Mendengar perkataan lirih dari Iza, membuat Vano memegangi dadanya. Mukanya memelas sambil sedikit berteriak, "Aduh eneng Iza, kalimatnya langsung melesat ke hati abang nih. Sakittt nenngg."
"Tapi eneng Iza tenang aja, Bang Vano bakal tetep berjuang sampai titik darah penghabisan hahaha." sambungnya yang diakhiri dengan tawa buatannya.
Aku menghela napas, mengeluarkan sedikit rasa sakitku melalui senyawa karbondioksida ke udara ketika mendengar sahabatku sakit akibat sikapku selama ini. Aku tidak buta, aku juga tidak tuli, aku pun juga memiliki hati. Aku mengetahui ini sudah lama. Tapi aku memang tidak dapat membalasnya. Bukankah kita harus jujur terhadap perasaan kita? Katakan tidak bila tidak, katakan ya bila iya. Simple to do.
Aku juga tidak dapat mengendalikan tubuh dan mulutku yang dikoordinir oleh alam bawah sadarku. Itu adalah wujud kejujuran dari diriku. Kejujuran itu menyakitkan, itu yang sering dilontarkan orang-orang. Dan aku tidak menyangkal karena memang benar itu adanya.
"Maaf, Van" batinku mengulang kalimat itu lagi.
Tiba-tiba bel pulang sekolah berbunyi diiringi lagu Hari Merdeka karya Husein Mutahar. Seketika kelas ramai penuh dengan rencana teman-temannya sepulang sekolah.
"Li, aku duluan ya. Ada kumpul jurnalis di aula utama. Kayaknya lagi bahas majalah tahun ini." ungkapku sambil memasukkan alat tulis kedalam tas berlogo sekolah yang kini tengah kupijaki.
"Siap bu bos. Hati-hati nanti pulangnya Za. Eneng Lia pulang dulu ya, mau bikin brownies sama calon mertua hihihi." jelasnya sambil terkikik kecil membayangkan hal yang baru saja ia lontarkan.
"Oh iya, Temenin Iza ya Van. Kalau ada lecet dikit sama Iza, aku pasung kamu di kandang si Black." lanjutnya dengan mata melotot setelah sadar dari lamunan indahnya.
Vano yang sudah biasa, menganggukkan kepalanya malas. Dan untuk ancaman tentang memasung dirinya ke kandang si Black sudah sering Lia lontarkan. Sebenarnya Black adalah kucing berwarna hitam yang Lia miliki. Kenapa tidak di kandang macan aja?
Lia pernah berkata bahwa kucing saja sudah membuat Vano jerit-jerit ketakutan. Jadi tidak perlu membeli macan atau singa untuk mengancam sobat Betawi-nya itu.
***
Aku dan Vano berjalan bersisian menuju aula utama. Meski beberapa menit lalu sempat terjadi kecanggungan akibat perkataan sarkas yang kulontarkan. Begitulah persahabatan kami, sedari kecil akan selalu berbaikan 5 menit setelah mengontrol diri.
Kali ini kami membahas anime yang tengah dikerjakan oleh mangaka terkenal di jepang. Ya, mangaka itu pernah membuat anime movie yang sangat terkenal di dunia. Kimi no nawa, anime terbaik sepanjang masa kata sebagian orang. Aku dan Vano selaku fans berat mangaka tersebut -Mahkoto Shinkai- sudah tidak sabar mengetahui bagaimanakah cerita dan penggambaran anime yang tengah dikerjakan oleh mangaka super itu.
Setelah sampai di aula, kami duduk bersisian di tembok pembatas menanti teman jurnalis lain untuk memulai diskusi. Karena aku merasa sedikit haus, aku berencana akan membeli minum ke kantin sebelum stand tutup. Namun Vano tidak membiarkanku pergi, akhirnya aku termenung sendiri di aula sambil menunggu Vano membelikan es kesukaanku.
Tatapanku menyusuri objek-objek lugu yang ada di sekitar aula. Ada beberapa rekan jurnalis yang berjalan mendekatiku untuk membentuk lingkaran. Juga terdapat beberapa siswa yang tengah mengikuti ekskul silat di pelataran. Pakaian hitam gelap yang mereka kenakkan sangat keren di mataku. Bahkan cara mereka latihan sangatlah mengagumkan.
Andai saja aku diperbolehkan ikut ekskul bela diri, batinku menggema.
Tiba-tiba saja pandangan mataku terikat dengan seseorang yang kini tengah menatapku sambil membawa gitar merah dengan beberapa goresan silet di beberapa bagiannya. Dia tengah duduk dengan jarak sekitar 15 meter menghadap lurus kepadaku. Dia tak sendiri, ada beberapa adik kelas yang sepertinya tengah berlatih musik kepadanya.
Saat ini dia tengah tersenyum manis sambil mencoba mencari kunci yang tepat pada nada yang akan ia alunkan. Ketika kunci itu sudah ditemukan olehnya, ia menatapku diam. Kemudian dari jarak hampa itu aku bisa mendengarkan nada yang sangat aku kenal.
Nada itu...
Kenapa ia memainkan lagu itu?
Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Ia menatapku dalam, namun fokus pada gitarnya tetap tak berubah. Ia seperti menjelaskan sesuatu dari lagu yang sedari kecil kuhafal dengan baik. Waktu kecil wajahku sangat ceria ketika aku menyanyikan lagu ini, namun saat aku sudah remaja seperti sekarang lagu itu nampak menyakitkan.
Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu
Bayangan gadis kecil di samping ayunan menghampiri ingatanku. Gadis itu tidak sendiri, ada anak laki-laki seusianya yang sedang menyiram bunga cantik yang tumbuh di dekat pohon beringin yang dihinggapi banyak kupu-kupu.
Kini kita melangkah berjauh-jauhan
Tatapan seseorang tepat 15 meter dihadapanku tiba-tiba meredup. Seakan menahan sesuatu.
Ku jauhi dirimu karena sesuatu
Eh, benarkah seperti itu liriknya? Tidak!! Liriknya diubah. Apakah itu sebuah clue? Apa benar itu lirik buatku?
"Ku jauhi dirimu karena sesuatu" ulangku lirih dengan bibir bergetar mencoba menerka maknanya. Dan sudah mengabaikan lirik selanjutnya dari lagu itu.
Dia menjauhiku karena sesuatu?
Sesuatu apa?
***
Tbc.
❄ Melankolis Kutub ❄