Asmara Di Luar Nalar

1440 Kata
Katon memang terjerat utang ketika meminjam tak seberapa pada sebuah Bank Perkreditan Rakyat. Nilai yang tak seberapa membuat ia lantas tertarik pada seorang debt collector BPR – orang itu tadi – yang menawarkan jalan pintas meminjam langsung pada dirinya. Berdalih bahwa proses tetap dalam kendali BPR, Katon lantas jadi melakukan pinjaman. Ketika kemudian bermasalah di kemudian hari, Katon jadi terjebak dua kali.            Pertama, dana yang makin membengkak akibat bunga tinggi. Dan kedua, karena orang itu adalah debt collector BPR, ia diteror oleh seluruh debt collector yang tergabung di BPR itu walau sebetulnya ia meminjam secara pribadi. s****n memang. Didatangi debt collector satu orang saja sudah begitu menyebalkan, lalu bagaimana jika ia melaksanakan ancaman membawa teman-temannya?            Ayahnya tak bersedia membantu. Selain karena bahwa kebandelan Katon sudah terlalu sering terjadi, orang itu sebetulnya hanya ayah angkat. Sebuah posisi yang hanya mengasihi Katon apa adanya, tidak optimal, cenderung seadanya. Biaya kuliah Katon selama ini juga sebetulnya berasal dari kantong pribadi dimana ia menjalankan bisnis sendiri. Diizinkannya ia tinggal bersama keluarga tirinya juga karena faktor kebetulan yang terlalu bertele-tele jika harus diceritakan ulang. Yang jelas, ibunya telah meninggal dan ia kini tinggal bersama ayah tiri bersama seorang saudari tiri yang baru memasuki SMP.            Katon baru duduk di semester pertama. Masih ada 7-8 semester di muka yang harus ditempuh dan itu semua butuh dana tak sedikit. Meminjam dari debt collector telah menjadi pengalaman pertama dan ia bertekan akan menjadi pengalaman terakhir pula. Ia kapok tapi sadar bahwa mencari uang ia tetap harus lakukan. Ia tak bisa diam.            Ia lalu menghubungi seseorang lewat ponselnya. Dalam pembicaraannya, ia menyatakan bersedia untuk berbisnis.            Ketika telpon berakhir, Katon menghela nafas panjang. Ia telah mengambil keputusan yang tak akan bisa membuatnya mundur kembali. Keputusan untuk mengakhiri kesulitan ekonominya. Keputusan berbisnis.            Dengan menjadi kurir n*****a.   *            Malam baru mau berganti hari ketika pintu pagar dari besi terdengar terbuka. Setelahnya, ada langkah kaki berjalan menyeberang teras. Terakhir, terlihat gagang pintu depan rumah yang sengaja tak dikunci bergerak ke bawah, tanda bahwa ia tengah dibuka dari luar. Saat pintu terbuka, sosok Shirley muncul. Hanya terlihat bayangan hitam karena cahaya dari luar sementara dari dalam, lampu ruang tamu masih belum dihidupkan.            “Selamat malam, Papa.” Salam itu disambut Zakaria. “Malam.” Setelahnya Zakaria langsung bergerak mendatangi isterinya. “Maafkan sikap Papa tadi. Papa bodoh dengan ninggalin Mama di sana.” Zakaria sadar bahwa ucapannya itu hanya dusta. Impotensi, ujung-ujungnya dijadikan alasan membenarkan sikapnya yang sebetulnya sangat keterlaluan “Papa nyesal. Maafk... “            Ucapan Zakaria terhenti. Ia melihat dengan takjub pemandangan isterinya yang kini terlihat jelas dari jarak amat dekat. Kecantikan Shirley masih bertahan tapi rambut isterinya kini berantakan. Makeup lumayan tebalnya kini luntur, berganti bercak lendir yang sebagian mengering. Yang masih nampak basah kini menggantung di dagu. Sebagian blouse bagian atas terkoyak dan menyisakan bagian yang kini mempertontonkan hampir seluruh d**a kirinya. Kendati isterinya nampak sulit melangkah karena rasa perih di bawah perutnya, Zakaria tetap membimbing Shirley duduk di sofa. Ia juga menghidupkan lampu, dan duduk sangat dekat untuk bisa melihati lagi. Di bagian d**a yang terbuka tadi ia bisa melihat kissmark, tanda cupang di sana. Bagai surat yang di-stempel merah Shirley seolah telah di-cap: LULUS oleh pemakainya. Dalam imej terliar Zakaria, pengertian lulus di sini adalah isterinya telah lulus uji untuk menjadi PSK murahan. Kejantanannya mulai bangun dari tidur panjangnya. “Salahnya Papa gak ada apa-apanya dbanding Mama,” kata Shirley dengan tatapan sendu. Dari jarak sedekat ini kelenjar syaraf penciuman di hidung Zakaria bisa mencium aroma s****a keluar dari mulutnya yang terbuka. “Ssssh, Papa nggak marah. Coba Mama cerita apa yang terjadi.” Shirley menoleh dan melihat dalam-dalam mata suaminya. Dari lendir yang tadi menggayut di dagu jatuh setetes mengenai sofa. “Mama malu karena tadi itu… Mama nakal,” katanya mulai terisak. “Nakal banget.”   * Dua jam sebelumnya. Malam ini terasa ada yang aneh bagi Bram. Ada sesuatu yang janggal. Mungkin ia sudah terlalu lelah ketika pulang lembur. Kelelahan yang kemudian diikuti dengan kurangnya konsentrasi saat mengemudikan mobil. Entah apakah perasaanya benar atau sekedar membohongi, ia melihat sebuah pemandangan seronok di jalan raya di dekat pelabuhan. Ada seseorang mengemudikan motor trail dan meliuk-liuk di antara jalan ibukota. Tentu saja bukan itu yang menarik perhatiannya tapi orang di belakangnya. Sungguh kontras dengan pengemudi kotor yang nampak dekil, obesitas, bertato, orang di belakangnya adalah seorang wanita yang sepertinya seorang wanita pekerja s**s komersial namun berkelas. Karena tidak mengenakan helm, setiap orang di jalan, atau pengemudi yang melihatnya pasti akan menoleh melihat kecantikan wanita itu. Dan terlebih kemolekan tubuhnya. Dua kaki jenjangnya yang mengangkang , rok yang tersingkap hingga nyaris hingga pangkal paha, dan potongan blus bagian atas yang memamerkan bahu, d**a, dan punggung secara leluasa, tentu saja jadi pemandangan menggiurkan. Hendak dibawa kemanakah dia, orang hanya bisa menduga-duga sambil merutuk si pengemudi motor yang beruntung bisa menggaet wanita secantik dan semolek itu. Bram masih sempat menyusul dan terkaget ketika melihat bahwa wanita itu adalah orang yang ia sangat kenal. Shirley. Tapi betulkah itu dia? Bram ingin lebih memastikan karena hal itu sepertinya mustahil. Ia menginjak pedal, membuka jendela kaca mobil, dan meneriaki Shirley. Memanggil namanya. Tapi wanita itu tak mendengar. Bisa jadi karena jalan yang berisik atau juga bisa karena ia sedang mengobrol. Entah apa yang diobrolkan antara wanita yang seperti Shirley itu dengan pria pengemudinya. Yang jelas, tak berapa lama wanita itu malah melingkarkan tangannya memeluk orang itu. Akibat bentuk jok belakang motor trail yang miring ke depan membuat wanita itu kini leluasa mendekap punggung dari belakang dan otomatis membuat dadanya menekan punggungnya. Sensasi buahdada yang menekan punggung, pasti menjadi pengalaman dan sensasi dahsyat bagi si obesitas s****n yang beruntung itu. Ah, Bram jadi iri. Pasti pejalan kaki dan pengemudi lain juga punya pandangan yang serupa. “Shirley!” Bram memanggil lagi. Wanita itu tak bereaksi. Bram memanggil lagi. Sempat terjadi pergerakan kepala seolah si wanita mendengar. Kali ini Bram memanggil lagi sambil menekan klakson mobil. “Shirley!” Motor melambat dan kemudian berbelok. Bram mencoba mengejar tapi gagal. Ia tak bisa mengikut lebih jauh ketika motor trail berbelok lagi ke jalan lebih sempit dan sepi. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan ketika motor berkelok lagi dan lagi menuju tempat yang semakin lama semakin sepi dan semakin gelap. Bram langsung menelpon Shirley. Tak ada jawaban sekalipun panggilannya masuk. Lama seteah itu ia masih menelpon dan menelpon lagi. Tapi tetap saja panggilan telponnya tak diangkat. Kali ini saat ia menelpon, pesan yang masuk sudah berubah. Menandakan bahwa ponsel telah mati karena kehabisan baterai. * Di rumah, dalam malam yang sepinya makin menggigit, Zakaria menginterogasi isterinya dengan lembut. Sepertinya apa yang ia rencanakan atas Shirley, berhasil. Shirley sendiri sepertinya tidak tahu bahwa pengalaman yang ia alami sebetulnya merupakan setting-an. Bagian dari rencana Zakaria yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. “Apa maksudmu telah berlaku nakal?” Zakaria pura-pura t***l menanggapi pernyataan Shirley sebelumnya bahwa ia telah berlaku nakal. “Mama mau jujur sama Papa. Mama udah bersikap ga setia.” Pennis Zakaria berontak. Tegang. Hal itu membuat Zakaria bahagia di dalam hati. Akhirnya, apa yang diharapkan Zakaria berupa bangkitnya sang pennis, terwujud. Apa yang terjadi pada isterinya sebetulnya adalah bagian dari rencananya. Tapi kenyataan yang terjadi ternyata jauh melebihi apa yang ia harapkan. Shirley masih mau menyampaikan penyesalan. Tapi Zakaria tak peduli lagi. Tangan Zakara kini berada di balik punggung Shirley. Sesaat jemarinya mencari pangkal retsleting yang begitu ditemukan langsung ia tarik ke bawah sejauh mungkiin. Outfit yang dikenakan memang luar biasa. Ujung terbawah retsleting ternyata hanya berjarak 2-3 centimeter dari ujung dress one-piece super ketatnya. Kadung rusak di sisi atas, Zakaria dengan kasar menyobek saja bagian bawahnya. Ia langsung mendorong isterinya, membaringkannya di sofa, membuka lebar s**********n dan mulai menancapkan pennisnya dan memulai persenggamaan yang indah. Mereguk cinta yang tertunda. Mereguk asmara dengan cara di luar nalar. Menikmati cinta yang nyaris sirna. Cinta berbalut s*****t yang didapat dengan cara apapun demi kelanggengan rumah tangga yang mereka bina. Aroma cinta semacam ini takkan pernah mereka dapatkan dari konsultan rumah tangga manapun. Hanya pengalaman beriring hasrat dan cinta yang bisa menjawab. Tak perlu teori. Tak perlu didikan. Hanya pengalaman di depan mata, itu yang mereka tuju. Dosa hanya jadi keping kecil terabaikan yang untuk sementara disimpan saja dahulu di sudut relung hati. Shirley sebetulnya lelah b******a kembali. Percintaan sebelumnya begitu menguras energi. Percintaan super dahsyat di sebuah lapangan kumuh, di dalam sebuah truk butut dan berkarat dimana bau asap rokok, bau apek, dan bau-bau lain ada di sana. Persenggamaan berteman irama musik dangdut yang akan selamanya terekam di alam bawah sadar. Percintaan dengan pria gemuk, hitam, bertato namun juga pria yang bangga dengan kejantanan berdiameter tebalnya. Percintaan paling gila yang ia pernah alami seumur hidupnya. Percintaan bertarif lima puluh ribu rupiah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN