Allah menciptakan semuanya berpasang-pasangan. Langit dan bumi, matahari dan bulan. Malam dan siang, pagi dan sore.
Semuanya Allah ciptakan untuk saling melengkapi. Dan aku berharap, kau memang diciptakan untuk melengkapi segala kekuranganku.
-Shineeminka-
***
Pagi ini suasana di rumah Zahra masih ramai, beberapa sanak-saudara belum pulang. Saat Ali dan Zahra datang tatapan semua pasang mata hampir tertuju kepada mereka berdua.
"Aduh pengantin baru turunnya siang banget." Salah satu tantenya Zahra menggoda.
Zahra hanya tersenyum begitu pula dengan Ali.
"Balik ke kamar lagi aja, lanjutin." Omnya Zahra menimpali.
Lanjutin? Kalimat itu terdengar ambigu. Lanjutin apa coba?
"Iya lanjutin aja." Sepupu lelaki Zahra yang sudah memiliki istri ikut berbicara. Matanya mengedip jail.
Viska terkekeh. "Udah, jangan digodain. Kasihan tuh malu."
Ali tau godaan mereka semua mengarah ke mana, lelaki itu tersenyum kecil sebagai tanggapan. Apa yang ada dalam pikiran mereka salah, tadi malam tidak terjadi apa-apa. Alasan terlambatnya mereka keluar dari kamar karena sibuk mempersiapkan barang yang harus di bawa ke Bali hari ini.
"Ali, Zahra sarapan dulu," ujar Viska.
Zahra mengangguk. Ia dan Ali beranjak ke meja makan. Dengan telaten Zahra mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk Ali.
"Terima kasih," ujar Ali yang dibalas senyuman oleh Zahra.
Beberapa saat setelah sarapan Ali dan Zahra berpamitan dengan keluarga, mereka akan berangkat ke bandara. Keduanya bertolak lebih dulu ke pulau dewata, itu perintah orang tua mereka. Katanya biar bisa menikmati waktu lebih banyak berdua. Ali dan Zahra menurut saja.
Zahra menatap tangannya yang sedari tadi berada dalam genggaman Ali, satu tangan lelaki itu menyeret koper. Meraka sudah tiba di bandara.
Sesaat berada di waiting room, Ali dan Zahra melakukan boarding menuju kabin pesawat. Di sana sudahada awak kabin yang menyambut kedatangan penumpang. Zahra merasa bingung ketika mereka semua mengenal Ali. Lelaki itu punya berapa banyak teman?
"Kenapa?" tanya Ali ketika mereka sudah duduk.
"Kamu kenal sama mereka semua?"
Ali mengangguk. "Mereka teman-teman aku."
Zahra mengerutkan kening. "Kok bisa?"
"Kenapa enggak bisa?"
"Iya, ya kenapa enggak bisa," ujar Zahra.
Ali terkekeh kecil, Zahra memang belum tau pekerjaannya. Bukannya tidak ingin menjelaskan tetapi Zahra sendiri tidak bertanya.
Zahra mengangkat tangannya yang kembali Ali genggam. "Betah banget deh kayaknya genggam tangan aku."
"Bila suami memegang tapak tangan istrinya, maka dosa-dosa mereka keluar dari celah-celah jari mereka." Ali menyebutkan penggalan dari sebuah hadis yang ia ingat untuk menjawab pertanyaan Zahra. "Pastilah aku betah," lanjutnya diiringi senyuman.
Zahra menahan diri untuk tidak tersenyum. Kenapa sikap Ali manis banget sih?
"Senyum aja jangan ditahan-tahan. Kamu baper ya sama aku?"
"Ali ish!" Akhirnya senyuman itu lepas juga.
"Nah gitu dong senyum."
"Emangnya kenapa kalau aku senyum?"
"Tambah cantik aja." Ali menaik-turunkan alisnya.
Zahra memutar bola mata. "Bisa gombal juga ya ternyata."
Ali mengedikkan bahu. "Itu bukan gombal kali."
Zahra tak menaggapi lagi, ia menatap keluar jendela memperhatikan awan putih di sana. "Awannya bagus kayak permen kapas."
Ali ikut memperhatikan tatapan Zahra. Lalu ia membisikkan sesuatu di telinga istrinya itu. "Berzikir, biar selalu ingat sama Allah," ujar Ali.
Zahra menoleh, ia memperhatikan Ali. Tampak bibir lelaki itu bergerak kecil. Perempuan itu tersenyum, ia senang bisa bersama dengan Ali. Lelaki itu senantiasa mengajak dirinya pada kebaikan.
***
Setibanya di bandara Ngurah rai. Ali dan Zahra langsung beristirahat di hotel setelah sebelumnya makan terlebih dahulu.
Zahra masih rebahan usai menunaikan salat asar, perempuan itu bangun ketika Ali mengajaknya berenang. Lelaki itu berdiri di depan pintu kaca dalam keadaan bertelanjang d**a.
Jujur saja Zahra belum terbiasa melihat Ali dalam keadaan seperti itu, bahkan ini untuk yang pertama kalinya. Perempuan itu menatap kolam yang berhadapan dengan laut. Sebisa mungkin Zahra tidak menatap Ali. Ia merasa aneh sendiri.
"Bisa berenang enggak?" tanya Ali ketika ia dan Zahra sudah berada di tepi kolam renang. Lelaki itu menceburkan diri lebih dulu sedangkan Zahra masih duduk di tepian dengan setengah kakinya yang masuk ke dalam kolam.
"Bisa," ujar Zahra.
"Yaudah turun kalau gitu."
Zahra menuruti perintah Ali. "Dingin," ujarnya saat air menggelemkan tubuhnya sebatas d**a.
"Kita lomba renang, mau?"
Zahra mengangguk antusias, sudah lama sekali rasanya ia tidak berenang.
"Oke mulai ya." Ali memberi aba-aba.
"1... 2... 3..."
Zahra berenang dengan semangat sementara Ali sengaja memperlambat gerakannya, ia membiarkan Zahra memenangkan lomba yang mereka buat.
Zahra berteriak kegirangan. "Yey Aku menang!" Lalu ia tertawa puas.
Ali ikut tertawa. "Biasa aja kali."
"Aku tuh lagi mengeskpresikan kebahagiaan karena berhasil ngalahin kamu."
"Kita tanding sekali lagi deh." Ali memberi usulan. "Tapi kali ini yang kalah bakal dapat hukuman."
Zahra bersedekap d**a. "Oke, siapa takut. Ayo mulai."
Ali dan Zahra sama-sama mulai menghitung. Ketika sampai pada angka tiga mereka serempak berenang.
Kali ini Ali yang menang.
Zahra mencebikkan bibirnya, Ali tersenyum bangga.
"Yaudah apa hukumannya?"
Ali berpikir sejenak, setelahnya ia menepuk pipi beberapa kali.
"Apa?" Zahra tak paham dengan maksud Ali.
"Cium," ujar Ali santai.
Mata Zahra membeliak mendengar permintaan Ali, ia jadi menyesal karena tidak bertanya tentang hukuman diawal pertandingan. "Modus!" desisnya sebal.
Ali malah tertawa. "Modus gimana? Ini hukuman harus dilaksanakan. Kamu kalah 'kan?"
Zahra menggigit bibir, tampak sekali kalau Ali melakukan ini semua dengan sengaja.
"Cium cepetan!" Ali menggembungkan pipinya agar Zahra segera melaksanakan perintahnya.
"Iya-iya." Akhirnya Zahra menyetujui. "Tapi kamu merem!"
Ali mengangguk, segera ia memejamkan mata. Detik kemudian senyuman puas tergambar diwajahnya saat Zahra memberikan satu kecupan di pipinya.
Zahra memalingkan wajah, malu. Apalagi saat Ali menatapnya dengan jenaka. Lelaki itu mencolek pipi Zahra beberapa kali.
"Puas?" Zahra bertanya kesal, walaupun sebenarnya ia malu, sungguh malu.
Ali menggeleng. Ia tertawa melihat raut wajah Zahra. "Belum," ujarnya lantas menarik Zahra, mendekap erat perempuan itu.
Zahra yang mendapat pelukan tiba-tiba menahan napas sejanak, ia membalas pelukan Ali dengan ragu-ragu.
Ali mengurai pelukan, dengan berani jemarinya menyentuh setiap inci wajah Zahra. Tepat ketika jemari itu menyentuh bibir Zahra, tatapan Ali menyiratkan makna yang berbeda.
Ali mulai mengikis jarak, Zahra memejamkan mata.
Dibawah langit yang mulai berubah warna menjadi jingga, degup jantung keduanya berpadu bagai sebuah irama. Sampai pada detik yang tak terhitung jumlahnya, Ali menatap lekat kedua manik mata Zahra. Sedangkan yang ditatap mendadak salah tingkah, Zahra menggigit bibirnya serba salah. Ini kali pertama degup meresahkan itu hadir di dadanya, rasanya serba salah, perempuan itu kaget dengan apa yang Ali lakukan, walaupun begitu Zahra menikmatinya, setiap rasa yang mencecap lidahnya.