Bram memang sangat ahli dalam bidang akunting. Sehari semalam ia bertekun. Serius menekuni. Dan setelah nyaris non stp mempelajari dalam 24 jam terakhir ia menemukan cara mematahkan kecurigaan Ervan tentang adanya transaksi ilegal. Ya, arguman itu bisa dipatahkan Bram dengan mudah. Menurutnya, itu kejadian wajar dengan mempertimbangkan pertimbangan-pertimbangan bidang tertentu dimana Ervan belum 100% menguasai bidang tersebut. Saat dihubungi oleh Bram, bagi Ervan ini berarti kabar baik karena menunjukkan kondisi keuangan perusahaan ternyata aman. Well, setidaknya aman hingga hari itu.
Bagi Bram itu juga kabar baik. Upaya yang ia lakukan adalah hal besar yang menyelamatkan Shirley. Untuk itu rasanya tidak berlebihan jika ia menuntut upahnya. Ia tak ingin Shirley mendapatkan teguran keras dari perusahaan walau sebetulnya secara jujur ia mengakui bahwa ada kesalahan yang wanita itu lakukan.
*
Bagi Shirley, sudah tak ada yang perlu disembunyikan. Tak perlu lagi berpura-pura dan bermain-main. Semua sudah jelas bahwa ia mendambakan kehadiran seorang pria. Seorang pria sehat dan tak memiliki masalah kesehatan reproduksi seperti yang dialami Zakaria. Dan itu sudah ada. Tersedia di depannya. Seorang mahasiswa tampan yang karena keusilannya, pantas mendapat hadiah dari Shirley. Dan itu dilakukan di pertemuan pertama!
Seperempat jam sejak mereka saling sapa, hadiah itu sudah mulai pria itu dapatkan. Ia dapatkan dan mulai bisa menikmati kesintalan tubuh wanita itu. Ia sama sekali tak menduga akan keberuntungan yang menyertai. Sebuah siulan nakalnya ternyata berlanjut panjang sampai seperti ini. Secara kebetulan yang luar biasa, wanita matang pasangannya ternyata sedang sangat mendamba seorang pria. Ia tak tahu apa yang terjadi dalam diri Shirley selain bahwa ia adalah seorang wanita tanpa anak, suami dari seorang driver online yang jam pergi dan pulangnya tak pasti.
Dan ini jelas bukan akhir.
Dan bagi Shirley, dahaga cintanya mulai tersalurkan. Ia harus menerima kenyataan bahwa ia juga bukan tipikal isteri yang setia. b******a dengan pria yang baru dikenal adalah bukti paling kuatnya. Hanya wanita nakal yang melakukannya dan....itulah dirinya!
Tapi adakah cara lain yang lebih baik jika suami sudah gagal memenuhi kebutuhan biologisnya yang masih menggelegak seperti ini? Pantaskah jika dosa itu hanya ia sendiri yang menanggungnya? Bukankah apa yang ia alami dan lakukan semestinya masih masuk dalam batas yang bisa ditolerir?
*
Mobil Zakaria berjalan sangat pelan menyusuri kepadatan jalan raya. Pedagang asongan, angkot yang berhenti sembarangan, pejalan kaki menyeberang sembarangan. Polisi dan satpol pamongpraja pemalas entah berada di mana. Semua berkontribusi atas kemacetan yang terjadi. Beberapa pengemudi mobil menyatakan kekesalan dengan bermain klakson. Biasanya Zakaria juga sangat tidak sabar menghadapi kondisi itu. Tapi kali ini ia diam. Ia tidak peduli dengan kemacetan yang terjadi. Ada sesuatu yang lebih menarik perhatian.
Di dalam mobil, Zakaria berpikir-pikir mengenai pertemuannya dengan Fadhil. Sekeluarnya dari tempat itu ada dua hal yang ia bawa pulang.
Pertama, obat, jamu dan alat bantu s**s yang mudah-mudahan bisa mengatasi masalah kejantanannya.
Kedua, ini yang paling menarik. Ia tidak mengerti mengapa ia dengan mudah membiarkan orang lain melihati foto dan video privat isterinya? Padahal, bukankah saat itu dibuat – dimana Zakaria menjadi pihak yang mengambil gambar – mereka sudah sepakat bahwa itu bukan untuk konsumsi orang lain? Dan yang lebih gawat, mengapa tak ada rasa cemburu atau marah yang timbul dalam dirinya ketika isterinya di-expose seperti itu? Anehnya, ia malah seperti menikmati.
*
“Katooooon, dimana lu!”
“Anjrit.”
Pria itu dan Shirley kaget. Perselingkuhan harus diakhiri.
“Siapa?”
“Bokap gue,” jawabnya sembari mulai memasang celana boxernya dengan buru-buru. “Gue nanti hubungin tante lagi.”
Saat celana terpasang dan ia sudah melangkah sampai di pintu Kanto teringat sesuatu dan langsung menanyai. “Sori, gue lupa. Mmm… tante siapa tadi namanya?”
Shirley membulatkan mata. Dasar anak muda. Bagaimana mungkin dia lupa nama setelah mereka melakukan hubungan intim?
“Shirley.”
Terdengar nama Katon dipanggil lagi. Secepat kilat ia kemudian keluar kamar, lari ke belakang rumah, memanjat pohon, dan lenyap seketika di balik tembok. Menyisakan sepi dalam rumah yang kembali tercipta.
Shirley tak menduga dengan apa yang barusan terjadi. Walau persetubuhan terakhirnya tidak tuntas, tak apa. Ia cukup puas karena Katon sempat dua kali ejakulasi di dalam dirinya. Beruntung ia baru habis haid sehingga tak perlu khawatir dengan kehamilan.
Berpikir soal kehamilan membuat ia kembali terpikir pada suaminya. Zakaria Santoso adalah pria yang mana ia bersumpah akan ia temani seumur hidupnya. Pria terakhir dalam hidupnya. Pria terbaik. Pria pilihan untuk mereka berdua jalani demi hari-hari pernikahan yang langgeng. Tapi kini situasi berbeda telah terjadi. Biduk pernikahan mereka koyak, mulai terisi air yang segera menenggelamkan. Dan dirinyalah penyebab kebocoran. Penyesalan mendalam datang tiba-tiba. Menyergap nalar, menghabisi sikap puritan yang bertahun ia agungkan. Ini membuat dirinya terasa bodoh, kotor,mudah diperdaya, dan tak pantas disebut isteri.
Shirley bersumpah itu adalah pengalaman pertama dan sekaligus terakhirnya bersama mahasiswa setampan Katon. Enough is enough. Pengkhianatan pada suaminya cukuplah sampai di situ.
Dikejar dengan rasa bersalah dan lelehan air mata akhirnya membuat Shirley keletihan sendiri sampai ia pun jatuh tertidur.
*
Akan halnya Katon sendiri, ia bersyukur karena kembalinya ia ke rumah sekembalinya dari tetangga di belakang rumah, tidak bisa diketahui Pepo. Hanya saja Pepo, panggilan untuk ayahnya, merasa heran kenapa munculnya Katon sama misterius dengan hilangnya. Tapi Pepo tidak mengejar lebih jauh. Ia rupanya memanggil Katon hanya sekedar untuk mengetahui keberadaannya. Itu saja.
Katon kini merasa aman karena tak jadi terciduk. Ia juga merasa puas yang sungguh luar biasa. Pengalaman dengan tante Shirley benar-benar memabukkan. Apakah akan ada pertemuan – dan khususnya ML – yang kedua? Hanya waktu yang akan membuktikan.
*
Sudah magrib. Suasana sekitar rumah gelap dan lampu teras belum dinyalakan. Shirley terbangun. Ia tak segera bangkit dari ranjang. Pikirannya mereka-reka peristiwa yang terjadi hingga menit-menit sebelum ia tertidur kelelahan. Sesaat ia merasa malu dan berharap itu hanya mimpi. Tapi saat melihat kondisi ranjang yang berantakan, pakaian dalamnya yang tak lagi di tempat, dan sisa-sisa pergulatan yang menyisakan bercak semen dan m**i yang mengering di sekitar kewanitaannya, Shirley mengumpat.
Sial. Berarti itu memang bukan mimpi.
Ia bangkit, dan langsung berhadapan dengan kaca lemari yang menampilkan kondisi dirinya saat itu. Pantulan kaca menampilkan satu sosok bertubuh ramping tanpa lemak, kulit glowing putih mulus, b*******a membusung, dan… rambut yang berantakan. Tubuh nudisnya menyisakan s****a dan semen kering yang ternyata ada juga di sana-sini. d**a, paha, perut….
Ia kembali mengumpat. Bayangan itu bercerita jujur betapa ia siang tadi telah menjadi p*****r gratisan yang mau saja digauli untuk mahasiswa yang baru ia kenal!
Ia kemudian meraih ponselnya di atas meja karena layar menampilkan ada missed call. Saat mengecek, ia melihat bahwa Bram sudah lima kali mencoba menelpon. Tanpa berpikir panjang, ia buru-buru menelpon balik.
“Sori gue ketiduran. Capek,” menjadi kalimat pembuka ketika panggilan telpon dijawab Bram.
“Lu cape kenapa?”
Tak mungkin bercerita jujur, Shirley membuat alasan lain yang tentu saja dipercaya begitu saja oleh Bram.
“Gimana kemarin waktu CEO kita dateng ke kantor?”
“Udah aman. Dia akhirnya anggap selisih transaksi itu kejadian anomali tapi normal. Jadi lu aman. Everything is now okay.”
Shirley lega. “Makasih. Tapi jujur, waktu gue denger lu turun tangan, gue yakin urusan pasti selesai. Lu kan jago. Expert.”
Bram terdengar senang dipuji begitu.
“Kapan-kapan kita dinner yuk bareng temen-temen? Lu mulai kerja di kantor pusat kan perlu ada selebrasi juga.”
“Emang harus?”
“Kalo mau diterima kelompok kita, ya harus.”
“Dinner di mana?”
“Singing Along.”
“Bukannya itu tempat karaoke? Lu mau ajak traktir makan atau nyanyi?”
“Dua-duanya. Mau kan?”
Sempat ragu, Shirley akhirnya mengalah karena merasa Bram telah menolong dengan luar biasa. “Boleh.”
Di ujung sana Bram tersenyum. Sama sekali Shirley tak mengira bahwa di saat ia masih meratapi dan merutuki kebodohannya karena berselingkuh, ia sedang membuka jalan untuk perselingkuhan berikutnya.
*