Rasa takut memaksanya menurut bertamu ke rumah tetangga. Kata-kata sang ayah masih terngiang di telinga. Naina menggaruk pelipisnya sambil berjalan. Ayahnya pasti mengira jika Naina bertengkar dengan Arya karena Arya pulang lebih dulu, tetapi yang Naina pikirkan adalah Arya yang benar-benar sakit.
'Ck, dia emang sayang orang tua! Nggak bakal bisa bantah lagi!' batin Naina.
Mengetuk pintu rumah Arya yang tidak terkunci tiga kali. Tidak ada jawaban karena penghuninya sudah tidur. Naina jadi bingung. Jika dia kembali akan dimarahi. Jika masuk tanpa izin tidak sopan.
"Lagian ngapain juga gue ke rumah Arya? Mau nyembuhin dia gitu? Gue buka dokter!" gerutu Naina sambil mondar-mandir.
Daripada dimarahi lebih baik masuk secara paksa. Naina menutup pintu kembali dengan amat pelan. Lalu, tidak menyapa ibunya Arya apalagi menengok Arya di kamarnya. Naina memilih tiduran di sofa. Menutup wajah dengan bantal menunggu kantuk menyerang.
~~~
Pagi hari yang sangat nyaman untuk kembali tidur. Naina tidak kunjung bangun meskipun tirai sudah dibuka dan sinar masuk lewat ventilasi dan celah rumah. Bagaikan putri tidur yang meringkuk cantik di sofa, dia tersenyum bermimpi indah. Ibunya Arya hanya tersenyum menatapnya. Dia tidak ingin membangunkan Naina, tetapi lain dengan Arya.
Keadaan yang sudah lebih baik dari semalam, Arya begitu bersemangat. Melihat Naina yang tidur di rumahnya, Arya segera menyeret sebelah kaki Naina sampai kepala Naina terbentur karpet lantai. Arya tidak menduga jika Naina masih belum mau bangun. Dia mengambil air seember dan mengguyur Naina dari ketinggian 30 cm. Naina langsung kelagapan terjingkat duduk.
"Banjir! Banjir bandang! Selamatkan diri!" teriak Naina sambil meraup wajahnya penuh air.
Arya menjatuhkan ember itu tepat di samping Naina. Itu pun Naina kaget. "Hmm, cuma banjir bandang yang bisa buat lo bangun!" ujar Arya berkacak pinggang.
Naina menoleh dan menganga. "Lo?! Ngapain lo di rumah gue? Lo siram gue?! Lo bisanya cuma penyiksaan doang! Nggak ada malunya sama cewek kayak gue! Gue bales, gue kelelepin lo di kamar mandi!" pekik Naina sambil berdiri sempoyongan.
Arya berdecak mengejek. "Rumah lo?"
Naina mengerjap, lalu memandang sekeliling. 'Ha! Rumah Arya! Gue ingat semalam ayah ngusir gue kesini buat nengokin Arya! Aduh, gue sengaja tidur di sofa!' batin Naina.
Pandangannya terarah ke Arya yang sudah rapi dan sangat harum sampai Naina ingin bersin karena parfum Arya. Matanya terbelalak seketika.
"Kuliah! Hari ini kuliah!" serunya dan lari pulang begitu saja. Arya tidak bisa menghentikannya karena mendapatkan marah dari ibunya yang keluar dan melihat ruang tamu basah.
Naina berlari ke kamar mandi tanpa menghiraukan seruan orang tuanya. Dalam waktu lima belas menit sudah siap berangkat kuliah. Lupakan amarah singkat sang ayah atau ibunya yang kepedasan. Naina bahkan terlambat masuk kelas. Dia murung meskipun diperbolehkan masuk. Kertas di depannya hanya dicoret-coret tanpa mencatat. Itu karena Sandi tidak ada di kelas.
'Sandi bohongin gue! Bilang aja kagak mau gue tanya-tanya soal kehidupannya. Gue nggak boleh curhat sama dia. Emang dasar Sandi ngeselin! Pasti dia molor lagi di rumah!' batin Naina.
Berdecak malas karena dosen tidak berhenti berceramah. Dia menoleh ke kanan-kiri melihat teman-temannya serius mendengarkan, membuatnya semakin malas. Pandangannya berhenti di Nurmala yang duduk di bangku depan dekat pintu. Terlihat menunduk menulis sesuatu. Namun, sorot matanya menunjukkan hal yang berbeda. Nurmala tidak fokus. Naina mendelik penasaran.
'Dia kenapa?' batin Naina.
Naina memilih mengirim pesan lewat handphone agar Nurmala membukanya, tetapi Nurmala bahkan tidak memperdulikan handphone-nya.
"Ha? Handphone aja dianggurin? Pasti ada masalah!" gumam Naina mengangguk.
Naina terus memperhatikan Nurmala yang tidak mendongak sedikitpun. Apa yang Nurmala tulis menjadi misteri yang semakin membuat Naina gemas ingin melihatnya. Mata kuliah jam pertama selesai. Ada waktu senggang untuk pergantian jam. Naina mendekati Nurmala dengan riang.
"Hai! Serius amat, lagi ngapain?" sapa Naina menepuk meja Nurmala sampai Nurmala terjingkat segera mengemasi buku dan penanya sambil meringis kaku ke Naina. "Ngagetin aja sih, lo!" ujar Nurmala.
Naina mengernyit. "Heh? Lo nulis apaan? Buku apaan tuh? Kok, aneh bentuknya? Gue pinjem, dong!" Naina ingin merebut buku Nurmala.
Nurmala langsung memasukkan bukunya ke dalam tas. "Eh, ini buku biasa kali. Lo aja yang nggak tau. Cuma nyatet doang tadi," kata Nurmala sedikit kikuk.
Naina mengamati tingkah Nurmala yang aneh. "Hmm, gue emang nggak pernah lihat buku kerlap-kerlip penuh warna. Kertasnya juga Kerlap-kerlip? Gue lihat, dong, Nur! Pelit amat!" Naina duduk manis merayu.
Nurmala memakai tasnya sambil nyengir. "Daripada sibuk sama buku aneh gue mendingan makan! Temenin gue makan di kantin! Nggak boleh nolak! Ini perintah, haha!" tertawa jahat dan menarik tangan Naina keluar kelas begitu saja.
"Eh, eh, kayak bos besar aja, haha!" canda Naina.
Jalan menuju lapangan terlihat saat Naina ingin ke kantin. Langkahnya tiba-tiba berhenti membuat Nurmala bingung. Ada mahasiswa tengah bermain bola. Naina terus menatap lapangan.
"Lo nyari Arya, ya?" bisik Nurmala ikut celingukan di lapangan. Naina tersentak. "Eh, kagak! Ngapain juga cari dia?" elak Naina mengajak Nurmala pergi lagi.
"Terus kenapa lihatin lapangan?" bingung Nurmala.
"Cuma lihat aja," jawab Naina santai.
Nurmala tidak bertanya lagi. Dia sibuk makan, tetapi Naina tidak melakukan apapun. Dia tidak memesan apapun dan menatap temannya masih penuh selidik. Naina yakin Nurmala menyembunyikan sesuatu.
'Apa itu buku harian?' batin Naina.
Menyangga kepalanya, lalu ada dua orang datang membuat semua mahasiswi menahan pekikan senang. Naina melengos malas.
"Yang di cari malah muncul di sini," gumam Naina malas.
Arya datang bersama Zaka yang menyunggingkan senyum.
"Ck, tiap hari sok ganteng lo!" desis Naina untuk Arya, tetapi Nurmala mendengarnya. "Ha? Gue ganteng?" heran Nurmala masih dengan mulut penuhnya.
Naina menoleh dan meringis. "Bukan elo, Nur!"
"Terus siapa? Oh, Arya? Gue panggilin?" tawar Nurmala polos ingin teriak memanggil Arya.
Naina segera menggeleng. "Jangan, nggak usah! Biarin aja dia. Cuek aja!" kata Naina.
Nurmala mengendikkan bahu dan melanjutkan makan. Namun, Arya justru menghampirinya dan berbisik di telinga Naina membuat Naina mengejang kaku.
"Cewek gila, ada hadiah khusus dari gue. Semoga lo suka. Gue baik, 'kan?" desis Arya.
Naina menoleh, matanya melotot menatap Arya yang tersenyum tipis. "Lo buat apa lagi? Kalau macem-macem gue bunuh lo!" balas Naina.
Arya berdecih dan langsung melenggang pergi menarik Zaka yang tersenyum manis pada Naina. Nurmala sampai tidak jadi makan. Naina menggebrak meja membuat Nurmala mengerjap kaget begitu juga dengan beberapa mahasiswa di sana. Tanpa bicara dia langsung menuju gedung kelasnya mencari apa yang Arya maksud. Nurmala mengerti jika Arya dan Naina membuat masalah lagi. Dia acuh memilih menghabiskan makanannya.
Di kelas, dia menemukan sebuah buku yang aneh. Buku yang memiliki sampul putih. Naina pikir itu milik Arya. Naina mengambilnya dengan kesal, lalu memeriksa buku itu. Dia terkejut hebat.
"Apa ini? Kumpulan puisi? Eh, ini bukan puisi, tapi kata-kata yang puitis. Punya siapa? Nggak mungkin Arya punya buku beginian apalagi dikasih ke gue," gumam Naina.
Daripada pusing, Naina membawa buku itu. Mungkin milik temannya yang tertinggal. Mencari lagi apa yang Arya lakukan untuknya. Di kelas tidak ada yang mencurigakan selain buku itu. Kemudian, Naina pergi ke parkiran. Dia merasa terjadi sesuatu dengan motornya. Dugaannya benar, motornya hilang. Naina mengitari parkiran parkiran panik, tidak berhasil menemukan motornya.
"Dimana? Mana motor gue? ARYAAAAAA, MANA MOTOR GUEEEEE!" teriak Naina mengganggu beberapa mahasiswa yang lewat.
Menuju kantin dengan sangat tergesa-gesa. Dia marah besar ingin mencekik Arya. Saat Naina memasuki kantin, semua yang ada di sana sudah bersiap mendengarkan marahnya Naina. Nurmala mendekati Naina yang terus memandang sengit pada Arya yang duduk manis sambil main handphone.
"Na, kenapa? Arya ngapain lo?" tanya Nurmala berbisik.
Naina tidak menjawab membuat Nurmala bingung. Sampai di depan Arya, Naina menggebrak meja begitu keras sampai beberapa orang terjingkat.
"Naina, jangan marah-marah," tutur Zaka dengan begitu lembutnya.
Naina juga tidak menghiraukan Zaka. Naina merebut handphone Arya dan menyembunyikan di sakunya. Arya membalas tatapan Naina.
"Cowok k*****t, dimana lo buang motor gue?!" marah Naina.
Seketika orang-orang mengelus d**a sabar. Nurmala dan Zaka memalingkan wajahnya sambil mendesah.
"Motor pun dibawa-bawa?" kompak Nurmala dan Zaka, kemudian mereka saling pandang.
"Hmm?" tanya Arya sok tidak tahu.
Naina gemas. "Kalau lo nggak mau balikin motor gue, handphone lo gue banting!" ancam Naina.
Arya mendekatkan wajahnya yang menatap Naina tajam. Dia diam sejenak membuat Naina mengerutkan dahi. "Lo pikir gue diem aja kalau jaket gue lo buang? Pikir sendiri kemana gue buang motor lo. Dasar nggak waras! Nggak tau terima kasih!" desis Arya menoyor dahi Naina dengan telunjuknya.
Naina memelintir telunjuk Arya sambil melotot. "Tempat sampah? Gila lo!" pekik Naina lalu pergi mencari motornya.
Arya mengejarnya karena handphone-nya dibawa Naina. Zaka dan Nurmala ikut mengejar mereka. Bodohnya Naina mencari motornya di tempat sampah kecil tiap pojok koridor. Lalu, Arya memberitahu jika motor Naina ada di tempat pembuangan sampah di belakang kampus. Arya merogoh saku celana Naina untuk mengambil handphone-nya sebelum Naina pergi ke belakang kampus. Seketika Naina teriak merasa geli, dia memaki Arya tidak tahu sopan santun. Kemudian, Arya segera pergi dan Naina marah-marah sampai Nurmala bingung menenangkannya.
Naina berhasil menemukan motornya yang tergeletak seperti barang rongsokan. Sedikit tertimbun sampah dan berbau busuk. Zaka dan Nurmala ternganga. Mereka panik jika Naina ngamuk lagi.
"ARYA EKA LESMANA!!! GUE BUNUH LO HABIS INI!" teriak Naina menggelegar sampai Zaka dan Nurmala menutup telinganya.
Mau tidak mau, Zaka dan Nurmala membantu Naina yang rela terjun ke tempat pembuangan sampah. Seluruh tubuhnya menjadi berbau sampah. Arya membalas lebih kejam padahal Naina hanya main-main. Ingin marah, tetapi bukan waktunya. Zaka membawa motor Naina ke tempat cucian motor terdekat sedangkan Naina mandi tidak kunjung selesai sampai Nurmala bosan menunggunya.
Jam ke dua mata kuliah telah di mulai. Nurmala dan Zaka terpaksa meninggalkan Naina untuk kuliah dan meninggalkan sedikit pesan agar Naina tidak mencari gara-gara dengan Arya.
"Naina, motornya ambil nanti kalau pulang kuliah. Aku mau masuk kelas dulu. Kamu jangan lama-lama mandinya nanti keriputan, loh!" canda Zaka di depan pintu kamar mandi.
Naina sudah selesai dari tadi, hanya saja tidak ingin keluar. "Kak, makasih banget ya, udah di bantu lagi. Arya itu emang ngeselin, Kak! Kakak nggak usah temenan sama dia!" jawab Naina sedikit berteriak.
"Hahaha, cepetan keluar kalau nggak mau bolos jam ke dua! Temenmu udah masuk duluan tadi. Aku pergi dulu, ya. Kalau ada apa-apa kasih tau aku aja," pamit Zaka.
"Iya, Kak!" Naina bingung ingin menjawab apa. Zaka terlalu baik.
Zaka pergi dan Naina membuka pintu kamar mandi. Sangat sepi tidak ada dosen ataupun mahasiswa yang lewat. Kesempatan Naina untuk membalas perbuatan Arya. Dia menuju parkiran mencari motor Arya. Naina membuat roda motor Arya bocor. Hanya itu sudah cukup membuat Arya marah. Karena Arya tidak akan menemukan bengkel di dekat kampus kecuali rumahnya Sandi.
"Arya nggak bakal pulang ninggalin motornya, kecuali dia minta tolong temen. Palingan Kak Zaka yang bantuin dia. Ah, gue kasih tau aja kalau jangan mau bantu Arya," gumam Naina senang.
Segera memberi pesan pada Zaka untuk mencari alasan saat Arya meminta tolong. Tentu saja Zaka setuju. Dia juga kesal karena Arya membuang motor Naina di tempat pembuangan sampah. Setelah itu Naina mengikuti pelajaran. Kali ini dia duduk tepat di belakang Nurmala. Lagi dan lagi Nurmala menulis di buku kerlap-kerlip miliknya sambil menunduk. Sangat tidak fokus dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Diam-diam Naina bertanya tentang buku bersampul putih yang dia jumpai pada setiap temannya, tetapi tidak ada yang memilikinya. Bahkan Naina bertanya pada Lily yang berujung mereka bertengkar soal Arya
'Nurmala nyembunyiin sesuatu dari gue dan semua orang. Apa? Dia nulis apa, sih?' batin Naina.
Mencoba mengintip apa yang Nurmala tulis, tetapi Nurmala menutupi buku itu dengan sangat rapat.
'Huft, menyebalkan! Sandi mungkin tau sebabnya Nurmala jadi begini. Gue harus tanya dia,' batin Naina lagi.
Sampai kuliah selesai, Naina masih duduk di tempat memandang Nurmala dengan penuh selidik. Saat Nurmala menoleh dia kaget dengan tatapan Naina. Nurmala mengajak Naina pulang, tetapi Naina menggeleng. Bukannya membujuk seperti biasanya, Nurmala memilih pulang. Naina semakin curiga pada Nurmala.
'Nur, kalau lo ada masalah kenapa nggak cerita sama gue? Mungkin aja gue bisa bantu. Kita temen kayak saudara, 'kan?' batin Naina sedih memandang Nurmala yang keluar dari pintu kelas.
Tidak disangka Lily menghampiri Naina. "Lemes banget hari ini, kenapa? Gara-gara Sandi nggak masuk apa Nurmala yang ninggalin lo?" tanya Lily bermain-main.
Naina menoleh malas. "Nenek lampir, gue lemes apa kagak bukan urusan lo! Gue tanya sekali lagi, buku bersampul putih punya lo bukan? Ketinggalan di kelas tadi waktu pergantian jam," tanya Naina malas.
Lily menaikkan kedua alisnya. "Buku? Gue nggak peduli sama buku. Lo dari tadi nanyain itu mulu, coba gue lihat bukunya siapa tau kenal!" pinta Lily menodongkan tangan.
Naina mengeluarkan buku itu. Baru juga muncul sedikit dari tas, Lily sudah menggeleng dan menyuruh Naina memasukkan buku itu lagi, "Buku jelek kayak gitu mana mungkin punya gue? Lagian nggak pernah lihat ada yang punya buku itu di sini. Udah, buang aja! Na, gue mau tanya penting sama lo." ucap Lily serius di akhir ucapannya.
Naina kembali memasukkan buku dengan sabar. Dia menyangga kepala dan menatap Lily serius. "Nanya apa?"
Lily semakin memajukan wajahnya. "Lo suka sama Arya?" tanyanya pelan.
Naina langsung menggebrak meja membuat Lily terjingkat. "Mulut lo ngaco, ya? Mana mungkin gue suka sama Arya? Kagak, lah!" elak Naina.
Lily mengernyit. "Yaudah, bisa aja, dong! Secara kalian udah nikah gitu. Siapa tau tumbuh rasa...," ucapan Lily terpotong Naina.
"Rasa pahit yang lebih banyak!" sambung Naina.
"Ck, kalau gitu gue masih ada kesempatan buat deketin Arya. Kalian nggak serius sama pernikahan sendiri. Jadi biarin gue yang bantu rusakin rumah tangga kalian, haha!" tawa Lily jahat.
Naina mendelik. "Coba aja kalau bisa! Walaupun gue sama dia nikah, rumah tetep beda. Gue heran sama lo, Arya nggak pernah nanggepin lo bahkan cewek lain pun dia cuekin. Kenapa masih ngejar dia? Tuh, Kak Zaka yang lebih baik dari Arya nggak lo kejar? Cowok lain juga banyak. Kurang kerjaan lo gangguin Arya mulu!" tutur Naina.
Lily berdecih. "Sama kayak lo yang kurang kerjaan jahilin dia terus. Arya itu beda dari yang lain. Nggak ada yang bisa ngalahin pesona dia bahkan pangeran kampus sekalipun di mata gue!" jawab Lily membayangkan Arya.
Naina menjentikkan jari agar Lily berhenti berkhayal. "Kok, gue nggak ngerasa gitu? Gue malah pengen buang jauh di Arya!" keluh Naina.
"Idih, curhat? Itu, 'kan elo bukan gue. Kalian kayak kucing sama tikus tau nggak? Berantem mulu nggak ada habisnya. Gue juga bingung kenapa kalian nikah. Lo mau bantu gue nggak? Sekali aja!" Lily lebih mendekati Naina.
Dahi Naina berkerut. "Tumbenan. Bantu apa?" tanya Naina mengernyit.
"Bantu buat gue sama Arya kencan. Ntar malem ada festival seribu lilin di taman kota. Lo bujuk Arya buat kesana, terus gue bakal pura-pura kebetulan ketemu dia. Habis itu kita jalan bareng, deh! Lo nggak usah ikut! Gimana? Mau, ya?" pinta Lily mengerling manis.
Naina nyengir. "Haha, sejak kapan Arya suka lilin? Dia lebih baik gelap gulita. Tapi tenang aja, bakal gue coba nanti!" Naina berbangga diri menepuk dadanya.
"Kayaknya lo kenal deket sama Arya. Tau apa aja tentang dia? Beneran nggak cemburu gue ngedeketin Arya? Lo istrinya, loh!" Lily sampai meneleng heran.
Naina tertawa renyah, "Gue kenal Arya dari bayi! Nggak ada yang lebih tau dia daripada gue! Itu sebabnya gue terima nikah sama dia. Karena dia nggak bisa nolak perintah orang tua. Gue juga kenal dekat sama orang tuanya. Sekarang nggak tau harus gimana. Sshh, gue jadi curhat sama lo." menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Lily terperangah. "Apa? Jadi karena keinginan orang tua?" tanyanya.
Naina mengangguk. "Tunggu dulu, siapa yang ngasih tau lo kalau ayahnya Arya meninggal? Sampai akhirnya lo tau pernikahan ini," Naina memandang Lily penuh tanya.
Lily terlihat mencari-cari alasan. Naina menuntut jawaban, tetapi Lily justru pamit pergi. "Eh, tunggu jangan kabur dulu!" cegah Naina mengejar Lily sampai turun tangga.
Tiba-tiba Arya datang dengan ekspresi marah. Naina menganga, segera naik kembali ke kelasnya.