Bab 15

1206 Kata
Hati ini telah berpuan Rasa ini telah menemukan tambatan. Diri ini telah memiliki rumah untuk pulang. Bersediakah kamu menampung segala resah yang datang? Ini bukan hanya sekedar pilihan Ini adalah sebuah takdir yang telah ditetapkan.  Tuhan, terima kasih karena telah menjadikan dia sebagai kekasih pilihan. Akan kujalani kehidupan bersamanya dengan penuh rasa lapang. Mengharap ridaMu, dalam setiap langkah kehidupan.  *** Tawa renyah menggema bersamaan, api unggun yang dibuat seadanya menjadi sumber kehangatan disela angin pantai yang berembus pelan. Tikar berukuran sedang menjadi alas untuk Ali dan Zahra menghabiskan waktu bersama.  Zahra meredakan tawa. "Hampir semua orang deh kayaknya pernah kepelesat waktu mereka masih sekolah." Zahra menyelesaikan cerita perihal dirinya yang pernah terpeleset dua kali waktu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.  Ali terkikik geli. "Aku enggak pernah tuh, yang kepeleset itu biasanya anak yang pecicilan. Enggak bisa diam." Zahra menggeleng tak setuju. "Aku diam kok anaknya." "Iya deh iya." Ali merangkul Zahra. Keduanya sempat diam, sama-sama menatap api kecil di depan mereka.  Zahra menyandarkan kepalanya di pundak Ali, perempuan itu tersenyum. Jadi begini rasanya bersandar di pundak kekasih halal? Zahra memejamkan mata saat Ali meniup wajahnya.  "Ngapain senyum-senyum gitu?" Zahra kelimpungan, jadi tanpa ia sadari Ali menatapnya sedari tadi. "Kamu ngapain liatin aku diam-diam?" Zahra memutar balik pertanyaan, ia menegakkan tubuh. Saat ini ia dan Ali duduk berhadapan.  "Kalau aku liat secara terang-terangan nanti kamu malu, terus baper. Kebanyakan cewek 'kan baperan."  Kedua bola mata Zahra membola. Rasanya kalimat yang Ali ucapkan pernah ia tulis dalam novelnya. Bahkan kebersamaan seperti ini juga pernah Zahra tulis sebelumnya. Apa mungkin sesuatu yang Zahra tulis kini malah terjadi dalam kehidupan nyatanya? "Aku enggak baperan ya, lagian nih aku 'kan nulis dan suka baca novel. Aku hafal trik-trik cowok ngebaperin cewek tuh kayak apa." Zahra memincingkan mata pada Ali. "Termasuk yang kamu lakuin barusan salah satunya." Ali terkekeh. "Yaudah sini aku tatap secara terang-terangan." Ali menangkup kedua pipi Zahra. Istrinya itu tampak susah payah memasang mimik wajah biasa saja. "Sanggup enggak tatap-tatapan sama aku?" Zahra mengangguk. "Sanggup asal jangan yang lebih."  Ali tergelak. "Yang lebih? Apaan yang lebih?"  Zahra menurunkan tangan Ali dari pipinya. Bola matanya bergerak gelisah mencari jawaban yang pas.   Melihat hal itu Ali tertawa. "Enggak usah dijawab, sini aku tatap wajah kamu aja." Ali mulai melakukan aksinya, menatap wajah Zahra lamat-lamat dengan senyuman yang tersungging manis.  "Aku pengen ngelakuin sesuatu deh sama kamu," ujar Ali tanpa mengalihkan pandangannya dari Zahra.  "Apa?" Zahra berusaha keras agar tidak tersenyum.  "Kamu merem!" Zahra menggeleng keras. "Pasti kamu mau ngerjain aku?" "Enggak deh, serius." Jari telunjuk dan tengah Ali membentuk huruf 'V' "Oke." Zahra menurut, kedua matanya terpejam. Isi kepalanya sibuk menerka apa yang akan Ali lakukan. Apa jangan-jangan  dia mau... stop Zahra, jangan lanjutkan! "Gemes tau enggak sih!" Ali memencet keras hidung Zahra membuat perempuan itu memekik.  "Sakit," rengek Zahra seraya mengusap hidungnya yang terasa panas.  "Masa sih sakit?"  "Sakit lah namanya juga ditarik pakai dipencet lagi!" Zahra kesal, ia cemberut. "Yaudah deh maaf." Ali mengusap lembut hidung Zahra. "Udah?"   "Aku pengen balas pokoknya!" "Eh kok gitu?" Ali memasang gesture waspada. Ia beranjak sebelum Zahra menyerangnya.  "Curang!" Zahra sedikit berteriak ketika Ali berlari menjauh darinya. Tak tinggal diam Zahra bergerak mengejar lelaki itu.  "Kamu mau balas aku kayak apa?" Ali menahan kedua tangan Zahra ketika perempuan itu berhasil menyusulnya.  "Aku mau bikin kamu sakit pokoknya!" "Kok jahat sih?" Ali terkekeh. "Sebagai penebus kesalahan aku, mau digendong enggak?" Ali memberikan tawaran.  "Mau!"  "Giliran gendong aja cepet." Ali menyentil pelan kening Zahra membuat perempuan itu meringis kecil.  Ali berjongkok, dengan semangat Zahra naik ke punggung Ali. Menopang dagunya di pundak lelaki itu.  "Aku berat enggak?"  "Biasa aja." Tak ada percakapan lagi setelah itu,  beberapa menit kemudian Zahra meminta diturunkan. Walaupun Ali bilang dia tidak berat, tetap saja kalau digendong lama jadinya akan berat. Zahra merasa tidak enak.  "Kamu kedinginan enggak sih?" tanya Ali.  "Dingin, sedikit." Zahra mengusap telapak tangannya.  Ali tersenyum jail. Lelaki itu merentangkan kedua tangannya. "Sini peluk biar anget."  "Modus," ujarnya tetapi ia menurut saja, menubruk tubuh Ali lalu membalas pelukan itu. Ini adalah pelukan kedua setalah sore tadi, Zahra berusaha merubah kecanggungan menjadi sebuah kebiasaan. Contohnya menerima pelukan Ali dengan perasaan senang.  Ali mengurai pelukan tetapi kedua tangannya masih melingkar di pinggang Zahra. Jarak wajah mereka sangat dekat, ujung hidung keduanya hampir bersentuhan.  "I love you."  Zahra memalingkan wajah saat Ali mengutarakan pernyataan cinta. Sekatika saja tatapan Ali berubah sendu. Zahra tak membalas ucapannya.  *** Ali benar-benar mampu mewujudkan sebuah pernikahan yang diimpikan oleh Zahra. Pelaminan bernuansa putih di tepi pantai, bunga mawar putih bertebaran di sekitarnya. Juga seluruh tamu undangan yang mengenakan pakaian berwarna senada. Bukan hanya acara resepsi yang membuat Zahra takjub, tetapi Ali juga membuat Zahra terkejut lelaki itu mengenakan seragam pilot, satu fakta yang baru Zahra ketahui bahwa suaminya berprofesi sebagai orang yang mengendalikan burung besi. Sekarang Ali membuat Zahra tak berkutik, perempuan itu hanya bisa tersenyum tak sanggup berkata apa-apa saat Ali membawanya terbang menggunakan helikopter. Ini pengalaman yang begitu luar biasa untuk Zahra.  Setelah lima belas menit menikmati pemandangan dari ketinggian dalam helikopter, Ali dan Zahra sudah kembali ke acara resepsi. Hari menjelang sore, gurat senja sudah tampak di langit Bali. Masing-masing tamu undangan memegang satu  balon berwarna jingga, kecuali Ali dan Zahra mereka menggeggam tali balon yang berjumlah tiga puluh. setelah MC memberi intruksi semua balon itu siap dilepaskan bersama-sama.  "1, 2, 3. Lepas!" Seluruh tatapan mendongak ke atas, menyaksikan balon yang mulai terbang terbawa angin. Indah sekali.  Setelah melepas balon, Ali dan Zahra diminta melempar bunga. Keduanya membalik badan, tamu undangan merapat untuk memperbutkan bunga yang akan dilempar oleh sepasang pengantin. Sorakan ramai terjadi setelah Ali dan Zahra melempar bunga itu, dua orang telah mendapatkannya. Iqbal dan seorang perempuan berambut sebahu berhasil menangkapnya secara bersama.  Ali menggenggam tangan Zahra, ia membawa perempuan itu menyingkir dari acara. Keduanya berdiri di tepi pantai yang letaknya cukup jauh dari panggung pelaminan. Hamparan laut luas yang membiaskan cahaya senja tampak sangat indah, riuhnya suara burung menjadi saksi saat Zahra memeluk Ali dengan begitu eratnya.  "Terima kasih, aku enggak tau lagi mau ngomong apa sama kamu." Zahra membenamkan kepalanya di d**a Ali.  Ali tersenyum, ia mengusap lembut punggung Zahra. "Kamu bahagia?" Ali bisa merasakan ketika Zahra mengangguk dalam dekapanya, setelahnya perempuan itu mendongak dengan mata yang berkaca-kaca.  "Ra, aku hanyalah seorang laki-laki yang banyak kurangnya. Aku enggak bisa menjanjikan apa-apa untuk kamu, tetapi aku akan terus berusaha membuat kamu bahagia. Semoga rumah tangga yang kita jalani mampu mengantarkan kita ke jannah-Nya. Kita berjuang sama-sama. Kamu mau enggak janji satu hal sama aku?"  Zahra mengangguk berkali-kali, hal itu mengundang kekehan geli dari Ali. Sekian detik lelaki itu menatap lekat manik mata Zahra. "Jangan pernah tinggalin aku, janji." "Janji." "Jangan pernah pergi kecuali dipanggil sama Allah." "Iya, aku enggak akan pernah pergi dari kamu sampai Allah memanggilku." Zahra membalas tatapan Ali. Ia menyunggingkan senyum, tulus dan manis.  Detik selanjutnya Zahra menjerit saat kakinya melayang, Ali mengangkat tubuh Zahra, dengan tawa yang menggema Zahra kalungkan kedua tanggannnya di leher Ali.  Tawa itu menular, Ali juga ikut tertawa. Ia bawa berputar tubuh Zahra sampai keduanya jatuh bersama-bersama. Pakaian mereka basah ketika gulungan ombak kecil menerjang tanpa aba.  "Gokil!" Zahra merentangkan kedua tangannya lalu menggucang pundak Ali.  Setelah itu mereka kembali tertawa lepas, tanpa beban. Saat ini hanya ada kebahagian. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN