Sedari tadi, Sam hanya sibuk mondar mandir di ruang tamu seorang diri. Kepalanya tidak lelah untuk menoleh pada jam antik yang berdiri di sudut ruang. Memastikan tiap detik yang sudah dilaluinya untuk menunggu Jin pulang dari kantor. “Lama-lama, aku beli juga semua saham Metro, terus aku bubarin sekalian!” Sam membatin kesal dalam hati karena Jin belum juga pulang ke rumah. Jarum jam juga sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ditambah, ponsel wanita itu pun juga tidak aktif sedari langit berganti kelam. Jika ditotal dengan hari ini, itu berarti Sam sudah tidak bertemu Jin selama empat hari tiga malam. Kepalanya sudah berdenyut nyeri, ingin melepaskan semua hasrat meskipun dengan cara yang berbeda. Karena Jin masih mendapatkan tamu bulanannya, jika perhitungan Sam tidak salah. “Haahh!

