Perjalanan menuju ‘The City of Love’, 1918 “Bangunan apa ini?” “Itu gereja.” “Gereja?” Mary membeokan sembari menengadahkan kepalanya untuk menatap bangunan setinggi tiga puluh kaki yang berdiri di sudut jalan. Arsitekturnya bertema ghotik dimana kaca-kacanya disusun dengan gambar dan pola-pola yang rumit. Struktur bangunannya terbuat dari susunan bata. Gereja itu juga memiliki tiga pintu masuk yang terbuka lebar bagi siapapun yang ingin masuk. Mary melihat beberapa orang baru saja menaiki tangga dan menghilang di balik pintu masuk. Beberapa di antara mereka baru saja keluar dari pintu yang sama. “Mau melihat ke dalam?” Mary ragu-ragu, tapi menganggukkan kepalanya. Di dalam, desain arsitekturnya lebih bagus lagi. Meskipun Mary jarang menginjakkan kakinya di gereja, tapi ia tahu bahwa

