Malam semakin larut. Pasangan baru itu tidak bisa memejamkan mata. Dinginnya lantai membuat mereka betah berbicara tentang banyak hal. Segalanya, sampai keram melanda kaki dan mereka pindah ke ranjang. Untuk malam ini tidak ada pertengkaran konyol yang berakhir saling menyiksa. Hanya perasaan kalut yang cukup menguras semua emosi.
Naina sudah sering masuk kamar Arya untuk merusak semua barang-barang Arya, tapi kali ini dia tidak bisa berbuat apapun. Bahkan sangat ragu untuk duduk di ranjang paling pinggir. Mereka melihat buku nikah yang tertera nama mereka.
'Arya Eka Lesmana. Mimpi apa gue jadi istri dia? Pengen gue sobek, tapi kasihan,' batin Naina.
'Naina Farada Arvy? Yang bener aja, gue nikahin dia? Bisa gila hidup gue habis ini,' batin Arya.
Mereka saling pandang. Kemudian, acuh kembali dan melempar buku nikah itu ke tengah ranjang.
"Ehm, lo makan sana! Bibi kasihan sama lo! Ntar lo sekarat gue nggak tanggung jawab, ya!" ujar Naina melirik Arya.
"Kenapa buku nikahnya lo lempar? Nggak suka sama gue?" tanya Arya cuek.
"Idih! Disuruh makan malah nanya! Lo juga lempar bukunya gitu, kok!" jawab Naina menatap tembok.
Terdengar dengusan panjang dari Arya. Naina melepaskan ototnya yang tegang. Tiba-tiba ada pergerakan di ranjang. Ternyata Arya tengah berbaring sambil melipat tangan sebagai bantalan. Naina menatapnya heran. "Lo masih sedih?" tanya Naina.
Arya menggeleng. "Gue pengen ngomong sesuatu, tapi bingung mulai dari mana," kata Arya sambil memandang langit-langit kamar.
"Dari tadi juga udah ngoceh. Sekarang bingung? Gue jadi bingung!" Naina menggaruk kepalanya.
Arya diam membuat Naina terus menatapnya. Hingga satu menit Arya tetap bungkam. Naina gemas, dia ikut berbaring.
Arya menoleh kaget. "Eh, atas izin siapa lo tiduran di ranjang gue? Tidur di lantai!" titah Arya.
"Kasur lo empuk banget! Perlu di buang terus ganti tikar. Buat lo ini keenakkan!" Naina mengambil bantal Arya dan memeluknya. Seketika Arya merebut bantal miliknya. "Jangan sentuh bantal gue! Lo nggak berhak!"
"Iya, 'kan banyak iler lo! Jijik!" balas Naina.
Arya mendesah panjang lagi. Naina berdecak menjadi acuh. Sebenarnya dia masih kasihan karena jelas di mata Arya jika Arya masih sedih atas meninggalnya sang ayah.
"Na?" panggil Arya masih menatap langit-langit kamar.
"Hmm?" jawab Naina sambil melipat tangan di perut.
"Terlepas soal ayah. Kita, 'kan udah nikah, nih! Lo... Nyesel nggak?" tanya Arya dengan suara pelan.
Naina langsung menoleh. "Lo mau jawaban jujur?" Arya mengangguk. Jika sudah seperti itu tandanya Arya serius. Dia sedang bertengkar dengan pikirannya. "Nggak nyesel, sih. Cuma gue kecewa aja. Gimana bisa gue nikah sama lo sedangkan gue harusnya punya kehidupan sendiri. Apa lo juga sama?" jawab Naina.
"Sama! Apa lo sedih?" tanya Arya lagi.
"Udah pasti!" Naina mengerutkan bibirnya.
"Ngomong-ngomong, ini malam pernikahan kita, 'kan, ya?" Arya terlihat sangat bingung dengan ucapannya sendiri.
Naina mendelik. "Iya, pikun!"
"Kita nggak kayak pasangan lainnya. Lagian juga musuhan. Daripada nggak ngelakuin apa-apa mending perkenalan aja. Anggap aja ini hidup baru yang harus dijalani. Gue nggak mau pisah sama lo karena janji gue sama almarhum ayah. Lo juga udah janji!" terang Arya.
Naina mendengus pasrah. "Ini, nih, yang nggak gue suka. Terikat janji! Mau gimana lagi? Janji harus ditepati!"
"Mulai dari gue, ya! Hai, cewek gila! Kenalin nama gue Arya Eka Lesmana. Umur dua puluh dua tahun. Mahasiswa semester tujuh Fakultas Hukum. Gue orang pinter, paling ganteng, baik dan tidak sombong!" kata Arya sedikit mengukir senyum.
"Ck, itu namanya sombong!" maki Naina. Arya hanya tersenyum miring dan Naina mulai memperkenalkan diri. "Hai juga cowok k*****t! Nama gue Naina Farada Arvy. Umur dua puluh tahun. Mahasiswa semester lima Fakultas Ekonomi. Hal yang paling gue benci itu ketemu orang yang namanya Arya setiap hari. Di rumah, sekolah, sampai kampus pun sama. Rasanya pengen banget buang tuh orang!"
Seketika Arya duduk. Menunjuk Naina tidak terima. "Lo keterlaluan, ya! Gue buang duluan lo! Untung aja gue lagi nggak minat marah sama lo!" kesal Arya.
Naina ikut duduk sambil tertawa. "Hah! Padahal gue berharap lihat lo nangis sekeras-kerasnya. Gue nggak mau ada di sini lagi! Lo makan dulu biar Bibi tenang! Gue mau pulang!" ujar Naina turun dari ranjang.
"Nggak ada istimewanya banget malam pertama pernikahan gue. Pergi sana!" usir Arya kembali berbaring sambil menutupi matanya dengan lengan.
"Woy, selamat menjalani hidup baru! Lebih memuakkan pastinya!" ujar Arya mencegah Naina yang akan keluar.
Naina hanya mendengus dan tetap pergi. Dia keluar secara diam-diam sampai berhasil kembali ke rumahnya juga diam-diam. Segera masuk kamar memejamkan mata berusaha tidur. Ucapan Arya yang terakhir membuat Naina sangat kesal. Namun, Naina juga membenarkannya.
'Iya! Selamat menjalani hidup baru yang lebih memuakkan bagi lo, Aryaaaaaa!' pekik Naina dalam hati sebelum tidur.
~~~
Pagi yang sangat mendung membawa udara dingin, memaksa semua orang untuk murung karena tidak bisa melakukan aktifitas dengan lancar. Berbeda dengan Naina yang tersenyum cerah dan berharap hujan deras mengguyur dirinya di perjalanan. Dia memaksakan diri untuk pergi kuliah. Tidak menghiraukan jika dia baru saja menikah.
Sayangnya hujan tidak turun sampai dia tiba di kampus. Naina menghela pasrah sambil memarkirkan motornya. Belum juga turun dari motor sudah ada pengacau yang menggebrak motornya.
"Eh, berani banget lo!"
Naina mendelik. Dia adalah Lily Gardenia. Satu kelas dengan Naina. Sejak hari pertama kuliah memang menyukai Arya. Naina heran Lily datang dengan marah.
"Apaan, sih? Belum sarapan lo, ya?" Naina cuek.
"Berani banget lo nikah sama Arya! Udah bosan hidup lo?" desis Lily menatap tajam Naina.
Naina terbelalak. 'Gimana Lily bisa tau pernikahan gue?!' pekik Naina dalam hati.
"Mimpi lo, ya? Mana ada ceritanya gue nikah sama Arya! Ogah!" jawab Naina pura-pura kesal.
"Nggak usah alasan, deh! Gue kemarin dapat kabar kalau ayahnya Arya meninggal, terus gue kesana. Taunya... Lihat lo berdua pakek baju pengantin. Terus gue tanya sama orang-orang dan jawaban mereka bikin gue pengen nyekek lo! Munafik tau nggak?! Sok benci sama Arya padahal mau dikawinin juga, eemmpphh!"
Naina segera membekap mulut Lily. "Diam, b**o! Lo kalau nggak tau situasinya mendingan tutup mulut!" desis Naina.
Mereka saling pandang tidak suka. "Kalau emang lo suka sama Arya, jangan beritahu pernikahan ini sama siapapun! Kalau ada yang tau berarti itu dari mulut lo dan gue nggak bakal lepasin lo gitu aja! Ngerti?!" ancam Naina dan melepaskan Lily. Dia mengusap telapak tangannya di lengan baju Lily. "Bekas bibir lo, jijik!" sambung Naina.
Lily menganga. "Jadi bener, 'kan? Tega lo rebut Arya dari gue! Kalau benci ya benci aja, kenapa mau dinikahin? Ingat baik-baik, Naina! Gue bakal tetap rebut Arya bagaimanapun caranya!" ancam Lily sambil menunjuk wajah Naina dan melenggang pergi. Rautnya nampak sedih tidak terima.
Naina mengelus dadanya sabar melihat kepergian Lily. "Kenapa Arya disukai sama cewek kayak dia? Aneh banget!" gumamnya sambil menggeleng.
Jam pertama perkuliahan dimulai. Naina duduk di bangku paling pojok belakang. Dia direcoki Nurmala yang selalu bertanya tentang Lily yang menangis mengaku putus cinta dan juga Naina yang berangkat kuliah di hari pertama pernikahannya. Naina hanya berdecih muak. Dia memilih menyumpal telinganya dengan kertas. Sampai pelajaran pun tidak masuk ke otaknya.
Celingukan mencari Sandi yang tidak hadir. Naina pikir Sandi bekerja lembur lagi di bengkel. Laki-laki itu memang mengemban beban berat sebagai kepala rumah tangga. Dia harus menghidupi dua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Sandi harus bekerja lebih keras. Dia bahkan tidak terlalu fokus dalam kuliah.
"Nur, jangan berisik, deh! Si Sandi kenapa nggak masuk?" tanya Naina memandang Nurmala penuh tanya.
Seketika Nurmala berhenti mengoceh. Dia juga ikut menatap seisi kelas. "Eh, si Sandi kemana? Gue baru tau dia nggak masuk," ucap Nurmala.
"Apa dia tidur lagi, ya, di rumah? Habis ini gue mau jenguk dia, ah!" putus Naina senang.
"Gue ikut!" Nurmala antusias.
Naina mengangguk dan kembali fokus pada pelajaran. Sedikit bisa mencerna ilmu yang diberikan karena Nurmala tidak bertanya-tanya lagi. Setelah selesai kuliah Naina pergi ke rumah Sandi yang tidak jauh dari kampus bersama Nurmala. Ada banyak laki-laki di bengkel milik Sandi yang terhubung dengan rumah Sandi. Naina menjadi ragu untuk masuk.
Dia menelepon Sandi, tetapi handphone-nya tidak aktif. Saat Naina putar balik, salah satu dari mereka menegurnya. Terpaksa Naina memasang senyum ramah.
"Ada apa, Mbak? Motornya mogok, ya?" tanya orang itu.
"Enggak kok, Mas! Kami mau ketemu Sandi. Dia di rumah, 'kan?" tanya Naina.
Mereka tersenyum penuh arti. "Pacarnya Sandi, ya? Kayaknya Sandi istirahat di dalam. Masuk aja!" ujar orang itu menunjuk rumah Sandi di belakang bengkel.
Naina menggeleng. "Bukan, kami bukan pacarnya! Cuma teman sekampus! Eee, permisi, ya!" jawab Naina cepat, lalu menarik tangan Nurmala untuk segera masuk. Mereka terus dipandang para laki-laki itu dengan maksud tersendiri.
"Ih, Na! Mereka teman-temannya Sandi? Sembarangan aja ngatain kita pacarnya. Gue merinding lihat mereka," gumam Nurmala mengapit lengan Naina setelah mengetuk pintu.
"Ck, namanya juga orang-orang bengkel! Tenang aja, mereka pasti baik, kok!" ujar Naina sambil mengetuk pintu lagi.
"Darimana lo tau?" Nurmala memicing.
"Mereka temannya Sandi, pasti baik, lah!" jawab Naina.
Kemudian pintu terbuka menampilkan dua anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun. Naina tersenyum menyambutnya.
"Eh, ada Kak Naina sama Kak Nurmala. Nyari Kak Sandi, ya? Orangnya lagi tidur!" ujar salah satu dari mereka.
Naina terkekeh. "Kalau gitu Kakak tunggu sampai dia bangun. Kami boleh masuk?" tanya Naina ramah. Mereka mengangguk mempersilahkan Naina dan Nurmala masuk. Rumah sederhana yang beberapa kali mereka datangi masih terlihat sama. Harum maskulin laki-laki menyeruak kuat. Tidak ada perempuan yang pernah menginjakkan kaki di rumah Sandi kecuali Naina dan Nurmala. Sedikit berantakan karena Sandi tidak bisa membersihkan rumah serapi perempuan. Bau oli dan peralatan bengkel menjadi pengharum ruangan. Naina dan Nurmala menunggu di ruang tamu.
"Kalian nggak main?" tanya Naina. Mereka menggeleng. "Loh, kenapa?" tanya Naina lagi.
"Soalnya Kak Sandi lagi tidur. Dia bergadang kerjaannya banyak banget! Kita kasihan aja. Masa kak Sandi capek kita malah main?" jawab salah satu adiknya Sandi.
Naina tersenyum hangat. "Kalian baik banget! Kalau mau main, main aja! Kan ada aku sama Nurmala! Kita bakal di sini sampai Sandi bangun. Gimana?" Mereka mengangguk semangat membuat Naina tertawa. "Eh, kalian udah makan belum?" lanjut Naina.
"Belum, Kak! Sejak pagi kak Sandi nggak ngasih uang. Dia langsung tidur gitu aja! Matanya sampai merah!" jawabnya sambil membelalakkan matanya.
Naina mendelik. "Belum sarapan juga, dong? Gimana kalau kita makan bareng aja? Kebetulan Kakak juga belum makan, hehe! Kalian beli makanan, ya! Ini uangnya, beli terserah kalian, nanti buat kita semua!" menyerahkan uang seratus ribu pada dua adiknya Sandi.
Mereka menerima uang itu sambil menatap Naina ragu. "Ini beneran, Kak? Buat Kak Sandi juga?"
"Iya, beneran! Udah sana beli!" Naina mengibaskan tangannya dengan senyuman.
Mereka tersenyum lebar dan pergi membeli makanan. Naina sangat senang melihat anak-anak itu.
Nurmala menyenggol lengan Naina. "Cie, baiknya teman gue!" goda Nurmala.
"Haha, lo lihat mereka! Tegar banget jadi anak-anak! Lebih tegar lagi si Sandi. Gue nggak tega lihat mereka lapar sejak pagi. Ngomong-ngomong, bener, 'kan kalau Sandi tidur! Hah, dia nganggap kuliah cuma mainan!" ujar Naina.
"Jangan-jangan dia sakit?!" pekik Nurmala dengan mata terbelalak.
"Ha? Nggak mungkin, lah! Kalau dia sakit pasti ngabarin kita minta tolong. Kayak nggak kenal dia aja lo!" Naina menggeleng.
"Bener juga! Ini udah siang masih aja tidur! Ck, mendingan gue main game!" Nurmala mengambil handphone-nya da membuka aplikasi game.
Naina memilih melihat-lihat rumah Sandi. Masih ada banyak debu yang tidak dibersihkan dengan baik. Naina mengira adik-adik Sandi yang membersihkan rumah. Senyumnya kembali mengembang mengingat dua anak itu. Tidak kembar, tetapi sedikit mirip. Naina mengambil satu dan mulai membersihkan rumah.
"Lo rajin banget, sih! Nggak sekalian ntar di pel!" goda Nurmala yang fokus pada game.
"Sewot lo!" balas Naina dengan candaan sambil tetap menyapu.
Rasanya hilang beban kemarin setelah mendapat suasana baru di rumah Sandi. Naina lupa sebentar jika Arya adalah suaminya. Saat ini Arya sedang diganggu ibunya dan juga orang tua Naina untuk menjalin rumah tangga yang baik dengan Naina. Sayangnya, Arya memilih pergi entah kemana karena merasa pusing. Dia hanya berputar-putar di kota Surabaya. Sampai akhirnya berhenti di kampus. Hanya diam memandang gedung fakultasnya.
Tidak lama kemudian dua adiknya Sandi datang dengan begitu ceria sambil menenteng nasi bungkus.
"Kak, makanannya udah dapat, nih!"
Mereka sangat antusias sampai berbicara agak keras. Membuat Sandi terjingkat bangun. Di kamarnya dia bingung, panik melihat jam dinding, jam digital di handphone, jam tangan yang semuanya menunjukkan pukul dua siang.
"Astaghfirullah! Gue ketiduran lagi!" gumamnya langsung keluar kamar mencari adik-adiknya.
Dia terkejut sampai ternganga melihat Naina dan Nurmala duduk di kursi ruang tamu sambil membawa semua bungkus makanan. Sandi mengerjap bodoh. Sarungnya terkalung di leher. Masih memakai kaos dan celana pendek kemarin malam. Rambut acak-acakan.
"Eh, eh, eh, ngapain lo berdua ada di sini? Numpang makan lo, ya?" Sandi menunjuk Naina dan Nurmala tidak santai.
Sontak mereka menoleh. "Hmm, baru bangun dari pulau mimpi begini, nih! Mau makan kagak? Kalau mau buruan mandi sebelum ini habis!" kata Naina.
Sandi masih melongo tidak percaya. Dia mengusap wajahnya bingung. Melihat dua adiknya yang makan dengan lahapnya sambil tersenyum. Dia langsung ingat kalau lupa memberi uang makan. Sandi menepuk dahinya keras sampai dua adiknya kaget. Kemudian, dia nyengir dan membenahi rambutnya.
"Hehe, kalian emang terbaik, deh! Gue...," ucapan Sandi terpotong oleh Naina. "Ntar aja ngomongnya. Lo mandi sana! Muka lo jelek banget!" ujar Naina cuek. Tangannya mengusir Sandi.
"Ck, iya-iya! Bawel! Sisain buat gue, ya!" pinta Sandi.
"Lo bagian bungkusnya!" jawab Nurmala yang asik makan.
"Hahaha, gue ketawa! Jangan dihabisin loh!" masih mengancam sembari melenggang pergi untuk mandi.
Naina dan Nurmala tertawa ringan. "Sandi benar-benar mirip orang habis ngeronda. Sarung pakek lecek di leher lagi!" kata Nurmala sambil mengunyah.
"Tapi dia tetep ganteng ala Sandi, haha!" ujar Naina.
Baru lima menit Sandi sudah bergabung ikut makan dengan penampilan lebih segar. Harum sabunnya sampai membuat Naina terbatuk. Sandi tidak peduli, dia asik makan di samping adik-adiknya.
'Baunya kayak sabun punya Arya yang pernah gue buang! Eh, kenapa jadi ingat cowok k*****t, sih? Biarin aja dia!' batin Naina.
Nurmala terus mengamati Sandi yang makan sangat lahap seakan nasi bungkus itu makanan istimewa. Bibirnya mengukir senyum bahkan matanya tidak berkedip. Hal itu tidak lepas dari pandangan Naina. Dia memandang Nurmala dan Sandi bergantian. Terlintas ide jahil untuk menggoda Nurmala.
Naina berbisik pada Nurmala. "Gimana? Sandi ganteng banget, 'kan kalau habis mandi? Ehm!"
Nurmala sedikit terjingkat membuat Naina terkikik. "Apa sih lo, Na! Rese tau nggak?!" desis Nurmala mendorong Naina agar sedikit menjauh.
"Hahaha, lagian mata nggak kedip sama sekali. Terpesona kali, ya?" goda Naina mencolek dagu Nurmala.
"Ih, jauh-jauh tangan lo! Kagak, ya!" elak Nurmala menepis tangan Naina.
"Kagak salah maksudnya, haha!" tawa Naina agak keras.
Nurmala berdecak menyuruh Naina diam.
"Ngomong apa, sih? Bisik-bisik nggak jelas!" Sandi membuat mereka diam. Namun Naina masih menggoda Nurmala dengan tatapan matanya sampai Nurmala melengos kesal.
Sudah selesai makan dan dua adik Sandi pergi bermain. Sandi menghela napas panjang menatap Naina dan Nurmala, tetapi Nurmala menatap Naina penuh selidik. Sedangkan Naina membuang pandangannya ke seisi rumah.
"Apa lihat-lihat? Gue tau gue cantik! Makasih!" ujar Naina tersenyum sok manis.
Sandi mendelik. "Cantik dilihat dari mananya? Ngomong-ngomong makasih, ya, udah datang. Pakek beliin makanan segala. Jadi enak gue, hehe," cengir Sandi.
"Santai aja! Gue penasaran kalau lo kerja malam. Lain kali gue boleh ikut lo bergadang nggak? Bosen di rumah terus!" pinta Naina.
"Boleh aja! Asal jangan ganggu gue!" Sandi menyandarkan punggungnya di kursi.
"Kalau gue lebih penasaran sama lo! Kenapa lo kuliah di saat suasana rumah lo dan Arya masih agak... Begitulah! Campur aduk! Terus kenapa si Lily bisa nangis sambil ngaku putus cinta? Dia kagak pacaran sama siapapun, tapi ngebet banget sama Arya. Kenapa coba?" Nurmala menunjuk hidung Naina.
Sandi hanya melirik mereka. Naina menyentil telunjuk Nurmala sampai Nurmala menarik kembali tangannya.
"Gue nggak peduli! Entah sama Arya apalagi Lily! Lo tanya itu mulu dari tadi. Risih gue!" Naina mencebikkan bibirnya.
"Habisnya gue penasaran!" Nurmala mendesak.
Naina mendesah pasrah. "Lily tadi pagi nyamperin gue di parkiran. Dia tau kalau gue nikah sama Arya," jawab Naina pelan.
"Apa?!" Nurmala dan Sandi kompak terkejut.
"Iya! Awalnya dia datang karena dengar kabar ayahnya Arya meninggal, terus lihat gue sama Arya pakai pakaian pengantin seharian. Akhirnya tau deh," Naina mengurut keningnya.
Sandi dan Nurmala saling pandang. "Terus gimana? Kalau Lily nyebarin beritanya gimana?" tanya Nurmala.
"Kayaknya nggak bakalan. Gue ancam dia bakal beri perhitungan besar kalau dia ngasih tau semua orang. Dia malah ngancam kalau mau rebut Arya gimanapun caranya. Ya, gue masa bodoh!" Naina mengendikkan bahu.
"Lo gimana, sih? Suami mau direbut malah biasa aja," kata Sandi.
"Kagak usah lo sebut cowok k*****t itu suami gue! Gue pites lo!" Naina sewot pada Sandi.
"Idih, cuma nasehatin kali!" Sandi kembali menyandarkan dirinya ke kursi.
"Emm, kalau Lily tau berita kematian ayahnya Arya, berarti teman-teman Arya juga tau, dong? Gimana kalau mereka juga tau lo nikah sama Arya?" ujar Nurmala dengan mata melebar.
Naina ikut terbelalak. "Bener juga! Waduh, kalau begini bisa gawat! Gue harus tanya Arya?"
"Tanyain aja! Buat lo sama dia juga, 'kan?" saran Nurmala.
Naina menelepon Arya, tetapi tidak ada jawaban. Mengirim pesan juga tidak di balas. Sampai satu jam Naina menunggu masih tidak ada kabar dari Arya.