33. Perkara Luka

2689 Kata

Arya bertelanjang d**a. Walau di ruangan tertutup udara dingin masih bisa masuk. Naina tidak ingin mengeluarkan air matanya. Hanya menggenang di kelopak mata. Dia membalut setiap luka yang seperti bekas pukulan. Sudah lama dia tidak melihat Arya berantem apalagi dengan luka parah. Punggung, perut, sampai ke pundak semuanya terluka. Naina memukul punggung Arya yang baru diolesi obat. Arya mendesis kesakitan sampai badannya melengkung. "Berantem dimana lo?" Suara serak Naina menarik perhatian Arya. Dia merasa canggung kembali menatap ke depan. Meneguk ludahnya saat ingin menjawab. "Kan, gue udah bilang ini karena ayah lo," jawab Arya berusaha biasa saja. Nyatanya tidak seperti itu. Naina bisa menangkap kecanggungan Arya. Bibirnya mengerucut sembari tangan membuka perban dan mulai menutu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN