Perjalanan menuju ‘The City of Love’, 1918 “Indah sekali!” ucap Mary dari atas kereta gantung yang membawa mereka menyusuri seisi kota dari ketinggian. Langit gelap menyelimuti bangunan-bangunan tinggi di bawah sana. Cahaya lampu yang dinyalakan memenuhi seisi kota dengan kerlap kerlipnya yang memukau. Di atasnya titik cahaya bintang saling berkedip. Sementara itu, melalui kaca dari kereta gantung yang membawa mereka, Mary melihat hamparan perbukitan membentang luas. Lampu-lampu dari pasar malam yang sempat mereka kunjungi tadi dapat terlihat dengan jelas. Orang-orang masih berkeliaran dan suara musik yang dimainkan samar-samar masih terdengar. “Aneh sekali ketika kita masih bisa berdiri dengan tenang disini, sementara orang-orang di kejauhan sana sibuk berperang,” ucap Mary. Ia kemudia

