Sedari tadi, Sam hanya menggerak-gerakkan pulpen yang terselip diantara jari tengah dan telunjuknya. Sibuk memikirkan pembicaraan singkatnya dengan Jin pagi tadi. Ternyata, sungguh menyakitkan ketika mendengar sang istri tidak ingin memiliki anak darinya. Namun, di satu sisi Jin benar, Sam terlalu pengecut karena tidak berani mengakui putranya di depan semua orang. Bukan hanya itu saja, sampai sekarang pun, Sam masih tidak bisa meyakinkan kedua orang tuanya untuk menerima putranya. “Sam! Are you oke? “ Ryu yang sedari tadi duduk pada meja meeting kecil di salah satu sisi ruang, menghentikan sejenak kesibukannya. Sejak awal memasuki ruangan Sam, Ryu sudah melihat ada sesuatu yang salah. Sam lebih banyak diam dan wajahnya terlihat berpikir keras. “No, I’m not.” Jemari Sam menghentikan perg

