"Kalian sebagai penerus bangsa, harus bisa menangani permasalahan alam yang ada di sekitar kalian. Misalnya lumpur lapindo..." jelas Pak Maman sambil mencoret-coret papan putih mengkilat yang jumat lalu dibersihkan menggunakan minyak kayu putih.
Ketika sudah membahas lumpur lapindo seperti saat ini, aku selalu mengalihkan pandang dari papan tulis. Bukan karena malas, melainkan cerita itu sudah berkali-kali diceritakan dengan kalimat yang hampir sama persis. Hal itu membuat sebagian besar siswa di kelas menjadi bosan. Karena kesimpulannya belum ada yang mampu menghentikan luapan dari lumpur lapindo.
Tanganku masuk ke ruang kecil di bawah meja untuk mengambil buku bersampul genangan air biru dengan quotes bijak tokoh ilmuwan yang menemukan rumus aljabar.
Saat ini matahari sudah sejajar dengan permukaan bumi yang kupijaki. Tidak sedikit teman sekelas yang sudah pulas dalam mimpinya. Anehnya hari ini aku tidak tidur saat pelajaran karena kantukku telah hilang setelah pingsan di hadapan warga sekolah saat upacara. Sepertinya, aku memang masih punya malu.
Sambil mengingat sesuatu, tanganku dengan lincah menari bersama pena membentuk huruf-huruf indah yang sebenarnya adalah clue yang aku dapatkan dari mimpi aneh yang semalam hinggap di alam bawah sadarku.
Aku bukanlah orang yang membual tentang keterkaitan mimpi aneh itu dengan kehidupanku. Hubungan keduanya nyata, aku bisa merasakannya, namun aku tidak mampu untuk menjelaskannya.
Ibuku, beliaulah yang memberitahukan hal ini kepadaku. Keluarga ibuku memiliki aliran mimpi aneh seperti yang kualami untuk mengungkap satu sendi rahasia masa depan. Itu yang ibu ucapkan kepadaku sebelum ibu menghilang dari hidupku.
Awalnya aku tidak begitu memusingkan hal itu. Namun, karena mimpiku berkaitan dengan dia...
Dia
Maka aku akan mencari tahu keterkaitannya.Akan aku cari rahasia satu sendi kehidupan yang aku miliki itu.
Akibat dari rasa penasaranku akan keterkaitan mimpi aneh itu dengan hidupku, aku mendapatkan dampak yang besar dalam hidupku. Aku terjebak, namun aku tak ingin keluar dari jebakan itu. Sebut saja aku orang yang egois.
Di tengah keasyikanku mencoret-coret salah satu halaman di buku biru tersebut, tiba-tiba...
"Ssstt... Ssstt... Oiii zaaaa... " panggilnya lirih namun terdengar nada tekanannya.
"Izaaa... Zaaa... Main yuk. Ditunggu Mei-mei tuh di rumah Tok Dalang." ucapnya dengan menyangkut pautkan kartun bocah botak dari negeri seberang.
Orang yang memanggil adalah sahabatku yang menempati bangku tepat di belakangku. Dia adalah salah satu sahabat cowok dari masa taman kanak-kanakku. Salah satu orang yang akan marah ketika aku dirundung oleh orang lain. Tapi seperti sahabat kebanyakan, dia adalah orang yang akan tertawa pertama ketika aku ceroboh yang mengakibatkan diriku malu setengah mati di hadapan umum, seperti jatuh ke dalam got waktu di kejar anak sapi saat kami masih di bangku sekolah dasar. Ishhh dasar, untung sahabat.
"Apaan sih... Revano Alwibaid anaknya Babe Bambang Alwibaid..." ucapku sedikit gemas. Kulihat dia terkekeh dengan jari-jari tangannya yang mengusap daun telinga.
"Iza nulis apa? Gak mungkin kan nyatat cerita lumpur lapindo di depan. Mana tulisan Pak Maman hanya bisa didengar tanpa bisa dibaca. Kalimatnya juga persis kayak minggu lalu. " Katanya sambil tersenyum. Apabila ia tersenyum seperti itu kepada cewek-cewek di luar sana mungkin akan terjadi pingsan massal. Aku cukup mengakui bahwa senyum keturunan Alwibaid ini sangatlah manis. Namun karena kadar cerewetnya yang mencapai kejenuhan tingkat maksimal, maka senyum manisnya akan terlihat biasa saja oleh mataku.
Aku menoleh kedepan, Pak Maman sepertinya tengah meminta izin untuk ke toilet kepada teman sekelasku. Setelah Pak Maman keluar, aku menoleh ke belakang dan langsung menjewer telinga si bibir lemes itu.
"Lancar banget itu bibirnya buat ngatain orang. Astagaaa... Punya sahabat cowok gini amat." kesalku dengan penuh penekanan pada kalimat dan jeweranku di daun telinganya.
"Ampun zaa, ampun... Gini banget sama calon masa depan." ujarnya sambil menahan sakit karena jeweranku yang memang tak main-main.
Lia yang ada di sampingku sontak tertawa, "Kalian tuh romantis banget sih siang-siang gini. Bikin baper tau gak sih, utututu" gemasnya menatapku dan Vano dengan wajah yang minta ditampol.
"Gimana Li, udah cocok belum jadi sahabat ipar. " tanya Vano sambil menyugar rambutnya yang memang sedikit panjang. Lupa potong rambut kayaknya nih bocah.
Lia yang mendapat pertanyaan seperti itu lantas tertawa kembali. Dia terlihat tidak percaya dengan apa yang diucapkan sahabat yang ia kenal dari Smp itu.
"Sahabat ipar apaan? Emang ada? " tanya Lia dengan nada tidak percayanya.
"Ada dongg, kamu kan sahabatnya Iza, sedangkan aku masa depannya Iza. So, kita sahabat ipar. " ungkapnya penuh dengan percaya diri. Entah dia mendapatkan teori itu dari penelitian siapa. Yang jelas, ungkapannya kali ini sangatlah tidak jelas dan tidak penting.
Aku jengah dengan tingkah Vano yang selalu saja begini. "Nyenyenyenye. " balasku dengan nada ejek.
"Apaan sih Za, gak terima banget kalo Bang Vano jadi masa depannya Iza." katanya dengan wajah tertekuk dengan senyum yang telah pudar.
"Vano akan tetap jadi sahabat Iza di masa depan. " ujarku.
Vano akan tetap jadi sahabat Iza di masa depan, ucapan itu terpantul di dalam hatiku.
Aku tersadar, tapi aku memilih diam. Kalimat itu bukan sengaja aku ucapkan. Melainkan...
Alam bawah sadarku yang mengendalikan.
"Maaf, Van." ucapku lirih setelah beberapa saat.
***
Tbc.
❄ Melankolis Kutub ❄