Jaga Kesehatan... Jaga

1063 Kata
"Naik." perintahnya cepat. Aku terdiam,  mulutku sedikit terbuka tak percaya. "Cepat,  Za.  Mas cuma dikasih Pak Jenggot waktu 10 menit buat keluar." ujarnya mencoba menyadarkanku. Mungkin karena tidak melihat sekecil apapun responku,  ia mulai mengayuh sepeda polygon hitamnya menjauhiku.  Dua detik setelahnya,  "IHHH,  MAS KOK GAK NUNGGUIN IZA SIH." teriakku membuat orang-orang di jalan itu sontak menoleh keget. Seolah tidak ada yang memanggil, ia tetap mengayuh sepedanya menjauhiku. Akupun terduduk sambil menundukkan kepala. Aku terdiam mengatai diriku sendiri yang tidak mampu memanfaatkan momen langka yang baru saja terbuang sia-sia. Sambil termenung, jari telunjuk kananku mulai melakukan gerakan memutar pada luka di lututku. Kini aku merasa sangat bodoh ketika sedang ditimpa rejeki. Poor Iza... Tak lama setelah itu... "Ayo,  Za." Kudongakkan kepala melihat seseorang yang tadinya meninggalkanku tersenyum jahil. "Ishhh,  nyebelin banget sih." ujarku kesal sambil memandang seseorang itu dengan tampang jutek. Akupun mencoba berdiri sambil melihat-lihat sepedanya. Aku termenung beberapa saat. "Terus Iza duduk dimana?" aku bingung karena sepeda hitam itu tidak memiliki boncengan. Sepertinya ia sedikit lupa tentang sepeda yang kini tengah dinaikinya,   ia melihat ke belakang kemudian menghela napas pelan. Dia sedikit berpikir dan mulai menepuk pelan top tube sepeda itu. "Sini,  di depan." suruhnya. "Iza bukan anak kecil lagi, Mas." "Udah ah gapapa.  tinggal tujuh menit nih, Za." katanya dengan nada serius dengan mengetuk jam tangannya menggunakan telunjuk. Akupun pasrah dan mulai duduk menyamping di top tube sepeda polygon itu. "Bang Ken,  Iza berangkat dulu ya. Nanti Iza jemput blue sky pulang sekolah" pamitku.  Orang yang kupamiti hanya mengangkat kunci pas sebagai bentuk respon atas kalimatku. Kurasakan sepeda mulai melaju. Aku tak berani menatap ke samping kiri karena aku masih merasa canggung pada si pengayuh sepeda hitam ini.  Alhasil kepalaku hanya menatap jalan di sebelah kanan sambil bersenandung lirih. "Isshou soba ni iru kara isshou soba ni ite (aku akan bersamamu dan di sisimu seumur hidupku) Isshou hanarenai you ni isshou kenmei ni (aku akan berusaha keras agar kita tidak berpisah) Kitsuku musunda me ga hodokenai you ni (Kuikat sekuat tenaga agar ikatan ini tidak terlepas) Kataku tsunaida te wo hanasanai kara" (karena aku tidak akan melepaskan genggaman erat tangan kita) Mataku tak sengaja melihat satu bungkus plastik berisi alat tulis di stang kanan.  Sepertinya orang ini pamit ke toko alat tulis di dekat bengkel Bang Ken dan tak sengaja melihatku. "Za." panggilnya tepat pada daun telingaku.  Tubuhku bergetar karena merinding.  Sontak aku menoleh ke arah kiri untuk merespon panggilannya. "Apa Mas?" tanyaku setelah beberapa detik tidak ada kalimat lanjutan dari sang empu. "Udah lama ya nggak kayak gini." katanya dengan nada yang melemah. "Mas kangen." lanjutnya lirih namun masih dapat kudengar jelas karena bibirnya berada di atas telinga kiriku. Kurasakan bulu kudukku sedikit merinding mendengar ucapannya. Aku sedikit berkaca-kaca mengenang masa-masa itu. "Tapi bukannya yang menjauh itu Mas ya?  Adek salah apa hiks" Tanpa sadar,  panggilanku mulai kembali seperti dulu. Aku sudah mulai terisak dan menutup mataku dengan kedua tanganku. Hatiku sangat sakit. Tangis yang selalu aku tahan ketika berada di dekatnya kali ini tak bisa terelakkan. Setelah bertahun-tahun, akhirnya aku mengatakan pertanyaan yang selalu membuatku resah. Kurasakan sepeda yang kutumpangi berhenti di pematangan sawah belakang sekolah. Tempat itu terlihat sepi karena petani sudah pulang sekitar dua puluh menit yang lalu. Ku mulai menengok ke wajah yang kini juga tengah menitikkan air matanya. Isakannya lebih keras dibandingkan denganku.  Mendengar isakan itu membuatku juga ikut menangis. "Kenapa?" lirihku malah membuat tangan sang empu meninggalkan stang sepeda beralih memelukku erat.  "Maaf." ucapnya. Tetesan air matanya jatuh pada tengkukku. Satu kata bersama puluhan bulir air mata yang masih tidak bisa kumengerti maksudnya. Sebenarnya aku pernah salah apa?,  batinku Aku menyentuh tangannya yang merangkul leherku dari belakang. Setelah sekian lama,  akhirnya aku kembali berada di rengkuhannya. Rengkuhan hangatnya. *** Kini aku berjalan mengekor sosok tegap di depanku. Parkiran nampak lenggang karena masih jam mengajar.  Sosok di depanku tiba-tiba berhenti kemudian menghadapku.  Tanpa berkata apa-apa, ia menggenggam tanganku lalu berjalan menuju sebuah ruangan di sebelah Ruang Osis.  Ruangan ini memiliki bau minyak kayu putih yang lumayan menyengat indera penciumanku. Ia mendudukkanku di kursi tunggu yang ada di dekat pintu masuk ruang UKS ini.  Setelahnya,  ia berjalan menuju kotak putih dengan gambar simbol tambah berwarna merah. Tatapanku terus menyorotnya tanpa henti.  Dia kembali ke arahku dengan obat merah, rivanol,  kapas,  kasa,  dan hansaplast.  Dia kini tengah duduk di lantai kemudian mencoba membersihkan luka di lututku. Efek dingin yang ditumbulkan rivanol tak membuat tatapanku berhenti menyorotnya. "Mas Idho nggak ada kelas?" tanyaku ketika ia mencoba membuka botol obat merah. "Lagi kosong,  Pak Bambang lagi ada rapat dinas di kota. Karena ATK osis lagi kosong, Mas tadi ke toko alat tulis buat beli keperluan osis." jelasnya sambil sedikit merapatkan kapas, kasa, dan hansaplast ke lututku. "Ohh,  kupikir Mas lagi bolos." ucapku sambil meringis menyesali anggapan sementaraku. Dia tersenyum. Eh?? "Tangan kamu?" tanyanya sambil menengadahkan tangan kanannya. "Tangan aku?" tanyaku kembali dengan kepala yang aku miringkan ke kanan. "Iya,  siniin tangan kamu." perintahnya dengan posisi tangan yang masih sama. "Buat apa?" tanyaku polos. Sepertinya ia tak ingin aku bertanya lagi. Dia sudah mengamit tangan kiriku kemudian memberikan rivanol pada sikuku yang ternyata berdarah. Ia mulai melakukan tahap-tahap yang sama seperti yang sebelumnya ia lakukan. Kenapa aku gak sadar kalo sikuku luka?, Batinku Setelah menempelkan hansaplast, ia berdiri kemudian mengembalikan keperluan penutupan lukaku ke kotak asalnya. Setelah itu aku bisa melihat dia menuju westafel tak jauh dari tempatku duduk untuk mencuci tangannya. Kemudian ia kembali ke arahku dan mengacak-acak rambutku. Aku kehabisan kata-kata. Tiba-tiba dari arah pintu ada seseorang yang memanggil,  "Kak Farid,  udah dapet alat tulisnya belum?" Kulihat ia mengganggukkan kepala kepada siswa yang ada di pintu ruang kesehatan ini. "Dek,  Mas pergi dulu ya." pamitnya mulai mengubah panggilannya. Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berkata lirih, "Jaga kesehatan, .... jaga hati." Dua kata terakhir diucapkan benar-benar lirih.   Lagi-lagi aku kehabisan kata-kata. Degup jantungku tak karuan,  keringat mulai membasahi pelipisku. Sebelum ia menghilang dari pintu ruangan ini,  ia menepuk d**a bagian kirinya seakan-akan ia menepuk jantung sebagai pusat hidup dan perasaannya. Tepukan itu bersebelahan dengan budge nama. Faridho Naqli,  itulah yang tercetak di d**a sebelah kanannya. Wajahku memanas, sepertinya wajahku mulai memerah. "MAAASSS IDDHHHOOOO." teriakku "Gitu doang Iza udah baper.  Payah bener." lanjutku dengan nada sedikit rendah beberapa oktaf dari sebelumnya untuk meruntuki diri sendiri. *** Tbc. ❄ Malankolis Kutub ❄ Yang suka doraemon cung yuk ☝ Suka sama sountrack Doraemon : stand by me 2 nggak?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN