Ya, betul. Lima puluh ribu rupiah. Tak bisa dibayangkan bagaimana mungkin sekretaris dari sebuah grup perusahaan logistik raksasa dengan taraf internasional disamakan tarifnya dengan p***k murahan yang kurang laku dijajakan? Tapi itulah cinta, ia misterius. Tidak, bukan cinta. Tapi nafsu. l**t. Ketika l**t itu berkuasa, tak ada logika yang mampu menahan. Ia menerobos apapun yang jadi penghalang. Semua bentuk logika, etika, akal sehat, nurani, terbabat habis. Terlecehkan.
Di dalam sebuah truk mirip rongsokan, bau rokok, bau apek, berdebu, dan jorok, di situlah Shirley dibawa. No kissing, no foreplay. Tamu bertubuh buncit, bertato, hitam, dengan ganas menggenjot tubuhnya. Di bawah tubuhnya yang kuat, Shirley nyaris tak bisa memberi perlawanan apapun. Ia hanya bisa pasrah ditelan tsunami gejolak s*****t. Suatu dambaan hebat yang selama ini tersimpan rapat di sudut alam bawah sadarnya, terwujud.
Dambaan ketika mengalami persenggamaan yang maksimal. Optimal. Penuh. Yakni ketika pennis besar berukuran raksasa dengan gemas – kalau tak mau dikatakan s***s atau kejam – mengaduk liang keintimannya. Dambaan itu terlampiaskan malam itu. Setelah duapuluhan tahun pernikahan, ia harus mengakui: this_is_f*****g! Itulah persenggamaan yang seharusnya. Bukan sekedar diselip pennis mungil yang keluar-masuk malu-malu dan berakhir dalam hitungan menit. Itu menyedihkan.
Pennis orang itu memang layak disebut raksasa sehingga menjadikan pennis suaminya jadi terlihat imut. Hitam, berurat serta dipenuhi bulu yang gondrong, pennis itu sepertinya pantas disebut monster bermata satu. Organ genital berukuran 30an centi saat ereksi dan diameter entah berapa. Yang jelas saat Shirley memegang, ia tidak bisa menggenggam dengan utuh. Entah berapa kali sudah Shirley juga mengalami o*****e. Yang ia tahu ‘tamu’ itu butuh tiga kali percintaan dalam durasi nyaris dua jam sebelum ia terkapar setelah menghabiskan semua stok benih berjumlah jutaan yang dimiliki.
Hamil? Siapa yang peduli ketika kenikmatan menjadi fokus utamanya?
Monster bermata satu-nya berfungsi sempurna dan menempatkan Shirley sebagai wanita yang pantas disetubuhi dengan cara yang ia suka. Bukan dengan cara yang orang lain suka. Dengan pria asing yang tak ia kenal namanya itu, supir truk pula, ia merasa menjadi the real woman. Wanita dalam arti sesungguhnya. Wanita yang merasa kecil yang saat terhimpit tak berkutik di bawah perut tambunnya justeru dianggap menyiratkan perlindungan. Ini rasa aman yang telah lama hilang.
Shirley amat lelah. Tapi kelelahan itu sirna seketika ketika ia sadar bahwa – dari sisi positifnya - ia tengah menjalankan dedikasi terbaik sebagai seorang isteri. Suaminya dalam masalah serius. Dan ketika ia menjadi terlihat ‘normal’ sebagai seorang pria, ia layak mendukung. Malam itu, apapun motifnya, entah karena hendak menebus salah atau untuk menolong, Shirley memutuskan untuk menjadi apapun yang Zakaria mau. Dan tak cuma itu. Shirley juga menyadari sesuatu. Obat untuk permasalahan impotensi Zakaria yang diakibatkan diabetes ternyata bukanlah obat herbal, viagra atau apapun. Obatnya ada dalam otaknya karena penawar itu bernama pikiran. Saat suaminya tahu, mendengar dan melihat persetubuhan yang dilakukan isterinya bersama orang lain, pikirannya akan menghasilkan hormon khusus dan penting yang kemudian membawanya ke arah keberhasilan persenggamaan.
That’s it.
*
Pada kesempatan pertemuan pertama yang berikut Shirley tertawa ketika mendengar cerita Bram yang menurutnya melihat Shirley dibonceng motor oleh seseorang.
“Jadi lu pikir itu gue yang naik motor?”
“Iya. Abisnya mirip sih. Gue liat lu pake sexy outfit, convict dress warna biru tua.”
Shirley tertawa lagi. ia berusaha berakting sebaik mungkin demi agar jangan sampai ketahuan kenekadan yang ia lakukan dua hari lalu.
“Jadi bukan lu ya?”
“Bukan lah. Ngaco aja lu.”
Bram mengangguk-angguk puas. Ia senang karena wanita yang ia lihat berboncengan motor tempo hari ternyata bukan Shirley.
Sayangnya, beberapa hari kemudian ketika asyik mengobrol dengan Nabila, ia mendapat info baru. Dalam acara Ivory Club terakhir, Shirley jadi pemenang dimana hadiahnya adalah sebuah sexy outfit warna biru.
Saat Bram menanyakan hari dan waktu kejadian, Bram mendapat info yang ia mau. Ketika ia merunut waktu, ia kaget karena kasus sexy outfit terjadi di hari yang sama. Dilihat dari selisih jam kepulangan Shirley, sepertinya waktu kejadiannya memungkinkan dengan saat ia melihat Shirley di atas motor.
Tapi Bram merasa belum saatnya menanyai Shirley soal ini karena dikhawatirkan bisa menimbulkan gosip tak sedap. Jika gosip menyebar, hubungannya dengan Shirley otomatis berakhir dan ia tak ingin itu terjadi.
*
Sensasi mengetahui isterinya disetubuhi pria tak dikenal, rupanya tertanam kuat dalam diri Zakaria. Jiwa yang gila rupanya telah berakar kuat dalam benak orang itu. Ini membuatnya sukses menyetubuhi Shirley dalam tiga kesempatan berbeda. Zakaria jadi sempat berpikir, apakah dirinya sudah sembuh? Atau masih ada sesuatu yang harus ia lakukan?
Memang apa yang ia lakukan adalah perkara yang tidak umum. Tapi untuk mempertahankan vitalitas kepriaanna, sepertinya ia harus kembali melakukan yang sama yaitu menyediakan isterinya untuk dinikmati orang lain. Pernikahan mereka di ujung tanduk dan perlu di-spice up. Dibumbui. Upaya yang ia lakukan saat ini adalah bagian dari spice up tadi.
Dalam perjalanan mengantar Sheila ke kantor, Zakaria sampai harus berkata ekstra hati-hati sebelum sampai ke titik permasalahannya.
“Pernikahan itu perlu ada bumbu. Itu yang jadi dasar pemikiran Papa. Mama setuju nggak?”
“Papa tau dari mana sampe bisa punya pikiran gitu?”
“Kemarin liat jurnal ilmiah,” dusta Zakaria.
Shirley menangguk. Ia berpikir mau dibawa ke mana arah pembicaraan ini. “Berarti emang perlu spice up itu. Terus, maksud Papa?”
“Papa minta maaf kalo selama ini terlalu mengekang Mama. Sering juga cemburuan. Mama dekat sama siapa aja Papa suka cemburuan. Sama orang kantor, sama tetangga, sama tukang sayur. Aduh, Papa jadi malu.”
Shirley tersenyum. “Iya tuh, Papa cemburuannya keterlaluan.”
“Iya, iya. Nah sekarang karena Papa mau berubah, Papa nggak mau cemburuan lagi, sekarang Mama bebas deh.”
“Bebas gimana, Pa?”
“Kalo mau pulang nonton sehabis kerja, boleh. Mau makan malam sama teman, boleh. Mau hang out silahkan. Sama cewek atau cowok gak masalah.”
Ada makna yang tersirat di balik pernyataan di atas. Zakaria mengizinkan Shirley dengan siapapun yang jadi teman jalannya, termasuk jika itu adalah seorang pria. Jika memungkinkan ia ingin Shirley sudah bersama pria lain. Di titik itu Zakaria sadar sudah. Sadar bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang aneh, beda, tidak umum.
Mungkinkah ia abnormal? Gila? Atau hanya dirinyakah satu-satunya suami di muka bumi yang ingin pasangannya memasuki pengalaman s**s yang baru dengan alasan untuk bumbu pernikahan?
Tapi sudahlah, pikirnya ini seharusnya hal yang bisa ditolerir dimana kejadian berpangkal dari sakit diabetes yang tak kunjung sembuh.
Diomongi begitu, Shirley juga tidak bodoh. Ia memaknai sama. Ini artinya ia boleh pergi dengan siapapun. Ia yakin bahwa suaminya masih malu dan ragu untuk mengatakan bahwa ia mengizinkan isterinya berkencan. Butuh cara dan waktu yang tepat untuk mereka berada di tingkat pemahaman yang sama. Untuk saat ini, biarlah dimaknai bahwa ia telah diizinkan suaminya untuk tampil lebih atraktif di hadapan pria-pria lain. Apakah itu nanti berujung pada persenggamaan atau tidak, itu soal lain. Namun, untuk memastikan Shirley lantas mencoba mengkonfirmasi.
“Apa yang Papa pikirkan ketika Mama jalan sama pria lain?”
Zakaria tersenyum. “Papa nggak cemburu, dan gak akan cemburu lagi.”
Shirley kelihatan tak puas dengan jawaban tadi.
“Mama perjelas deh pertanyaannya. Apa yang Papa pikirkan ketika Mama s e l i n g k u h sama pria lain?”