Pagi tadi, keduanya memang kembali berdebat dan berselisih paham. Namun, saat malam menjelang dan tubuh mereka sudah terbaring di atas ranjang, Jin membiarkan tangan besar Sam itu mengalung erat pada tubuhnya. “Jin …” “Hm?” Jin sedikit menarik diri, agar bisa menatap wajah Sam secara langsung. “Apa?” Meskipun sikap yang ditunjukkan Jin begitu manja ketika menempel pada Sam seperti sekarang. Namun, ucapan yang dimuntahkan wanita itu tetap saja terdengar ketus dan tergesa. “Apa kamu mau …” Lidah Sam tiba-tiba terasa kelu. Tidak tahu harus memulainya dari mana. Padahal, seharian tadi, setelah berbicara panjang lebar dengan Ryu, Sam sudah mengatur skenario terbaik untuk berbicara pada Jin mengenai putranya. “Mau apa?” tanya Jin dengan nada bicara yang sangat cepat. “Aku lagi dapet, jadi

