8. Bakso Mercon

2514 Kata
 Cantiknya dua gadis itu saat memakai hijab membuat Sandi terpana sampai menganga. Sementara bengkel tutup untuk mengikuti pengajian umum. Sandi membiarkan Naina dan Nurmala pergi mendahuluinya, membuat salah satu teman Sandi menghampiri Sandi.   Dia menutup mulut Sandi yang terus ternganga. "Mereka bukannya yang waktu itu, ya? Wah, mainnya parah lo, Bro!" menggeleng pelan menatap Naina dan Nurmala yang jauh di hadapan.   Sandi menjitak kepala temannya. "Pikiran jangan aneh mulu! Mereka temen gue! Adek gue aja kenal dekat masa lo kagak? Ikut dengerin pengajian, yuk!" ajar Sandi.   Temannya mendelik. "Nggak nyangka lo anak yang soleh! Luar biasa, Mas Sandi! Kenapa nggak jadi guru ngaji aja?"   Sandi pura-pura tertawa. "Nggak lucu! Buruan, ah!" menepuk punggung temannya dan mendorongnya paksa mengikuti pengajian.   Naina mendengarkan dengan baik tanpa merasa ngantuk. Padahal Nurmala sudah bersandar di pundaknya numpang tidur. Pukul sebelas malam pengajiannya selesai. Naina ikut Sandi di bengkel yang terang benderang karena lampu. Sedangkan Nurmala memilih pulang. Hanya ada satu motor yang memerlukan jasa servis Sandi. Selebihnya mereka punya waktu istirahat sangat panjang.   Naina mendesah karena hanya duduk dan main handphone. Sandi tidak mau diajak bicara saat mengotak-atik motor. Sebenarnya Naina hanya izin untuk pergi ke pengajian, tidak untuk menemani Sandi bergadang.   'Apa ayah sama ibu nanyain, ya? Nyatanya nggak kirim pesan, tuh! Palingan juga udah tidur,' batin Naina.   Menunduk dengan bibir cemberut. Handphone tidak bisa menarik perhatiannya. Naina berdecak mengundang Sandi untuk menatapnya.   "Lo kenapa, sih?" heran Sandi.   Naina hanya melirik. "Sunyi! Lo nggak asik, sih!" melengos menyangga kepalanya dengan tangan.  Sandi membenahi duduknya. "Eh, sini! Gue punya sesuatu buat lo!" mengkode dengan tangan agar Naina duduk di sampingnya.   Naina berdecak, tetapi menurut. Sandi diam-diam memenuhi tangannya dengan oli dan menyembunyikannya dari Naina.   "Sesuatu apa?kalau bagus gue terima!" ujar Naina malas setelah duduk.   "Ini bagus banget! Kualitas nomor satu!" kata Sandi sungguh-sungguh.   Naina memicingkan matanya. "Ada yang aneh, nih!"   Sandi segera mengoleskan tangannya ke wajah Naina sampai merasa. "Hiyaaa, hahaha! Bedak oli dijamin kinclong sepanjang masa, hahaha!" tawa Sandi masih meraup wajah Naina.   Naina memekik sampai kesulitan bernapas. Dia memukuli tangan Sandi sampai akhirnya Sandi puas dan menarik tangannya.   "Aarrghh, lo reseeeeee! Huaaa, muka gueee!!!" teriak Naina sambil mengusap wajahnya.   Sandi tergelak sampai mendongak. "Hahaha, cemong parah! Lebih cantik begitu lo, haha! Aduh, sampai sakit perut gue ketawa!" Sandi memukul perutnya pelan.  "Kejam lo, San! Kalau muka gue jadi rusak, muka lo bakal gue bikin cacat!" pekik Naina mengoleskan sedikit oli di tangannya ke wajah Sandi. Namun, Sandi melengos membuat Naina geram tidak bisa mengenai wajah Sandi.   "Wekk, nggak kena, haha!" ejek Sandi menjulurkan lidah.   Naina mencak-mencak. "Sialan lo! Gue nangis, nih!" ancam Naina tidak tahan bau oli di wajahnya.   "Naina!" seru seseorang agak jauh dari bengkel.   Seketika Sandi berhenti tertawa membiarkan Naina membalas puas mengoleskan oli di wajahnya sambil mengomel.   "Naina!" teriakan itu terdengar lagi sudah agak dekat. Sandi risih tidak bisa mendengar dengan jelas karena omelan Naina.  "Ck, diem deh, Na! Lo nggak denger ada yang manggil nama lo?" Sandi menepiskan tangan Naina. Sekarang wajahnya juga penuh oli.  Naina tersenyum puas. "Kagak! Haha, lo lebih jelek dari gue!" menunjuk wajah Sandi.  "Gue serius! Tadi ada yang manggil nama lo dua kali," Sandi menjadi berbisik sambil menatap jalan raya.   Naina terdiam. "Yang bener? Jangan main-main, ini tengah malem!" ikut menatap jalanan ngeri.   Melihat Sandi yang serius menantikan suara itu lagi, Naina menjadi merinding. "Ih, jangan gitu muka lo! Nggak ada yang manggil gue!" kilah Naina.   "Naina!"   Sandi dan Naina terjingkat, teriakan itu kembali terdengar dan sedikit keras. Naina panik, Sandi menepuk lengan Naina. "Tuh, 'kan bener! Tapi kayak kenal suaranya. Siapa malam-malam begini nyariin lo? Di lingkungan gue lagi!" gumam Sandi.   "Ha? San, jangan-jangan itu bukan orang! San, gue ngeri!" Naina mepet-mepet ke Sandi.   Sandi mendelik. "Sembarangan nuduh! Lihat sana! Jangan deket-deket gue!" suruh Sandi mengkode pakai lirikan mata.  Naina menatap jalan raya takut. "Aduh, lo aja jangan gue!" pinta Naina memelas.  "Yang dipanggil elo bukan gue! Buruan sana! Kalau nggak ada orang berarti beneran itu hantu!" Sandi meringis takut.  Naina memukul pundak Sandi pelan. "Nakutin gue mulu! Sana lihatin, Sandi! Lo, 'kan cowok!" mendorong Sandi sampai Sandi hampir terjungkal.   "Nggak mau, Na! Lo lihat, gue lari kalau itu bukan orang!" Sandi berganti mendorong Naina.  "Cemen banget, sih! Suaranya udah ngga ada, San. Udah pergi kali!" kata Naina celingukan.   Sandi juga bingung. Mereka memasang telinga baik-baik. Namun, ada yang menepuk pundak Naina dari belakang. Seketika Naina mengejang kaku.   'Siapa itu? Jangan ganggu gue!' batin Naina takut.  Perlahan menoleh kemudian terbelalak. Orang itu juga terbelalak   "Aaaaaa!" teriak mereka bersamaan.   Sandi kaget, dia ikut menoleh dan juga berteriak. Ketiga orang itu panik sampai Sandi menghentikan teriakannya.   "Udah! Nggak usah bikin orang-orang bangun! Arya, lo ngapain di sini?!" pekik Sandi tidak terima sambil mengatur napasnya yang terengah.   Naina berhenti teriak begitu juga dengan Arya. "Arya? Jadi elo hantunya?!" pekik Naina.  Arya menunjuk wajah Naina dan Sandi. "Lo yang hantu! Hantu jelek! Untung yang lihat gue, kalau orang lain pasti udah pingsan!" balas Arya.   Naina dan Sandi kompak mengusap wajahnya yang penuh oli. "Oh, ini gara-gara Sandi! Eh, lo tunggu bentar jangan kemana-mana! Gue mau cuci muka dulu! Lagian ngapain sih datang ke sini? Ngagetin aja!" kesal Naina beranjak pergi ke rumah Sandi.   "Na, jangan ngotorin kamar mandi gue!" teriak Sandi saat Naina sudah masuk ke rumahnya.   Kini tinggal Arya dan Sandi di bengkel. Mereka saling pandang dengan tatapan aneh.  "Apa? Gue colok juga mata lo!" ancam Sandi membuat Arya melotot.   Naina menghabiskan sabun milik Sandi sampai tak tersisa. Meskipun begitu bau oli masih tercium di wajah dan tangannya. Dia keluar dengan tergesa-gesa menemui Arya yang duduk diam di kursi bengkel sambil main handphone. Naina tau Arya diam-diam memotret Sandi yang mengotak-atik motor lagi dengan muka cemongnya.   "Hih, keterlaluan banget, sih! Pasti bakal dia sebar fotonya!" geram Naina melangkah lebih cepat.   Merebut handphone Arya dan menghapus semua foto Sandi. Sontak Arya berdiri dan mencoba merebut handphone-nya.   "Naina, balikin! Jangan dihapus semuanya! Ck, lo nggak asik, ah!" Arya tidak berhasil merebut handphone-nya karena Naina terus menghindar dan berputar-putar.   Sandi menoleh. "Na, gue ke dalam dulu cuci muka. Lo jangan pulang!" kata Sandi dengan bunyi peralatan yang dia jatuhkan.   "Iya-iya!" kata Naina masih fokus menghapus foto.   Sandi hanya menggeleng melihat tingkah Naina dan Arya.   "Ck, rese banget, sih?!" kesal Arya kembali duduk dan melipat tangannya.   Naina berdecak pelan. "Astaghfirullah, Arya lo tega banget jadi orang. Segini banyaknya foto Sandi mau buat apa? Mau lo panjang di mading kampus?" tanya Naina menghapus fotonya Sandi yang terakhir.   "Main-main doang kali!" Arya melengos.   Naina tersentak saat layar handphone menunjukkan foto yang muncul setelahnya. Dia terdiam membuat Arya meneleng heran.   "Lo kenapa? Handphone gue bagus ya sampai lihatnya gitu amat?" tanya Arya.   Naina tetap terpaku. Bahkan tidak mengerjap dan bergerak sedikitpun. Arya bingung, kemudian menghampiri tepat di belakang Naina.   "Lo lihat apa, sih?" heran Arya ikut menatap handphone.   Seketika dia juga terpaku. Foto ijab kabul terpampang jelas di depan mata. Wajah mereka menyiratkan perasaan yang sulit diartikan. Tidak ada foto pernikahan lain yang mereka ambil. Naina tidak tahu bagaimana Arya mendapatkan foto itu. Deru napas Arya terasa sangat pelan menerpa leher Naina. Lalu, Naina menggeleng.   "Gue nggak punya foto ini," lirihnya membuat Arya menoleh.   Naina menggeleng lebih kuat sadar dan membalas tatapan Arya. "Lo dapat fotonya dari mana?" tanya Naina menunjukkan handphone.   Arya memutar bola matanya bingung, "Eee, nggak tau. Tiba-tiba ada di handphone gue." merebut handphone-nya kembali dan memasukannya ke dalam saku dengan cepat.   Naina memicing. "Mana ada modelan begitu? Ngaku!" tuntut Naina.   Arya sedikit menjauhkan dirinya dari Naina. "Gue nggak tau, Naina! Waktu itu nggak bawa handphone!" jelas Arya.   Naina mengangguk-angguk. "Bener juga. Terus handphone lo kemana? Dibawa siapa? Pasti ada yang ngefoto, 'kan?"   Arya mengingat. "Di bawa siapa, ya? Keluarga gue kali! Sepupu atau yang lain gitu," kata Arya menggeleng polos.  Naina mendesah dan pergi duduk. Sangat lemas tidak ada tenaga. "Kirimin, dong! Gue juga pengen nyimpen," gumam Naina mengeluarkan handphone-nya.   "Ha? Kirain lo marah mau hapus, malah minta. Kenapa?" berganti Arya yang memicing.   "Nggak usah banyak tanya, buruan kirim!" malas Naina.  "Aneh banget, sih, lo!" gerutu Arya mengirim foto pernikahannya.   Mendapatkan foto itu Naina mengukir senyum tipis. Arya duduk di depannya memandang Naina dengan dahi berkerut. "Gue nggak ngerti jalan pikiran lo. Kenapa mau fotonya padahal lo nggak terima pernikahannya?" tanya Arya.   Sunyinya malam kembali lagi. Tidak ada kendaraan sama sekali yang melintas. Udara malam juga cukup dingin, tetapi Naina tidak mengantuk karena terkena air tadi. Kedatangan Arya serta foto ijab kabul itu mempengaruhi Naina.   "Siapa bilang nggak terima? Kalau gue nggak terima nggak bakalan jadi nikah sama lo! Gue cuma nggak mau aja," jawab Naina masih memandangi fotonya bersama Arya.  "Itu sama aja!" desah Arya mengusap wajahnya yang dingin.   "Terserah! Arya, gue masih penasaran sama orang yang ngasih tau Lily kabar kematian paman. Apa dia orang yang sama yang ngambil foto ini?" tanya Naina menunjukkan handphone-nya.  Arya menggeleng. "Nggak mungkin kayaknya. Handphone gue nggak bisa dibuka sembarang orang. Ada kata sandinya," jawab Arya.  "Bukan, ya? Terus siapa?" tanya Naina. Arya hanya mengendikkan bahu. "Ck, lupain! Sekarang gue tanya, ngapain lo nyari gue? Yang manggil nama gue dari kejauhan itu elo, 'kan?" lanjut Naina.  Arya merenggangkan tangannya membuat Naina sedikit mundur merasa aneh. "Apalagi? Disuruh Paman sama Bibi buat nyeret lo pulang. Katanya ikut pengajian di sekitar sini. Hampir tengah malam belum balik, mereka jadi khawatir," jawab Arya santai.   "Pantesan nggak nanyain kabar, ternyata ngirim elo! Gue nggak mau balik! Mau nginep di sini ikut Sandi bergadang," Naina melengos.   "Woy, lo ngeselin, ya! Sabun gue sampek habis lo pakek! Untung aja gue punya cadangan. Gila lo! Besok beliin yang baru!" Sandi datang langsung sewot membuat Naina dan Arya menatapnya.   "Ogah! Itu salah lo sendiri jahil!" jawab Naina menjulurkan lidahnya.   Sandi ingin mencakar-cakar wajah Naina. "Pulang aja sana! Gue nggak bergadang malam ini. Cuma satu motor itu juga udah beres. Jam berapa sekarang?" Sandi mencari-cari jam tangannya yang tidak ada.  "Kok gitu?!" pekik Naina sambil berdiri.   "Lo ngebet banget nginep di rumah gue. Emang kenapa? Mau selingkuhin Arya, ya?" goda Sandi melirik Arya.   Seketika Naina menganga dan Arya melengos. "Apaan, sih lo! Padahal gue mau ngobrol banyak sama lo! Bosen di rumah tiap hari ketemu dia mulu! Giliran malam ini nggak pulang malah dia nongol!" menunjuk Arya.   "Jaga mulut lo! Gue nggak mau kesini kalau bukan permintaan Paman sama Bibi!" desis Arya menepiskan tangan Naina.   Naina menoleh marah. "Nggak bisa nolak gitu? Pulang aja sendiri!"   Arya mendekati Naina gemas karena Naina tidak takut, Sandi menjadi melerai mereka. "Eh, jangan berantem di sini! Tenang, Bro. Santai aja, kalem begitu. Na, mendingan lo pulang sekarang terus kita ngobrol lagi besok. Gue buat lo deh khusus besok, gimana?" tawar Sandi.   Naina mencebikkan bibirnya. "Yaudah, iya! Sandi besok harus sama gue terus!" meminta jawaban dengan menaikkan kedua alisnya.   "Waduh, berasa cowok idaman aja gue, haha. Arya cemberut nggak, tuh?" masih menggoda hubungan mereka.   Arya mendesah. "Anggap aja kita nggak nikah, udah! Nggak ada hubungan apa-apa gue sama Naina! Mau lo bawa dia kabur ke lubang semut gue nggak peduli!"   Naina ingin menjawab Arya, tetapi Arya menoyor kepalanya duluan. "Lo apain jaket gue? Besok gue mau yang baru, harus persis nggak ada satu benang pun yang salah! Nggak tau terima kasih banget jadi orang! Udah baik gue pinjemin malah lo buang!" marah Arya.  Naina mengelus dahinya, tersenyum puas dalam hati. "Habisnya ada harum lo. Jadi hangat-hangat gimana gitu," cicit Naina.  "Apa?" tanya Arya dan Sandi kompak. Mereka tidak dengar.  Naina mengerjap. "Hehe, bukan apa-apa! San, gue balik dulu. Makasih udah nemenin meski cuma bentar. Besok bener, ya!" Naina membawa tas kecilnya sambil melambaikan tangan ke Sandi dan menghampiri motornya.   "Hati-hati di jalan! Ar, jagain istri lo!" Sandi masih sempat menggoda.   Arya mengepalkan tangan ingin meninju Sandi sebagai jawaban. Sandi tergelak menyaksikan mereka meramaikan jalan raya yang sepi. Deru motor mereka begitu beriringan. Naina menjalankan motornya sangat pelan. Terpaksa Arya mengikutinya juga sangat pelan. Sampai akhirnya ada warung bakso yang masih buka. Naina penasaran, dia mampir di sana. Arya merutuki dirinya sendiri yang mau mengikuti Naina.   "Bakso mercon?" Naina membaca tulisan di gerobak bakso. "Ar, lo lapar? Makan ini bentar, kayaknya enak!" sambung Naina bertanya pada Arya yang juga menatap gerobak.  "Yakin? Nggak usah aneh-aneh, Na! Makan di rumah aja! Gue ngantuk!" Arya pura-pura menguap.  "Mas, bakso mercon dua yang paling pedes, ya!" teriak Naina pada orang yang duduk di dalam sana.   Seketika orang itu menghampiri gerobaknya dan mengangguk senang.   "Na, kok lo pesan, sih?!" desis Arya.   "Biarin aja! Lo kalau mau pulang, ya, pulang aja! Gue mau makan!" ujar Naina melenggang masuk warung.   Arya mengusap wajahnya pasrah dan ikut masuk. Duduk di samping Naina yang terus memandang tukang bakso meracik pesanannya. "Gue nggak mau berdebat. Gue capek, tapi nggak mungkin ninggalin lo sendirian. Gue numpang tidur!" ucap Arya sangat pelan dan dia bersandar tembok melipat tangan bersiap memejamkan mata.  Naina heran memandangi Arya. "Lo kenapa? Sejak datang kayak nggak semangat? Lo sakit, ya?" refleks mendekati Arya mencoba merasakan hawa panas yang memang keluar dari tubuh Arya.  "Ck, duduk agak jauhan bisa nggak, sih?" mendorong Naina pelan dengan jarinya. Masih menutup mata sampai Naina membuka paksa mata Arya. "Badan lo panas! Jangan-jangan demam?" gumam Naina melongo menatap mata Arya yang dia buka sebelah.   Arya mencekal tangan Naina dan memelintirnya. "Jangan ganggu gue! Makan aja sana!" membuang tangan Naina kasar.   Naina berdecak dan duduk menjauh. "Santai, dong! Gue nanya doang," sebal meskipun agak cemas jika Arya sakit.   'Pasti gara-gara tadi pagi. Dia nggak selemah ini, deh. Kenapa jadi loyo sekarang? Gue aja nggak kenapa-napa,' batin Naina.  Lalu, pesanannya datang. Satu porsi yang lain seharusnya menjadi milik Arya, tetapi Arya menenangkan diri. Naina memilih memakan baksonya yang sangat pedas sendirian.   "Huaaaaa, pedes banget! Hah, Hah, air... Mas, minta air!" teriak Naina mengipasi wajahnya.   Arya terlonjak bangun dan tukang bakso membuatkan Naina air es.  "Lo bisa nggak kali ini nggak usah bikin kepala gue pusing! Gue siram juga tuh bakso ke kepala lo!" Arya marah.  "Hah, pedes banget! Ar, cobain, deh! Rasain sensasinya yang uwooowww!" Naina mengipasi wajahnya dengan dua tangan. Minumannya datang dan langsung habis Naina minum dalam sekejap.   Arya menggaruk kepalanya sampai rambutnya berantakan. "Tau, ah! Gue pulang! Nggak kuat ladenin lo!" melangkah pergi dengan wajah yang sangat menahan pusing.   Naina memelankan kipasannya menatap Arya. "Mas, bungkus aja! Cepetan!" Naina menyuruh tukang bakso membungkus pesanannya segera. Dia mengejar Arya sampai depan warung. Arya sudah melaju sangat cepat.   'Dia kenapa, sih? Kalau sakit ngapain mau nyari gue? Cowok aneh!' batin Naina.   Membayar baksonya dan segera pulang. Di perjalanan tidak bertemu dengan Arya. Tandanya Arya sudah pulang dan Naina sedikit takut sendirian. Dia menambah kecepatan laju motornya. Sampai di rumah dia mendapati tatapan tajam kedua orang tuanya. Naina hanya meringis sambil menunjukkan bakso. Ibunya langsung merebut bakso itu dan membukanya. Naina membiarkan ibunya memakan bakso milik Arya dan dia lari ke kamar.   "Nainaaa! Ini bakso atau racun?! Pedas banget! Anak bandel!" teriak ibunya Naina kepedasan.   Naina terkikik di kamar. "Eh, lupa ngomong. Itu bakso mercon super pedes, Bu! Harusnya dimakan Arya bukan Ibu!" teriak Naina menjawab.   Naina tersentak saat sang ayah masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Ekspresinya sangat marah membuat Naina diam seribu bahasa.  "Keterlaluan kamu, Naina! Suamimu sakit pun masih bertengkar?! Pergi ke rumah Arya sekarang juga!" titah ayahnya menggelegar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN