Hidup itu penuh teka-teki. Tapi percayalah, sebuah teka-teki tidak akan terbongkar apabila bukan pada waktunya.
-Revano Alwibaid-
----
Sesuatu apa?
Batinku masih bertanya, apakah ada suatu hal yang aku lewatkan selama ini?
Aku masih memandang ke depan dengan kerutan di dahi, mulut yang setengah terbuka, dan satu sisi pipi yang agak kunaikkan. Aku tengah mencerna maksud dari teka-teki yang sudah kudapat sampai hari ini.
Tiba-tiba aku merasa pipiku dingin karena menempel pada sesuatu yang basah. Kutolehkan wajah pada seseorang yang kini tengah tersenyum manis sambil menempelkan segelas es di pipi kananku.
"Vanilla latte pake es batu banyak kan?" tanyanya sambil mengikuti arah pandangku sebelumnya. Vano kali ini duduk di sampingku dan menatap seseorang yang sedari tadi aku perhatikan.
"Udah tau kan? Kenapa baru nanya sekarang?" sindirku sambil menempelkan mulutku pada sedotan hitam yang menarik cairan vanilla latte yang sangat kusukai sejak smp.
"Siapa tau tadi salah beli, kan lumayan bisa Vano minum kalo Iza gak mau." candanya tanpa melihat ke arahku. Arah pandangnya masih sama dan di 15 meter didepan seseorang itu juga sedang menatap ke arah kami.
Entahlah, mereka yang pandang-memandang tapi aku yang malah canggung. Sepertinya ada tali telepati yang tak kasat mata tengah berada pada ruang hampa di antara mereka berdua.
"Za" panggil Vano masih dengan tatapannya pada seseorang yang memangku gitar merah.
Aku menoleh ke kanan memenuhi panggilan cowok berdarah betawi itu.
"Hidup itu penuh teka-teki. Tapi percayalah, sebuah teka-teki tidak akan terbongkar apabila bukan pada waktunya. " bijaknya.
Setelah mengucapkan quotes bijaknya yang sangat menusuk batinku itu, ia memutuskan pandang dari orang yang menyanyikan lagu kepompong tadi.
Vano beranjak menuju lingkaran yang sudah dibentuk oleh rekan jurnalisik. Aku yang bengong sontak dipanggil oleh ketua jurnalis untuk segera bergabung.
Kuarahkan pandanganku ke depan lagi, orang itu sudah pergi. Ada sedikit kecewa saat orang itu berlalu, namun aku menepis rasa itu dan mulai beranjak mendekati perkumpulan yang asyik membahas pembagian tugas pengisian majalah sekolah.
***
Hari ini aku bangun sedikit telat karena malam tadi mencoba mengingat kejadian masa lalu yang mungkin aku lewatkan. Meski begitu, tak kudapatkan satupun alasan dari sesuatu itu. Karena hal itu juga aku tidak bisa berangkat pagi.
"Bang masih lama nggak nih? Gerbang sekolah Iza udah mau ditutup." ujarku dengan khawatir pada seseorang dengan wajah penuh dengan oli.
"Iza berangkat pake angkot dulu gih. Blue sky belum sehat. Nanti kalo kamu pake malah jatuh lagi." peringat orang itu.
"Bang Ken, angkot biru udah nggak ada yang lewat ini. Iza harus gimana? Iza takut kena hukuman." ucapku sendu sambil melirik ke tali sepatu yang ternyata terlepas.
"Stop temen yang satu sekolah sama kamu buat nebeng. Bang Ken masih harus benerin lampu sen mu yang pecah." katanya sambil mengambil lap.
"Oh iya, jangan lupa lukanya dibersihin di UKS biar nggak infeksi." lanjutnya mengingatkan tentang keadaan lututku yang berdarah.
"Iya bang." ucapku sambil menoleh ke kanan kiri berharap masih ada orang yang mau mengantarkanku ke gerbang sekolah.
Aku mengeluarkan gawaiku yang dibalut dengan case rasi bintang orion. Tanganku dengan lihai mencoba menghubungi anak Babe Bambang untuk menyusulku di bengkel Bang Ken. Setelah mengabarinya, hanya dapat kulihat centang satu yang ada di samping kanan bawah kalimat yang kuketikkan.
"Huft, Vano kalo lagi dibutuhin kok sering ngilang sih. Gini amat punya sahabat cowok" kesalku sambil mencengkram gawai yang masih ada di genggamanku.
Karena rasa sakit mulai menyerang lututku. Aku sedikit meneliti keadaan lutut berdarah dengan banyak goresan itu. Tadi ketika sampai di persimpangan aku tersenggol oleh mobil pick-up berwarna merah karena kekurangan tidur. Selain tubuhku yang serasa remuk, blue sky juga merasakan hal yang sama. Dan akupun berakhir di tempat yang penuh dengan oli dan ban yang kini kutempati.
Kejadian jatuh tadi tidak jauh dari bengkel langganan keluargaku. Sehingga akupun menuntun blue sky ke bengkel ini dengan jalan yang sedikit berantakan.
Aku yang asyik melihat keadaan lututku, mendadak merasa ada yang memperhatikan kegiatanku. Akupun langsung mendongakkan kepala melihat kedepan.
Bibirku tersungging canggung, tengkukku tiba-tiba gatal.
"Naik." perintahnya cepat.
***
Tbc.
❄ Melankolis Kutub ❄