Maafkanku, Suamiku

1804 Kata
           Zakaria mendapat penumpang istimewa pada hari itu. Dalam perjalanan mengantar sang penumpang ke tujuan, terjadi percakapan panjang yang bisa jadi akan mengubah pandangannya selama ini tentang menjaga kehangatan sebuah pernikahan.            Awalnya, antara dirinya dan penumpang itu sebetulnya nyaris tak ada percakapan berarti. Hanya ucapan beberapa patah kata yang jamak terjadi antara pengemudi online dan penumpangnya. Guntur, nama penumpang itu, seorang yang diperkirakan berumur 50an tahun duduk di kursi depan. Percakapan menarik dipicu ketika di sebuah persimpangan mobil menikung sangat tajam yang membuat kantong kresek berisi viagra, dan obat herbal yang kemarin dibeli dari Fadhil terjatuh dari dashboard ke sepatu Guntur. Orang itu spontan mengambil dan bermaksud mengembalikan ke tempat semula. Tapi plastik yang tersobek membuat benda-benda tadi terihat olehnya. Syukurlah bahwa dildo tak lagi di sana karena sempat ia gunakan tadi saat b******a dengan isterinya walau kemudian berakhir dengan kegagalan. Zakaria merasa malu atas kejadian itu, sebaliknya Guntur tersenyum. “Wah, pake obat kuat juga pak?” “Begitulah.” Diam. Tak ada percakapan lagi. Tapi Zakaria kemudian merasa perlu untuk sedikit curhat. “Abisnya, dengan pake begitu aja belum tentu tuntas juga.” “Oh, bapak udah coba?” “Tadi pagi. Hasilnya yah gitu-gitu aja.” Guntur membuang pandangan ke luar mobil. “Maaf, seribu maaf, yang bermasalah bapak atau ibu? “Cuma aku.” “O.” Itu saja komentarnya. Suasana sepi lagi sampai kemudian Guntur menyambung sambil diawali ketawa kecil. “Berarti kita senasib. Apa yang bapak alami pernah aku alami juga.” Alis Zakaria menaik. “Pernah? Bapak punya masalah juga?” “Duluuu. Edi Tansil pak, ejakulasi dini tanpa hasil. Hehe.” “Berarti sekarang udah sembuh?” “Alhamdulillah, iya udah sembuh.” “Taunya sembuh?” “Sekarang kami berdua udah kayak waktu pacaran. Seminggu ML rata-rata dua kali lah.” Zakaria mendapat pencerahan yang memberi semangat. “Wuih. Terus, satu kali ML bisa berapa lama?” “Rata-rata 1 jam non-stop.” Zakaria matanya berbinar. “Boleh nih bagi info.” “Aku pake obat dan alat yang sama seperti bapak beli itu. Pil biru, viagra, jamu.” “Wah, berarti aku juga bisa sembuh dong.” “Sangat bisa. Namanya juga ikhtiar. Tapi, selain itu, aku pake teknik lain.” “Teknik b******a? Itu kan bisa diliat di situs dewasa.” “Hmmm, nggak sepenuhnya begitu. Lebih cenderung disebut teknik menerima apa adanya.” “Ha? Nggak pernah denger.” “Pada intinya sih begini. Kalo kita gak bisa ngalahin musuh kita, ya kita berdamai aja sama dia.” “Menarik juga nih. Boleh diuraikan lebih jauh?” “Aku punya isteri cantik, muda, b*******h. Dia juga punya karier cemerlang. Sayangnya, karier itu terancam hancur gara-gara punya suami seperti aku yang gak berfungsi dalam memenuhi kebutuhan biologisnya,” Guntur bercerita. “Edi Tansil atau frigiditas pantas ditakuti pak. Itu bukan perkara kecil.” Pengalaman itu terasa mirip dengan apa yang Zakaria alami, ia lantas menyimak lebih dalam. Zakaria kini menurunkan kecepatan rata-rata demi untuk melambatkan waktu tempuh agar mendapat banyak informasi lebih lanjut yang menurutnya luar biasa dan teramat sangat penting. “Jadi, solusinya gimana?” “Sebelum aku jawab, aku mau tanya dulu ke pak….siapa namanya?” “Aku? Zakaria Santoso. Panggilnya Zakaria aja.” “Bukan zakar?” Canda itu membuat keduanya tertawa lepas. “Aku Guntur.” “Tau lah pak. Kan kecantum di aplikasi waktu bapak ngorder.” “Oh iya. Hahahahaha.” Tawa lepas kedua dari orang itu membuat suasana jadi semakin rileks. Segera saja keduanya sepakat memanggil dengan lu-gue. “Zak, gue mau nanya nih ke lu. Kalo bini lu yang orang kantoran itu cakep, sexy, masih muda, kira-kira ada yang naksir?” “Pastilah, Tur. Banyak malah. Dan gue kira sih bukan hanya di kantor. Di rumah, di area publik, di kendaraan umum, malah bisa juga di tempat ibadah.” “Setuju. Nah, itulah. Gue mikirnya gini. Bini yang bagus kayak gitu dan gak terlayani dengan baik oleh gue sebagai suaminya, punya potensi besar untuk hancurnya sebuah rumah tangga. Kalo lu gak berpikir begitu, itu naif namanya. C’mon, ini zaman internet, keterbukaan dimana-mana. Dengan fisik kayak gitu dia bisa kenalan sama siapa aja. Apalagi dia masih kesambung sama teman-temen lama di SMP dan SMA.” “Berarti potensi selingkuh lebih gede ya, Tur.” “Bener. Dan… lu pikir apakah gue musti nunggu sampe musibah kehancuran rumah tangga terjadi? Anjrit! Gue gak mau. Gue sayang bini gue luar dalem. Jadi gue musti ngelakuin sesuatu sebelum konflik guede itu terjadi.”  “Apa yang lu lakuin?” Diam. “Lu kepingin tau jawabannya?’ “Iya dong.” “Kalo jawabnnya lu gak suka atau diluar ekspektasi lu?” “Gue tetep terima, biar itu bukan berarti gue bakal lakuin.” Guntur terlihat senang dengan jawaban jujur tadi. “Gue suka dengan jawaban lu. Itu dewasa. Gue apresiasi. Gak banyak orang punya pikiran mateng kayak lu.” “Ya, ya, ya. Jadi apa jawabannya? Apa yang lu lakuin sebelum musibah konflik besar terjadi?” “Nah itulah yang gue sebut tadi ‘menerima apa adanya’ kondisi ini.” “Detailnya kayak apa?” Lampu menyala merah. Guntur menghela nafas sesaat. “Gue ijinin.” “Ijinin?” “Gue bebasin dia ngelampiasin hasratnya.” Mulut Zakaria ternganga. Baru sadar ia berhadapan dengan suami paling liberal yang ia pernah kenal. “Lu nggak jealous?” “Gue pernah baca tulisan Dr. Sigler Hirsch, s*x-therapist pencipta trik stimulan otak. Otak manusia bekerja dengan cara diluar ekspektasi. Ia suka menghasilkan apa yang tadinya kita pikir tidak mungkin. Padahal kita memiliki kapasitas melebihi apa yang kita bayangkan. Kita sering membatasi cara kerjanya padahal sebetulnya dia mencari jalan sendiri. Kita berpikir, dalam satu kasus, otak bisa menghasilkan A padahal dia bisa menghasilkan A dan B atau bisa juga C. Ini juga berlaku dalam hubungan suami-isteri. Kita suka berpikir kepuasan s*x itu terjadi jika kita melakukan A atau B. Padahal itu bisa dikreasikan sehingga kepuasan itu variatif. Ada yang A, B, atau A1, B1. Intinya kita terlalu membatasi diri dengan alasan norma, etika ketimuran, nggak enak pada pasangan. Padahal, kita saja yang tidak terbuka terhadap kemungkinan yang ada.” Guntur berhenti sesaat, lalu melanjutkan. “Memang sempat cemburu, tapi itu sesaat. Kenapa harus meributkan soal jealous dan nggaknya kalau itu bisa menjadi sarana langgengnya rumah tangga? Jadi, untuk pertanyaan lu, bukan hanya gue nggak jealous, gue malah bukain jalan. Fasilitasin dia…. Siapapun pasangannya.” *              Baru di hari ke-7 Shirley bertemu Ervan. Shirley sempat ternganga ketika bertemu langsung dengan orang itu. Ia memang sudah sering mendengar betapa tampannya Ervan. Tapi bertemu langsung dengannya memberikan sensasi tersendiri. Ervan itu tampannya berkategori ‘keterlaluan’. Sepertinya tidak ada bagian tubuh yang tidak menarik. Mulai dari ketampanan wajah, posturnya yang tinggi besar, berdada tegap, rambut berombak, kulit tanpa tato, mancung, rambut trendy, Ia bangga bahwa dirinyalah yang dipilih untuk menjadi sekretarisnya. Selaras dengan alisnya, tatapan Ervan pun tajam, dengan gurat senyum yang jarang ada sehingga menimbulkan kesan angkuh.            Mereka berdua langsung sibuk dengan tanggungjawab masing-masing. Shirley merasa chemistry mereka sama walaupun usianya terpaut lumayan jauh. Kemampuan Shirley berbahasa Inggris, keterampilan komputer, pembawaan luwes, dan kerajinannya banyak dipuji Ervan.            Ada satu kabar yang membuat Shirley sumringah. Bahagia. Ervan ternyata tipikal business traveler. Ia suka melakukan perjalanan bisnis. Serangkaian kota sudah ada dalam agendanya. Baik di dalam maupun luar negeri. Shirley kegirangan ketika tahu bahwa namanya ada dalam agenda perjalanan Ervan ke Texas, Amerika Serikat 1-2 minggu depan. Ini membuat hari-hari Shirley di kantor menjadi lebih panjang karena harus bekerja keras menyelesaikan tugas Ervan agar ketika keberangkatannya tidak banyak tugas yang tertunda atau terhenti sama sekali.     *            Siang menjelang sore hari itu Zakaria pulang ke rumah setelah hampir 20 jam berkitar Jabodetabek mencari nafkah. Karena terhalang motor di depan rumah, mobil ia parkir di depan rumah tetangga di samping rumahnya. Sebuah rumah yang karena sempat terbakar sebagian kini terbengkalai karena ditinggal pemiliknya.            Saat mendekati pintu pagar rumah itulah ia melihat sudah ada seseorang di sana. Seorang pemuda yang nampak menengok kesana-kemari ke arah dalam rumah. Posturnya sedikit lebih tinggi dari dirinya.            “Mau nyari siapa?” sapanya.            Suara Zakaria pelan saja sebetulnya tapi rupanya itu bagai suara geledek bagi anak muda itu. Saat melihat siapa yang datang, mukanya pucat seketika. Bibirnya kelu, sulit berbicara apa-apa.            “Cari siapa?” Zakaria mengulang.            Setelah menenangkan diri, ia lalu mulai berbicara. “Cuma mau tanya a-a-pakah ini rumah ibu Nanda?”            “Nggak ada nama itu di sini. Kamu siapa? Mau apa?”            “M-mau antar paket.”            Wajah Zakaria yang mulanya tegang berubah ramah. “O. Dari titipan paket Tiki-Taka ya?”            Pemuda itu mengangguk berkali-kali, sangat mantap. “Iya, iya, iya.”            “Berarti kamu salah antar.”            Lagi-lagi pemuda itu mengangguk. Dengan gugup ia pamit dan buru-buru pergi. Motor yang ada di depan rumah ternyata motor orang itu.   *                 Di hari super sibuk kesekian itulah, Shirley yang ingin sejenak bersantai melepas lelah, dihubungi Bram. Ia mengingatkan tawaran ke karaoke sebelumnya yang sudah ia sampaikan berkali-kali. Dalam hal ini Shirley harus mengakui bahwa Bram memang gigih.            Shirley masih berusaha menolak. “Kan waktu itu udah ke karaoke bareng temen-temen. Masa’ sekarang karaoke lagi?”            Bram mengeluarkan jurus-jurus terhebatnya untuk membujuk. “Kali ini beda lah. Waktu itu tempat karaokenya kurang enak. Nggak usah kuatir soal pulangnya. Semua aman.”            “Gimana ya.”            Melihat Shirley yang tetap bersikukuh menolak, Bram terpaksa mengeluarkan jurus andalannya.            “Kalo gue nggak bantu tempo hari, bisa kebongkar tuh transaksi haram lu.”            Deg. Shirley menepuk kening. Mengapa ia bisa melupakan kebaikan Bram yang sudah menyelamatkannya dari kehancuran? Bram yang sudah mengorbankan waktu sehari semalam demi mencari alasan ketidaknormalan yang terjadi yang kemudian dipercayai CEO mereka, pantas dihargai.            Shirley pun akhirnya mengalah.            Ia pergi ke karaoke.            Menemui Bram dan kawan-kawan.            Menyanyi. Menari. Mabuk.            Sampai kemudian perselingkuhan kedua pun terjadilah. Penyesalan dalam diri Shirley kembali membuncah keluar. Ia tak percaya bahwa dalam waktu seminggu ini sudah dua kali dia mengkhianati suami dengan menyelingkuhi dua orang berbeda. Segitu bodohkah dirinya? Segitu bebalkah dirinya? Segitu pelupakah dia sehingga tak ingat janji untuk mempertahankan biduk rumah tangga? Lalu apakah yang ia harus lakukan ke depannya untuk tidak mengulangi kebodohan yang sama? Jawabnya: ia tidak tahu. Ia juga tidak yakin apakah bisa menghentikan semua kenistaan itu. Bagi Shirley, jika ia mau jujur, ditengah penolakan nurani dan logika, Bram dan Katon adalah pribadi yang menyenangkan dan tak terpisahkan. Ia butuh keduanya. Mereka mampu mengisi kekosongan yang selama ini gagal ia dapatkan dari Zakaria. Mereka berdua saling mengisi. Katon memang sangat tampan jika dibanding Bram yang berwajah biasa. Tapi dalam hal b******a, Bram mengungguli segalanya. Bram adalah pecinta lihai. Tahu kapan harus lembut hati laiknya Romeo, tapi tahu juga kapan ia harus bergerak liar dan menjadi the real mother_fucker. Ah…. Itu yang ia butuhkan di saat-saat menjalani kesepiannya. Dalam gundahnya mata Shirley berkaca-kaca. Ia mendesis nyaris tanpa suara. “Maafkan aku, suamiku.”   *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN