berdiri dari duduknya.  "Liat-liat buku kamu boleh?" Ali meminta persetujuan, telunjuknya mengarah pada rak milik Zahra yang dipenuhi ratusan buku. Bahkan buku-buku itu seperti dinding kamar Zahra.  "Boleh." Zahra duduk di sofa sedangkan Ali mulai menjelajahi rak buku itu. "Buku ini paling lecek deh kayaknya." Ali terkekeh, di tangannya sudah ada buku karya Boy Candra yang berjudul Sebuah Usaha melupakan. "Sering banget dibaca?"  Zahra mengangguk. "Bagus bukunya." Ali mulai membuka buku itu, ia duduk di kepala kursi.  Jika pada akhirnya jatuh cinta hanyalah menjatuhkan luka. Memang sebaiknya kau pikir berkali-kali sebelum meyakinkan aku adalah orang yang kau cari. Sebab, tidak ada kembali setelah mati. Tidak ada pulang setelah kau buang. Meski berpisah tidak lantas benci, tetapi kepergian selalu meninggalkan luka di hati.  "Astaga!" Ali yang mulai tenggelam dalam bacaan  memusatkan atensi pada Zahra. Ia tutup buku itu. "Kenapa?" "Aku harus revisi naskah, dua hari lagi deadline," ujarnya seraya beranjak mengambil laptop, memangku benda itu lalu mulai sibuk dengan kegiatannya.  Belum apa-apa Ali sudah merasa dibaikan. Malam pengantin macam.apa ini? "Kelar jam berapa kira-kira?" tanya Ali, ia duduk di kasur sementara Zahra masih di sofa.  Zahra menatap Ali sejenak, perempuan itu meringis. "Kayaknya aku harus begadang malam ini, enggak apa-apa?" ujarnya tak enak hati.  Ali tersenyum tipis. "Enggak apa-apa."  "Makasih Li, aku harap kamu paham dengan kegiatan aku." Zahra balas tersenyum. "Kamu tidur duluan aja kalau udah ngantuk."  "Enggak kok, belum ngantuk." Ali beranjak. "Aku ke bawah dulu, kamu lanjut aja nulisnya."  "Li," panggil Zahra.  Ali urung membuk pintu, ia  menatap Zahra dengan satu alis terangkat.  "Maaf." Kalimat itu terlontar lirih dari Zahra, jujur sama ia merasa tidak enak pada Ali.  "Enggak apa-apa Zahra." Ali meyakinkan bahwa dirinya tidak apa-apa. "Aku ke bawah dulu." Ucapan Ali dibalas anggukan oleh Zahra, ia senang kalau Ali bisa mengerti.  "Belum tidur Li?" Akbar menatap menantunya, pria itu sedang menonton siaran bola bersama Iqbal.  "Belum, Yah." Ali ikut bergabung bersama ayah dan bapak itu.  "Kok malah ke sini sih Bang, bukannya sama Kak Zahra di kamar?" Iqbal menaik-turunkan alisnya menggoda.  "Kak Zahranya lagi sibuk." Ali berkata jujur.  Iqbal tertawa. "Pasti ngurusin naskah? Astaga Abang diabaikan demi sebuah naskah."  Ali hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Iqbal.  "Li, kamu bisa buat cokelat panas?" tanya Akbar.  "Bisa, Yah. Kenapa?"  "Kamu buatin cokelat panas buat Zahra, dijamin naskahnya bakal dilepas." "Bener tuh Bang." Iqbal menimpali. "Jadi harus bikin cokelat panas nih?" Ali memastikan. "Iya, yuk ke dapur aku temenin."  Ali mengangguk, ia dan Iqbal bersiap membuat cokelat panas.  *** Zahra menutup mulutnya dengan tangan ketika menguap. Perempuan itu masih fokus dengan laptop, jemarinya menari lincah di atas keyboard. Ali menggeleng kecil, saking sibuknya Zahra tak sadar dengan kehadiran Ali. "Aku buatin cokelat panas buat kamu." Zahra langsung menatap Ali, tanpa direncanakan ia tersenyum begitu saja. "Makasih," ujarnya.  "Sama-sama." Ali mengacak gemas puncak kepala Zahra yang tidak dibalut jilbab. "Minum dulu ya?" Zahra mengangguk. Perlahan ia mulai menyesap cokelat panas buatan Ali.  "Belepotan, udah kayak anak kecil aja minumnya." Ali terkekeh, jemarinya bergerak menghapus noda di bibir Zahra.  Zahra jadi gugup mendapat perlakuan seperti itu dari Ali. Ia tersenyum kecil, sebuah senyuman kikuk yang kentara dipaksakan untuk menutupi kecanggungan.  "Istirahat ya, nulisnya bisa dilanjut nanti?" Kalimat yang Ali lontarkan terdengar seperti perintah bukan pertanyaan.  Zahra mengangguk. Ia segera menutup laptop.  Ternyata benar apa yang dikatakan Akbar, dengan suguhan segelas cokelat panas mampu membuat Zahra melepas naskah.  Ali terus memperhatikan Zahra ketika perempuan itu menyesap minumannya. Walau terkesan acuh namun sebenarnya Zahra merasa tidak nyaman, ia malu ditatap seperti itu.  "Jangan liatin aku terus!" Akhinya Zahra berani berbicara.  "Liatin istri sendiri masa enggak boleh?" Pertanyaan Ali sontak membuat Zahra menunduk.  "Malu tau." Zahra berujar pelan tetapi masih mampu di dengar oleh Ali.  Ali mengambil gelas di tangan Zahra, diletakkannya gelas itu di meja. Lalu ia genggam tangan sang istri. Mengecupnya dengan lembut dalam waktu yang cukup lama. Tanpa Ali tau, Zahra berusaha keras untuk tetap tenang.  Pengen teriak! Zahra menjerit dalam hati
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN